8 tahun cerpenmu

Cerpen Aku Berharap Suatu Hari Aku Bisa Mengeluarkanmu dari Sini

Spread the love

Cerpen Aku Berharap Suatu Hari Aku Bisa Mengeluarkanmu dari Sini





Cerpen Karangan: Adalia Safira Rahma
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 10 May 2022

Sudah sangat lama semenjak terakhir kali Rana melihat matahari. Apakah itu berbulan-bulan atau bertahun-tahun? Rana tidak tahu. Sepanjang yang dia ingat tentang dunia luar, adalah lorong panjang yang seluruhnya terbuat dari besi dan ujungnya sulit untuk terlihat karena kurangnya pencahayaan.

Hari ini, Rana kembali melakukan rutinitasnya. Memandang kosong langit-langit kamar sambil menunggu waktu makan tiba. Rana hidup di sebuah ruangan sebesar kamar kecil. Dengan warna dinding monoton tanpa ventilasi udara. Hanya celah kecil dari pintu yang sekaligus digunakan untuk memasukkan nampan makanan.

Makanan diberikan tiga kali sehari, atau setidaknya itu yang Rana perkirakan karena di dalam ruangan itu, sama sekali tidak mungkin untuk mengetahui bagaimana dan apakah hari telah berlalu. Setidaknya Rana di sana tidak sendirian.

Rana memiliki teman yang selalu menemaninya. Teman itu berbentuk boneka kelinci kecil yang kainnya sudah usang. Boneka itu sudah ada sejauh yang Rana bisa ingat. Tetapi akhir-akhir ini Rana merasa sedikit takut dengan boneka itu. Seakan-akan mata kancing boneka itu selalu mengikuti setiap pergerakannya. Oleh karena itu, dia meletakkan di sudut ruangan paling jauh dari tempat tidurnya.

Rana sekali lagi menghitung waktu dengan jarinya. Sekitar lima menit setelah dia bangun makan pagi akan diselipkan dari celah di pintu. Tanpa suara atau peringatan, seakan petugas pengantar makanan menggunakan sepatu karet yang menghaluskan langkah kakinya. Hanya suara nampan besi digeser yang terdengar.

Jari-jari Rana tertekuk satu persatu selagi dia menghitung dalam hatinya.

30 . . . 29 . . . 28 . . .

. . . 5 . . . 4 . . . 3 . . . 2 . .

Rana melirik ke arah celah di pintu besi yang mengeluarkan bunyi klik, seakan sebuah gembok besar dibuka.

. . . 1

Sebuah nampan berisi makanan pun muncul dari pintu.

Rana menghentikan hitungannya dan mulai beranjak dari tempat tidur. Rambut pendek sebahunya terlihat acak-acakan sehabis bangun tidur dan Rana terlalu malas untuk merapikannya. Dia menggerakkan tangan untuk membuka tutup dari nampan besi tersebut.

Setengah mangkuk bubur hambar ditaburi potongan daging, semangkuk kecil sup panas berisi dedaunan hijau yang direbus dalam air bening, serta sebuah botol kaca transparan berisi kapsul biru dan merah. Itu lah sekiranya menu sehari-hari Rana.

Rana mengambil sendok putih yang ada di samping mangkuk bubur itu dan mulai menyantap makanannya dalam diam. Sekali lagi pandangannya kosong walaupun tangannya tetap bergerak untuk menyuapi dirinya sendiri, tetapi pikiran Rana sudah tidak ditempat itu.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan abadi sampai Rana menghabiskan seluruh makannya. Lalu seakan terkejut, tubuh Rana tersentak dan pandangannya kembali terisi.

Dia meletakkan segala mangkuk, sendok dan botol transparan yang sudah kosong kembali ke nampan besi. Lalu seketika, nampan besi itu seakan ditarik oleh seseorang dari luar dan celah itu kembali terkunci dengan bunyi yang sama.

Rana yang biasanya akan bergerak-gerak sedikit setelah makan, membaringkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur dan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Ingatan terlama Rana adalah ingatan tentang dirinya yang dituntun untuk berjalan di koridor panjang bernuansa abu-abu. Saat itu, dia mencoba menengokkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang membawanya tetapi entah kenapa dalam ingatannya tubuhnya waktu itu terasa sangat lemas. Bahkan membuka mata pun terasa sulit.

Ingatan kedua Rana ialah terbangun di ruangan miliknya. Saat itu Rana merasa gelisah karena lingkungan yang tidak familiar. Tetapi ada seseorang yang menjadi teman baru Rana. Orang itu kerap kali membawakan makanan untuk Rana selama tiga hari sekali.

Karena keberadaan teman barunya itulah Rana tidak merasa kesepian lagi. Dia selalu menantikan kedatangan temannya untuk berbicara walau hanya sebentar saja. Teman itu juga yang memberikan Bonek kelinci sebagai hadiah kepada Rana.

Orang yang Rana tebak sebagai salah satu petugas dari tempat apapun itu yang mengurungnya, tidak pernah dia temui lagi setelah beberapa hari yang lalu dia kehilangan kesadaran diri. Padahal petugas itu adalah satu-satunya teman Rana, walaupun faktanya di tempat itu semua petugas menggunakan seragam yang sama yang menutup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi Rana bisa membedakan petugas itu dari banyaknya petugas-petugas lain.

Rana merasa frustasi setelah kehilangan teman satu-satunya di tempat itu. Namun yang membuatnya lebih frustasi lagi adalah semenjak itu juga Rana tidak diperbolehkan berjalan-jalan keluar ruangan. Jika seperti ini, lalu bagaimana Rana akan bermain di luar? Bagaimana kalau Rana nanti merasa bosan di dalam ruangan?

Tetapi Rana tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini. Karena pemilik tempat itu sudah mengatakan kalau Rana harus berada di dalam ruangan. Jadi Rana hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan kembali ke dalam ruangannya sesuai perilaku anak baik sebagaimana orang-orang selalu memanggil dirinya.

Klik!
Terpaku menatap langit-langit kamar yang berwarna semen. Rana untuk yang kesekian kalinya mengernyitkan dahi. Rasa muak yang aneh memenuhi dadanya membuatnya sesak. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya tetapi dia sendiri tidak tahu apa itu.

Bangun dari tempat tidur, Rana duduk di pinggiran kasur sambil memijat pelipis dahinya. Otaknya seakan telah mengalami tidur panjang dan banyak mimpi-mimpi tanpa sadar bermunculan. Mimpi-mimpi yang sudah sejak lama menghantuinya. Mimpi dimana dia seakan dirasuki oleh orang lain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mungkin dia lakukan.

Semakin dipikirkan, semakin kesal Rana rasanya. Tiba-tiba dia bangkit dari kasur dan berjalan menuju arah pintu. Dilemparnya seluruh makanan yang ada di atas nampan besi ke lantai dan dia mulai memaki-maki dari balik pintu.

Beberapa lama kemudian datang sekelompok orang mengenakan baju yang sama yang menutupi dari ujung kepala sampai kaki. Mereka membawa senjata yang berisi obat penenang sekaligus berbagai peralatan lain yang berguna untuk menahan Rana.

Rana memberontak dengan kuat bahkan setelah dipegangi oleh banyak petugas. Dia hanya bisa kembali diam setelah salah satu orang itu menyuntikkan sebuah cairan ke lengannya. Rasa kantuk seketika menyerbu Rana sehingga membuatnya tidak sadarkan diri.

Di sebuah ruangan lain yang jauh berbeda dari ruangan monoton milik Rana. Tempat yang dindingnya dipenuhi layar yang menunjukkan situasi berbagai ruangan. Salah satunya adalah ketika Rana ditahan dilumpuhkan oleh beberapa petugas disana.

“Tahanan di sel nomor 13 memberontak lagi. Memanggil beberapa petugas untuk mengamankannya. Pengamanan berhasil,” lapor seorang petugas dengan lantang kepada sosok di belakangnya.
Sosok itu berbeda dari petugas-petugas lain. Walaupun baju yang dikenakannya sama, tetapi dia tidak memakai penutup kepala seperti yang lainnya. Ditambah lagi, petugas-petugas lain memanggil sosok itu ‘Komandan’.

Petugas yang baru saja melapor itu kembali berbicara kepada sosok tersebut.
“Komandan. Apa yang harus kita lakukan pada tahanan nomor 13? Dilihat dari kondisinya, kita tidak bisa memanfaatkannya dalam misi apapun karena saat ini dia dalam kondisi tidak stabil”.

Sosok itu menatap ke kumpulan layar. Tepatnya ke arah layar yang menunjukkan ruangan dimana tempat Rana berada. Di dalam layar itu terlihat Rana yang sedang tidur pulas akibat obat bius yang baru saja disuntikkan oleh petugas untuk menenangkan manianya.

“Batalkan semua misi tahanan nomor 13 untuk saat ini dan terus beri pengawasan ketat di selnya.”
“Baik, Komandan,” balas petugas itu dengan hormat.

Setelah berdiam diri sembari menatap layar lain untuk beberapa menit, sang komandan akhirnya pergi dengan hentakan kakinya. Wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apapun tetapi jika diperhatikan maka dapat dilihat kalau kurva mulutnya sedikit menurun dibandingkan dengan sebelum dia memasuki ruangan.

Sang komandan melangkah dengan mantap. Melewati koridor yang panjang dan seakan tanpa ujung. Dalam hatinya terus menggumam sebuah nama.

Rana…

Cerpen Karangan: Adalia Safira Rahma

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Aku Berharap Suatu Hari Aku Bisa Mengeluarkanmu dari Sini merupakan cerita pendek karangan Adalia Safira Rahma, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Varga Nurlela Blafire

Keadaan Negeri Kegelapan semakin kacau. Perseteruan antar klan semakin hari semakin menjadi-jadi. Mereka saling bermusuhan karena merasa bahwa kekuatan klan-nya dinilai paling kuat. Negeri Kegelapan semakin penuh dengan kebencian




Oleh: Thessalonica F.R

“Kita buka Facebook yuk, La!” ajak Namira. “Yuk!” jawab Ashilla. Namira dan Ashilla adalah sahabat sejati. Mereka menghabiskan hari pertama dari dua minggu liburan mereka. Oh ya, nama lengkap




Oleh: Kian

Pria Dari Masa Depan Untuk ke sekian kalinya kamu kembali. Kembali pada keadaan yang sama.. Kamu kembali duduk. Hati yang hancur, sama seperti sepeda tua hancur yang tergeletak tak




Oleh: Nanda Insadani

‘1… 2…” Tesya tiba-tiba berhenti menghitung jumlah gambar domba yang tertempel di dinding kamarnya. Dia selalu melakukan hal ini sebelum tidur. Namun sepertinya malam ini tidak seperti biasanya. “apa




Oleh: Febrian Fikri Hadi

Namaku profesor Fikri, aku adalah seorang profesor amatir yang berambisi ingin menciptakan Pintu Teleporter. Kalian pasti mengira aku adalah seorang profesor gila yang memiliki khayalan tinnggi dan kalian anggap



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: