8 tahun cerpenmu

Cerpen Aghnal

Spread the love

Cerpen Aghnal





Cerpen Karangan: Xiuzeen
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 2 May 2022

Di zaman kekuatan spiritual mendominasi, mereka belajar menyalakan api dengan hembusan napas dan membuat makanan matang dengan cara ditusuk diatas api. Menciptakan sumber air dan membagikannya kepada para anggota suku yang tidak berdaya. Mereka yang berhasil mendapat kekuatan spiritual dari dewa, akan ditunjuk menjadi kepala suku juga disembah oleh para anggota suku yang lemah. Mereka percaya, kepala suku dapat melindungi dan menjaga kedamaian antar suku.

Namun, tahta paling tinggi tetap dipegang teguh oleh seorang pemilik tempat dimana para suku tinggal. Negara kecil penuh cinta, Aghnal.

Aghnal, yang berarti ‘kasih sayang’. Berkat Acha sang dewa pemilik Aghnal dan seisinya, para kepala suku dan anggota suku dapat tempat untuk beristirahat dan dapat kekuatan.

Suatu hari, sekelompok manusia yang cukup pintar dalam menciptakan sesuatu tanpa kekuatan spiritual. Mereka dapat melelehkan besi dengan api, menciptakan benda tajam dan menangkap hewan untuk makan, menjinakkan kuda dan menaiki kuda untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Manusia lebih hebat dalam urusan bertahan hidup. Mereka menemukan Aghnal dan menganggap tempat itu adalah surga.

Bagaimana tidak? Segalanya ada di Aghnal, sumber air yang jernih, tanaman-tanaman buah dan sayur, juga hewan-hewan yang manusia butuhkan. Tempat tinggal yang cukup untuk melindungi mereka dari panas dan hujan.
Selama ini manusia memang bisa membuat rumah gubuk, tapi mereka akan pergi saat hujan besar yang sampai menyebabkan banjir. Bagi manusia, rumah pohon adalah penemuan baru, sebuah rumah yang benar-benar bisa melindungi mereka dari panas dan hujan.

“Aghnal adalah tujuan terakhir kita.” Ucap Bungbung, si gendut dengan palu besar di tangan kanannya.

“Aku juga menginginkan Aghnal. Tapi kita tidak bisa menguasai itu, Acha lebih dulu memberikan Aghnal pada para kurcaci suku yang lemah.” Sambung Myugon, si mata sipit yang ahli memanah, tentu saja dia selalu menggendong anak panah dan alat pemanah.

“Bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka?” Usul Jiju, ia yang paling memikirkan keadaan tanpa senjata. Jiju juga ahli negosiasi dan memiliki banyak teman manusia di tempat sebelumnya. Dia yang paling aktif berinteraksi pada orang-orang asing, hingga ia juga jago beberapa bahasa asing terutama bahasa suku-suku yang sulit dipahami. Jiju tak pernah perang dengan senjata, karena dia dapat melukai musuhnya dengan batu-batu kerikil atau sesuatu yang ia temui di sekitarnya dengan gerakan spontan.

“Tidak! Aku tidak mau tinggal bersama mereka, walau aku tau mereka sangat baik. Tapi suku-suku lemah hanya akan menyulitkan.” Tolak Bungbung tegas, ia merasa paling kuat dan gagah, jadi tidak mau direpotkan dengan suku-suku itu.

“Bungbung, tidak ada salahnya jika kita mencoba, kan?” Terakhir, Keihn, sebut saja ia pembuat keputusan. Apapun yang terjadi, hal yang penting harus dengan keputusannya. Jika Jiju menyarankan atau mempertimbangkan sesuatu, maka keputusan akhir ada di tangan Keihn. Satu-satunya manusia yang menggunakan pedang panjang yang ia sebut Pedang Naga Putih. Keihn sering memimpin perang dan ia lebih banyak membunuh musuh-musuh.

Bungbung menghela napas pelan. “Jika ini gagal, maka kita—”
“Kita perang.” Pungkas Keihn memutuskan, menatap teman-temannya yang mengangguk menyetujui keputusannya.

“Jiju, katakan bagaimana rencanamu untuk bergabung dengan para suku.” Ucap Myugon, Keihn langsung menarik Jiju.
“Biar aku dan Jiju yang melakukannya, kalian tunggu disini.”
“Baik.”

Suku Teo baru saja selesai melakukan tarian meramal masa depan, mereka membuat lingkaran dan menunggu Pirvu —Cenayang Suku Teo— melantangkan nasib Suku Teo di masa depan.

BRUK!
Kepala suku Teo, Zaiz, seketika bangkit dari duduknya saat melihat Pirvu yang tiba-tiba terjatuh. “Ada apa, Pirvu?”

Para anggota suku pun terkejut, menatap cemas ke arah Pirvu. Mereka ingin membantu, tapi hal itu dilarang oleh dewa. Tidak ada yang boleh mendekati cenayang selama ia belum menyebutkan ramalannya. Bahkan jika cenayang itu mati sebelum meramal, tetap tidak boleh. Mereka akan meminta bantuan suku lain untuk menguburnya, karena jika mereka melanggar, itu akan jadi malapetaka bagi para anggota suku Teo.

“Yang mulia, kepala suku Teo. Ini gawat, ramalan buruk untuk kita semua.” Ucap Pirvu gemetaran, ia mengangkat tangan dan menangkupkan kedua tangannya. Memohon kepada dewa tertinggi, Acha, untuk mengampuni kepala suku Teo dan para anggota suku termasuk dirinya.

Para anggota suku Teo jelas kebingungan dan mulai merasa ketakutan. Mereka pun bersujud dan meminta pengampunan.

“Dewa Acha, jika kita semua mati, kumohon terima jiwa-jiwa kami di sisi terbaikmu dan ampuni dosa-dosa kami.” Pirvu terus berdoa dan memohon ampun, membuat para suku Teo makin sedih dan ketakutan.
“Pirvu, hentikan! Mengapa kita mati? Apa yang akan terjadi?” Zaiz mengeratkan kepalan tangannya, tak sabar mendengar ramalan Pirvu.
“Sekelompok jiwa yang perkasa dan gigih, juga tamak. Mereka menuju kemari untuk menguasai Aghnal, yang mulia. Mereka memiliki senjata dan berwajah garang, mereka berasal dari tempat yang sangat jauh. Kita semua, orang-orang suku akan mati di tangan mereka, kecuali 2 orang dari suku Haerz, 1 orang dari suku Karo dan 1 orang dari suku Teo.”

Zaiz terperangah, kedua kakinya mendadak lemas. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku kayu, deru napasnya tak beraturan, perasaan takut mulai menyelimutinya.

“Diantara kita semua, siapa 1 orang suku Teo yang hidup?”
“Saya tidak tau, yang mulia. Saya hanya melihat kalung batu biru di lehernya. Tolong ampuni saya, yang mulia, saya pantas mati.”
Pirvu sujud di depan Zaiz, namun Zaiz tak menatapnya sedetikpun. Pikirannya tidak di tempat. Berpikir apa yang harus ia lakukan, akhirnya ia memanggil Daewoo. “Saya Daewoo, yang mulia.”
“Cepat siapkan pasukan! Minta bantuan dari setiap kepala suku, para pemberontak akan datang kemari. Beritahu para kepala suku untuk melindungi para anggota suku mereka.” Titah Zaiz melakukan pencegahan.
“Baik, yang mulia.”

Kepala Suku Karo, Ragaz, memerintah para anggota suku untuk menyiapkan persediaan makanan yang banyak karena ia akan membangun tembok besar sebagai benteng pelindung.

Kepala Suku Teo, Zaiz, membuat lingkaran api, lalu menyuruh para anggota suku untuk menggali tanah sedalam mungkin agar ia dapat membuat rumah pelindung untuk mereka. Juga memerintah perempuan-perempuan suku Teo untuk memasak dan menanam tumbuhan sayur lebih banyak di bawah tanah.

Kepala Suku Haerz, Asays, membangun tempat persembunyian di dalam sumber mata air. Memerintah para anggota suku untuk memindahkan barang-barang yang mereka butuhkan juga memakan ikan-ikan untuk sementara waktu.

Mereka semua bersiap untuk segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, setelah semua sudah siap. Para kepala suku berkumpul di garda depan, menunggu kedatangan sekelompok jiwa yang disebutkan Pirvu sebagai kiamat untuk para suku mereka.

Jiju dan Keihn tiba di perbatasan Aghnal.
Mereka berjumpa dengan 3 sosok yang mereka yakini adalah para kepala suku.

“Yang mulia, kepala suku-suku di Aghnal. Perkenalkan kami para manusia yang tidak memiliki kekuatan. Atas izinmu, kami ingin bergabung dengan para anggota suku untuk tinggal di Aghnal. Tolong berikan izin kalian untuk kami, kami memohon.”
Keihn ikut bertekuk lutut ketika Jiju melakukannya, namun dalam hatinya, ia mendumel pada Jiju. “Apa ini? Mengapa kita harus melakukan ini pada kaum suku lemah? Dasar Jiju bodoh.”

Sementara para kepala suku mulai menunjukkan kekuatan mereka, seperti Ragaz yang membuat batu besar di tangan kanannya, Zaiz yang siap menyembur lahar api dari mulutnya, juga Asays yang mengangkat kakinya untuk kemudian menginjak tanah dan membuat lingkar sungai sedalam mungkin untuk para manusia itu agar tenggelam.

“Mengapa para manusia mendatangi Aghnal, disini tempat para suku berkumpul? Kami tidak menginginkan manusia bergabung dalam suku kami. Tinggalkan kami, dan jangan ganggu kamu.” Ucap Zaiz dengan tatapan sinis dan nada bicara yang dingin.

Keihn, satu-satunya yang tidak mengerti dengan ucapan Jiju dan para kepala suku. Hanya dia yang tidak tau bahasa suku, ia menoleh pada Jiju. “Hei, kau yakin tidak salah bicara, Jiju?”

Cerpen Karangan: Xiuzeen
Instagram: @Xiuzeen_

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Aghnal merupakan cerita pendek karangan Xiuzeen, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Andi Devina Batari Santoso

Pada suatu hari di negeri dongeng, ada pemuda yang sedang berjalan pulang ke rumahnya, pemuda tersebut bernama Lionel, Lionel terlihat memakai sepatu kerja yang sudah usang. Sampai di rumah,




Oleh: Humaira S.Z

Aku duduk di bangku taman. Kerajaan ini semakin sepi dan aku ditinggal sendiri. Menurut kalian tidak, karena ada pelayan di sini. Dayang istana, koki dan pekerja lainnya. Ayah kembali.




Oleh: Putri Al Fatih

Begitu banyak hal yang tidak bisa aku ingat pagi ini, selain aroma kopi. Mata lebam, berkaca-kaca, wajah muram, dan syal yang masih menggantung lembut di leherku. Menandakan seseorang itu




Oleh: Imam Nurhaqi

Dihari dimana langit bersorak dengan warna kelabu. Dia menutupi setiap barisan duka dan tawa. Sementara puing-puing bangunan mulai runtuh. Kini warna mereka mulai tercampur seperti mimpi buruk yang aku




Oleh: Frida Alawiyah

Sampai di rumah sakit, lusil masuk ke ruang rawat neneknya, ternyata keadaan neneknya baik-baik saja hanya terluka di bagian kanan dahinya. “Nenek baik-baik saja kan?” neneknya hanya tersenyum pada



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: