8 tahun cerpenmu

Cerpen Bibit, Bebet dan Bobot

Spread the love

Cerpen Bibit, Bebet dan Bobot





Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Renungan

Lolos moderasi pada: 18 May 2022

Kata Hana—teman Citra yang telah menikah di usia 23 tahun—bilang, “menikah itu memang enak, tapi tanpa ilmu dan riset terlebih dahulu bisa jadi beban mental. Maksud riset disini adalah mencari tahu bagaimana bibit, bebet, bobot calon pasangan. Itu penting. Benar-benar penting. Serius. Suer, deh!

Kata Hana lagi, setelah ada status pernikahan, pasangan suami istri bebas melakukan apa pun. Mau ini itu, boleh. Asal tahu tempat dan waktu.

Jaman sekarang, menikah itu kadang menjadi hal yang mudah bagi sebagian orang. Padahal jelas sangat berat pertanggungjawabannya. Kenapa? Jelas iya. menikah itu ibadah terpanjang dan terlama, tentu tanggungjawabnya besar. Menikah itu bukan hanya tentang halal menyalurkan hasrat, lebih dari itu. tentang hak dan kewajiban suami dan istri, menyayangi dua keluarga, menyatukan dua pendapat dari dua kepala yang pasti memiliki egonya masing-masing. Dannnnnn… segala tektek bengek tentang rumitnya pernikahan.

Masih kata Hana yang notabene penganut kebebasan akut, setelah menikah justru dia merasa terkekang. Sifat suaminya yang—kata Hana—posesif membuat Hana tak boleh kesana kemari hanya untuk menuntaskan rasa terkekangnya. Tapi yang Citra tahu dari penikahan adalah bahwa si istri harus bisa taat sama suami. Ketika tak diizinkan keluar, maka jangan berani coba-coba untuk kabur lewat jendela.

Citra meringis. Maaf mungkin ini hanya sebatas pendapat dari bocah ingusan yang belum menikah sama sekali. Pacar saja belum punya. Nasibbbb.
Jadi Citra hanya berbicara sesuai yang ia dengar dari khalayak ramai.
Di usianya yang ke 24, Citra adalah salah satu dari empat orang tersisa dari 30 teman segenerasinya. Kebanyakan mereka sudah menikah, dengan segala cerita-cerita dramatisnya perjalanan cinta mereka setelah menikah.
Berkali-kali Hana memberi wejangan sebagai orang yang sudah menikah hampir 2 tahun, Hana mewanti-wanti Citra dengan sangat.

“Jangan menikah terburu-buru, Citra!”
“Lihat bibit, bebet dan bobotnya.”
“Jangan menikah karena terpaksa, karena kamu yang menjalaninya. Bukan orang lain.”

Masih ia ingat dalam benak ketika malam panjang mereka mengobrol di telepon ketika Hana bercerita perihal perangai suaminya yang sekarang berbeda jauh dengan sebelumnya. Yang alim, sabar, penyayang, mau berkorban dan sifat-sifat positif lain yang membuat Hana tersihir untuk menerimanya.
Dan itu semua hanyalah kedok semata. Aslinya? Jangan ditanya. Jauh dari itu. Tidak perlu dijelaskan bagaimana dia? Tentu kalian sudah tahu.
Citra tahu ini adalah aib, namun ini menjadi bahan ukuran Citra dalam memilih suami nantinya untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.
Ngeri juga ya kalau begitu ceritanya?

Mendengar cerita Hana, kadang membuat Citra takut sebenarnya. Maka dari itu jomblo adalah jalan satu-satunya untuk tidak merasakan apa yang Hana rasakan.
Meskipun suatu saat nanti Citra akan menikah juga, tapi.. betul kata Hana, kalau masa muda tidak akan pernah bisa terulang.

“Citra Arumi, habiskan masa muda kamu sampai kamu puas. Jalan-jalan, karir, makan enak, kerja, hiking, nabung. Jangan kayak aku, tersiksa di dalam tempurung kura-kura. Pengap nggak bebas.”
“Dan satu lagi, penuhi otak kamu dengan ilmu pernikahan kalau kamu nikah. Dan sekali lagi, lihat bibit, bebet dan bobotnya.”

Pembicaraan mengenai rumah tangga Hana yang sedikit berantakan tidak pernah habis karena setiap harinya Hana selalu update di chatroom mereka. itu pula secara diam-diam, karena kalau terang-terangan di depan suaminya tentu Hana akan mendapat semprotan panas melebihi lava Gunung Krakatau. Hiperbola, ya!?

Ketakutan Citra membina rumah tangga bertambah ketika salah satu postingan seorang istri mencuat di twitter. Entah siapa namanya. Namun disana ia menceritakan tentang bagaimana ia merasa tertipu dengan suaminya yang tampan namun menyimpan aib.
Si istri mendapati suaminya berselingkuh dengan istri orang di masa lalu hingga menghasilkan seorang anak yang sangat mirip dengan si suami. Memang tampan.

Citra menghela nafas kasar sambil mengelus dada. “Ya Alloh..”

Sebelum itu, si istri merasa terkesima dengan suaminya yang alim dan saleh. Setiap salat ia pergi ke masjid, selalu mengajak baca Al-quran, sedekah dan segala hal positif lain hingga ia menerimanya untuk dijadikan suami. Namun kecurigaan mulai datang karena setiap kali memegang ponsel si suami akan menghindar dan memilih tempat sepi. Dilihatnya ia selalu tersenyum sambil menatap ponsel.

Setelah diusut dengan cara cepat namun rinci, terbuktilah kecurigaan selama ini. Muncul fakta bahwa si suami melakukan kesalahan di masa lalu hingga menghasilkan seorang anak dari hubungan gelapnya. Si istri menyimpulkan bahwa kesalehan si suami yang ia tunjukkan hanya untuk menutup kedoknya selama ini.
Cerdas sekali. Tapi cerdas untuk hal bobrok tentu sangat tidak mengesankan, bukan?
Si istri kecewa, marah dan merasa tertipu. Dan mirisnya si istri tengah berbadan dua ketika mengetahui fakta tersebut.
Gila ya!
Dan parahnya aib dari masalalu itu masih berlanjut hingga usia pernikahan si istri dan suami nyaris belum genap satu tahun. Allohu Akbar. Citra semakin meringis dibuatnya.

Lelaki tidak bersyukur. Umpat Citra dalam hati.
Citra hanya bisa berdoa agar si istri di kisah nyata itu bisa menjalani kehamilannya dengan baik dan mudah. Kondisi bayi dan Ibunya sehat.

Citra menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan hancur dan takut. Setelah membaca kisah nyata di twitter itu ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Meringkuk sambil memeluk guling yang harumnya minta ampun.

Di satu sisi terkadang ia merasa minder karena di usianya yang sudah cukup untuk menikah dia masih menjomblo. Di sisi lain, dia bersyukur dengan status jomblonya karena belum perlu memikirkan bagaimana melayani suami di pagi hari, menyiapkan makanan, menyiapkan baju kerja, mencuci, menjemur dan seabreg kegiatan ibu rumah tangga yang sama sekali belum terpikirkan.

Ia menikmati dirinya yang jomblo. Benar kata Hana, ia harus menghabiskan masa mudanya dengan senang-senang. Ia masih ingin bebas kesana-kemari, mencari ilmu, berkarir, jalan-jalan dan melakukan hal menyenangkan lainnya.

Bibit, bebet, bobot itu sangat penting. Citra membenarkan ucapan Hana kala itu. batinnya tertekan dengan pernikahannya yang dilingkupi nafsu pacaran dan merasa iri karena yang lain sudah bebas bermesra-mesraan setelah menikah.
Siapa yang tidak tergiur, namun melaksanakannya hanya karena nafsu semata tentu tidak akan bertahan lama. Yang ada bertahan tapi dalamnya rusak.

Btw, entah harus senang atau bagaimana, Hana telah bercerai dengan suaminya yang Hana bilang temperamen itu. Dan yang membuat teman Citra itu lega sekaligus merasa bebas adalah, dari pernikahannya itu Hana tak dikarunia anak. Kalau sudah, mungkin sampai sekarang Hana harus terkurung dalam sifat suaminya yang menyiksa batin. Sebagai sahabat, Citra merasakan apa yang Hana rasa. Bisa menghirup udara lebih leluasa.

“Jalan-jalan yuk ke toko buku?”
“Mau ngapain?”
“Beli buku seputar pernikahan.”
“Mau nikah lagi? Yaelah Hana baru juga cerai udah mau nikah lagi.” Hana menjitak kening Citra pelan namun dia tetap mengaduh seolah kesakitan.
“Lagian baca buku nikah nggak berarti mau nikah lagi keles! Sembarangan!”
Citra tertawa lepas melihat temannya terpancing emosi.
“Puas-puasin dulu lah, mumpung masih muda.”
“Udah janda!” timpal Citra yang dihadiahi pelototan mata oleh Hana.
Citra terkikik. “Ya.. janda cantik.”
Hana mendelik kesal membuat yang ditatap semakin tertawa lebar.
Mereka jalan beriringan keluar kafe yang tadi mereka singgahi untuk sekedar membunuh waktu akhir pekan.

Tadi mereka mengobrol banyak. Lagi-lagi nasihat Hana tentang jangan menikah hanya untuk memenuhi nafsu karena melihat teman seangkatan sudah menikah. Di jaman kekinian sekarang, banyak anak pasangan muda yang menikah karena merasa cocok dan sudah tidak tahan. Padahal ilmu mereka belum mumpuni termasuk mental mereka.

Mereka tergiur oleh pernikahan yang terlihat senang-senangnya saja. Padahal kesenangan beriringan dengan kesedihan. Maka banyak pula mereka pasangan muda yang baru satu tahun menikah sudah bercerai. Alasannya sepele. Sikap tidak dewasa di antara mereka contohnya.

Mereka belum bisa mengolah diri menjadi dewasa, mereka belum mampu menghadapi kondisi dan segala kerumitan yang ternyata baru mereka jumpai. Mereka juga tak paham ilmunya. Asal cocok langsung menikah. Padahal ilmu paling utama untuk menunjang lajunya pernikahan. Contohnya nih, mau membuat kue tapi nggak tau bahan-bahannya, nggak tau langkah-langkah pembuatannya. Mana mungkin bisa jadi kue?

Setelah ilmu, banyak penunjang lain. Termasuk mental dan materi.
Maka di usianya mereka yang masih muda, dua sejoli itu memantapkan hati untuk mengaji di pondok untuk berguru ke salah satu ustadzah disana.
Tak salah bukan meskipun umur sudah 24 tapi mencari ilmu masih sah-sah saja? dalam Islam dianjurkan pula untuk mencari ilmu sampai ke negeri china. Tak ada batasan umur dari keterangan itu.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
ig: @ipeeh.h

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 18 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Bibit, Bebet dan Bobot merupakan cerita pendek karangan Latifah Nurul Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Dedi Mukhlas

Cerita ini akan menceritahkan tentang seseorang dimana dia mulai melangkah memulai masa depan dijalan yang dia sendiri tidak tau akan mengarah kemana. Tiap sejanak waktu dia terus berjalan-berjalan menuju




Oleh: Wuri Wijaya Ningrum

“Udah lulus kok di rumah aja, bukannya melamar kerja. anak saya dulu, lulus ga sampe sebulan, sudah dapat kerja, di kantor pula.” Dia tidak tahu saja, sudah seberapa banyak




Oleh: Nur Cahyati

Malam mengapa kau tidak kunjung berlalu, apa kau tidak merasa kasihan melihatku sendirian dan kesepian menyelimuti diriku ini. Rumahku hanyanya beralas bumi dan beratap langit, ya dari ujung ke




Oleh: Hapsari Purwanti Rahayu

Pohon ini terlihat begitu renta. Sudah nampak keriput-keriput yang tertanggal di kulitnya. Namun, daunnya kian rimbun, batangnya kian kokoh, dan buah yang dihasilkannya begitu nikmat. Oksigen yang berhembus dari




Oleh: Mikhwanulkirom

Aku tidak bisa tersenyum, bibirku terasa berat akhir-akhir ini, tidak mudah untuk diangkat, seperti ada sebuah beban berat yang menempel disana. Ini semua karena mereka, mereka yang menatap sinis



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: