8 tahun cerpenmu

Cerpen Aku Tak Tahu Cara Menghadapinya

Spread the love

Cerpen Aku Tak Tahu Cara Menghadapinya





Cerpen Karangan: M Nahru Jauhar
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan

Lolos moderasi pada: 22 July 2022

sore ini sepulangku kerja cuacanya agak panas membuat bulukudukku basah kuyup terbasuh keringat. kuambil handukku, kubuka pintu kamar mandiku yang sudah agak reot, dan sekali-kali berbunyi “kreeekkkk.” kuguyurkan air dari kepala hingga ke dasar, Ohh… sungguh menyegarkan, setidaknya telah membuatku lupa atas keburukan apa yang telah terjadi saat ini.

ketika hendak selesai mandi sepertinya aku lupa membacakan mantra khusus untuk mensucikan diriku atas perbuatanku 5 menit yang telah berlalu di kamar mandi itu. wajarlah aku tinggal sendiri di dalam kosku, sehingga aku bisa berbuat semauku.

jarum jam mennunjukkan pukul 17.00 sore kini aku telah selesai berganti pakaian, masih ada waktu beberapa menit lagi yang bisa aku gunakan untuk rebahan di kasur malasku hingga menjeput maghrib. ohhh sungguh melelahkan…

dalam batin aku berkata: “Alhamdulillah aku masih iman islam dan masih mendapat Rahman Rahimmu.” dalam buku yang kubaca aku sering melihat bahwa “masalah yang menghampiri kita sebenarnya berasal dari ulah kita sendiri” maka dari itu aku tak mau terus-terusan menyalahkan orang lain, selain membebani hal itu juga sering membuatku over thinking, karena sering melihat jika aku menjadi… atau melihat sudut pandang si pelaku.

kali ini aku harus menelannya sendirian, aku sadar aku telah menghamili seorang gadis umur 21 tahun yang umurnya 3 tahun dibawahku. sambil merebahkan badan bosan berbaring lelah tengkurap, hal itu aku lakukan berkali-kali. aku sangat pusing.

“KHAYYA ALASSHOLA…”
kumadang suara itu menyadarkanku dari perang pikiran yang berkecamuk menggebu-gebu. aku segera bangkit dari kasur malas itu, dan bergegas menuju sumber suara itu.

selepasnya aku kembali dimainkan oleh perang pikiranku. nampak sekali bahwa ibadahku hanyalah ibadah dzhoiriah saja, nyatanya tidak membawakan obat penenang bagi batinku yang saat ini sedang bergejolak. aku terus kepikiran, bagaimana nasib anakku… yang lahir dari proses yang diharamkan oleh syariat, dan sangat tidak diinginkan.

sekitar jam 20:00 hpku berdering, aku baru tahu jika itu adalah panggilan yang ke-10 mengisyaratkan bahwa si pemanggil memang dalam keadaan butuh, terdesak, atau dalam kondisi yang mengharuskan untuk meneleponku… namun aku sungguh terkejut ketika mengetahui bahwa si penelepon itu adalah pacarku…

tanganku gemetar bukan main, aku tak sanggup menelepon balik, nyaliku ciut seakan aku sedang berhadapan dengan moncong senjata milik tentara NATO. jiwaku goyah entah kenapa, padahal selama ini aku dikenal sebagai orang yang sangat gagah dan pemberani.

sesuatu yang mengharuskanku untuk berdiri menghadapi suatau masalah dengan sendiri, tegak dan tegar, atas ulahku sendiri. lagi-lagi suara sirine token listrik mulai berbunyi. momen ini sangat tidak cocok dengan kondisi yang sedang kualami saat ini, dimana dompet sudah menipis ditanggal muda.

bagaikan datang haus dan dahaga di barisan start. segala hal buruk muncul di pikiranku. aku tak tahu dengan cara apa aku harus menghadapinya, aku tidak mungkin menikah ditengah kondisi keuangan yang seperti ini, ditambah lagi aku sedang memiliki tanggungan untuk menyekolahkan ketiga adikku yang usiannya paling muda berusia 9 tahun dan yang paling tua berusia smp sederajat, dan yang terakhir sedang menempuh ujian nasional beberapa hari lagi. ohhhh… aku sangat risau. aku tak tahu harus bersandar dimana. “ASTAGFIRULLAH.”

tubuhku tak kuat menyangga beban ini, aku sengaja menghempaskan diriku di pulau kasur, dengan segala kehangatan dan kebosanan. aku menatap langit-langit plafon dan menemukan sebuah ide baru untuk menempuh semua ini. aku hanya merasa hanya menjadi beban…

begitu aku masuk di dapur aku melihat seukal/sebonggol tali rafia yang masih baru, tanganku tak sadar dan meraihnya, aku kali ini sangat gugup. menyampirkan tali itu di sebuah tiang pintu kamar mandiku. nampaknya aku mulai hilang akal, bukan hanya itu saja aku mengambil sebuah kursi untuk menjadikannya tempat pijakanku…

kali ini aku tak membuat kerajinan, namun tanpa sengaja tanganku membuat lingkaran dan memasangkannya di leherku. “astaga naga.” aku hanya ingin menghilangkan penderitaan selama ini, tapi aku masih ragu dengan nyawaku yang nampaknya tak sepemikiran denganku. lalu kursi itu sengaja aku tendang, badanku mengayun, aku sangat yakin hal ini sangat berhasil dan tak mungkin gagal.

ditengah nafasku yang senin kamis aku berubah pikiran, aku merasa menyesal, aku ingin memutuskan tali ini, tapi apa boleh buat dengan keadaan yang sudah terlanjur menggatung dibawah tiang pintu.

ahhhh… sakitnya… aku menyesal melakukan ini… astagfirullah… maafkan aku tuhan… “asyhadualla ila ha illallah waasyhaduanna muhammadar rasulullah…”

ditengah posisiku yang sudah kaku aku masih mendengar suara orang yang menggedor-gedor pintu dan memanggil namaku…

DOKKK… DOKKK… DOK… “MIRRR… AMIRRRR… ADA APA MIRRRR… KOG TERIAK… TERIAK…”

Cerpen Karangan: Nahru Jauhar
Blog / Facebook: Jawaharlal Nehru


Cerpen Aku Tak Tahu Cara Menghadapinya merupakan cerita pendek karangan M Nahru Jauhar, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Syarif NP

Sampai di patung kecap kami memutuskan berhenti untuk menghangatkan tubuh dengan segelas bandrek susu dan jagung bakar. Sambil memandang lampu-lampu pemukiman warga di bawah sana. Asyik ngobrol sana-sini akhirnya




Oleh: Redho Firdaus

Latar belakang langit yang begitu indah dengan lukisan orange bercampur warna kelabu serta sang mentari yang akan segera sembunyi keperaduannya menjadi lukisan indah yang menemani semiliri angin sore yang




Oleh: Yumi Yumna

Pagi buta sebelum berangkat bekerja Ibu salat subuh terlebih dahulu. Setiap hari Ibu bekerja dan bekerja. Pekerjaan Ibuku itu, memang menurut saya tidak terlalu berat, karena saya belum merasakan




Oleh: Feetnut

Sesudah itu, aku sudah sangat senang sekali karena itu biaya kuliahku tidak memberatkan lagi orangtuaku yang sangat aku sayangi. Akhirnya terjerembablah semua usaha Adara yang selalu berusaha menjatuhkanku, walaupun




Oleh: Darwin Raja Unggul

Pada malam Jumat 9 Kliwon 8 adalah malam terakhir begadang dalam persiapan menghadapi sidang ujian akhir program sarjana. Untungnya, segelas kopi dengan rasa nyess-segar dapat membantu menyegarkan tubuh dan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: