8 tahun cerpenmu

Aku dan Hidupku (Part 2)

Spread the love

Aku dan Hidupku (Part 2)





Cerpen Karangan: Tiara Citra Septiana
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan

Lolos moderasi pada: 24 May 2022

Alasannya, sebenarnya, bukan saja karena aku menyayangi Arin, tetapi aku juga sudah berhutang terlalu banyak dengan Om Rudi. Di sela-sela kesepianku saat ini, kenangan demi kenangan menyeruak masuk ke dalam pikiranku.
“Tanpa Om Rudi, mungkin saja saya sudah terlunta-lunta di jalanan, bahkan tidak bisa kuliah seperti sekarang. Bagaimana saya bisa membalas kebaikan Om selama ini?”

“Saya hanya berharap Nak Riyan bisa menjalani hidup sesuai dengan yang Nak Riyan inginkan.”
“Terima kasih, Om.”
“Oh ya, titip Arin ya, jaga dia, kadangkala dia bisa saja melakukan sesuatu di luar nalarnya.”
“Baik, Om. Saya akan berusaha menjaga Arin seumur hidup saya.”
“Om mengandalkanmu, Nak Riyan.”
Aku melihat Om Rudi tersenyum lega.

Ya, Om Rudi lah yang sudah menyelamatkanku. Sejak 10 tahun lalu, setelah kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan, hanya Om Rudi lah yang peduli padaku. Padahal, beliau hanya atasan Ayahku. Orang-orang yang selama ini selalu kuanggap sebagai keluarga justru jauh-jauh pergi meninggalkanku setelah mengambil seluruh harta peninggalan orangtuaku tanpa sisa, dan hanya menganggapku beban yang harus segera dibuang. Dan, saat itulah uluran tangan beliau di saat aku tidak memiliki apapun yang tersisa di dunia ini sangatlah berarti.

Aku masih mengingat hari dimana Om Rudi datang.
“Nak Riyan mau tidak tinggal bersama Om? Arin sepertinya butuh teman bermain.”
Aku yang tidak punya pilihan lain hanya bisa mengangguk. Om Rudi dan Tante memperlakukanku seperti anak mereka sendiri, begitu pula Arin yang tidak pernah menganggapku merebut kasih sayang orangtuanya. Aku merasa bahagia menjadi bagian keluarga beliau, dan aku tidak ingin kehilangan mereka selamanya. Jika seandainya ada yang membuat keluarga Om Rudi bersedih, biar aku saja yang menggantikan mereka untuk menderita.

Di penjara. Kunjungan kedua.
“Selamat siang, Pak”.
Aku membungkuk hormat pada seseorang yang berada di hadapanku. Ya, beliau adalah salah satu pejabat tinggi di negeri ini, dan aku mengaguminya dari awal kuliah hingga sekarang. Beliau beberapa kali datang untuk memberikan kuliah tamu di fakultasku. Pemikirannya tentang bagaimana memajukan negeri ini sungguh hebat, dan aku bercita-cita ingin bekerja di jalur yang sama dengan beliau. Namun, kini … impianku sirna dan kami bertemu di tempat dan situasi yang salah.
Beliau tidak menjawab, dan tiba-tiba mencengkeram bajuku, kemudian menghempaskanku. Tenaga beliau sungguh kuat. Apakah ini adalah gabungan dari kekuatan amarah, kebencian, dendam yang menumpuk jadi satu? Aku tersungkur menabrak tembok. Sakit, tetapi aku masih bisa menahannya. Dengan susah payah, aku mencoba berdiri.

“Pak, maafkan saya!” Sekali lagi, aku membungkuk hormat, “Saya menyesal telah …”
Tamparan keras mendarat di pipiku. Aku meringis kesakitan. Tidak apa-apa. Aku masih bisa menahannya. Ini masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan perasaan beliau ketika nyawa anak kesayangan satu-satunya direnggut. Dan, semua itu adalah kesalahanku.

“Jika Bapak menginginkan saya mati di sini sekarang, saya tidak apa-apa.”
“Betul, saya memang bisa saja membunuhmu saat ini ataupun saat rekonstruksi, tetapi saya tidak ingin mengotori tangan saya sendiri. Saya berjanji akan membuatmu menderita setiap hari hingga kamu tidak yakin lagi ingin hidup,” kata beliau dingin.
Akhirnya, beliau mau berbicara denganku. Tidak apa-apa. Aku hanya harus menahan sakit ini sebentar lagi, hingga hari itu datang dan aku bisa berjumpa dengan Bapak dan Ibu lagi. Bukankah aku sudah tidak memiliki apapun yang tersisa di dunia ini?
“Maafkan saya.”
Beliau meninggalkanku dengan amarahnya.

Di penjara. Kunjungan ketiga.
Tiba-tiba, aku ditarik seorang sipir ke sebuah ruangan. Mataku ditutup, tangan diborgol. Aku sudah tahu. Inikah arti dari kata-kata beliau? Dan, aku hanya bisa berkata pada diri sendiri, mungkin saja aku akan berakhir di sini.

“Ini adalah perintah atasan. Jangan pernah dendam padaku,” kata salah seorang sipir itu.
Aku masih bisa mengangguk. Betapa bodohnya aku.
Lalu, aku merasakan perutku ditendang, kepala dan dadaku diinjak, sampai aku masih bisa merasakan darah keluar dari hidung dan mulutku. Jika sudah demikian, aku hanya ingin mati. Aku ingin membunuh diriku sendiri. Aku ingin mengakhirinya sendiri dengan cepat. Sudah tidak ada jalan keluar. Mau mati di tangan sendiri ataupun orang lain, bukankah tidak ada bedanya? Tidak! Jangan, aku tidak boleh membunuh diriku sendiri.

Dan, ternyata aku masih terbangun keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi, dengan wajah babak belur, luka di sekujur tubuh. Dan, semua ini berlangsung setiap 3 hari sekali. Selain menerimanya, aku bisa apa? Penderitaanku ini belum mampu menebus kematian Reno sebelum beliau merasa puas.

Dan, malam ini, beliau datang lagi, tepat saat sipir menendang perutku.
Aku berlutut di hadapannya, tulang rusukku sakit, mungkin saja patah. Aku menunduk tidak berani menatapnya. “Bapak, saya ingin segera mengakhirinya. Saya merasa sangat lelah. Saya sudah merasa tidak sanggup lagi. Dapatkah Bapak membantu saya?”
Beliau menjambak rambutku, membuat mataku bersitatap dengan beliau.
“Baiklah, sepertinya saya sudah merasa cukup puas melihat keadaanmu.” Senyumnya terasa membekukan hatiku. “Tunggulah 6 bulan lagi dan saya akan membuat pengadilan mempercepat hukumanmu.”
“Terima kasih. Saya memang tidak pantas untuk hidup. Saya akan mengenang kebaikan Bapak selamanya. Dan, sekali lagi, maafkan perbuatan saya. Semoga Bapak dan keluarga selalu sehat.”
Dan, beliau berlalu meninggalkanku yang masih memandang sosoknya. Aku ingin mengenang kepergiannya. Mengenang sosoknya untuk terakhir kali. Aku tidak bisa membenci beliau.

Kemudian, keputusan sudah diketuk, hukuman mati, tidak ada keringanan. Walaupun tidak ada yang memberitahu, tetapi tepat seperti yang beliau janjikan, aku tahu … hidupku akan berakhir setengah tahun lagi. Walaupun demikian, tendangan demi tendangan masih kudapatkan seminggu sekali. Tidak apa-apa, ini sudah jauh lebih berkurang daripada sebelumnya.

Kadang, pada saat malam, sendirian, aku benar-benar merindukan Arin. Aku bukanlah pria yang cengeng, tetapi entah kenapa, jika mengingat kenangan demi kenanganku bersama Arin, aku tidak bisa menahan air mataku. Kadang, aku berpikir dia sedang apa sekarang, apakah sedang bermain bersama teman-temannya? Atau sedang belajar? Atau sedang makan malam bersama dengan keluarganya? Hanya untuk terakhir kali, aku sungguh ingin bertemu dengannya. Namun, bukankah itu semua hanya harapan kosong semata? Lalu, aku segera tersadar, aku tidak bisa mengganggu Arin lagi dengan segala kehidupannya yang sempurna. Ya, biarlah cinta ini menguap bersama aliran air mata yang semakin mengering.

Senja terakhir.
Hari demi hari berlalu, hingga akhirmya … aku dipindahkan ke penjara khusus. Tidak boleh ada yang menjenguk, dan memang tidak akan ada yang menjenguk. Sebentar lagi, waktuku akan tiba. Aku memejamkan mata, membayangkan sedang berada di tengah bukit, ditemani rumput yang menghijau dimana-dimana. Pada saat ini, aku merasa bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menikmati hidup dan kehidupanku selama 20 tahun. Aku juga tidak ingin menyalahkan siapapun atas takdir yang menanti besok. Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah sungguh membahagiakan bisa mengetahui waktu kematiannya sendiri?

Hingga, … inilah langit senja terakhir, langit senja yang memang selalu menawarkan kehangatannya Betapa indah menatap langit yang berangsur-angsur berubah warna dari jingga menjadi hitam. Seandainya saja langit selamanya tetap berwarna jingga. Bahkan, aku masih bisa mencium bau rumput yang basah. Padahal, bulan ini seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Apakah hujan ikut bersedih untukku? Sungguh, aku tidak bisa tidur malam ini menanti esok.

Dan, kini … di hadapanku, berjarak 7 meter, berdiri 12 orang pria yang memegang senapan laras panjang, siap diacungkan kepadaku. Aku tahu, aku tidak bisa mengelak dari takdir yang mengejarku. Bukankah Tuhan sudah berbaik hati kepadaku, karena tidak merelakan aku membunuh diriku sendiri? Dan, syukurlah, hanya ada 3 peluru yang akan bersarang di tubuhku. Tidak banyak.

“Lapor, pelaksanaan pidana mati siap,” kata Komandan Pelaksana.
“Laksanakan!” jawab Jaksa Eksekutor tenang.

Aku diminta mengenakan baju putih. Kemudian, tangan dan kakiku diikat ke tiang penyangga. Untunglah, jaksa eksekutor masih berbaik hati menutup mataku. Dan untuk yang terakhir kalinya, ada seseorang yang menandai jantungku sebagai sasaran tembak. Aku menghirup udara sebanyak yang aku bisa. Setidaknya, untuk yang terakhir kali, aku ingin menghadapinya dengan berani, walaupun sebenarnya jantungku saat ini sedang berdebar hebat.

Lalu …, aku merasa ada benda yang menghantam jantungku, dan semuanya menjadi pekat.

Arin. Nama yang telah membuatku jatuh cinta dan rela mengorbankan segalanya. Nama yang selalu berada dalam ingatan, tidak terlupakan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Tiara Citra Septiana

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 24 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Senja Terakhir: Aku dan Hidupku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Tiara Citra Septiana, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Upriani Rahman

Lama kami hanya dalam posisi yang sama. Hingga Unhy melepas pelukannya. Dia tersenyum dan memegang pundakku. “Gimana? Udah mendingan?” Tanyanya, menyodorkan tisu untuk menghapus sisa air mataku. aku mengangguk,




Oleh: Eni Kurnaeni

Entah sampai detik kapan aku mampu bertahan dengan bayang-bayang penantian yang selama ini aku jalani dalam hidupku, Berkali-kali aku merasa bodoh karena telah mencintaimu. Berulangkali aku mengurungkan niatku untuk




Oleh: Zulaikha Ditya Kharisma

“Kita putus..” Kata-kata itu masih terngiang dalam benakku. Begitu mudahnya Cindy mengatakan itu padaku. Tanpa rasa bersalah dia mengucapkan kalimat itu. Aku begitu menyayanginya, tapi dia begitu tega padaku.




Oleh: Nuris Azzura

Bagaimana jika seseorang yang kau cinta ternyata seseorang dari masa lalu? Dan sampai kapan pun kau tak akan pernah bisa memilikinya. Karena ada sebuah rahasia yang sangat menyakitkan. Apa




Oleh: Dhea CLP

Bukan dunia namanya jika tidak dipenuhi oleh hal-hal yang membingungkan. Hampir semua diciptakan selalu memiliki hal yang berseberangan. Ada cinta, ada benci. Ada senang, ada sedih. Ada tua, ada



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: