8 tahun cerpenmu

Cerpen Aku Mencintai Temanku

Spread the love

Cerpen Aku Mencintai Temanku





Cerpen Karangan: Purwati
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)

Lolos moderasi pada: 5 July 2022

– Kania Anjasmara
Pertama kali aku bertemu dengan dia di kelas. Iya. Itu merupakan cinta pandangan pertamaku padanya. Dia duduk di bangku paling pojok dekat jendela. Dia menatap jendela dengan tatapan kosong. Bulu matanya lentik, hidung yang mancung, pipinya yang tirus, serta matanya yang indah. Aku menggelengkan kepalaku. Sadarlah, dia takkan mau denganku yang seperti ini, kataku dalam hati.

Namun, tanpa sadar langkahku menuju ke tempat dimana dia duduk. Mataku fokus padanya. Ini aneh. Sungguh aneh. Ada apa denganku? Mengapa langkahku tertuju padanya? Mungkinkah aku sudah mencintainya pada pandangan pertama? Oh tentu tidak. Aku yakin ini hanya rasa kagum. Kagum melihat lelaki tampan.

Ketika langkahku berhenti tepat di sampingnya, bibirku mengucapkan sepatah-kata padanya. Apa ini? Bibirku tiba-tiba mengucapkan sesuatu. Mengapa seluruh tubuhku mendadak bergerak tanpa perintah. Bahkan sekarang aku mengulurkan tangan ke arahnya. Seolah mengajak berkenalan. Konon katanya jika sudah jatuh cinta, hati kita mulai tergerak dengan sendirinya. Begitu juga gerak tubuh kita.

“Siapa namamu?” itulah pertanyaan yang keluar dari bibirku. Dia menoleh ke arahku. Dia mengedipkan matanya berkali-kali. Aku menelan ludahku. Astaga aku malu sekali sekarang. Bola mataku bergerak ke kanan dan ke kiri. Berusaha mengalihkan pandangan darinya.

“Raihan” balasnya sambil tersenyum. Ouhh! Lihatlah senyuman itu. Senyuman itu membuatku semakin terfokus padanya. Kemudian dia mengulurkan tangan dan menjabat tanganku. Deg! Deg! Deg! Detak jantung berdebar sangat kencang dari biasanya. Sepertinya aku takkan bisa tidur malam ini.

“Nia. Senang berkenalan denganmu, Raihan” kataku sambil menjabat tangannya. Oh iya, namaku Nia. Jangan lupa bahwa namaku Nia. Setelah perkenalan itu, aku dan dia menjadi sahabat. Menjadi sahabat dengan perasaan cinta yang makin dalam. Hingga aku tak mampu mengungkapkan perasaanku.

– Ahmad Raihan
Kala itu aku duduk di bangku paling pojok dekat dengan jendela. Kala itu juga menjadi pertemuan pertama kita. Aku dan Nia saling berkenalan. Kemudian menjadi sahabat hingga kini. Kita sudah bersahabat selama tujuh tahun. Dan selama tujuh tahun itu aku mencintainya dalam diam. Hati ini ingin mengutarakan namun pikiranku berkata jangan dahulu. Mungkin selama tujuh tahun itu dia hanya menganggapku sebagai sahabat saja. Tidak lebih dari itu.

Hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Aku tidak tahu jika akan turun hujan. Aku lupa memeriksa kondisi cuaca hari ini. Terpaksa aku dan Nia meneduh di salah satu warung yang sudah tutup. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Nia sudah ditelepon oleh kedua orangtuanya untuk segera pulang sejak tadi. Bahkan sampai mengirim pesan spam. Hufft, jantungku tak hentinya berdebar kencang. Ingin pulang, masuk kamar, dan berteriak di balik selimut. Astaga debaran jantungku benar-benar tak bisa menahannya lagi sekarang. Ingin segera meluapkannya.

“Kamu kedinginan?” tanyaku saat melihat dia terus-menerus mengusap pelan bahunya karena kedinginan. Dia menoleh, “Ha? Oh nggak kok hehe” jawabnya sambil tertawa. Lalu dia menatap ke depan. Melihat hujan deras yang tak kunjung reda. Justru semakin deras. Aku melepas jaket jeans milikku dan memakaikannya pada Nia. Kemudian aku berdeham pelan dan mengalihkan pandangan ke arah lain.

Dia terkekeh pelan, “Kenapa sih? Aku tahan dingin kok. Malah seharusnya kamu yang butuh jaket” katanya usai terkekeh. Aku mengerjapkan mataku lalu memandangnya, “Seriusan? Jangan ngeluh sakit panas loh besok” balasku. Dia memukul bahuku kencang.

“Ih terus aku harus ngeluh ke siapa dong kalau bukan kamu” ucapnya dengan nada sinis.
“Situ bukannya lagi deket sama cowo? Ya bilang dong ke cowonya” ejekku sambil tersenyum jahil. Ya. Dia mengaku sedang dekat dengan lelaki. Katanya teman kerja sekantornya. Lelaki itu sempat mengungkapkan perasaan padanya, namun dia menolak. Aku tidak tahu apa alasannya. Oleh karena itu, aku sengaja memancing pembahasan tentang lelaki tersebut.

“Udah dehh jangan dibahas lagi. Aku malu banget kalau inget kejadian itu lagi” ujarnya lalu menundukkan kepala. Aku terkekeh pelan mendengar jawabannya, “Emang apa alasan kamu menolak dia? Kurasa dia cocok denganmu” tanyaku penasaran. Nia terdiam cukup lama mendengar pertanyaanku.
“Aku suka orang lain” jawabnya setelah terdiam cukup lama. Mataku terbelalak. Siapakah orang yang disukainya? Aku ingin menanyakan itu namun tidak jadi. Aku menelan ludahku dan mengalihkan pandangan ke arah hujan. Ada banyak pertanyaan dalam pikiranku. Aku penasaran. Sangat penasaran siapa orang lain itu.

– Kania Anjasmara
“Orang lain itu ada dekatku. Di sampingku. Selalu ada disaat aku butuh” lanjutku lalu mengalihkan pandangan ke arah Raihan. Yang ditatap justru sedang memandangi hujan yang tak kunjung reda. Apa dia mendengarku? Kurasa tidak. Baiklah, semoga dia tak mendengar apa yang kuucapkan beberapa menit yang lalu.

Aku mengerjapkan mata sekali, lalu bertanya padanya “Bagaimana denganmu? Apa ada seseorang yang kau suka?” Dia menoleh saat mendengar pertanyaan yang telah kulontarkan. Aku ingin bertanya juga tentang siapa gadis yang disukai Raihan. Selama tujuh tahun ini dia tak pernah mendekati gadis ataupun didekati oleh gadis.

“Tentu ada” jawabnya sambil menatapku lamat. Bola mataku bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku menggigit bibir, alisku mengerut, jantungku berhenti berdegup kencang. Bibirku tak sanggup berkata-kata. Aku merasa ditolak sebelum mengungkapkan perasaanku. “Itu kau.” Mataku terbuka lebar. Dia sedang bergurau atau serius?, tanyaku dalam hati. Lalu dia tersenyum tipis.
“Sungguh?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk mantap. Astaga, apa ini? Pernyataan cinta ketika hujan? Ini gila. Dan berbeda dari yang lain. Aku menepuk pipiku pelan. Waw, ini bukan mimpi rupanya.
“Sejak kapan dan sudah berapa lama?”
“Sejak dulu sampai sekarang. Tujuh tahun”

Tujuh tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Sangat lama. Ternyata dia juga menyukaiku. Bagaimana ini? Haruskah aku mengungkapkannya bahwa orang lain yang kusuka adalah dia? Tidak, jangan sekarang. Aku akan memikirkan cara lain untuk mengungkapkan perasaanku.

– Ahmad Raihan
Sudah sebulan sejak kejadian hari itu, namun Kania tak membahasnya lagi. Menganggap seperti tidak terjadi apa-apa. Perasaanku digantung. Dan selama sebulan itu aku tetap bersikap seperti biasanya. Begitupun dia. Jam menunjukkan pukul lima sore. Sudah waktunya pulang. Akan tetapi aku sedang lembur hari ini.

Ponselku bergetar. Menandakan ada seseorang yang meneleponku. Ibu? Tidak mungkin. Aku sudah mengabari ibu jika aku pulang telat hari ini. Aku membuka ponselku. Oh Kania rupanya. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung mengangkatnya. Mungkin saja dia membicarakan hal penting.

“Halo” sapaku terlebih dahulu.
“Bisa kita bertemu?” tanyanya.
“Bisa, dimana?” jawabku.
“Aku di depan kantormu” katanya. Aku mematikan sambungan teleponku secara sepihak dan buru-buru keluar menghampirinya.

– Kania Anjasmara
Kini dia sudah di hadapanku. Tanganku gemetar dan berkeringat. Aku harus mengatakannya sekarang sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Aku menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan.

“Maaf aku berpura-pura bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya a-a-aku juga menyukaimu” ungkapku akhirnya. Lega. Mataku dan matanya masih saling bertatapan. Hening sesaat. Lima menit kemudian Raihan memelukku dengan erat.

Cerpen Karangan: Purwati
Dirahasiakan.


Cerpen Aku Mencintai Temanku merupakan cerita pendek karangan Purwati, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Adzani Putri

AKU DAN SENJAKU 04 April 2017 Namaku Rona, lengkapnya Rona Jingga semesta. Orang-orang menyebutku kutu buku, Karena tidak ada tempat lain selain perpustakaan yang menjadi sasaran nongkrong sehari-hariku. Sebenarnya,




Oleh: Julianti

“Andai engkau tau selama ini aku sangat mencintaimu, Namun aku hanya bisa mencintaimu dalam diam” Nama aku juli, aku bersekolah di salah satu sekolah menengah kejuruan negeri yang ada




Oleh: Eva Mufiddatul Mu’alifah

Dia Andika Fristyan, teman satu organisasi JURNALIS di sekolahku. Semula ku tidak menyadari kalau aku akan merasakan hal yang sama seperti saat pertama ku bertemu cinta pertamaku. Namun, seiring




Oleh: Insani Ulya

Kebencianku padanya, tak ku sangka merupakan awal dari kisah sedihku ini. – Ashley “Siapa yang tahu, apa itu besaran?” Bu Emma bertanya kepada kami. Ku pandangi sekeliling kelas, tak




Oleh: Balqis Raudhatul Raudhatul

Malam ini adalah malam dimana seseorang yang aku sukai akan mengadakan acara ulang tahunnya yang ke 15. Dengan memakai dress selutut berwarna hitam dan sepatu higheels senada, aku siap



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: