8 tahun cerpenmu

Cerpen Anggina (Part 1)

Spread the love

Cerpen Anggina (Part 1)





Cerpen Karangan: Richa Wahyuni
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sedih

Lolos moderasi pada: 10 May 2022

Sinar mentari keluar dari persembunyiannya. Sinarnya melewati celah-celah bunga yang sedang bermekar, sambil bercermin di atas danau yang tenang agar siap menyambut dunia yang baru. Angin berhembus meniup daun-daun yang berguguran di sekitar tanaman. Beberapa hewan keluar menyambut hangatnya pagi, sesekali bernyanyi menunjukan kebahagiaan yang terpancar dari sinarnya. Suara daun dan ranting yang bergesekan serta nyanyian hewan, membangunkan seorang gadis. Gadis itu bernama Angina. Namanya diciptakan dari hembusnya angin yang menerpa rambut ibunya saat akan melahirkannya. Ibunya mengelus perutnya dengan kasih sayang untuk menahan rasa sakit. Dia tahu bahwa Angina akan selamat tanpa dirinya.

Angina membersihkan kamarnya, menyapu lantai rumah dan halamannya. Selesai itu, dia menyiapkan sarapan untuknya dan kakak kembarnya, Anggi. Sambil mengaduk-aduk sup buatannya, seekor burung muncul di jendela dapurnya. Burung itu memperhatikannya dan sesekali membersihkan sayapnya lalu terbang menjauh dari dapurnya. Angina memotong beberapa tempe dan tahu untuk digoreng. Dia memasak layaknya koki di hotel bintang lima. Lincah, gesit dan hasilnya memuaskan. Bau masakannya memanggil beberapa hewan yang ingin meminta sedikit masakannya. Tak lupa Angina mengoreng ikan, masakan kesukaan Anggi dan kucing kesayangnya, Muki. Ikan yang belum diberi bumbu dia pisahkan untuk Muki. Setelah semuanya siap, dia memindahkan hasil karyanya ke meja makan. Hari ini rasanya semua bahan makanan tersaji di dalam kulkas. Pasti kakak baru datang dari pasar, pikirnya sambil tersenyum samar.

Selesai membagikan makanan ke pasukan penjaga rumahnya, dia mulai menyantapnya dengan tenang. Bak suara ombak di laut, terasa damai. Suara kecipak makanan pun tak didengar di ruangan ini. Peliharaannya seolah-olah mengerti arti kesopanan. Dentingan sendok dan garpu bersautan menambah kesan yang sangat sunyi. Sunyi sekali. Andaikan Angina bisa merasakan hidup bersama makhluk sejenisnya.

Selesai makan, dia mencuci alat masak dan bekas makanannya. Tak lupa untuk membereskan bekas makanan pasukannya. Lantai yang baru dia sapu pun tak nampak jejak kaki mereka atau sisa makanan yang berserakan. Mereka sangat paham tentang apa yang diajarkan Angina mengenai kebersihan. Angina memperhatikan mereka bangga dan meminta mereka untuk menyentuh hangatnya mentari pagi. Mereka pun keluar dengan tertib, tidak mendahului di depan atau mendorong satu sama lain. Mereka mencoba memahami bahwa berisik bukan hal yang disukai majikannya. Karena majikannya sangat kesepian.

Angina menggosok-gosokan rambut yang baru saja dicucinya lalu duduk di pinggir kasur. Dia mengotak-atik handphonenya melihat berita-berita hangat yang beredar di masyarakat. Matanya tertuju pada berita utama yang menampilkan tentang seorang perempuan berusia 20-an ditemukan di tengah danau sedang mengambang. Angina meletakkan handphonenya di meja, di samping tempat tidurnya. Anggi tidak mungkin ada di sana. Dia sudah mencarinya bahkan sampai ke dalam danaunya. Berita itu tidak menjelaskan tentang Anggi. Angina menutup matanya lalu menghembuskan nafasnya dalam-dalam, air matanya mengucur melewati pipi sampai dagunya lalu terjatuh. Bulir-bulir air mata dia keluarkan di pagi yang cerah ini. Dia merindukan keluarga satu-satunya itu.

“Anggi, tolong beri aku petunjuk tentang dirimu. Makanan kesukaanmu sudah aku siapkan di meja. Masih lengkap tanpa aku ambil sedikitpun, karena aku tidak bisa makan ikan. Tulangnya selalu menyangkut di tenggorokanku. Tidak sepertimu yang melahap ikan dengan rakus, tapi tidak ada tulang yang tersangkut di dalamnya. Anggi, aku iri padamu yang bisa makan-makanan kesukaan Muki. Tapi, aku tahu bahwa kamu iri padaku karena hanya aku yang bisa masak ikan dengan enak.” Angina menangis dengan derasnya dan sesekali terdengar sesegukan tangisnya yang tertahan. Dia membuka laci dan mengambil foto dirinya dan Anggi yang berumur satu hari. Foto itu diambil oleh ayahnya sebelum ibunya meninggalkannya. Ibunya pergi karenanya dan ayahnya pun begitu.

Angina merasa terlahir sempurna tanpa orang tersayang di sekitarnya. Ibunya pergi sesaat kelahirannya. Ayahnya mengikuti ibunya saat dia menangis tak tahu alasan. Selesai administrasi persalinan dan pemakaman ibunya, ayahnya menaruh Angina dan Anggi di kursi belakang yang sudah tergantikan dengan tempat tidur bayi. Saat perjalanan pulang, dia selalu menangis. Berbeda dengan Anggi yang lebih tenang dan suka tidur. Angina tidak. Ayahnya yang panik keluar dari mobil saat berhenti di pinggir jalan. Dia membuka pintu bagian yang terdekat darinya dan tiba-tiba sebuah mini bus menabraknya saat ingin menggendong Angina. Cerita itu dia ketahui dari neneknya yang sudah pergi meninggalkannya sesaat kepergian Anggi. Semua keluarganya tidak berada di sisinya saat dia benar-benar butuh pelukan. Tidak ada.

“Anggi, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Angina menatap figura foto mereka. Bahkan, Angina tidak tahu yang mana dirinya dan Anggi karena sangat mirip. Umurnya pun belum ada beberapa tahun. Angina memeluk figura itu dengan erat hingga tangannya menjiplak bentuk dari figura tersebut. Angina merasa hidupnya kosong. Tiba-tiba beberapa pasukannnya berteriak keras. Suara itu hanya bisa dikeluarkan oleh mereka saat Anggi pulang dari kerjanya. Tapi Anggi, sudah tidak ada.
Angina merapikan sedikit pakaiannya dan menghapus sisa bekas air matanya yang menetes. Dia menatap cermin di dekat ruang tamu.

“Anggi, jika itu kamu aku tidak bisa menyambutmu dengan penampilan seperti ini. Aku berantakan, Anggi. Aku malu.” Air matanya kembali menetes, karena sudah yakin bahwa yang di luar bukan Anggi.
Angina tetap membuka pintu dan memperhatikan seseorang yang berdiri di depannya.

“Anjing-anjing lo ini bener-bener nyeremin,” ucapan orang itu membuatnya menoleh ke pasukannya. Pasukannya pun pergi dari sana sambil menunduk. Mereka merasa melakukan kesalahan besar dan tidak akan mendapat jatah makan siang.
“Wah, tatapan lo kayaknya bener-bener nakutin mereka, ya?” orang itu memperhatikan pasukannya yang berjalan lambat ke arah halaman depan dan bermain dengan satu sama lain.
“Kamu siapa?” tanya Angina.
“Oh ya, kenalin nama gue Astar. Gue tetangga baru deket sini. Kata nyokap gue lo tinggal sendirian di sini. Gue disuruh main sama lo dan bukan sama anjing lo ya, hehe.” Cengiran Astar mengingatkannya tentang Anggi. Sangat mirip. Apakah dia jelmaan Anggi?

‘Anggi, aku tidak pernah memintamu datang sebagai orang lain. Aku tidak tahu apakah dia sama percis sepertimu. Anggi, aku ingin dirimu. Aku tidak yakin bisa menerima dia. Apalagi dia laki-laki. Aku tidak yakin, Anggi.’ Angina meronta di dalam batinnya berharap Anggi mendengarnya.

“Halo?” Astar melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Angina. “Tadi gue nanya, lo masak ikan ya? Baunya kecium dari sini. Gue suka banget makan ikan. Tadi nyokap gak sempet beli karena habis,” Astar memajukan bibirnya karena kesal. Angina menatapnya kaget.

‘Anggi, dia memang mirip sepertimu. Andaikan dia tahu bahwa ikan-ikan itu aku borong semua di pasar sebelum aku tidur.’ Angina berbisik di dalam hati. Dia menggigit bibir bawahnya karena ragu.

“Woy! Lo cuma ngeluarin kata, ‘kamu siapa’ doang hari ini. Padahal, di sekolah gue yang dulu itu banyak cewek yang pengen ngomong sama gue, tapi gue cuekin. Kecuali elo sih, hehe.” Astar menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia merasa salah bicara karena mengatakan hal yang aneh di depan orang baru. “Maaf gue cuma bercanda kok. Lo orangnya gak baperan, ‘kan?”
Angina menggeleng dan membuka pintunya lebar-lebar. Mungkin dia bisa mengenal Astar beberapa jam untuk dia terima sebagai orang terdekatnya. Menurutnya, semua yang Astar tunjukan tadi sangat percis dengan yang dilakukan Anggi padanya.

“Angina adikku tersayang, lo itu harusnya bangga sama diri lo sendiri yang bisa ngomong sama gue di club sastra tadi. Karena gue cuma kenal lo doang sih, haha!”
“Angina lihat deh, pausnya gede banget! kalau gue makan itu bisa kenyang berapa tahun ya?”
“Na, lihat deh. Ada video yang viral yang nari-nari gak jelas kayak gini. Lo coba praktekkin kayak gini, pasti viral juga. Haha, lo ketawa dong!”
“Na, kalau gue ketemu orang yang sifatnya sama kayak gue di sekolah kampungan gini, gue bakalan mogok makan ikan sehari. Sehari ya, gue gak kuat kalau gak makan ikan, huhu.”
“Nek, lihat deh si Gina bisa make up-an sekarang gara-gara aku ajarin. Kok lo bisa cepet ngerti gitu, sih? Gue aja diajarin sama Bu Maria bertahun-tahun kemudian baru bisa, ih! Lo curang, gue iri.”

Angina mengambil biskut di toples satu persatu. Dia jadi terngiang-ngiang dengan suara Anggi yang menggema di kepalanya. Terakhir Anggi mengajarinya make-up karena wajah Angina lebih cocok didandan seperti itu daripada Anggi.
Anggi dulu mengikuti ekstrakulikuler yang sangat jarang diminati siswa di sekolahnya. Bahkan club kecantikan itu dia dan Bu Maria yang mencetusnya. Anggotanya hanya ada dia dan dirinya. Angina lebih suka ikut club memasak dan sastra saja. Anggi lebih aktif darinya, bahkan saat kelas sepuluh SMA Anggi sudah menjadi ketua OSIS dan dirinya tidak suka mengikuti kegiatan seperti itu. Sayangnya jabatannya hanya dijalani selama kurang dari setahun. Dia berhenti sekolah untuk membiayai sekolahnya yang tidak memadai dan keuangan di keluarga. Angina tidak tahu tekad yang dia punya. Dia lebih suka bersantai memandang langit dan menikmati angin yang suka menabrak rambutnya. Karena itu, Anggi dan Angina adalah satu kesatuan.

“Gue pulang, ya?” tanya Astar lalu menyelesaikan makannya.
“Udah pulang?” Angina terkejut dan menatap tamunya dengan perasaaan tidak karuan.
Jangan, Anggi. Jangan pulang! teriak Angina dalam hati.
“Akhirnya, lo ngomong lagi,” Astar bersujud syukur karena dari tadi dia mengajaknya bicara, tapi Angina asik menyantap biskuitnya dengan tenang.
“Eh?” Angina kaget melihat perilaku Astar. Dia melakukan hal yang pernah dilakukan Anggi, lagi.

Cerpen Karangan: Richa Wahyuni
Blog / Facebook: Richa Wahyuni

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Anggina (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Richa Wahyuni, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Linda Kartika Sari

24 Januari 2016 Kulihat, anak gadisku sudah bertumbuh besar. Rambutnya yang dulu sebahu dan hanya bisa kukuncir kuda, kini mendadak panjang dan terurai lurus. Alis mata yang dulu tak




Oleh: Celvin Septyan Himawan

“Wah ini bakalan mundur setengah jam lagi kemungkinan bunda, ayah belum juga pulang sampai sekarang padahal udah setengah jam lagi. Belum nanti ayah masih mandi dan siap siap juga”




Oleh: Fitri Melani

Seperti biasa, pagi-pagi aku bangun dari tempat tidur… dengan susah payah aku beranjak dari tempat tidur menuju kursi kesayanganku, aku buka jendela, kutunggu sampai orang yang keluar dari rumahnya.




Oleh: Amalia Agustin

“Hoam…” uapku setelah bangun tidur di pagi hari. Pagi ini ku rasakan sejuk sekali. Tapi yang ku lihat setiap hari sama tidak ada bedanya, tidak ada warna-warna indah, yang




Oleh: Nyimas Anabella Khairunninsa

“Dasar kalian tak berguna!” bentakan itu terdengar menggema sepanjang lapangan saat jeda istirahat latihan berlangsung. Seorang pemuda berdiri berkacak pinggang dengan kaki dihentakkan keras ke tanah. “jace, setidaknya maklumilah



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: