8 tahun cerpenmu

Cerpen Altar dan Kiblat (Part 1)

Spread the love

Cerpen Altar dan Kiblat (Part 1)





Cerpen Karangan: Yoga Arya Pratama
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati

Lolos moderasi pada: 26 June 2022

Bunyi alarm alami mulai terdengar sayup-sayup menembus mimpiku. Seperti biasa, mamakku menjadi Alarm alami yang ampuh untuk membangunkanku dari tidur pendek akibat bermain game semalaman. “Heh, bangun-bangun, dah siang ini, mau jam berapa lagi kau sekolah?”. Ujar mamakku. Lalu kujawab dengan fonem sederhana “hmm” menandakan aku merespon panggilan mamakku. Singkat cerita, aku sudah bersiap dan langsung pergi ke sekolah. Seperti biasa, aku pergi ketika semua insan hilir mudik di jalanan segera menuju lokasi yang mereka inginkan.

Gerbang sekolah ditutup pukul 7.20 pagi sementara aku berangkat sekolah 7.15 pagi dari rumah. Padahal jarak sekolah dari rumahku memakan waktu 20 menit paling cepat, dan bisa sampai 40 menit jika kondisi macet. Dengan keadaan jalan macet dan pergi dari rumah 5 menit sebelum gerbang sekolah ditutup, sudah tentu aku terlambat. Aku termasuk siswa langganan telat sekolah. Bukan karena tidak bisa bangun pagi, namun entah mengapa lebih asik jika pergi dari rumah ke sekolah dalam keadaan mepet.

Sesampainya di pintu gerbang, guru BK sudah menyambutku dengan hangat dan penuh senyum sumringah, sumringah karena sudah tak sabar menghukumku dan gerombolan siswa lain yang terlambat. Seperti biasa, hukuman di sekolahku adalah push up, sit up, dan jalan jongkok mulai dari depan gerbang sampai kelas. Sialnya, kelasku hari ini berada di lantai 3. Oiya, perkenalkan namaku Yoga, siswa kelas 12 di salah satu SMK Swasta Favorit di Medan. Sekolahku terkenal disiplin dan ketat akan peraturan. Tak heran jika hukumannya berat seperti tadi. Kadang bagi yang terlambat tidak diperbolehkan masuk sama sekali.

Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi, hari ini merupakan hari yang melelahkan dan menjadi makanan sehari-hariku. Untungnya hari ini tidak ada les praktek di sekolah. Langsung kuambil sepeda motor dan segera pulang ke rumah untuk istirahat. Tak sempat ku bercengkerama dengan teman-temanku di parkiran karena sudah sangat lelah akibat hukuman tadi pagi. Kuengkol Vega merah badaiku, dan langsung tancap gas pulang ke rumah.

Di pertengahan jalan pulang, terlihat wanita putih berkacamata dan berambut panjang terurai tengah terduduk lemas di pinggir jalan. Awalnya kukira ia hanya duduk sambil menunggu angkutan umum lewat. Setelah sekilas kuamati, ternyata mukanya pucat bak mayat hidup. Langsung kuputar sepeda motor dan menghampirinya untuk memastikan dia baik-baik saja. Sebenarnya aku adalah orang yang pemalu dan enggan menyapa apalagi menghampiri orang yang tidak kukenal. Entah kenapa hari ini aku berbuat se antimainstream ini, mungkin karena aliran darahku terpompa sampai ke ubun-ubun akibat hukuman dari guru BK tadi.

Terlihat seragamnya mirip sekolah tetangga. Tanpa pikir panjang langsung kusapa dan berbasa-basi sedikit mengenai keadaannya. “Kak, lagi nunggu angkot ya?” Kataku. “Iya bang” Tuturnya sambil terdengar intonasi suaranya bergetar. “Kakak lagi sakit ya? Kok pucat gitu, terus nada bicaranya getar seperti orang sakit” sambungku. “Engga kok bang, gapapa” jawabnya dengan nada yang masih bergetar. Sontak aku langsung ngegas “Gak kak, kakak lagi ga baik-baik saja, yok kuantar kakak pulang, rumah kakak dimana?” Ujarku khawatir padahal baru kenal. “pasar 7 bengkel bang” sambungnya. Langsung kuajak wanita itu naik ke sepeda motor untuk kuantar pulang ke rumahnya.

Saat di jalan, kami tak banyak bicara, akupun tak mencoba berdialog dengannya karena keadaan yang tidak memungkinkan. Aku hanya bicara untuk menanyakan arah menuju rumahnya. Singkat cerita, kamipun sudah sampai di depan rumahnya. Terlihat rumahnya sepi tak berpenghuni ibarat rumah di film-film horor. “Terima kasih banyak ya bang, maaf ngerepotin” ucapnya. “Sama-sama kak, gapapa kok masih satu jalan rumah kita” sambungku. “Iya bang, soalnya ga kenal tiba-tiba mau mengantar saya ya saya tidak enak” ucapnya sambil tersenyum ditengah mukanya yang pucat. “Gapapa kak, aman. Daripada kakak kenapa-napa kan lebih bahaya” kataku. “Iya bang, makasih sekali lagi ya bang.” Ucapnya. “Iya kak sama-sama” sambungku. Langsung ku berpamitan dan pulang kerumah.

Sesampainya di rumah, langsung kulempar tas dan sepatu dan masuk ke kamar untuk tidur. Omelan pun terdengar samar-samar dari mamakku karena tindakanku yang sedikit anarkis tadi. Tanpa terasa waktu sudah sore dan akupun bangun. Saat terbangun, entah kenapa senyum pucat di wajah wanita tadi terlintas di pikiranku. Akupun masih tidak menyangka tentang kejadian tak masuk akal tadi. Ini merupakan pengalaman pertamaku berbicara dengan orang tak dikenal dan mengantarnya pulang tanpa ada kecurigaan darinya. Seakan-akan kejadian tadi seperti sinetron yang tak masuk akal di televisi yang sekarang sedang menimpa diriku.

Seminggu berlalu, aku menjalani aktivitas seperti biasa. Kubangun pagi dengan alarm alami, pergi sekolah, les praktek tambahan dan pulang. Sorenya, mamakku menyuruhku membeli obat kutu air di apotek. Namun, entah kenapa banyak apotek yang tutup hari ini. Kucoba mencari apotek di daerah pasar 7 karena aku belum mengelilingi kawasan itu. Dan benar, ada apotek yang buka dan langsung kudatangi apotek itu.

Kejadian langka nan tak terduga tersaji di apotek tersebut. Tatkala saat aku menghampiri penjaga apotek untuk membeli obat kutu air, aku melirik kearah samping sebelah kiri. Ternyata, amazing!!! Wanita kemarin yang sempat kuantar pulang berada persis di sebelahku dan ia juga melirikku sehingga kami bertatapan. Aku terbengong memandanginya seperti melihat keajaiban alam. Tak berkedip, tak bersuara, hanya sedang menikmati keindahan bidadari ciptaan Tuhan yang satu ini. Melihatku terbengong, wanita itu bukannya menegurku, malah ia semakin tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar menyebabkan badanku gemetar lemas tak berdaya. Cantiknya menembus logika nalarku.

Tiba-tiba penjaga apotek mengganggu momentum terbaik ini, langsung wanita itupun memalingkan wajahnya. Setelah itu, langsung kuambil obat dan kubayar, langsung kuajak ia berbicara. “Eh kakak, dah lama ga jumpa ya, lagi beli obat apa kak di sini?” Tanyaku sambil cengengesan. “Iya bang, hehehe lagi beli obat asam lambung bang, itulah kemarin kumat asam lambungku, ini aja baru sembuh. Kemarin baru pulang dari rumah sakit” ucapnya sembari menjelaskan kronologi kemarin. “Owalah, jadi sekarang dah enakan lah kak?” Tanyaku. “Udah bang, ini beli obat untuk jaga-jaga aja mana tau kambuh lagi” jawabnya. Selepas percakapan itu, kami bertukar nomor WhatsApp dan aku pamit pulang duluan.

Sesampainya di rumah, langsung kukirim pesan kepada wanita itu, dan menjelaskan bahwa aku adalah orang yang ia temui tadi dan seminggu lalu. Ia pun membalasnya dan sudah menyimpan nomorku. “Save Marsya ya, salam kenal” tulisnya ramah. “Iya save juga ya Yoga, salam kenal juga” balasku sumringah. Setelah kejadian itu, kami sering berkirim pesan, membahas seputar identitas diri dan kegiatan yang dilakukan di sekolah dan rumah, bersenda gurau dan membahas sesuatu yang random dengannya. Dari proses perkenalan kami melalui surel tersebut, kusimpulkan bahwa Ia merupakan wanita yang sangat baik, rendah hati , menawan, pintar, dan ceria. Yang terpenting, pemikirannya sangat luas dan dewasa. Tak jarang, ia membantuku memberikan solusi disaat aku curhat tentang apapun baik itu persoalan disekolah maupun persoalan pribadi.

Seminggu sampai sebulan kami berkomunikasi via WhatsApp, kami belum pernah bertemu lagi, ia sibuk dengan kegiatan belajarnya dan les privatnya, sementara aku juga sibuk dengan les tambahan praktek di sekolah. Kami juga tipikal orang yang kurang suka keluar malam jika dirasa tidak ada hal penting. Namun pada suatu saat, ia tiba-tiba mengirimkan pesan dan mengajakku keluar untuk jalan-jalan pada Sabtu malam. Katanya ia ingin membalas kebaikanku kemarin. Tanpa pikir panjang, aku langsung meng-iyakan ajakannya.

Tak terasa hari Sabtu pun tiba, ia mengirim pesan kepadaku sore hari menandakan kejelasan perihal nanti malam. Singkat cerita aku sudah sampai di depan rumahnya. Kukirim pesan padanya bahwa aku sudah ada didepan rumahnya. Tak berselang lama, keluar seseorang dari pintu rumahnya yang ternyata itu adalah Ayahnya. Ia memberi kode padaku agar masuk kedalam rumah. Dengan perasaan yang acak adul, takut Ayahnya marah atas kehadiranku, aku pasrahkan semuanya pada Tuhan dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.

Sesampainya didalam rumah, kusalam Ayahnya dan menyilahkanku untuk duduk. Lalu ayahhnya bertanya padaku “Kamu temannya Marsya ya? Kenapa didepan pagar saja tadi? Tidak masuk saja langsung” tanya ayahnya sangat ramah sehingga menghilangkan kegugupanku. “Iya om, maaf saya menunggu didepan, soalnya ini pertama kali saya kerumah Marsya” jawabku. “Oh begitu, jadi ini mau kemana kalian?” Tanya ayahnya Marsya. “Marsya bilang ingin jalan-jalan sebentar” jawabku lagi. “Ya sudah, hati-hati ya. Ini malam Minggu ramai orang dijalan. Ya sudah om panggil Marsya dulu didalam, sekalian om mau istirahat. Jangan lupa, hati-hati ya” Tutur ayah Marsya sambil memberi nasehat dan memanggil Marsya.

Tak lama Marsya pun keluar, dan apa reaksiku? Sama seperti di apotek kemarin, yang membedakan ini lebih lama sampai-sampai aku tidak merespon panggilan Marsya. Rambutnya yang terurai, kacamata dengan frame merah muda seragam dengan warna bibir dan gaun pendek yang ia pakai. “Eh udah jangan diliatin gitu, aku malu jadinya” ucap Marsya malu. “Eh iya, maaf ya, soalnya cantik kali” jawabku keceplosan. “Kan gitu deng, jadi malu, ga jadi pergi lah” jawab Marsya malu tak karuan. “Hehe iya iya, ya sudah, yuk berangkat, biar ga kemalaman” kataku. “Yuk” jawabnya.

Aku tersenyum sendiri di sepanjang jalan membayangkan penampakan bidadari yang tadinya tepat didepanku sekarang berada di belakangku sambil memegang tiang gawang motorku. “Eh kenapa senyum-senyum sendiri, macam orang ga waras” ketus Marsya sambil tertawa kecil melihatku tersenyum sendirian dari kaca spion. “Sumpah aku ga habis pikir, bisa kenal, natap, dan jalan sama bidadari” ucapku sambil malu-malu. “kan, udah lah, jangan ngejekin aku aja, nanti aku ga mood” ucapnya dengan keadaan salting parah. “Serius, ngapain aku bohong, seumur hidup aku belum pernah bonceng bidadari” ucapku yang juga salting parah. “Ah udah ah, jangan gitu lagi” sambungnya dengan nada mulai kesal. “Iya iya, kita makan ditempat biasa aku nongkrong aja ya, disana ada rooftop yang enak buat ngobrol-ngobrol” sambungku. Marsya mengiyakan hal itu.

Cerpen Karangan: Yoga Arya Pratama
Facebook: Yoga Arya Pratama
Namaku Yoga Arya Pratama, biasa dipanggil Yoga. Aku adalah seorang mahasiswa disalah satu Universitas Swasta di Medan.Aku kurang suka membaca,apalagi cerpen. Namun belakangan ini aku mulai menyukai dunia menulis, semoga mulai dari karya ini, aku bakal rajin menulis kedepannya.


Cerpen Altar dan Kiblat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Yoga Arya Pratama, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Hanida Hafsya Tsabita

Dedaunan kering tersapu angin, tersimpah ke tanah. Menghadirkan aroma khas kala hujan yang masih menerpa dan tak kunjung henti. Rayna hanya bisa mengeratkan jaket yang dikenakannya, berlari menerjang rintikan




Oleh: Yohanes Tuba Matarau

Cinta selalu membuatmu menunggu Dan kau harus membayarnya dengan sebuah penantian karena itu setimpal dengan sebuah perasaan Yang mana selalu membiusmu untuk tetap menunggu Frans tidak merasa bosan ketika




Oleh: Kharisma

Ryena hanya bisa menghela nafas dan duduk sendirian di bawah pohon yang sangat rindang, seperti biasa ia harus menemani Syena saudara kembar identiknya, untuk berkencan dengan Arman. Sudah berkali-kali




Oleh: Marta Widya

Mendung!!! Sang Mentari tampaknya enggan tersenyum lagi di hari ini. Tampaknya ia turut berkabung dengan apa yang mengusikku beberapa hari lalu. “Please.. jangan hujan lagi,” kataku memohon dalam hati.




Oleh: Afrillebar Putra Pratama

Mungkin tidak hanya aku yang berpikir bahwa hadirnya sebuah kabar itu adalah suatu hal yang penting dan tidak boleh disepelekan. Kabar terkini ataupun kabar terbaru itu sangat aku hargai



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: