8 tahun cerpenmu

Cerpen Altar dan Kiblat (Part 3)

Spread the love

Cerpen Altar dan Kiblat (Part 3)





Cerpen Karangan: Yoga Arya Pratama
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati

Lolos moderasi pada: 26 June 2022

Pagi harinya tepat selepas salat subuh, Marsya meneleponku dan mengisyaratkan agar segera menjemputnya 10 menit dari sekarang. Aku yang notabenenya selalu tidur lagi setelah subuh, dan nantinya akan dibangunkan oleh alarm alami, merasa sangat kepagian. “Gak kepagian nih Sya? Jam segini orang masih tidur” balasku dalam pesannya. “Pokoknya kutunggu 10 menit lagi, kalo ga datang, aku pergi sendiri” jawabnya dan langsung mematikan data seluler. Tanpa pikir panjang aku langsung bersiap dengan secepat kilat tanpa sempat sarapan dan ketika hendak berpamitan pergi sekolah mamakku berkata “kau kesambet apa jam segini pergi?”. “Lagi ada janji sama kawan buat pigi bareng” jawabku sambil memakai sepatu. “Kawan atau kawan hidup?” Sambung bapakku. “Alah bapak ini pening kali awak ah” ucapku grogi. “Kau dah pande ya sekarang, ga sarapan dulu kau?” Tanya mamakku. “Gausa Mak, gapapa nanti aku beli roti aja di jalan” jawabku. “yauda hati hati ya” ucapnya. “Yok mak, pak, assalamualaikum”. “Waalaikumussalam” ucap mereka.

Pergi pagi hari sebenarnya menyenangkan, udara masih sejuk, jalanan masih sunyi, bisa sambil santai mengamati pemandangan jalan sekitar. Namun aku harus bergegas menjemput Marsya kalau tidak entah jurus apalagi yang ia keluarkan untuk melampiaskan rasa kesalnya. Selang 15 menit aku pun sudah tiba di rumah Marsya. Kusangka aku sudah terlambat, ternyata ia masih berpakaian setengah seragam. “Loh kok belum siap-siap?” Tanyaku heran. “Iya aku nyuruh datang cepat supaya kamu nemenin aku sarapan, bibi tadi langsung pulang karena anaknya sakit, yauda yuk makan” jelasnya. “Walah kusangka takut telat atau cemana, yauda yuk” jawabku. Entah kenapa, hubungan baru berjalan 3 hari, rasanya kami seperti sudah merajut hubungan yang bertahun-tahun. Sedikit heran namun kusyukuri karena aku selalu bahagia bersamanya.

Kurang lebih hubungan kami sama-sama saja selama 3 bulan. Setiap malam Minggu kami keluar, setiap ia merajuk aku datang ke rumahnya, setiap ayahnya keluar kota aku selalu datang untuk mengantar jemputnya kesekolah. Tidak ada hal yang berbeda selain Marsya mulai sering mengisi bahan bakar sepeda motorku yang ia rasa wajar.

Sampai pada akhirnya, mamakku mulai menanyakan perihal kebiasaanku yang mengantar Marsya, mamakku ingin Marsya berkunjung ke rumah guna melihat bagaimana Marsya. Aku membicarakan hal ini dengan Marsya, dan Marsya dengan senang hati menerima tawaran itu. Besoknya langsung kubawa Marsya kerumah selepas pulang sekolah. Tidak ada yang janggal dari percakapan mereka berdua, mereka tertawa, bercerita, dan terkadang mamakku memberi masukan dan nasehat terkait masalah yang coba dikeluhkan Marsya.

Singkatnya, aku mengantar Marsya pulang. Dan Marsya mengatakan “Mamak kamu baik kali, aku jadi rindu sama mamaku” ucapnya sambil sedikit mengeluarkan intonasi sedih. “emang mamamu kemana?” Sambungku. “Mamaku udah pisah sama ayah, sewaktu aku kelas 5 SD, makanya kamu gapernah nampak mamaku kan. Masa kamu ga merasa janggal” ujar Marsya. “Maaf ya aku udah nanya gitu, aku juga ga berani asal nanya meskipun gapernah ngeliat, aku takut kamu sedih” jawabku dengan nada rendah. Langsung Marsya memelukku dengan erat sampai dadaku sesak, lalu ia menangis. Saat aku hendak menenangkannya Marsya menyuruhku tetap fokus membawa sepeda motor dan mengucapkan terima kasih dan i love you.

Sesampainya di rumah, aku mengatakan bahwa Marsya boleh sering-sering main kerumahku, guna menghilangkan rasa sedihnya akibat perpisahan mama dan ayahnya. Dan lagi-lagi Marsya memelukku dan mengucapkan i love you. Lalu Marsya menyuruhku pulang karena hari sudah sore. Sesampainya di rumah, tiba-tiba mamak mengajakku berbicara. Ia menanyakan apa agama Marsya, lalu seberapa besar sayangnya aku ke Marsya. “Agamanya Kristen Mak, kalo ditanya sayang, sayang kali, dia satu-satunya perempuan yang mau nerima aku dan sayang kali sama aku” ucapku. “Gimana ya, sebenarnya mamak agak sanksi begini, karena ya gitulah kalau udah beda agama susah, cuma ya mamak juga ga berani ngelarang, takut kalian gimana-gimana. Yang penting kalian jaga diri aja” nasehat mamakku. Aku mengiyakan dan langsung masuk kekamar.
Didalam kamar aku berfikir, Perkataan mamakku benar, sulit sekali jika hubungan ini diseriuskan, banyak sekali permasalahan yang timbul jika dipaksakan, dan hanya 0,1 persen saja peluang untuk bisa bersama dipelaminan. Sebab, Rosario mu takkan bisa bersama dengan tasbihku. Altarmu dengan kiblatku tak mungkin berdampingan. Sebab, semesta akan marah, dan Tuhan yang MahaEsa pasti akan murka. Meskipun kita saling mengingatkan, toleransi, semua itu taklah cukup, butuh keimanan yang homogen agar kita bisa bersanding bersama dalam ikatan sah.

Cinta dan iman saling berperang di dalam hati, saling melukai dan membenarkan maksud. Tak kuasa ku menahan gejolak ini, ku putuskan untuk tahajjud dan istikharah memohon petunjuk dan ampunan kepada-Nya. Terus kuulang setiap hari, setiap malam, sankingkan aku risaunya terhadap permasalahan ini. Meskipun kami hanyalah anak SMK kelas 3, namun tetap saja masa depan harus diperhatikan. Setelah sekian lama barulah kudapat jawabannya. Kuyakinkan keputusanku untuk tetap bersama agamaku ketimbang cintaku, sebab Allah SWT adalah sang Maha Kaya. Meskipun berat kurasa, pedih, perih bercampur lirih, tetap harus kulakukan sebelum cintaku terlalu dalam. Aku tak mau berpikir bahwa kelak nanti Marsya akan bisa berpindah agama bersamaku. Karena itu sedikit sensitif menurutku jika memaksa seseorang untuk pindah keyakinan, ditambah Marsya adalah orang yang taat pada agamanya.

Setelah kejadian itu, aku datang kerumah Marsya. Ia menyambut diriku dengan wajah ceria, hangat, dan manis, tak kuasa ku tatap terlalu lama sebab kutakut keputusanku goyah. “Hai sayang, tumben siang gini datang? Biasanya sorean atau malam?” Sambutnya. “Iya, ada yang mau kuomongin nih, serius. Bisa ga ?” Ucapku serius. “Boleh, duduk didalam aja ya” jawabnya bingung.

Sesampainya didalam, aku langsung menceritakan semua hal yang aku fikirkan tadi malam. “Apa yang kamu ucapkan semuanya benar, sebenarnya hubungan kita ini sangatlah berisiko. Bahkan tidak direstui” ucapnya dengan nada pasrah. “Aku minta maaf ya sya, aku cinta sama kamu, kamulah cinta pertamaku, dan mungkin yang terakhir. Kamu wanita sempurna, aku tak sanggup harus melupakan dan kehilanganmu. Sebabmu aku merubah kebiasaan burukku, sebabmu aku menjadi pribadi yang lebih baik, lebih ceria. Aku ga tau, bagaimana kehidupanku selanjutnya tanpamu” ucapku sambil meneteskan air mata. “Udah, jangan nangis ya sayang, meskipun kisah cinta kita berujung tragis seperti ini, kita tetap harus kuat dan melanjutkan kehidupan kita. Biarlah kisah cinta kita menjadi kenangan dan pengalaman yang berharga, aku juga cinta padamu, kamu adalah lelaki terbaik yang aku kenal setelah ayahku. Keluargamu baik, lucu, humoris, sama sepertimu. Aku nyaman dengan keluargamu. Namun, kembali lagi, iman kita berbeda” jawab Marsya dengan penuh ketenangan dan ketegaran. “Kamu tetap boleh main ke rumahku kok Sya, kapanpun kamu datang, keluargaku selalu menerimamu” ucapku tenang.

Sekitar 10 menit kami saling bertatapan tanpa kata, tiba-tiba Marsya menangis tak karuan. Aku langsung memeluknya, “Kamu kenapa? Udah gapapa, kita bakal bisa tetap seperti ini kok, namun dengan status yang berbeda” ucapku menenangkan Marsya. “aakuu.., cin, cinttaa samamu yoga, aku ga sanggup kalo harus berpura-pura tegar, aku ga mau kehilangan kamu, kamu adalah orang yang luar biasa dalam hidupku” ucap Marsya sambil menangis tersedu-sedu. Aku tak mampu berkata apa-apa, aku hanya bisa memeluk dan membelai rambutnya guna menenangkannya.

15 menit berlalu, kami sudah saling tenang dan pasrah. “Kita memiliki tuhan yang satu, namun keyakinan kita yang tak sama. Hubungan beda agama itu rasanya mirip secangkir kopi. Meski terasa manis karena diseduh dengan gula, rasa pahitnya tetap saja ada. Persis sama seperti yang kita alami sekarang. Kita dipaksa untuk menyerah disaat kita sedang cinta-cintanya. Untuk terakhir kalinya aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, aku ingin mendatangi lokasi yang sering kita datangi terutama tempat pertama kali kita bertemu” tuturnya dengan lembut dan sendu. Tak kuasa tangisku pun kembali pecah, dan Marsya kembali memelukku dan menenangkanku.

Setelah kejadian penuh tangis tadi, kamipun berangkat. mendatangi lokasi dimana aku menolong Marsya, Marsya menyatakan cintanya padaku, dan lokasi-lokasi yang sering kami datangi. Sebenarnya kami saling menahan tangis, namun dengan bantuan genggaman tangan dan pelukan, kami melupakan sakitnya perpisahan yang sebentar lagi menemui dan memisahkan kami selamanya. Kami menikmati semuanya sama seperti waktu aku dan Marsya pertama kali jalan. Waktupun sudah larut, kami pun pulang. Sesampainya dirumah Marsya, kami sudah mengikhlaskan semuanya saat diperjalanan. Kini tawa pasrah dan ikhlas tengah mewarnai wajah kami, berkomitmen untuk tetap saling berkomunikasi, berhubungan baik sebagai seorang teman.

Setelah sekian Minggu berlalu, Marsya kembali menghubungiku. Ia ingin datang ke rumahku bersama ayahnya. Akupun terkejut, namun kuiyakan kemauan Marsya dan kami bersiap untuk menyambut kedatangan Marsya dan ayahnya. 15 menit berlalu, Marsya dan ayahnya tiba menggunakan mobil, lalu kami mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu di rumah. Ternyata ayah Marsya tau tentang kejadian kami beberapa Minggu yang lalu. Ayahnya mengetahuinya dari bibi pembantu yang ada dirumahnya. Ayah Marsya menceritakan pada keluargaku. Haru dan salut menghiasi perasaan mereka para orangtua terhadap keputusan kami. Ternyata cinta bukan jadi alasan mereka membangkang pada Tuhan-Nya.

Tiba-tiba ayah Marsya menerima telepon, dan itu dari pihak bandara bahwa pesawat sebentar lagi tiba. Ternyata Marsya dan Ayahnya hendak pindah ke Padang karena pekerjaan. “Hati-hati ya disana, jaga dirimu baik-baik, sehat selalu, jangan lost contact ya,” ucapku mengiringi perpisahan kami. “Iya sayang, aku akan selalu ingat lelaki hebat yang sudah bersamaku mengarungi kerasnya hubungan lintas agama, dan semoga Allah kita selalu menjaga kita.” jawabnya dengan ceria dan seperti biasa, wajah manis nan menawan. “Aku akan merindukan senyumanmu itu Marsya” ucapku dalam hati sambil menatap kepergian Marsya menaiki mobil menuju bandara. “Shalom yoga, semoga kelak kita akan bertemu lagi” ucap marsya lembut. “Waalaikumussalam Marsya, Amin” jawabku.

Sejak saat itu, ternyata Marsya memutuskan komunikasi guna menghentikan kenangan atas kami. Namun tak apa menurutku, sebab semuanya harus segera melanjutkan hidupnya masing-masing dan menemukan orang yang ia cintai dan menjaganya dengan baik sekali lagi. Kadang Tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai pencipta-Nya atau ciptaan-Nya. Kehilangan cinta pertama bukanlah hal mudah, meskipun cinta kami singkat, namun esensinya sangat melekat kuat. Namun sekuat apapun itu, jika Tuhan tak merestui, kita sebagai hamba bisa apa?.

Percintaan saat SMA memang penuh dengan kenangan dan tantangan, akan tetapi carilah tantangan yang seiman. Dan buat teman-teman yang sedang mengalami percintaan seperti ini, tetap semangat, carilah jalan keluar yang terbaik bersama-sama. Sebab altar, tak bisa beriringan dengan kiblat.

Cerpen Karangan: Yoga Arya Pratama
Facebook: Yoga Arya Pratama
Namaku Yoga Arya Pratama, biasa dipanggil Yoga. Aku adalah seorang mahasiswa disalah satu Universitas Swasta di Medan.Aku kurang suka membaca,apalagi cerpen. Namun belakangan ini aku mulai menyukai dunia menulis, semoga mulai dari karya ini, aku bakal rajin menulis kedepannya.


Cerpen Altar dan Kiblat (Part 3) merupakan cerita pendek karangan Yoga Arya Pratama, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Riska Yunita

Dalam sebuah surat digital ini, sempurnalah segala kata yang tidak mungkin terucap. Segala bait puisi yang terdengar mustahil di telinga bila kubaca dengan nyata. Nyali ku kian punah, sebab




Oleh: DKS Cancer Girl

Hari ini Muki kepengin banget bikin komik lagi. Komik yang telah dibuat tidak diterima. “Katanya gambar ceweknya kurang cakep. Lha, disini kan kagak ada yang cakep. Mukanya aja pada




Oleh: Latifah Nurul Fauziah

Dia terkenal dengan kepiawaiannya dalam bersilat lidah. Semua orang sudah tidak aneh lagi dengan sifat terkutuknya. Bahkan sudah banyak korban kebohongan dari dulu hingga sekarang. Entah apa yang menjadi




Oleh: Ana Mairah

Hari itu hujan turun deras membasahi kota, setelah beberapa hari matahari bersinar terik membuat orang-orang enggan keluar rumah di siang hari karena panasnya yang menyengat. Hari ini suasananya mendung




Oleh: Ayu Gita

Mentari pagi menyambutku hangat. Menuntun jalanku ke sekolah untuk tujuan mulia, menuntut ilmu. Aku menyusuri lobi sebelum akhirnya sampai di kelas. Di depan kelas, aku melihat sahabat lamaku -Wira



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: