8 tahun cerpenmu

Cerpen Berjodoh Dengan Musuh

Spread the love

Cerpen Berjodoh Dengan Musuh





Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Kategori: Cerpen Cinta

Lolos moderasi pada: 30 April 2022

Madina Munawar duduk termangu di meja makan setelah tadi ia menghabiskan es buah yang dibuatkan Ibu untuknya. Hanya ada buah naga dan timun suri saja sudah membuat dahaga Madina hilang menguar di udara. Ditambah es batu yang bejibun menambahkan kesegaran es buah itu sendiri. Madina penikmat es batu maniak. Dia bisa menghabiskan beberapa kotak kecil es batu dengan menggigitnya hingga habis di mulut. Bukan nunggu mencair tapi dia sendiri yang mengunyah es batu itu sampai habis.

Semenjak dirinya duduk di bangku SMA, dan dia kenal dengan seorang teman di asrama, namanya Namira Anandita, si pecinta es batu. Berawal ketika Namira membeli es kopi dengan es batu bejibun di plastik dengan sedotan berwarna merah yang biasa Madina sebut dengan es cekik. Ya karena pas hendak minum plastik itu akan dicekik di kepalan tangan.
Madina ikut-ikutan hingga kesukaannya dengan es batu berlanjut hingga usianya menginjak 24 tahun.

Meskipun Ibu selalu ngomel-ngomel tapi Madina tak pernah menghiraukan. Ibu belum tahu saja kalau diam-diam Madina selalu membawa es batu ke kamarnya.

“Mbak, nih ada paket buat kamu.” Ibu menyerahkan sebuah amplop coklat yang biasa dipakai untuk lamaran kerja ke hadapan Madina.
“Dari siapa, Bu?” tanya Madina seraya meraih amplop itu kemudian membukanya.
Ibu mengedikkan bahunya tak tahu.

Sebuah undangan nikah.
Madina memutar bola matanya malas.
“Undangan lagi, ya?” sindir Ibu karena melihat wajah masam anaknya yang ditekuk.
“Makanya cepat nikah, Mbak. Mau sampai kapan diundang terus? Kapan ngundangnya?”
Salahnya karena membuka paket di depan Ibu, jadilah omelan ibu tentang Madina yang hingga umur 24 masih menjomblo alias belum membawa calon.
“Nanti nunggu Shawn Mendes datang ngelamar, baru aku mau nikah!” Madina mendelik tajam kemudian ia beranjak pergi ke kamarnya.
“Siapa Shawn Mendes?” Kata Ibu dengan mimik wajahnya sedang berfikir.

Madina datang sendirian ke acara pernikahan temannya—Mita Nindia. Nasib jomblo tak punya pasangan, ia hanya bisa menggigit jari manakala, Andi—sepupunya menolak menemani karena dia ada keperluan diluar.

Akhirnya disinilah ia sekarang, berjalan sendirian, mengantri dengan tamu yang lain untuk memberi ucapan serta doa untuk pasangan suami istri baru sah beberapa jam lalu.
“Hai, Dina, makasih udah datang.. mana pasanganmu?” tanya Mita tanpa dosa.
“Udahlah jangan ngeledek gitu, masih jomblo aku.. jodohku masih belum lahir kali,” sungut Madina kesal. Mita hanya terkekeh. Tak lama setelah menyentil hal paling sensitif tentang jodoh, Madina memilih mengisi perutnya alih-alih menjadi bahan ledekan di acara ini.

Ditengah kegiatannya memakan apa yang dia ambil dari meja perasmanan, Madina dikejutkan oleh seseorang yang parfumnya begitu tercium kuat di hidungnya.
Ketika Madina menoleh, wajah Alvi sedang menyunggingkan senyumannya yang manis. Madina melirik pada tangan Alvi yang sudah ada makanan seperti Madina dan juga air mineral dalam kemasan.

“Ko sendiri sih? Kalau gitu tadi aku jemput aja biar barengan!”
Madina memutar bola matanya malas.
Lelaki ini lagi.

Alvi adalah teman Madina semasa SMA dulu, namun di bangku kuliah mereka tak sama-sama lagi karena Alvi memilih kuliah di luar kota. Meskipun begitu, Madina bersyukur karena laki-laki ini adalah laki-laki paling dia hindari waktu SMA dulu.
Dia laki-laki urakan, tengil, tukang bercanda dan orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan ‘badboy’. Ya dia nakal minta ampun. Namun dibalik sifat nakalnya, Alvi adalah salah satu dari murid cerdas di SMAnya dulu.

“Nggak usah, aku bisa datang sendiri,” tolak Nanda yang membuat Alvi mendengus kecewa. Namun bukan Alvi namanya kalau tidak menggoda habis-habisan.
“Ya udah, nanti aku anter pulang ya.”
“Ih nggak usah, apasih? Aku bisa pulang sendiri.”
“Nggak baik perempuan cantik kaya kamu pulang sendiri. Bahaya. Nanti ada yang nyulik kamu kan gawat.”
“Nggak lucu!”
“Aku nggak lagi stand up comedy kali, Madina.”

Madina hendak berdiri namun langkahnya tertahan ketika segerombolan orang datang memekik tertahan ketika melihat dirinya sedang bersama laki-laki badboy namun banyak fansnya. Alvi.
“Hei kalian cocok banget. Janjian ya? Bajunya aja bisa matching begitu,” seru seorang perempuan cantik berlesung pipit bernama Rani yang tidak lain adalah teman Madina juga di SMA.
Kompak Madina dan Alvi saling bertukar pandang. Ya baju mereka sama warnanya. Alvi dengan kemejanya berwarna navy dengan celana bahan berwarna hitam. Dan Madina memakai kebaya brokat di atas lutut dengan rok batik berwarna abu. Kalau orang lain melihat, merka akan menduga bahwa mereka pasangan couple. Namun sebenarnya mereka adalah musuh bebuyutan.

Madina menghela nafas kasar. Namun Alvi malah tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda.
Dari tempatnya Alvi berdiri, ia memberi kode kepada Anwar untuk memotretnya bersama Madina. Ketika tersadar Madina buru-buru meloyor pergi setelah menyapa teman-temannya dan berpamitan kepada pengantin baru.

“Mbak!” panggil Ibu sambil mengetuk pintu kamar anaknya yang tertutup dari selepas maghrib.
“Ada apa, Bu?” tanya Madina setelah pintunya dibuka.
“Ada tamu kamu tuh di depan, lagi ngobrol sama Ayah.” Terang Ibu sembari melangkah ke dapur untuk menyiapkan minum.
“Siapa?” Madina mengernyitkan kening ketika di jam 21.00 WIB ini masih ada tamu berkunjung ke rumahnya. Tidak seperti biasanya.
“Lihat aja ke depan, siapa tahu jodoh,” ucap Ibu sambil cekikikan.
Beginilah nasib anak perempuan yang sudah berumur 24 dituntut menikah. Padahal umur 24 masih terbilang muda, kan, untuk menikah?

Madina melangkahkan kaki ke teras rumahnya dan seketika tubuhnya menegang ketika laki-laki yang ia kenal sebagai musuh bebuyutannya datang bertamu dan terlihat mengobrol santai dengan Ayahnya.
Cari muka, umpat Madina dalam hati.

“Jadi kamu mau nikah tahun ini, Mbak? Kenapa nggak bilang, sih? Malah main rahasia-rahasiaan,” dengan santai Ayah berucap perihal nikah kepada Madina yang melongo seketika.
Siapa yang mau menikah?
Ayah mau menikah lagi?
Eh tapi, tadi kan Ayah nanya ke aku? Tanya Madina dalam hati.
“Siapa yang mau nikah?” tanya Madina bingung.
“Ya kamu lah. Siapa lagi?”
HAHHH?

Madina menoleh pada Alvi yang memainkan alisnya seraya menyeringai jahil.
Maksudnya apa?
“Siapa bilang?”
“Nak Alvi sendiri yang bilang.”
“Jadi beneran ini calon suami kamu, Mbak?” Ibu ikut-ikutan bertanya sambil membawa nampan berisi air minum untuk Alvi.
Madina semakin kesal dan bingung sekaligus.
Apa yang sudah Alvi bicarakan dengan Ayahnya tadi sampai menuai kesalahpahaman seperti ini?

“Tahun ini kamu giliran ngundang, Mbak. Kamu bakalan nikah,” ucap Ibu senang sembari memeluk lengan Ayah dengan manja.
Argggghhhhhh!!! Madina berteriak dalam hati, hatinya bergemuruh karena ulah si badboy itu.
Alvi sialaannnnnn!!!!

erpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
ig: @ipeeh.h

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 30 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Berjodoh Dengan Musuh merupakan cerita pendek karangan Latifah Nurul Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Sri Pujiati

“Loe tahu nggak kenapa akhir-akhir ini jadi aneh?” tanyaku pada sahabatku Beno yang sedang duduk di samping gue. “Masak sih, kayaknya Ale biasa-biasa aja deh Ci” jawab Beno sambil




Oleh: Meriza Dewi

Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan. Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB. “Hai Lili?”




Oleh: Hamida Rustiana Sofiati

Malam semakin larut, kegelapan telah menyapa dengan tawa menggelakkan. Kepekatan malam merambat ke setiap sisi rumah membuat kami mengunci pintu rapat-rapat. Kami enggan keluar, bahkan dengan terpaksa menutup kedai




Oleh: Pratiwi Nur Zamzani

“Zan! Hari ini lo ada acara nggak?” tanya Anggit dari seberang sana. “Enggak. Kenapa emangnya?” tanya Zani seraya memakan cemilan kentang yang ada di depannya. “Lo lagi nyemil sekarang?”




Oleh: Kamila Nadawiyah

Manusia memang selalu begitu, senang sekali menyesali sesuatu yang sebenarnya tidak haru disesali. Tapi aku tidak ingin munafik bahwa aku menjadi bagian dari manusia itu, aku senang sekali menyesali



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: