8 tahun cerpenmu

Cerpen Altar dan Kiblat (Part 2)

Spread the love

Cerpen Altar dan Kiblat (Part 2)





Cerpen Karangan: Yoga Arya Pratama
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati

Lolos moderasi pada: 26 June 2022

Singkat cerita, kami sudah sampai lokasi dan sudah mencari tempat yang nyaman untuk diskusi atau berbincang santai. “disini tempatnya enak ya, sepi, dibawah aja yang rame” ucapnya. “Iya, sengaja kubawa ke tempat ini, karena jam segini belum banyak yang naik keatas, biasanya anak-anak tongkrongan naik kesini Mabar game online jam 11-an” jelasku. Kami pun bercerita, bersenda gurau sembari menunggu pesanan datang. Tak lama, ia mengatakan sesuatu yang membuatku berusaha merekam kejadian ini dan menyimpannya di tempat yang paling dalam. “Yoga, perkenalan kita memang tak lama, dan kita juga belum saling mengenal lebih jauh. Tapi entah kenapa, aku nyaman sama kamu. Mulai dari tindakan kamu pertama kali nolong aku, terus kamu orangnya seru, lucu juga, ekspresif, baik, dan yang terpenting denganmu, aku menjadi diri sendiri dan lebih terbuka. Itu buat aku mau kita ga cuma sekedar teman” ucapnya panjang lebar mendeskripsikan perasaannya padaku.

Mendengar hal itu, lagi lagi dan lagi, aku hanya bisa terbengong, ternganga, dan speechless. Otak dan badan tak lagi sinkron bak orang mabuk, bedanya ini mabuk cinta. “Kamu yakin sama aku? Aku itu jelek loh, ga disiplin, dan ga ada dari diri aku yang bisa kamu banggain” ucapku berusaha menjelaskan segala kekuranganku. “Bukannya cinta dan nyaman itu melibatkan perasaan bukannya fisik? Bukannya cinta itu mengkonversi kekurangan menjadi kelebihan?” tegasnya serius menatapku dengan dalam, namun tetap tersenyum manis. “Kalo aku sih, jujur juga cinta sama kamu, kamu itu luar biasa, kamu itu wanita yang” … “Ssstt, diam, udah cukup aku gamau dengar lagi. Yang penting aku sama kamu punya perasaan yang sama, dan kita sudah resmi jadian, gimana?” Ucapnya seakan-akan aku diposisi cewe dan dia cowonya. “iya, aku mau kok”. Sambungku dengan perasaan senang.

Taklama makanan pun datang. Aku dan Marsya memang belum makan malam, supaya ketika di tempat makan, tidak ada makanan yang sisa. Ketika kami hendak makan, terlihatlah pemandangan indah, namun menjadi problematika yang terlupakan dan urgen kurasa. Sebelum makan kami berdoa terlebih dulu, aku menengadahkan tangan, sementara ia menggenggam tangannya. Titik ini.., keadaan ini.., posisi ini.., membuatku serba salah, aku mencintainya dan Marsya mencintaiku dengan tulus. Wanita secantik Marsya tak pernah kutemui di satu agamaku. Kulihat ketulusan Marsya dalam mencintaiku hingga ia melupakan perbedaan antara agamanya dengan agamaku. Memang baru kutahu sekarang karena aku tak mau menanyakan perihal keyakinan padanya karena takut intoleran. Kurasa ia pun sadar bahwa kami beda agama dari awal karena aku sering menyematkan kata “Astagfirullah” dalam percakapan kami.

Kebimbangan ini seketika meneteskan air mataku, antara haru, sedih, dan bahagia. Ketika kamu mengetahui bahwa orang yang sangat mencintai, menghargai, dan menganggapmu orang yang berharga, berbeda keyakinan denganmu. Namun kusembunyikan itu dengan cepat karena aku takut merusak suasana malam ini. Singkat cerita kamipun pulang setelah menghabiskan makanan dan sedikit berbincang-bincang tentang sesuatu hal yang random.

Pada saat perjalanan pulang, semula yang tadinya tangannya memegang tiang gawang beralih memeluk diriku, sembari berbisik “Jika orang merasa beruntung memiliki keluarga yang kaya raya, maka aku merasa beruntung memilikimu” bisiknya lembut. “Jika kamu beruntung memilikiku, maka aku akan bersyukur dicintai olehmu”. Sambungku berlagak sok puitis. Lalu ia terdiam memelukku dengan erat sambil mengatakan “I love you” padaku.

Sesampainya di rumah Marsya, aku langsung berpamitan dengan ayah Marsya sambil memohon maaf jika aku terlalu lama membawa Marsya jalan-jalan. “Tidak apa-apa kok, yang penting sudah pamit dan tidak kemalaman” ujar ayah Marsya. “Baik om, terima kasih ya om, saya izin pamit dulu” sambungku. “Iya hati-hati” jawab ayah Marsya. Ayah Marsya masuk kedalam rumah dan aku diantar Marsya sampai depan pintu rumahnya. Aku sontak terkejut, Marsya yang tadinya didepanku berbalik kearahku dan langsung memelukku. “Hati-hati ya sayang” ucap Marsya. “Iya sayang, makasih ya, kamu jangan lupa langsung tidur” ucapku menyuruhnya untuk istirahat. Lalu Marsya mengiyakan dan masuk. Sementara aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku seperti orang gila. Perasaanku bercampur aduk tak bisa dideskripsikan. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri dan terguling-guling ditempat tidur. Ini pertama kalinya aku merasakan dicintai oleh wanita, ditambah dengan wanita secantik Marsya. Dan aku merasa sangat beruntung atas kejadian ini, sampai-sampai aku tertidur karena bahagianya hari itu

Keesokan harinya, aku bangun kesiangan. Alarm alamiku tidak berfungsi jika hari minggu sebab pagi buta ia sudah pergi kepasar membeli lauk pauk dan sayur mayur untuk kami. Entah mengapa, mood ku hari ini sangat bagus ditambah pesan masuk dari Marsya yang dikirimnya pada pukul 7 pagi. “Selamat pagi, eh siang Marsya, sorry ya baru balas” ketikku dikolom chat WhatsAppnya. “LAMA IH, DAH JAM BERAPA INI? KAMU GA SUBUHAN YA?” Jawabnya dengan tulisan penuh huruf kapital menandakan ia sedang marah. “Hehe iya maaf ya, aku gatau tumben kesiangan, biasanya tetap bisa bangun pagi meski ga dibanguni mamak” jawabku. “Yauda, sekarang kamu bangun, aku mau ke gereja. Kamu jangan lupa makan ya sayang, love U” pesannya. “woke sayang, love U Too” jawabku mengakhiri pesan”.

Dengan berakhirnya pesan tadi, aku mulai melaksanakan apa yang Marsya pesankan tadi, sekaligus aku beres-beres kamar mandi rutinitas setiap sebulan sekali. Sedang asik menggosok lantai kamar mandi sampai melamun, tiba-tiba aku teringat kejadian tadi malam, “waw amazing” kataku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri. Memang kejadian tadi malam luar biasa sekali, kuakui setiap aku mulai mengkhayal, terlintas wajah manis nan imut Marsya, senyumnya merubuhkan pendirian kakiku, matanya melumpuhkan sendi-sendi tanganku hingga kutak sanggup menggosok lantai kamar mandi lagi, saranya menghipnotisku untuk tetap mengkhayal. Sampai akhirnya aku disadarkan oleh segayung air yang disiramkan mamakku. “Heh cengar-cengir koyo wong edan” ucap mamakku memakai bahasa andalannya, yaitu Jawa”. “Hehehe iya mak, ngantuk kali masih, jadi melamun aja bawaannya” jawabku sambil cengengesan. “Yauda lanjutin, mamak mau masak” katanya. “Siap bos” jawabku dengan semangat.

Hari sudah siang, pekerjaan rumahku sudah selesai. Kucek gawaiku, terlihat sepi notifikasi dan senyap percakapan. Ingin kukirim pesan pada Marsya, tapi aku takut mengganggu ibadahnya. Alhasil aku bermain Mobile Legend sampai ketiduran. 120 pesan masuk, 10 panggilan suara tak terjawab, 3 panggilan video tak terjawab, Yang sudah tentu itu dari Marsya. Sontak langsung kubangun dan meneleponnya, namun tak dijawabnya. “aroma-aroma merajok ah” kataku dalam hati. Tiba-tiba mamakku memanggil agar kuambilkan daun pisang disamping rumah untuk bontot bapak kerja.

Lagi-lagi, 3 pesan terbaru masuk dari Marsya yang berisi “Gapeka ih, maleslah, gausa chat aku lagi”. Akupun bingung, karena ini adalah pertama kalinya aku pacaran, hal hal semacam ini masih tabu bagiku. Pesan Marsya hanya kuread, tak sanggup aku berkata apapun di kolom chatnya. Karena panik dan geger mengatasi permasalahan sepele dan lumrah dalam percintaan ini, aku mencari solusinya dengan bertanya juga pada bapakku. “Pak, kalo perempuan ngambek macemana?”. “Bah, cemananya kau, gitupun gatau. Kau datangi rumahnya, nanti dah siap merajok dia itu”. Jawab bapakku sambil ngakak. “Okelah pak, ga perlu bawa coklat kan?” Jawabku. “Alah gausalah, kau datang aja kerumahnya dah cukup, kalo mau bawa martabak pun dah paten kali” jawabnya.

Berkat masukan dan saran dari bapak, aku langsung meluncur ke rumah Marsya. Saat sudah sampai, langsung kuketuk pintunya tanpa memberitahunya bahwa aku akan datang hari ini. “Paket, permisi paket” ucapku bercanda. “Iya pak, tunggu sebentar” teriak Marsya dari dalam. Dan ketika pintu terbuka, sepasang sendal melayang ke mukaku. Ternyata Marsya sudah tau bahwa aku didepan dengan mengintip melalui jendela ruang tamu. “Dah buat kesel, makin kesel, kan tadi udah kubilang jangan chat aku lagi” jawab Marsya dengan kesal sambil tangan dikepal. “Kalo gaboleh dichat lagi, berarti datang masih boleh kan?” Ucapku dengan nada lembut dan merayu. Raut muka marah berapi-api milik Marsya seketika berubah menjadi senyum nanggung yang bikin hati adem ayem. Dan langsung Marsya memelukku sambil berbisik menanyakan mengapa aku telat menjawab pesan dan teleponnya. “Tadi siang aku lagi main mobile Legend terus ketiduran, lalu pesan kedua aku bingung mau jawab apa jadi langsung kesini aja” jawabku sambil tertawa kecil.

Kedebakkk… pukulan super milik Marsya masuk ke perutku disambung ciuman hangat di pipi sebelah kiriku. “Pukulannya buat melampiaskan emosi aku nengok kau, kalo ciumannya buat aksimu yang lucu, jujur, dan manis” ucap Marsya. Aku bingung mau jawab apa, aku hanya bisa mengelus perut dan pipiku, tak menyangka, kasih sayang bisa datang beriringan dengan kekerasan. Sangat luar biasa rasanya, seakan-akan makan eskrim campur saos sambal. Singkat cerita, kami saling bercerita mengenai aktivitas yang kami lakukan tadi sambil menyantap martabak keju-susu. “Yauda lain kali kasi kabar ya kamu lagi ngapain, supaya aku ga nyariin, gapapa kamu telat balas, asal jangan telat atau ga balas karena MAIN GAME” ucapnya dengan penekanan pada kata main game. “Siap laksanakan ibu negara” ucapku dengan tegas. Hari sudah sore, aku berpamitan dengan Marsya, namun ayahnya tidak ada karena sedang diluar kota.

Malam pun tiba, tidak ada pesan masuk dari Marsya sampai ba’da isya’. Mungkin ia sudah puas melepas rindunya padaku. Seperti biasa, dimalam Senin dan Sabtu aku mengikuti kegiatan remaja mesjid di dusun. Gawai kutinggal sebab baterai habis. Selepas pulang dari mesjid, terlihat pesan masuk 7 menit lalu dari Marsya yang isinya lebih kurang ingin pergi sekolah bareng sebab ayahnya keluar kota selama seminggu. “Omak, seminggu ini full antar jemput Marsya nih ceritanya” ucapku kecil. Lalu kujawab pesan itu dengan tanda setuju.

Cerpen Karangan: Yoga Arya Pratama
Facebook: Yoga Arya Pratama
Namaku Yoga Arya Pratama, biasa dipanggil Yoga. Aku adalah seorang mahasiswa disalah satu Universitas Swasta di Medan.Aku kurang suka membaca,apalagi cerpen. Namun belakangan ini aku mulai menyukai dunia menulis, semoga mulai dari karya ini, aku bakal rajin menulis kedepannya.


Cerpen Altar dan Kiblat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Yoga Arya Pratama, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ridha Michael

Namaku Ridha usiaku 17 tahun aku sudah selesai sekolah di bangku SMK. Inilah kisah cintaku 4 tahun yang lalu. Berawal dari ketika aku masih SMP, waktu itu aku hanya




Oleh: Agnesty Irenciu

Seorang gadis cantik berusia pertengahan dua puluh tahunan duduk di sofa menghadap ke televisi sambil mengigit kuku milik jari mungilnya. “Saya akan mengumumkan siapa orang yang beruntung yang akan




Oleh: Maylya Isnaeni

Di bawah pancaran sinar matahari, dua orang pemuda yang sedang asik memperebutkan bola oranye itu seakan tidak mempedulikan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya. Mereka tertawa lepas tanpa memperlihatkan wajah




Oleh: Maghfiroh

Hujan merintik semakin deras. Jam di pergelangan tanganku menunjuk pada pukul 4 sore. Kafe yang sedang kudiami semakin sepi, hanya ada satu-duaan pengunjung yang datang untuk berkunjung. Dentingan cangkir




Oleh: Amie Sudarmi

Masa-masa SMA emang masa yang paling indah kata orang dan masa itu masa yang gak akan terulang. Sekarang Dinda sudah gak pake seragam putih abu-abu lagi, sudah bukan anak



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: