8 tahun cerpenmu

Cerpen Banjir yang Tidak Jadi Datang

Spread the love

Cerpen Banjir yang Tidak Jadi Datang





Cerpen Karangan: Nur Aeti Fadilah
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga

Lolos moderasi pada: 20 July 2022

Langit mendung berganti mengeluarkan isi, mengguyur Kota Jakarta, membasahi jalan demi jalan, tak terkecuali tanah berpijak, tempat rumahku dekat jalur rel kereta api, dan selokan air kotor. Aku berharap awan tak berlarut-larut bersedih di atas sana, bila mana tempatku terpenuhi banjir seperti kemarin, aku harus membereskan barang-barang ‘penting’ ke tempat lebih tinggi, seperti penanak nasi, lauk-pauk buatan emak, buku-buku, pakaian belum dicuci, pakaian kering belum dilipat, peralatan tulis, maupun peralatan masak Emak, dan hal itu cukup melelahkanku.

Terdengar suara bising dari klakson kereta yang melintas membelah malam di antara lebatnya hujan dan tempat berbatu, nyala televisi sudah Emakku matikan dari tiga puluh menit lalu, setelah mendengar adanya hujan disertai petir berkabut. Mataku bergulir melirik Emak, yang kini berganti aktivitas sedang mengelap lantai menggunakan pakaian yang dahulunya sering kukenakan, sayang sekali, aku tidak bisa lagi menggunakannya setelah lubang-lubang besar bermunculan.

Aku menarik napas, berjalan menuju kamar mandi mencuci piring kotor. Ketika hujan datang ke tempatku, aku tidak bisa bersantai-santai seperti anak seusiaku, seandainya bisa, aku ingin sekali seperti Andi temanku, ia bercerita bahwa setiap kali hujan turun, ia akan memakan mi goreng bersama telur setengah matang meniru film luar negeri laku di pasaran disertai es teh penyejuk, membayangkannya saja perutku sudah keroncongan, atau seperti Jaka, yang katanya Bapaknya pasti membeli sekantung bakso atau soto di pinggir stasiun, aku tidak bisa berlaku demikian, rumahku diharuskan kupersiapkan dahulu demi meminimalisir kerugian barangkali banjir sungguhan datang, aku tidak mau lagi merepotkan Emak, seperti waktu itu, kehilangan peralatan tulis dan dimarahi, atau parahnya PR-ku basah terendam banjir karena kelalaianku menaruh di tempat sembarangan.

“Arya, dilanjukan nanti dulu, Nak, Bapakmu bawa gorengan dan ubi kesukaanmu!”
“Ya, Mak!”
Aku berlari cepat menyusul Bapak dan Emak. Melahap ubi rebus yang sudah dikupaskan Emak untukku, mengunyah sembari mendengarkan Bapak bercerita pengalamannya akan berjualan bingkai foto di pasar.

Meski aroma tidak sedap menguar dari selokan, memenuhi indra penciuman, aku, Emak dan Bapak sudah terbiasa, sama sekali tidak mempermasalahkan dan tetap melanjutkan menghabiskan gorengan dan ubi yang dibawa Bapak.

Aku tersenyum bersyukur melihat langit tidak lagi mengeluarkan isinya, banjir yang tak kuharapkan datang, memang tidak benar datang, barangkali Tuhan mendengar doaku.

Seberkas cahaya bulan bersinar pudar memantulkan terang, walau, tidak seterik matahari, namun, cukup memberi penerangan indah mengganti awan mendung di Kota Jakarta.

Cerpen Karangan: Nur Aeti Fadilah
Blog / Facebook: Nur Aeti Fadilah


Cerpen Banjir yang Tidak Jadi Datang merupakan cerita pendek karangan Nur Aeti Fadilah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Jessica Desideria Tanya

Dalam kehidupan rumah mewah itu, ada seorang pelayan bernama Betsy yang melayani tuannya, Leony. Betsy sejahtera disana mengingat dulunya ia anak buangan di pinggir jalan. Makan batu, debu, asap,




Oleh: Kian

Pagi, sekitar pukul delapan. Kesibukan sudah bangun di mana-mana. Orang-orang desa sudah banyak berlalu-lalang dengan urusannya masing-masing. Lalu, di sebuah jalan kecil di desa, dari sebuah muka rumah yang




Oleh: Indah W

ANTARA IPUNG, MAKANAN DAN PESANTREN Kawan, masih ingat akan ceritaku tentang adikku ipung yang “istimewa” itu ? kali ini aku akan menecritakan sedikit lagi tentangnya, tentang betapa sangat dekatnya




Oleh: Riky Fernandes

Banyak hal yang mengherankan di dunia ini. Segala sesuatu entah terjadi secara alamiah atau mungkin sengaja di buat seperti itu. Ini sebenarnya adalah rahasia yang bukan rahasia, faktanya kami




Oleh: Mega Zalziela

Namaku AZILA MARCELLA di lumajang. Aku terlahir di keluarga kaya raya dan dipandang terkenal karena nenekku punya gudang beras. Setiap minggunya banyak orang miskin yang ngantri di rumah. Aku



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: