8 tahun cerpenmu

Cerpen Aku Ingin Sendiri

Spread the love

Cerpen Aku Ingin Sendiri





Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan

Lolos moderasi pada: 2 May 2022

Sebagai manusia yang berarti makhluk sosial, aku percaya bahwa kita semua diciptakan untuk saling membutuhkan. Tapi itu tidak berlaku untukku, sejak kecil aku selalu merasa bahwa aku tidak layak menjadi seorang manusia itu bukan berarti aku menolak takdir yang sudah tuhan berikan, aku akui bahwa aku memiliki kepribadian Introvert tapi itu sendiri karena suatu alasan disaat aku bersama beberapa orang aku selalu merasa tidak cocok diantara mereka yang membuatku merasa bosan sehingga pergi dari mereka.

KEHIDUPAN SEORANG INTROVERT MEMANG KERAS JIKA DI LINGKUNGAN YANG SALAH jika orang introvert bertemu dengan orang yang mengerti dengan mereka pasti akan bernasib baik berbeda dengan orang introvert bertemu dengan orang yang menganggap mereka aneh. Yang pasti selama hidup sebagai orang introvert aku juga pernah dihina hingga pembulian semua aku terima hingga pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat maksudku mantan sahabat, aku rasa dari semua yang aku alami membuatku TRAUMA DENGAN MANUSIA.

Sepertinya kalian sudah paham bukan semua masalah ini dari mana, benar karena kepribadian introvert yang aku punyai tapi hei aku tidak pernah menyalahkan yang menurutku ini adalah pemberian tuhan karena aku sendiri juga percaya bahwa pemberian tuhan adalah untuk seseorang yang mampu menjalankannya dan aku mampu menjalankannya hingga saat ini.

Saat ini aku sedang berada di kamarku hingga
“Ka, maaf ganggu tapi ini paket kaka”
“Hah? Perasaan aku tidak pesan apapun”
“Entahlah tapi ini”
Lalu adikku pergi meninggalkanku, dengan segera aku berjalan mengambil paket sembari memikir karena aku tidak pernah memesan apa pun, lalu aku menatap kamarku, Kasur yang tertata rapi, buku-buku yang tertata rapi di raknya, dan meja belajarku yang terdapat mangkuk makanan, botol minuman dan laptopku yang masih menyala.

Sejak kuliah aku merasa aku tidak pernah meninggalkan kamarku mungkin aku meninggalkan kamarku saat aku hanya ingin ke kamar mandi dan keluar saat semua orang sedang pergi dari rumah, benar-benar kehidupan yang hampa bukan?. Aku tahu bahkan selalu tahu bahwa aku menyia-nyiakan hidup.

Aku mengambil gunting lalu membuka kotak yang berwarna hitam itu, di dalam aku melihat tumpukan kertas, menyingkirkan hingga aku melihat sebuah benda yang berada di dasar kotak, aku dapat melihat itu sebuah surat. Aku membuka dan membaca surat itu di dalam surat itu terdapat kartu pos dan satu foto seorang pria yang sedang berdiri membelakangi kamera menghadap kearah lapangan.

Aku sadar bahwa paket ini dari teman internetku dia menggunakan nama samarannya “Tenang saja”. Kami bertemu via aplikasi siaran yang dikenal sebagai discord tampaknya sekarang dia sudah menemukan kehidupannya.
“Aku ingin pergi sendiri”
“Benarkah? Lalu keluargamu bagaimana?”
“Tenang saja, mereka menyetujuinya”
“Hidupmu itu lebih daripadaku kau tahu”
“Tidak juga, semua orang punya masalahnya sendiri”
“Benar”
“Aku harap dapat menemukan hidup”

Dan sejak obrolan terakhir itu, aku tidak pernah tahu nasibnya hingga paket ini datang. Dari arah luar aku dapat mendengar suara pintu yang terbuka, aku tahu itu adalah Mama yang baru pulang lalu beberapa jam kemudian aku dapat mendengar pintu terbuka lagi aku tahu itu adalah ayahku. Meski mereka semua keluargaku aku ingin meninggalkan mereka karena AKU INGIN SENDIRI.

Beberapa hari kemudian aku mulai Menyusun pakaianku di dalam koper, lalu memasukan barang pentingku. Tiket pesawat yang sudah kupesan membuatku terus penuh dengan harapan. Disaat semua sedang pergi dari rumah aku keluar dari kamarku lalu mengelilingi rumah mengingat semua yang pernah aku lakukan disini dari aku lahir hingga saat ini dinding adalah salah satu saksi yang mengetahui bahwa aku pernah hidup dan tinggal disini. Aku memang payah dalam perpisahan tapi kali ini aku membuatnya menarik karena aku meninggalkan surat untuk kedua orangtuaku dan adikku. Setelah itu aku membawa koperku lalu keluar dari sana melalui pintu depan yang dimana aku memiliki kunci cadangan sehingga aku bisa mengunci kembali pintu tersebut supaya aman.

“Silaunya”
Sejak satu tahun kemarin aku yang tidak pernah keluar dari rumah membuat sedikit penglihatanku kabur.

Tiba di bandara aku membawa koperku untuk menuju ke pesawat sepanjang berjalan aku dapat melihat semua orang sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri ada yang sedang makan, tidur, berjalan, dan sibuk. Di dalam pesawat aku senang karena aku duduk sendiri tanpa ada seorang pun yang duduk disebelahku.

Tiba di tempat yang aku tuju aku segera menuju ke bus. Turun dari bus aku sudah tiba di sebuah desa kecil, desa itu dekat dengan laut dan juga hutan, bangunan di desa itu unik yang pasti pemandangannya sangat berbeda dengan kota. Ada sebuah papan yang bertuliskan bahwa nama desa itu bernama “Desa Harapan” entah siapa yang memberikan nama itu. Tiba di desa aku duduk di sebuah tempat makan.

“Pertama kali disini?”
“Iya”
“Tinggal atau menginap?”
“Entah”
“Jika menginap ada sebuah penginapan yang tidak jauh dari sini dan jika ingin tinggal aku tahu tempat yang cocok”
Aku hanya mendengarkan, lalu melihat pelayan itu merobek kertas buku lalu mulai mengambarkan peta. Lalu pelayan itu memberikan kertas itu padaku aku berterima kasih.

Setelah selesai makan dari sana aku berjalan sesuai dengan arah peta itu yang membuatku tiba di sebuah rumah aku mengetuk pintu yang kemudian dibuka oleh seorang wanita.
“Halo, aku ingin mencari tempat tinggal?”
“Berapa lama?”
“Mungkin selamanya”
“Tunggu disini”

Setelah nunggu beberapa lama, wanita itu memberikan sebuah kunci lalu menunjuk sebuah jalan yang katanya aku hanya perlu berjalan saja. Aku menurutinya lalu berpamit, berjalan aku dapat melihat sebuah bangunan di ujung jalan itu saat semakin dekat aku tahu itu adalah sebuah rumah yang berukuran kecil. Aku berjalan ke pintu lalu membukakan pintu dengan kunci yang diberikan wanita itu. Di dalam aku dapat melihat rumah itu memiliki dinding yang berwarna putih dengan furniturnya yang masih lengkap. Jika kalian bertanya kenapa aku bisa mendapatkan rumah ini aku akan menjawabnya dengan aku membeli rumah ini dengan tabunganku sendiri.

Keesokan harinya aku berjalan-jalan disekitar sana sembari membawa biskuit buatanku, tentu saja aku melakukan ini untuk mengunjungi penduduk desa dan berkenalan dengan mereka saat aku berjalan aku dapat melihat sebuah pemandangan yang tampak aku kenali aku tiba di rumah terakhir saat aku mengetuk pintu rumah itu aku dapat mendegar suara yang aku kenali.

“Kau pasti baru”
“Benar, aku baru ini”
“Sebagai perkenalan”
Aku tertawa. “Iya”
“Makasih”
“Sama-sama, aku pergi”

Aku berjalan pergi dari sana, saat aku tiba di rumah aku dapat melihat seekor kucing yang sedang berjalan di depan rumah, aku menghampiri kucing itu namun dia berlari menjauh dan kucing itu membawa kunci rumah cadangan yang aku taruh di pot, Aku mengejar kucing itu karena aku tidak mau ada orang yang menemukan kunci itu. Hingga tiba di tempat pemandangan yang aku kenal kucing itu berhenti aku berhenti kucing itu diambil oleh orang yang baru saja kutemui.

“Halo lagi”
“Halo, maaf ini kucingku” Katanya sembari memberikan kunci yang tadi kucing itu ambil.
“Ah tidak apa-apa” Kataku sembari menerima kunci itu

Aku merasa saat mendengar suaranya aku seperti mengenali suara ini seperti teman internetku si “Tenang Saja” atau itu hanya perasaan saja. Aku terdiam sembari memandang pemandangan lapangan ini. “Kau sedang apa disini” Tanyaku asal.
“Aku suka disini”
Aku terdiam

“Boleh aku bertanya, kenapa kau pindah kesini”
“Aku ingin sendiri”
“Sama”
“Maksudnya?, kau juga baru pindah kesini?”
“Iya sebulan yang lalu”
“Menurutmu, salahkah jika seorang manusia ingin sendiri?”
“Tidak, bukankah semua itu pilihan jadi pilihanmu tidak salah” Katanya lalu menurunkan Kucing tadi dari tangannya membiarkan Kucing itu berlari di lapangan. “Kau benar-benar mau sendiri?”
Aku mengangguk. “Mungkin selamanya”
“Tapi aku ingin menjadi temanmu”
“Aku tidak pandai dalam hal pertemanan”
“Bukan masalah”
“Maaf, tapi aku harus pulang”

Malamnya saat hari sedang hujan aku menatap ke jendela, sembari berpikir apa yang akan aku lakukan saat sendiri dan disini.

Keeskoan harinya aku sedang berjalan.
“Desa ini kecil bukan”
Aku menengok. “Sangat kecil”
“Mau jalan-jalan, aku akan mengajakmu tur des aini banyak sekali tempat bagus disini”
“Boleh”

Kami berdua berjalan mengelilingi desa harapan, aku dapat mengetahui banyak hal di desa ini mulai dari bangunan hingga penduduk. Setelah beberapa saat kami tiba lagi di lapangan. Aku meraih foto sembari melihat pemndangan dan aku sadar foto dan pemandangan ini sama.

“Menurutmu ini sama” Tanyaku sembari menunjukan foto
“Sama, ini temanmu?”
“Iya lebih tepatnya teman internetku dulu”
“Kau ingin bertemu dengannya?”
“Tidak juga, karena itu tidak mungkin”
“Bagaimana jika mungkin”
“Aku akan senang karena aku bisa berterima kasih dengannya”
“Sama-sama”
“Aku tahu”
“Aku senang kau tiba disini”
“Sama”

Aku sudah tahu sejak awal tapi tujuanku kesini bukan untuknya tapi untuk diriku sendiri. karena aku ingin sendiri.

Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Blog / Facebook: lovinpluie

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Aku Ingin Sendiri merupakan cerita pendek karangan Shofa Nur Annisa Deas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Malva Nafisha Daltafikha

Hai! Namaku Angeline Arina Aristha. Panggil aku Angel saja, agar lebih singkat. “Ma! Besok kan hari sabtu, jadi ke gramedia ya!” kataku. “Sip, Ngel! Oh iya, bantu Mama menyiapkan




Oleh: Puruhitatapin

Ayah baru saja meninggal. Salah satu asistennya berkata sambil terengah-engah kepada ibuku. “M-maaf-kan saya nyo-nya.. Tuan besar… Te-lah meninggal…” Ucap asisten ayah sambil terputus-putus. Kalimat itu, membuat ibuku sangat




Oleh: Ryan Agustiansyah

Di suatu pagi yang cerah dan disambut oleh nyanyian suara burung yang membuat si Sisi wanita yang biasa menjadi jadi pelayan di sebuah tempat wisata pantai menjadi semangat menjalani




Oleh: Nina Noichil

Furqon tertunduk, khusyu’ meresapi kuliah tujuh menit di akhir shalat Isya’ berjamaah di masjid Taqwa. Ustadz Ihsan mengulas surat Ar-Rum ayat 21, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Ia




Oleh: Ross Mochammad Alifano

Aku Ross Mochammad Alifano berumur tiga belas tahun, berkepribadi baik, sopan dan jujur. Pada suatu pagi yang berkabut tipis di depan rumah aku melihat seorang gadis cantik berambut pirang



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: