8 tahun cerpenmu

Cerpen Air Conditioner (Cerita Sambung Pegawai Indomaret)

Spread the love

Cerpen Air Conditioner (Cerita Sambung Pegawai Indomaret)





Cerpen Karangan: Ahmad Najmi Ramadhani
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Slice Of Life

Lolos moderasi pada: 24 May 2022

Kipas angin di ujung ruangan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, sesekali tersendat dan berderit karena usia yang telah uzur dan pemakaian yang abusive oleh pemiliknya. Konon kipas angin tersebut tak pernah mati untuk mengimbangi suhu ruangan kos yang seperti neraka. Di samping kipas angin, Dani tidur dengan sesekali mengusap muka yang berkeringat. Keringat berkumpul di dahi menjadi seukuran biji jagung lalu terjun ke kelopak mata. Air keringat itu menyelinap pula di sela sela bibirnya yang membuatnya mengecap rasa asin. Seperti pagi pagi sebelumnya, Dani dibangunkan oleh alarm alami, yaitu keringat.

Hari ini dia masuk pukul tujuh pagi karena dia dikelompokkan dalam shift pertama. Secara umum, Indomaret memiliki tiga pembagian jam kerja untuk para pegawainya. Mulai dari shift pagi pukul 07.00-15.00, shift siang pada pukul 15.00-23.00, dan shift malam pada pukul 23.00-07.00. Karena jarak kos dan Indomaret tempat dia bekerja cukup dekat, Dani biasanya berangkat sepuluh menit sebelum pukul tujuh menggunakan motor Honda Beat yang penggunaannya ekstrem mendekati level abusive. Konon motor tersebut diservis lima tahun sekali sesuai jadwal pemilu.

“Kenapa pagi-pagi muka ditekuk begitu, Dan?” Tanya Farah kepada Dani yang setengah melamun menjaga konter kasir.
“Kapan ya aku bisa pindah kosan yang ada AC nya kayak itu, Far?” Jawab Dani sembari menoleh ke arah air conditioner di pojok atas rak tempat rok*k berbaris-baris.
“Kenapa nggak beli aja?”
“Boro boro beli AC nya, Far. Bayar kos bulanan yang ada AC nya aja masih mikir-mikir!”
“Nah, ini adalah contoh pemuda kurang referensi. Coba kamu download aplikasi DuitDuit di hape-mu.”
“Aplikasi apaan tuh? Pinjol nih pasti ya? Kagak ah. Bikin stres doang. Kemarin ada tetangga kosan yang bunuh diri karena nggak bisa bayar. Serem.”
“Cemen kamu, Dan. Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak bisa dimenangkan!”

“Bahas apaan nih? Pasti keluhan Dani soal kosannya yang panas banget ya? Hahaha.” Sambung Nadia yang mengamati pembicaraan Dani dan Farah setelah menempelkan stiker harga terbaru di rak-rak produk.
“Iya. Aku saranin buat beli AC tapi nggak mau.” Jawab Farah.
“Eh, ngapain beli? Dua minggu lagi ada acara senam bersama pegawai Indomaret se-Surabaya. Biasanya kan ada door prizenya tuh acaranya. Coba tanya Pak Burhan apa aja hadiahnya, barangkali ada AC.” Ucap Nadia.
“Benar juga. Nanti aku coba tanya Pak Burhan deh. Makasih idenya, Nad!” Kata Dani dengan tersenyum penuh harap.

Pak Burhan merupakan manajer cabang Indomaret tempat Dani bekerja. Dia mengelola beberapa cabang di daerah Surabaya. Usianya masih sangat muda, lulusan kampus negeri ternama di Indonesia. Bahkan sapaan ‘Pak’ bisa jadi kurang cocok untuk disematkan pada lelaki berusia dua puluh enam tahun tersebut. Burhan merupakan sosok yang filosofis dan idealis. Dia memilih untuk bekerja di bidang pemasaran dan penjualan karena dia percaya bahwa perdagangan merupakan aktivitas yang membuat peradaban manusia terus bergulir dan lestari. Tidak hanya itu, ketika ditawari oleh atasannya untuk bekerja di kantor pusat di Jakarta karena performanya yang bagus, dia menolak dengan ucapan yang akan sulit dilupakan oleh atasannya.

“Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak. Mohon maaf, sepertinya saya lebih memilih untuk bekerja di cabang. Saya masih ingin melihat aktivitas jual beli yang ada di toko-toko. Hati saya hangat melihat bagaimana produk-produk berpindah tangan dari pegawai ke pelanggan. Mengingatkan saya dengan awal mula perdagangan di Lembah Indus, Mesopotamia lima ribu tahun yang lalu.”

Atasan Burhan tidak mampu berkata apa-apa. Benar kata Albert Einstein, jenius dan kegilaan memiliki batas yang tipis.

“Silahkan masuk.” Ucap Pak Burhan setelah Dani mengetuk pintu ruangannya beberapa kali.
“Selamat siang, Pak Burhan.” Sapa Dani setelah memasuki ruangan.
“Eh, panggil nama atau ‘Mas’ saja lah. Jangan ‘Pak’, formal banget rasanya. Ada apa nih, Mas Dani? Mau tanya soal peraturan berpacaran dengan pelanggan kemarin? Hahaha.”
“Engga lah, Mas Burhan. Nggak etis kayaknya pacaran sama pelanggan. Saya mau tanya hal yang lain. Dua minggu lagi kan ada senam bersama pegawai Indomaret se-Surabaya. Itu hadiahnya apa saja ya?”
“Oh, itu. Saya juga nggak hafal nih, Mas. Saya coba buka dokumennya sebentar ya.” Jawab Burhan sembari menggeser dan mengklik mouse gaming-nya mencari dokumen yang menjelaskan mengenai acara senam bersama.
“Baik, Mas.”

“Wah, hadiahnya banyak nih senam bersama kali ini. Budget dua tahun nggak ada senam bersama kali ya gara gara pandemi. Hadiahnya ada sepeda lipat, kulkas, penanak nasi, dan masih ada beberapa yang lain.”
“Ada AC nggak ya, Mas?” Tanya Dani penuh harap.
“Hmm sebentar. Eh ada nih. Cuma ada syaratnya nih, Mas. Hadiah AC nya untuk peserta senam bersama dengan gerakan paling bersemangat.”
“Gimana cara nentuinnya ya kalau kayak gitu, Mas?”
“Biasanya yang dapat hadiah di kategori ini keringatnya yang paling banyak dibanding peserta yang lain, Mas. Agak absurd emang dibandingkan dengan kategori lain kayak kostum terunik dan datang ter-pagi, tapi biasanya gitu sih, Mas.”
“Terima kasih banyak informasinya, Pak!” Sahut Dani dengan tersenyum merekah setelah mendengar kata keringat terbanyak.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dani bersyukur memiliki kosan yang panasnya seperti neraka.

Dua minggu berlalu. Setelah selesai dengan shift siang hari ini, Dani sengaja memasukkan motornya ke dalam kosnya. Hal ini dilakukan bukan karena dia takut kehilangan motornya selagi tidur. Dia melakukannya dengan harapan dapat meningkatkan suhu panas kosnya sehingga ia berkeringat lebih banyak daripada biasanya. Luar biasa apa yang mampu dikorbankan oleh manusia untuk mencapai mimpinya.

Apabila biasanya bibir Dani merasakan asin keringat yang menyelinap dari dahinya setiap pagi. Pagi ini dia merasakan sensasi yang berbeda dimana tidak hanya bibirnya yang merasakan asin. Pada titik ini, organ dalamnya pun berkeringat. Tenggorokannya berkeringat. Pagi ini, Dani adalah manusia paling berkeringat di dunia. Dia memutuskan untuk tidak mandi pagi ini untuk menjaga keringat yang dia hasilkan selama tidur.

“Gila. Belum mulai senam udah keringatan banget aja kamu, Dan.” Ucap Farah kepada Dani saat ia memasuki lapangan tempat acara senam bersama Indomaret se-Surabaya.
“Hehehe. Iya. Demi dapat doorprize AC nih, Far!”

Sesuai perencanaan matangnya, Dani menggondol doorprize AC setelah dinobatkan sebagai peserta senam dengan gerakan paling bersemangat yang ditentukan menggunakan proxy kuantitas keringat. Dia tersenyum di atas motor Honda Beat sepanjang perjalanan menuju kos. Di balik punggungnya adalah alat yang diimpikannya sejak malam pertama dia menghuni kos neraka-nya.

Dua minggu terakhir, dia banyak menonton video di YouTube mengenai tutorial pemasangan AC. Dia mengincar dua hal. Pertama, dia ingin menghemat biaya dengan memasang sendiri AC yang didapatkannya nanti. Kedua, setelah mendengar nasihat Burhan kepada Nadia, Dani ingin membayangkan bahwa dirinya telah memiliki AC setiap detiknya. Ini yang disebut manifesting. Konon apa yang sering manusia pikirkan di setiap detiknya, dapat mewujud entah bagaimana caranya.

Sesampainya di kos, Dani memasang AC yang baru saja dia dapat seusai tutorial YouTube. Semuanya tuntas dilakukan tidak lebih dari satu jam. Selain mengucapkan “selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja” kepada pelanggan yang cantik, memasang dan merakit AC mungkin aktivitas yang dinikmati oleh Dani.

Saat malam tiba, Dani mengamati kipas anginnya yang mati di pojok ruangan dengan sesekali melihat AC yang dia pasang tadi siang di dinding atas kosnya.

“Jadi ini yang dinamakan nikmatnya proses.” Pikirnya dalam hati. Dani sering berkegiatan untuk berproses dalam hidupnya, namun sepertinya baru kali ini dia merasakan bahwa proses dapat menimbulkan hasil.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dani tidur tersenyum tanpa perlu mandi terlebih dahulu karena gerah. Dia terlelap diselimuti rasa syukur malam itu.

Saat pagi tiba, Dani kaget karena alarm alaminya masih menyala. Dia berkeringat. AC nya mati. Setelah bertanya kepada beberapa tangga kos dan pemilik kos, dia mengetahui bahwa kosnya tidak memiliki listrik yang cukup untuk memasang AC.

Pagi ini dia berangkat ke tempat kerja dengan raut muka yang tragis. Mata berkaca-kaca. Bibir meringis. Dia ingin menjual AC yang didapatnya ke teman-temannya atau toko barang bekas apabila temannya tidak ada yang berminat. Mungkin ini yang dimaksud oleh para ekonom sebagai miskin struktural.

Cerpen Karangan: Ahmad Najmi Ramadhani
Blog: najmi.substack.com/p/air-conditioner-cerita-sambung-pegawai
Saya bekerja sebagai karyawan di hari kerja dan menyalurkan salah satu hobi saya yaitu menulis di akhir minggu.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 24 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Air Conditioner (Cerita Sambung Pegawai Indomaret) merupakan cerita pendek karangan Ahmad Najmi Ramadhani, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Hayah

“Kamu dengan siapa?” “Entahlah, mungkin aku menulis dengan dinding.” “Apa yang akan kau tulis?” “Entahlah, tidak ada yang patut kutulis dalam situasi yang entah seperti ini.” “Selanjutnya, kalau kamu




Oleh: Faisal

Mentari pagi bersinar menunjukan sinarnya yang terang dan hangat. Aku yang sedari tadi duduk di bawah pohon mengenakan headphone sambil membaca buku dengan santai, suasana taman yang masih segar




Oleh: Assifa Rohmalya

Rian yang bingung akan tingkah Dion akhirnya bertanya, “Kenapa sih? Lo lupa ngerjain PR? Semalem lo nggak belajar karena hari ini ada ulangan? Atau.. kaki lo gue injek? Tapi




Oleh: Ressa Permata

Baru kali ini aku naik kereta api di umurku yang sudah beranjak tujuh belas tahun. Aku memang anak rumahan yang jarang pergi kemana-mana. Kali ini pun aku terpaksa naik




Oleh: Moh. Tito Ragil Dianang

Pengalaman olahraga di pagi buta yang mengasyikkan. Iya!! pagi buta, saking butanya aku tidak bisa melihat telingaku sendiri hahaha. Niatnya sih simple, pulang-nyampe-tidur. Ternyata perjalanan dari nganjuk city harus



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: