8 tahun cerpenmu

Cerpen Bayang Bayang Kehidupan di Dunia

Spread the love

Cerpen Bayang Bayang Kehidupan di Dunia





Cerpen Karangan: Wahyu Nugraha
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Renungan

Lolos moderasi pada: 7 June 2022

Fajar dan senja tiada jauh berbeda. Keduanya sama-sama menampakkan jingga dalam cakrawala. Yang membuatnya berbeda hanyalah matahari. Saat fajar tiba matahari dengan perlahan menyambut siang, sedangkan saat senja datang matahari dengan perlahan meninggalkan siang. Begitu harmoninya alam semesta dengan perannya masing-masing.

Disaat senja, aku berjalan seorang diri di pinggiran kota, dari kejauhan nampak tertata tempat tinggal yang kumuh dan tidak beraturan, sebagian terbuat dari kardus bekas, sebagian lagi terbuat dari potongan kayu bekas buangan dari pabrik. Burung gereja terbang bergerombol di bawah langit yang ternodai penuh oleh hitamnya asap pabrik dan asap kendaraan.

Tidak ada keindahan jingga saat senja ketika di kota, tak ada kesegaran udara saat fajar ketika di kota. Anak-anak ojeg payung terlihat murung, karena hujan tak kunjung turun. Di balik kemegahan kota, ada kesedihan yang terlukis di wajah orang miskin karena tanah-tanah yang dirampas oleh para pemodal rakus untuk membuka bisnis dan membangun gedung tinggi pencakar langit.

Di luar restoran, aku melihat seorang pemuda dengan rambut panjang kurang terurus, penampalin yang acak-acakan, wajahnya dekil penuh dengan debu, celana levisnya sudah lusuh dan terlihat sobek di bagian lutut kananya. Pemuda yang tanpa identitas itu sedang asyik memainkan biola, suara biola yang begitu menyayat hati. Gesekan biola seperti terlahir dari hati yang hancur serta remuk jiwanya. Alunan lacrimosa milik Mozart terdengar indah dari suara biolanya. Beberapa orang ada yang memberi uang, sebagian lagi ada yang tidak peduli, sebagian ada yang hanya menjadikannya sebagai konten video untuk memenuhi cerita di media sosial.

Ketika malam datang. Bayangan gedung tinggi mulai hilang dengan berlalunya pancaran cahaya sinar matahari yang mulai pergi. Dari atas puncak, keindahan kota hanya bisa dilhat saat malam. Keindahan yang dihiasi kedap kedip lampu rumah dan lampu di jalan, ditambah gemerlap cahaya bulan dan bintang.

Ada seorang tokoh filsuf mengatakan, “Sebagian besar manusia sangat sulit untuk menyadari kenyataan kehancuran lingkungan hidup yang ada di sekelilingnya. Ini disebabkan karena kehancuran itu terjadi bersamaan dengan proses pekerjaan yang mempunyai tujuan untuk membangun apa yang kita sebut degan masa depan.”

“Kemajuan jaman dan teknologi di samping memberi kemudahan juga lumayan memberi keresahan.” ucap batinku di tengah asyiknya memandangi suasana disekitar.

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Karl Marx bahwa dunia ini seperti arena tempat bertarung sehingga yang lemah tertindas sedang yang kuat berkuasa. Entahlah, sudah tiga tahun aku tinggal di kota, kini aku mulai merasakan tidak nyaman dan ada sedikit rasa resah juga gelisah, aku kembali merindukan susana desa yang sejuk dan tentram. Seperti kunang-kunang yang diambang punah, manusia dan dunia juga akan ikut punah. Bayang-bayang kehancuran dunia sering kali nampak di kota bukan di pedesaan.

“Desa dengan suasananya sangat cocok bagiku untuk menghabiskan sisa usiaku. Menanam bunga atau mengurus binatang ternak.” Bayangan dalam benakku

Aku masih ingat saat aku kecil setiap kali liburan sekolah tak pernah terlewat berkunjung ke rumah nenek di desa. Perjalanan menuju rumah nenek sangat menyenangkan. Meski jalannya tak semulus jalanan di kota, namun mataku selalu dimanjakan oleh alam di sekitar. Hamparan luas kebun teh dengan sekian banyak para pekerja yang sedang asyik memetik, suara burung dari bukit saling menyahut satu dengan yang lain, orang-orangnya ramah, gunung yang masih terawat hijau tanpa borok hasil penebangan pohon, hutan yang terlihat damai setiap pagi memberi udara yang menyegarkan dada.

Saat masih kecil aku merasa bosan hidup di desa, ingin merasakan bagaimana hidup di kota. Merasa bosan jadi anak kecil dan berharap segera dewasa, lulus sekolah kemudian bekerja dan mendapatkan pasangan.

Namun, setelah dewasa ini, kadang aku terlintas merindukan masa kecil dulu, hidup tanpa beban, tanpa tanggung jawab, tanpa di hantui bayang-bayang tekanan sosial dan tekanan pekerjaan. Akan tetapi, ini semua telah terjadi, suka atau tidak suka, aku harus menjalaninya.

Namanya juga hidup. Akan selalu diikuti bahkan dihantui oleh bayang-bayang kehidupan di dunia yang tak jarang mengoyak batin dan membuat manusia lelah dalam berpikir.

Cerpen Karangan: Wahyu Nugraha

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 7 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Bayang Bayang Kehidupan di Dunia merupakan cerita pendek karangan Wahyu Nugraha, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Fadillah Fitra Fauzan

Namaku Fadillah Fitra Fauzan, aku biasa dipanggil fadil, padil atau difal. aku anak yang mungkin dalam proses remaja ke dewasa ya sekitar 22 tahun, aku terlahir di perkampungan pelosok




Oleh: Lulu Mahmudah A

Matematika. Siapa yang tak kenal dia? Pelajaran yang full dengan angka. Hanya anak yang berkacamata atau setidaknya mempunyai otak seperti aliran sungai kapuas di kalimantan yang bisa jadi presidennya.




Oleh: Nurannisa Widiawati

Dari selembar kertas kutulis pengalamanku yang membuatku menangis. Menangis deras untuk sebuah benda yang hilang. Betapa pentingnya benda itu untukku dan keluargaku. Benda itu hanyalah sebuah hp dan sebuah




Oleh: Faisal Fajri

Adalah Gempi dan Jaka sebentuk sosok begal terbegis di sebuah pelosok desa. Sudah berulangkali mereka melakukan tindakan hina itu, mana kala mereka seringkali lolos dari kejaran polisi. Jelas, dia




Oleh: Hubertus Gilang Oji

Nama Saya Rino (Nama Samaran), Saya adalah salah satu Siswa kelas X di Sebuah SMA Swasta di Yogyakarta. Saya Ingin menceritakan salah satu hobi yang paling disenangi, yakni Menonton



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: