8 tahun cerpenmu

Cerpen Anggina (Part 2)

Spread the love

Cerpen Anggina (Part 2)





Cerpen Karangan: Richa Wahyuni
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sedih

Lolos moderasi pada: 10 May 2022

“Akhirnya, Gina gak lupa bikin tugas gue,” Anggi bersujud syukur di samping kursi Angina di kelas. Teman-temannya memperhatikan Anggi aneh.

Astar mengajak Angina ke kursi dekat danau. Perihal danau, Angina mengingat kelakuannya yang berenang ke tengah danau dan mencari Anggi di dalamnya. Untungnya, nafasnya masih kuat dan dia menangis tak karuan di kamar dengan keadaan basah kuyup. Dua hari setelah itu, dia sakit dan tidak ada yang mengobatinya. Tapi, dia terselamatkan dari sakit panasnya yang tidak turun-turun berkat bantuan kepala desa yang setiap minggu meminta sumbangan. Mengingat itu, Angina meneteskan air mata.

“Sejuk banget di sini, ya?” Astar memperhatikan sekitar danau dan duduk di kursi. Buru-buru Angina menghapus air matanya.
‘Aku gak mau ngeliat Anggi sedih,’ batinnya.

“Lo sekolah deket sini, ya?”
Angina mengangguk.
“Apa?” Astar menoleh karena tidak mendengar suara angina.
“Iya.”

“Hm. Ngomong-ngomong, gue belum tahu nama lo,” Astar memperhatikannya dengan waut wajah yang aneh. Membuat Angina tersenyum.
“Angina.”
“Oh.” Astar menatap danau yang berada di depannya. “Gue panggil Ina, boleh?”
Angina memperhatikan Astar dari samping. Dari depan mungkin dia mirip Anggi, dari samping tidak. Dia beda. Bahkan pemanggilan namanya pun berbeda. Anggi lebih suka memanggil Angina, Gina atau Na. Kalau memanggil Ina katanya,
“Jelek, ah. Ina itu khusus cowok ke Gina aja. Nanti kalau ada yang manggil Gina, Ina. Pertahankan!”
Angina menjawab,
“Iya.”
Astar menoleh kepadanya lalu tersenyum.

Mereka membahas tentang sekolah Angina karena Astar akan sekolah di sana, tapi Angina tidak menceritakan tentang keluarganya. Setelah itu Astar meminta ijin untuk pulang karena hari sudah sore. Perkenalan yang dilakukan olehnya dan Angina rasanya cukup lama karena Angina lebih banyak termenung. Sambil menunggu Angina termenung, Astar berjalan-jalan mengelilingi sekitar rumahnya dan memperhatikan rumah Angina dari danau yang sangat minimalis, modern, tapi sunyi. Banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi sepertinya Angina terkejut mendengar pernyataannya tadi. Ini juga salahnya.

“Dah, Ina!” Astar melambai-lambaikan tangannya menuju rumahnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia merasa tetangga barunya benar-benar cantik. Ah, dia merasakan pipinya memerah. Untung Angina tidak ada dihadapannya.
Angina tersenyum setelah Astar berbalik badan. Astar bukan Anggi. Tapi, Astar akan menjadi Anggi-nya. Angina memperhatikan danau di depannya.
‘Anggi, di mana pun kamu berada. Aku harap kamu selalu bahagia. Seperti aku sekarang,’ batin Angina. Dia menatap langit yang masih cerah walaupun hari akan gelap.
Dia memang tidak tahu Anggi ada di mana. Kebodohannya mencari di tengah danau adalah hal yang sia-sia. Tapi, perasaanya menjadi sedikit tenang karena Anggi tidak ada di sana.

“Kamu ngapain dorong aku sih!” Angina berenang ke tepi danau dengan susah payah, tapi akhirnya dia menyentuh tanah.
“Haha! Lo sih diajak ngomong malah bengong ya gue dorong aja biar lo sadar, haha!” tawa Anggi menggema di telinga Angina membuatnya kesal dan mendorong Anggi juga ke danau.
“Rasain, tuh!” Angina bergiliran tertawa melihat Anggi yang tercebur.
Angina terkejut melihat Anggi yang meronta-ronta ingin ditolong. Dengan perasaan takut, Angina menyeburkan dirinya dan menarik tangan Anggi ke tepi danau. Sesampainya Anggi duduk di kursi, dia mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya membuat Angina khawatir. Dia takut kalau Anggi akan pergi seperti ayah dan ibunya.

“Kamu jangan mati, Nggi!” Angina menepuk punggung Anggi dengan keras membuat Anggi terbatuk-batuk.
“Udah gak papa kok, Na. Uhuk! Lo keras banget mukulnya kayak main gendang!”
Angina menghentikan tindakannya dan menatap Anggi serius.
“Gue gak mati!” ucap Anggi dengan nada sinis membuat Angina memeluknya erat.

Karena kejadian itu, Angina melakukan hal yang sama saat Anggi belum pulang dari pekerjaannya. Kepala desa sudah menelfon polisi dan polisi sudah mencarinya berhari-hari, Namun, Anggi tetap belum ditemukan. Neneknya pun mencari ke tempat kerjanya, tapi tempat kerjanya sudah hancur seperti terkena gempa. Karena kekagetannya dan penyakit jantung yang diderita neneknya, neneknya pun mengikuti jejak ayah dan ibunya. Dia hanya bisa menangis seharian menatap nasibnya. Sendiri.

Tiba-tiba salah satu pasukannya mendatanginya yang masih duduk di kursi dekat danau. Dia menunjukan orang-orang yang ramai di depan rumah Angina. Angina buru-buru berlari mendekati kerumunan itu.
Pasti bukan berita Anggi, batinnya.

“Angina,” seorang polisi mendekatinya. Dilihatnya ada kerumunan di depan rumahnya.
“Bagaimana kabar kakak saya, Pak?” tanya Angina was-was ke pada polisi di depannya.
“Begini, Angina bisa ajak kita masuk ke dalam?”
Angina mempersilahkan beberapa polisi dan orang-orang penting memasuki rumahnya. Bahkan dia melihat Astar dan keluarganya, dia juga mengijinkan mereka masuk.

“Anggi sudah ditemukan di sebuah tempat dengan keadaan yang memprihatinkan.” Kepala desa memulai pembicaraan. “Angina, kamu akan..” suaranya terpotong.
“Tempat di mana, pak?” tanya Angina ke kepala desanya.
“Di perdagangan manusia. Beberapa bagian tubuhnya banyak diambil dan nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi. Kami mendeteksi sidik jarinya.,” jelas kepala desa sangat pelan dengan nada lemah.

Semua orang terkejut dan memperhatikan Angina dengan perasaan iba. Kehidupannya yang diperkiraannya sendiri, pada akhirnya memang akan sendiri. Kenyataan sungguh pahit. Air mata terus mengalir di pipi Angina. Suaranya tercekat, bibirnya kelu untuk bersuara. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.

“Kamu bisa tinggal..” ucap salah satu polisi yang membawa surat-surat lalu ingin menyerahkannya ke Angina terpotong dengan tepisan Angina.
Angina menolak kemudian dia menangis tersedu-sedu. Astar yang ada di sampingnya mengelus bahunya. Bahkan Ibu Astar ikut memeluknya layaknya seorang ibu yang memeluk anaknya.

“Pak, biarkan dia saya yang mengurusnya. Saya tetangga baru di sini. Mendengar cerita Astar tadi saya yakin kalau Angina ini adalah titipan,” ucap Ibu Astar. Bahkan, ibunya menoleh ke Ayah Astar untuk meminta persetujuan.
Ayah Astar mengajak salah satu polisi berbicara hingga Angina tidak bisa mendengarnya. Telinganya terasa tuli, mulutnya terasa bisu, dan matanya sangat buram. Dia tidak bisa berkutik lagi.

‘Anggi, apakah aku akan menjadi anak angkat dari keluarga Astar? Aku baru saja senang dekat dengannya. Aku hampir kagum padanya. Aku tidak ingin menjadi keluarga Astar, Nggi,’ batin Angina.

Angina menyenderkan kepalanya di sofa lalu menutup matanya. Perasaanya kacau dan dia bingung untuk mengambil keputusan nantinya. Tiba-tiba ada yang menjilat pipinya dan menghapus air matanya. Angina membuka mata dan melihat Muki yang masih menjilat pipinya.

Dia memperhatikan sekelilingnya. Ini kamarnya bukan ruang tamu yang penuh dengan orang-orang. Apakah semua itu mimpi, lagi?
Dia memperhatikan pakaiannya yang masih mengenakan pakaian mandi dan handuk masih menempel di kepalanya. Kepalanya pusing karena air dari rambutnya. Figura foto dirinya dan Anggi pun masih dipelukannya.
Ini semua memang mimpi, batinnya. Astar dan informasi tentang Anggi hanyalah palsu.

Dia menatap langit yang sudah gelap. Apakah keseharian yang akan selalu dia lakukan seperti ini?
Pagi hingga sore dia tertidur dengan mimpi tentang tetangga baru dan informasi kakaknya. Kemudian malam hingga pagi, dia akan memburu ikan ke pasar hanya untuk membeli ikan, makanan kesukaan Anggi. Terkadang ada beberapa nelayang yang menjadi pedagang menatapnya iba mengetahui kisahnya dan memberinya ikan secara cuma-cuma. Katanya, dia bisa menangkap lagi. Kadang sesekali dia akan berenang ke danau untuk mencari Anggi padahal kepala desa sudah melarangnya karena Anggi tidak mungkin ada di sana. Mustahil. Walaupun begitu dia tetap keukeuh.

Angina hanya bisa menatap langit lewat jendela kamarnya dengan sendu. Angina ingin Anggi atau Astar. Air mata meleleh di pipinya.
Bagaimana dengan mimpi esok?

Cerpen Karangan: Richa Wahyuni
Blog / Facebook: Richa Wahyuni

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Anggina (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Richa Wahyuni, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: FirdaChoi

Pagi-pagi sekali mama sudah sibuk menyiapkan sarapan, tak lupa juga mama selalu menyanyi dengan suaranya yang cempreng dan bernyanyi dengan nada-nada yang kurang pas. Bukannya mengolok, tapi hanya memberi




Oleh: Fiery Autumn

Aku percaya tiap kehidupan -baik yang dulu, sekarang, maupun di masa depan kelak- memiliki tujuannya masing-masing. Tapi aku tidak menemukannya -atau mungkin belum. Sudah hampir satu jam berlalu, dan




Oleh: Ilyas Ibrahim Husain

Kawan, izinkanlah saya menceritakan satu kisah kecil di tahun enam tujuh, namun berjanjilah…, jangan memberitahukan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau. Nanti kamu diculik. Masih kuingat bagaimana rasanya sebilah




Oleh: Marhamah Citra Ardilla

Tiara adalah anak yang cantik, pendiam, baik, dan tidak terlalu pandai tetapi mempunyai kreatifitas tinggi terhadap seni, dimata orang lain yang belum mengenal nya pasti menggangap Tiara pendiam, tetapi




Oleh: Tiara PR

Saat itu pada sore hari hujan datang deras sekali pada waktu pulang sekolah. Ya, hari ini adalah hari pertama aku UAS. Sesampainya di rumah, aku segera melepas jas hujan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: