8 tahun cerpenmu

Cerpen Belum Ada Judul

Spread the love

Cerpen Belum Ada Judul





Cerpen Karangan: Yonathan Christian
Kategori: Cerpen Cinta

Lolos moderasi pada: 19 June 2022

Aku tiba di Paris pada pertengahan September tahun tersebut. Tak kusangka, ternyata kota tersebut tidak lebih indah dari Jakarta yang tak pernah lekang oleh waktu. Aku disibukkan oleh pencarian alamat tempat tinggal yang tidak lebih besar dari kamar mandi rumahku di Solo. Aku merindukan Solo beserta segala isinya. Aku memang berniat untuk berilmu sampai ke Sorbonne, karena aku mencintai Beauvoir, bukan hanya karena aku seorang feminis, namun juga akibat segala mahakaryanya. Hari itu dingin sekali, sekitar 3 derajat. Aku orang Solo yang hanya memiliki dua musim, panas dan panas sekali. Tapi, kali itu berbeda. Aku dituntut untuk menjadi seorang Parisian yang sangat kurang ramah dan berjalan dengan ritme yang cepat.

Aku dituntut untuk lapor diri ke kedutaan di ibukota. Di sana, diadakan sosialisasi oleh pelaksana tugas fungsi sosial dan budaya. Di belakang kedutaan, ada pesta makan yang menyajikan berbagai hidangan nusantara. Maklum saja, aku keturunan Jawa dan Tionghoa. Aku memang Jawa dalam hal selera makanan. Aku sangat amat menyukai makanan manis, seperti Gudeg, Rawon, serta segala hidangan yang memiliki cita rasa kecap. Ibuku pernah berkata, “Kau memang turunanku, seantero keluarga adalah radikalis kecap.” Aku menikmati beberapa hidangan, yang dibuat secara khusus oleh para koki asli Indonesia, dan ditugaskan untuk memasak di kedutaan.

Aku duduk persis di depan “Ruangan Konsul Muda”. Aku tidak tahu ruangan apa itu. Aku sama sekali tidak memahami badan-badan serta organisasi kedutaan. Maklum, aku orang sastra yang hanya berkutat pada Voltaire, Montaigne, dan Victor Hugo. Aku bukan orang yang memiliki ketertarikan pada sebuah isu-isu yang bernuansa politis. Aku lebih senang untuk menafsirkan kalimat-kalimat yang diutarakan raksasa-raksasa besar sastra itu. Aku bercita-cita untuk menjadi penulis yang bisa menyamai Beauvoir, meski tak mungkin. Tiga tahun lalu, aku menyerahkan formulir aplikasi beasiswa pemerintah Indonesia dan Prancis. Aku diterima oleh keduanya, mungkin karena IPK-ku yang lumayan tinggi, namun tak tinggi-tinggi amat.

Sambil melahap lontong sayur ke mulutku, dan berbincang-bincang dengan alumni FIB UGM, aku mengamati sekitar dua atau mungkin tiga ratusan orang yang tumplek di kedutaan siang itu. Dinding kedutaan itu sebagian sudah keropos, maklum kata temanku yang sesama alumni UGM Gedung kedutaan itu sudah mencapai satu abad. Aku terus melahap lontong sayur, ditambah beberapa sate kambing.

Dari pintu bagian selatan, ia membuka pintu dengan mengenakan pakaian yang serba hitam, ditambah syal yang mengelilingi leher. Ia membetulkan pintu yang seret akibat udara dingin. Ia melewatiku sambil menatap selama kurang lebih dua hingga tiga detik. Dari kejauhan, para pelajar Indonesia di Paris melambaikan tangan padanya, sehingga ia mendatangi mereka.

Duta besar Indonesia pun turut menghampiri kelompok tersebut. Aku melihat ia mengulurkan tangan kepada duta besar, dan mereka berdua berjabat tangan. Mereka bercengkerama bersama, diikuti dengan beberapa tawa kecil.

“Kuahmu hampir tumpah,” ujar kawanku. Astaga. Aku memiringkan piring yang berisikan lontong sayur serta beberapa sate. Hampir tumpah. “Kau memperhatikan siapa?” ujar salah satu kawanku yang lain. Aku hanya tertawa kecil sambil meyakinkan mereka bahwa selama itu, aku senang melihat lampu gantung di tengah plafon yang amat megah. Mereka mengangguk dan sebagian hanya melihatku dengan ekspresi kebingungan. Ia mengenakan kacamata, rambutnya hampir menyamai Ahmad Albar. Ia memiliki mata yang tidak dimiliki siapapun hingga hari ini.

Selepas menghabiskan lontong sayur dan sate, aku mengambil klepon dan ketan gurih. Aku meletakkannya di sepasang pisin. Aku bergegas mengambil air mineral gelas. Ketika hendak mencolok plastik air mineral tersebut, tangan kananku yang menggenggam sedotan tidak tepat sasaran, sehingga mengenai sepasang pisin. Kejatuhan pisin berisi klepon dan ketan gurih pun tak dapat terhindarkan. Satu ruangan melihatku dengan penuh kekagetan, ditambah dengan sedikit rasa penasaran. Ia juga yang termasuk melihatku.

Aku melihatnya. Kami berdua bertatap-tatapan. Aku tidak mengambil klepon serta ketan gurih yang jatuh. Aku hanya melihat batang hidung serta matanya. Aku tidak sadar sampai petugas kebersihan di kedutaan tersebut memungut dua hidangan pinggir yang jatuh itu. Aku bergegas untuk membantu petugas kebersihan untuk memungut jatuhnya dua hidangan tersebut.

Aku kembali duduk di tempat semula, sambil sesekali memperhatikan dirinya. Ia lelaki yang memiliki wajah keras, cuek, dan segala bentuk ketidakpekaan. Belakangan baru kuketahui bahwa ia merupakan seorang calon doktor sosiologi di Sorbonne.

Selepas kejadian memalukan itu, duta besar menghampiri tempat kami, para pemula yang tidak tahu apapun mengenai Paris dan Sorbonne. Aku pernah mendapat sosialisasi tentang kuliah di Prancis secara umum, namun tidak secara spesifik merujuk pada Sorbonne.

Duta besar memperkenalkan kami padanya. Ia menyebut bahwa calon doktor muda itu adalah seorang célibataire alias jomblo. Duta besar memanggilnya ke tempat kami. Ia menghampiri kami dengan mengulurkan tangannya. Aku diulurkan tangan lebih dulu. Aku melihat matanya, yang berada di wajahnya yang lebih tinggi dari diriku. Ia memperkenalkan namanya. Sepulang dari acara itu, aku merasa seperti pernah bertemu sosoknya. Entah di mana atau kapan. Aku merasa mengenali aroma tubuhnya dan gaya bicaranya. Sampai di bus menuju tempat tinggal, kawanku sampai bertanya, “Kau mikir apa? Dari tadi kok bengang-bengong terus?” Aku menjawab dengan tertawan kecil dan senyum yang kutiru darinya sambil berkata, “Tidak apa-apa, kok.”

Cerpen Karangan: Yonathan Christian
Penulis merupakan seorang mahasiswa ilmu sosial, namun bercita-cita untuk menjadi seorang pujangga dan sastrawan.


Cerpen Belum Ada Judul merupakan cerita pendek karangan Yonathan Christian, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Renita Melviany

Udara begitu menyegarkan. Tiupan angin dari segala arah. Awan terlihat berwarna begitu cerah dan terang ditambah cahaya matahari yang baru saja hadir. Sudah berapa lama aku tak lari pagi




Oleh: Adek Rismawati Oganda

“Mengapa Adnan sangat tidak menyukaiku, semenjak ia menyatakan perasaannya, padahal dia tampan tapi bahasa yang ia keluarkan tak setampan parasnya” gerutu Rika yang memikirkan perlakuan Adnan kepadanya. Keesokan harinya




Oleh: Siti Sintiawati Sholikhah

Saat ini Aku sedang duduk di kelas 6 SD. Tetapi, pengertianku akan cinta begitu dalam. Beberapa kali Aku dekat dengan cowok. Sekarang Aku sedang sangat dekat dengan adik kelasku




Oleh: Triana Aurora Winchester

Tentang gelembung-gelembung bening yang bertebaran dengan indahnya menghiasi langit senja. Seorang gadis remaja berkerudung abu abu terlihat asyik mengagumi Mahakarya Tuhan, selepas rintik hujan, terlukis indah warna pelangi, tercium




Oleh: Vidia Andini

“Drrt… Drrt… Drrt.” Hpku bergetar dan ternyata 1 pesan diterima. “Aduh siapa sih pagi-pagi udah sms? Gak ada kerjaan lain apa?” omelku sambil buka hp. “Oh si Ryan. Pantesan.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: