8 tahun cerpenmu

Cerpen Blova

Spread the love

Cerpen Blova





Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Kategori: Cerpen Rohani

Lolos moderasi pada: 2 June 2022

Ujian adalah bagian dari hidup jangan takut akan ada selalu yang namanya bantuan

Blova memandang kota dari jendela bus yang sedang membawanya pulang ke rumah. Hari sedang hujan membuat jendela tertutup oleh embun dan uap karena dinginnya, setelah turun di halte bus blova berjalan melewati hujan membiarkan dirinya terbasuh oleh air hujan blova menikmatinya.

“Ya ampun nak kamu hujan-hujanan cepat mandi nanti sakit lho”
“Baik bi”

Memandang dirinya di cermin kamar mandi blova merasa penampilannya semakin berubah dari tahun ke tahun setelah dirinya pindah kesini blova benar-benar merasa bahwa tuhan sedang mengujinya dengan ujian yang diberikan. Blova selalu meyakinkan dirinya selalu kuat menghadapi ujian yang diberikan tuhan membuat blova mengeluarkan air mata. Blova lelah hatinya lelah, pikirannya lelah, badannya lelah, semuanya lelah semua pikiran negatif yang blova ciptakan dan rasakan seolah mengambil alih dirinya membuatnya menjadi sangat berubah. Keluar dari kamar mandi blova menuju ke kamar tidurnya dan langsung tertidur di tempat tidurnya yang menurutnya masih layak disebut empuk dan nyaman.

“Kau gak sarapan?”
“Udah bi tadi pas bibi lagi di dapur”
“Tunggu sebentar ya bibi ambilkan bekal untukmu”
“Tidak perlu bi”

Blova segera berlari hingga ke halte dengan perutnya yang belum menerima asupan sejak dirinya kemarin pulang. Lagian perutnya sendiri juga sekarang pengertian dengan meronta untuk diberikan asupan makanan enak buatan bibinya. Bibi memang orang yang baik pikir blova tapi sedihnya dari cerita orang baik seperti bibi tuhan mengujinya dengan membuat orang tersayang disekitar bibi meninggalkannya. Berpikir seperti itu rasanya blova ingin memarahi tuhan karena ujiannya itu sangatlah payah.

Di ruangan loteng tempat dirinya bekerja blova memeriksa sekitar sendirian karena menurutnya bekerja sendiri lebih bagus dan cepat dibandingkan bersama orang atau apa pun namanya. Blova yang mandiri karena terbiasa hidup sendirian orangtuanya sendiri juga entah kemana dengan urusan-urusan payah mereka. Blova yang malang, sudah diuji tuhan sejak terlahir di dunia yang mengerikan ini disebut kehidupan membuat blova sangat membenci yang namanya tuhan blova yang putus asa membuat dirinya menjadi seorang yang ingin berharap dirinya mati blova yang mati rasa membuat dirinya tidak percaya dengan yang namanya perasaan.

Saat sedang mengecek suatu projek tidak sengaja dirinya memecahkan tabung membuat jarinya berdarah sangat banyak dengan segera blova membereskan meski jarinya kesakitan oleh sayatan membuat tabung itu bersimbah darah berwarna hitam beruntung kejadian itu terjadi setelah pekerjaanya selesai karena jika tidak nanti darahnya yang merepotkan akan membuat pekerjaannya kena nodanya dan semuanya akan menjadi berantakan. Dengan segera blova turun dari loteng segera menuju ke wastafel untuk membersihkan jarinya yang masih mengeluarkan darah berwarna hitam.

“Kau tidak berhati-hati lagi”
“Tidak” Blova memeriksa orang yang mengajaknya berbicara dari pantulan cermin “Lagian tabung itu sudah tua bukan? Kita butuh tabung yang baru”
Dengan segera orang itu meraih tangan blova membantu jari blova dengan memberikannya sebuah plester medis “Jangan menolak tabung itu sudah tua aku tidak mau kau terinfeksi”
Blova mencengir dengarnya “Lagian aku juga mau berakhir”
“Gila maksudmu mati”
Blova hanya tersenyum

“Dengar apa kau tidak tahu setelah kau mati masih akan ada lagi awal yang baru”
“Jadi maksudmu setelah aku mati itu tidak akan berakhir”
“Benar”
“Pernyataan bodoh apa itu tuhanmu?”
Orang itu mengangguk
“Aku tidak percaya tuhan”
Blova berjalan pergi meninggalkan orang tadi yang hanya bisa pasrah memang sudah sifatnya blova.

Blova sedang duduk sendirian di kantin sembari memandang jendela yang menunjukan hari lagi-lagi sedang hujan. terdengar bunyi petir yang bergemuruh dari luar dengan kuat hari ini kantin sepi karena hari libur membuat kebanyakan pekerja disini memilih untuk berlibur daripada bekerja di tempat pelosok seperti ini. Blova mengalihkan pandangannya memeriksa sekitar terlihat hanya beberapa orang juga sibuk dengan aktifitas mereka sendiri nampaknya orang-orang yang bekerja disini adalah orang yang tidak pernah mengenal libur atau mereka hanya lebih memilih menyibukan diri daripada menghadapi dunia nyata ujian tuhan?.

Berjalan kembali ke loteng dari kantin terasa lama Lorong-lorong gelap menyambutnya begitu dirinya keluar dari lift belum lagi suara petir bergemuruh dari luar terdengar sangat keras karena tempat ini terletak di sebuah bukit membuat tempat ini sangat dekat dengan petir jadi jika petir bergemuruh suaranya akan terdengar sangat keras dan kilatannya juga sangat cerah seolah terlihat petir itu dapat menyetrum kapanpun. Dari arah belakang blova mendengar sebuah langkah kaki namun saat blova berbalik dirinya tidak dapat menjumpai siapapun dan juga suara langkah itu menghilang. Namun saat blova kembali berbalik dirinya mendapatkan sebuah hantaman yang membuat semuanya menjadi gelap.

“Lagi-lagi tuhan memberikanku ujian dengan mengirimkan seseorang untuk membunuhku kan” Akunya blova saat temannya bertanya mengenai keadaannya.
“Dengar blova kau itu sedang berada di pengaruh obat”
“Apa maksudmu?”
“Tabung yang kau pecahi itu berbahaya” Temannya mengeluarkan sebuah foto yang menunjukan tulisan yang menyatakan bahwa tabung pecah memiliki kandungan yang berbahaya “Isinya dapat membuat kau berhalusinasi seperti ini”

Blova hanya terdiam dirinya merasa lelah jika harus beradu mulut jadi dirinya lebih memilih diam. Pekerjaan yang blova pilih sangat berbahaya karena inilah resikonya. Blova kembali bertanya apakah dirinya bisa sembuh membuat temannya menjawab bisa dan sekarang blova juga memang sudah sembuh. Dirinya berjalan di sebuah taman menjelajahi taman kota yang luas terasa sangat menyenangkan karena petualangan baru selain itu kegiatan ini juga membuat blova berisitirahat dari pekerjaannya yang melelahkan. Blova berjalan kearah seorang pria yang sedang berdiri di jembatan.

“Jadi kau ingin kembali?”
“Sangat”
“Tapi dunia ini akan berakhir dan kau tidak akan pernah kembali”
“Ketika semuanya berakhir aku akan pergi tanpa ucapan, salaman, dan perpisahan. Hanya pergi menghilang seolah aku tidak pernah ada disini”
“Baiklah”
Blova bersalaman dengan pria itu. Semuanya menjadi menyilaukan, blova merasakan badannya sakit nafasnya sesak.
“Dokter lihat dia sudah terbangun”

Blova dengan jelas dapat melihat perawat yang sedang berteriak ke seorang dokter menunjuk pada sebuah mesin yang memperlihatkan jantung blova berdegup menandakan blova masih hidup dan selamat setelah kecelakaan yang ia alami setelah blova mengutuk tuhan pada hari disaat bibinya ingin memberikan bekal makanan sebelum blova pergi ke halte bus. Tapi tampaknya kali ini tuhan ingin membuat blova kembali ke jalannya untuk mempercayai bahwa dibalik semua ujian yang diberikannya akan terdapat sebuah hasil berupa pelajaran yang berharga yaitu menerima. Menerima bahwa semuanya sudah terjadi menerima bahwa harus selalu mampu dan tidak mudah menyerah dengan tantangan.

Tuhan memberikan blova sebuah kesempatan yang kini membuat blova terkagum dengan keajaibannya. Di alam mimpinya saat blova masih koma blova sadar bahwa semua orang yang blova lihat dan termasuk yang menolongnya adalah dirinya sendiri sedangkan pria yang ia temui di jembatan taman blova percaya itu adalah utusan tuhan. Hidup terkadang bisa menjadi susah namun akan selalu ada tuhan yang menolong setidaknya itulah yang bisa dipercayai saat ini bukan?.

Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Blog / Facebook: lovinpluie

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Blova merupakan cerita pendek karangan Shofa Nur Annisa Deas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Lampeng

Apa ini? Mengapa semua gelap? Orang-orang seperti tak melihatku. Hey tunggu dulu, itu kan aku! Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah aku sedang bermimpi? oh tidak tidak, saat ini aku




Oleh: Selmi Fiqhi

“Tett… tett…” “Siapa Rai? Kok nggak di angkat?” Tanya Ray padaku mengomentari handphoneku yang berdering. “Oh, ini Mama Ray, tunggu ya aku angkat dulu.” Aku sedikit berbohong padanya dan




Oleh: Clarissa Natasha

Aku mempunyai dua sahabat. Yang satu Runa, satunya lagi Sella. Tapi itu dulu. Persahbatan kami terputus oleh seseorang yang sangat menyebalkan. Varissa yang gaya, sok akrab, bermuka dua… Banyak




Oleh: Puspita Sandra Dewi

Ia menamai bintang itu, Vernus. Berasal dari kata Virgo yang dekat dengan nama seorang dewi, Venus. Dewi cinta. Entah mengapa pula ia menamai bintang itu Vernus. Dari sekian banyak




Oleh: Maulana Putra Alfariski

Sinar matahari masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun menyadari, Jika aku… Aku kesiangan!!. Aku pun bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi. “Aduh, Aku



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: