8 tahun cerpenmu

Cerpen Bolen Pisang

Spread the love

Cerpen Bolen Pisang





Cerpen Karangan: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 7 June 2022

Azan Subuh baru saja lewat. Pukul empat lebih enam menit waktu Indonesia bagian barat saat iqomah bergetar kemudian. Orang-orang bergegas merapatkan barisan. Tujuh puluh lima meter dari kumpulan pejuang subuh itu, Supardi belum beranjak dari peraduan. Ia masih menempelkan pantatnya di ranjang. Butuh waktu beberapa saat untuk mengumpulkan nyawanya. Kemudian pelahan menuju kamar mandi mengambil air wudlu. Dulu, Supardi tak alpa subuhan di masjid Mustaqim. Tapi semenjak imannya turun naik, ia hanya berdoa di rumah-alasan klasik. Usai sholat, geloyor selimut ditarik kembali. Menuntaskan rasa lelah yang belum menguap. Namun jika jadwalnya turun ia akan mempersiapkan diri sebelum berangkat. ‘Jadwal’ yang dimaksud adalah jatah buat dirinya untuk mengisi posisi kosong di usaha boga milik pak Basuki. Kerja freelance merupakan pilihan Supardi.

Pagi ini panggilan jadwal tak mampir, membuat kebiasaan Supardi mendapatkan tempat. Kepalanya kembali ia golekkan diatas bantal. November menambah persekutuan antara dingin bersama cairan langit kian menyengat. Hujan sejak pukul satu dinihari menjadi alasan bermalas-malasan, ditambah mimpi konyol menyergap tidurnya.

Meringkuk, berbagai posisi Ia bentuk; mirip udang galah, tiang listrik, tangan menyangga kepala-sesekali jari jemari diketuk ketukan. Pikiran berkelindan hingga meraih sosok Pandum. Ya, kawannya itu telah meninggal di bulan Juli-wabah mengakhiri petualangannya di bumi. Kepergian Pandum cukup mengagetkan. Pengusaha muda cukup ternama di kota ini tergolek diatas ranjang dibalut penyakit kambuhan berulang-ulang.

“Typus ke empat”, ungkap satu saudaranya, “Dulu pernah, semuanya bisa ia lewati. Tapi virus covid membikin pertahanan tubuhnya koyak”.
Kedua tangan Supardi menelusup dibawah bantal, menekuk kedua sisinya-kepala dihimpit.

“Pandum”, lirihnya. Tiga bulan sejak sahabatnya pergi ke haribaan Illahi, Supardi menemukan kembali pecahan-pecahan memori dirinya bersama Pandum tahun-tahun yang lalu.

“Sepertinya saya akan buka usaha, Di”, ungkap Pandum pada suatu ketika.
“Apa rencanamu?”, Tanya Supardi.
“Jualan Bolen pisang”, kata Pandum
Begitulah tekad Pandum.

Prosesnya mengharuskan ia terseok-seok: mengendarai motor empat tak, beronjong didudukkan kuat dipenuhi dagangan. Berkeliling seantero pelosok kota menjadi napas perjalanan. Menawarkan ke berbagai warung-warung, gerai oleh-oleh, pasar sampai kantin sekolah. Supardi sesekali menjumpa Pandum di jalan ketika dirinya disuruh pak Basuki-si pemilik usaha boga. Ngobrol sebentar sebelum memutuskan berpisah. Sebagai sahabat, Supardi haqul yaqin kalau sahabatnya kedepan akan sukses. Dasarnya adalah tekad baja serta jalur yang ditempuh Pandum sesuai passion. Supardi mendapat gambaran lewat pak Basuki yang terjun dibidang yang sama dengan Pandum.
“Aku yakin, harapanmu akan tergapai, Dum”, katanya pada suatu kesempatan. Pandum hanya mengangguk.

Lama tidak bersua hingga perjumpaan selanjutnya memberi gambaran jelas kalau Pandum merangkak naik kelas. Usahanya mekar. Pisang bolen racikannya banyak disuka. Pesanan yang bertubi-tubi mengharuskan ia mendirikan pabrik.

“Di, Kesinilah!”, teriak Pandum. “Ini kantorku. Pabrikku dibelakang”
“Wah, hebat kamu, Dum”, kata Supardi
Kehebatan Pandum dalam berinovasi memperkuat pondasi finansialnya. Brankas menggelembung rekening kembung. Perkembangan pabriknya memberi gambaran terang. Tidak hanya bolen pisang, segala jenis roti ia buat. Kemajuan itu lambat laun merubah gaya hidup Pandum.

Ketemuan berlanjut. Hari-hari selanjutnya Supardi sering diajak Pandum keluar kota. Sampai akhirnya Supardi memutuskan jaga jarak dengan Pandum. Setiap ditelepon ia akan beralasan, “Sory, Dum. Aku tidak bisa. Ada urusan lain”. Alasan-alasan digelontorkan membuat Pandum mengakhiri harapannya pada Supardi.

Bantal empuk menempel lembut di kepala Supardi. Bau wanginya menambah kenyamanan. Suara cecirit burung diatas atap rumah memberi kabar kalau hujan telah usai. Angin dingin menelusup dicelah jendela, membisiki, bangun awal rejeki akan cepat datang. Badannya kian meringkuk. Bisikan tersebut gagal membujuk. Supardi berbaring menyamping. Pikirannya menyala mencari-cari pecahan.

“Kita kemana, Dum?”. Mobil melaju ke utara kota arah perbatasan. Jalur padat dengan kondisi jalan remuk redam memaksa Pandum pancangkan kelihaian bermanuver.
“Nanti kamu akan tahu”
Dua karib itu membiarkan tubuhnya terguncang bila gagal menyikapi kondisi jalan.
“Gunung Kemukus?”, Batin Supardi. Palang petunjuk arah berhasil ia tangkap dikecepatan 50 km/jam. Sambil menyetir, Pandum menggerak-gerakkan kepala mengikuti irama musik. Berhenti pada warung dan parkirkan mobil disamping.
“Tolong, Di. Kamu bawa satu, aku satu” kardus lumayan besar diambil dalam kabin.

Perahu membawa mereka menyeberangi limpahan air waduk Kedungombo. Empat ribu rupiah ongkos naik perahu. Benak Supardi belum menemukan jawaban; kenapa Pandum mengajak dirinya ke Gunung Kemukus.

Dermaga kecil berhasil menjadi pijakan, untuk selanjutnya menuju sasaran. Kardus itu tidak begitu berat. Tapi karena jalannya sedikit menanjak memaksa napas mereka ngos-ngosan. Disunggi dipundak tidak butuh tenaga besar. Sebuah warung mereka masuki. Beberapa wanita heboh oleh kedatangan Pandum. Mengerubuti sambil mencubiti.

“Mas Pandum datang!” Teriakan menjadi sinyal akan keberkahan. Keriuhan mengapung diudara. Wanita-wanita itu berebutan mendekati Pandum. Bau parfum murahan menguar, menjambak saraf penciuman.
“Wah, dapat apalagi ini?”
“Tolong dibagikan buat teman-temannya, mbak”, pinta Pandum.
“Aku yang pertama pilih”
“Bagus nih warna merahnya. Pas untuk payudaraku”
“Yang rata, jangan sampai ada yang tidak kebagian”.

Hingga mereka pulang, Supardi belum menemukan jawaban pasti. Malah pikiran negatif muncul terhadap kelakuan temannya. Gunung Kemukus, masyarakat mengenal tempat itu dengan persepsi buruk-penglarisan dengan melakukan ritual s*ks. Usahanya berhasil karena melakukan ritual di tempat tersebut? Melihat keakraban Pandum dengan wanita-wanita disana mengerucutkan dugaannya. Benarkah?

“Pasti pikiranmu buruk terhadapku, Di?”
“Pastilah!”, kata Supardi. Pandum tertawa sambil tangannya menghandle stir. “Aku maklum. Bahkan isu aku punya pesugihan atau melakukan ritual nyeleneh sudah menelisik telingaku”. Pandangan matanya menatap kedepan.

Tidak hanya sekali, berkali-kali Pandum mengajak Supardi ke Gunung Kemukus. Selalu membawa barang-barang beranekarupa; gula, beras, deterjen, sabun mandi, handuk, celana dalam, BH(Buste Hounder), roti buatan pabriknya-terkhusus bolen pisang. Bahkan kadang lembaran seratus ribuan Pandum selipkan ke perempuan-perempuan tersebut. Itu membuat Supardi jengah. Ia kuatir sekaligus takut kalau ada tetangga atau handai taulan memergoki dirinya berada di tempat ini. Akan menjadi fitnah baginya.

Jelang Maghrib, motor Pandum masih meliuk-liuk dikawasan peladangan. Jelajahnya menembus kabupaten tetangga dikarenakan dagangannya belum laku banyak. Singgahan-singgahan menutup diri, enggan memberi respon positif. Penolakan membuat dirinya begitu menderita. Dirinya lelah. Wajah dilumat debu campur keringat, raga dirajam penat. Sebuah masjid desa menariknya untuk disinggahi. Azan menyuruh dia berhenti agar menjadi bagian dari barisan Ushalliy fardhal-maghribi. Usai salam, imam sholat melanjutkan tausiyah beberapa menit. Isinya tentang dahsyatnya sedekah. Berikanlah sebagian hartamu pada siapapun yang menurut kamu layak menerima. Tuhan akan membalas sedekahmu berlipat-lipat ganda. Pandum menikmati untaian pencerahan. Lelahnya tergerus. Jama’ah membubarkan diri. Beberapa diantaranya membentuk lingkaran menunggu azan Isya’-ngobrol ala kadarnya.

Seraya menyandarkan punggung pada dinding, Pandum selonjorkan kaki. Tangan disatukan-jemari tertangkup, jempol bergerak saling adu pukul. Suara serangga malam menambah beban kegelisahannya. Gelap kian pekat, walau sinar bulan memancar tapi kekuatannya tidak seberapa. Bayang-bayang dari kejauhan nampak sesamar.

“Darimana, mas?”. Seorang bapak mendekat. Pandum terkesiap, gelagapan. Balon pikirannya meledak buyar.
“Dari Solo, pak”, jawab Pandum
“Lah, jauh sekali?”. Bapak tersebut kaget. Tanpa disadari, sebenarnya sejak lama mengamati dirinya. Letih wajahnya mengundang penasaran si bapak.
“Jualan ya, mas?”
“Iya, pak. Pisang bolen”
“Satu harganya berapa?”, Kata si bapak
“Seribu dua ratus per biji”, ujar Pandum. Ia mengambil satu kotak kardus berisi sepuluh biji. Diperlihatkan pada si bapak.
“Buatan saya sendiri. Tadi pagi usai semuanya-masih fresh. Pisang bolen ini bisa tahan tiga hari”, kata Pandum
“O ya?”
“Kalau dimasukkan kulkas tahan sepuluh hari”, promo Pandum.
“Saya beli satu kotak, mas”
“Siap!”.
Berpindahlah bolen pisang itu. Si bapak mempersilahkan lingkaran tadi untuk ikut mencicipi. Kunyahan terdengar gemericik. Gigi-gigi melumat kudapan kubus itu.

“Legitnya terasa”, ungkap satu diantara mereka.
“Kulitnya renyah”. Mereka manggut-manggut menikmati.
“Benar-benar enak”
“Mas, jangan pulang dulu. Usai Isya’ saya mau beli”, seru mereka.
Pandum mengiyakan. Benar saja, jama’ah itu membeli dagangannya. Kebahagiaan tertancap pada wajah Pandum.

Malam keberkahan terapung padanya. Jalan pulang terasa lapang walau kenyataannya tak lebar serta bentuknya amburadul-aspal mengelupas dengan campuran tanah lempung. Pandum merasakan guncangan yang sangat menjengkelkan. Membuat perutnya suduk’en-bak ditusuk jarum, terasa pada perut bagian atas.
“Huh! Kenapa tidak diperbaiki!”, Gerutunya.

Gelap menggelayut dikiri kanannya. Kubah langit menyisakan pijaran bintang-bintang. Tangan memegang kuat stang agar tetap stabil. Pandangannya sesekali menatap ladang-ladang singkong yang membentuk rerimbun. Rentangnya tak ketulungan. Berhektar-hektar. Sangat sepi dan menakutkan. Jangkauan lampu motor hanya sejauh sepuluh meter. Itupun tak begitu terang.

“Toloooong….” Rintihan yang tersendat menggilas pendengarannya. Sesosok perempuan tersambar sorot lampu motor. Pandum ketakutan. Sosok itu duduk ndeprok di pematang.
“Kuntilanak!”. Jantung Pandum berdegup kencang, terasa seperti disepak kuda. “Jangkrik! Nakut-nakutin orang saja”. Bulu kuduknya berdiri-merinding, bulu-bulu dibadan tegak grap. Motor menyala, tapi tangannya tak sanggup memutar gas. Gemetar.
“Tolooong, mas… pak… toloong saya…” Rintihan panjang penuh kesengsaraan. “Saya bukan hantu… tolooong, mas… pak…”

Jiwa kemanusiaan Pandum tersengat. Walau rasa takut menjalar, namun Ia memaksa meletupkan nalar. Sorot lampu di arahkan tepat pada sosok tersebut.
“Kalau kuntilanak pasti tak menyentuh tanah”, lirihnya. Ia mengolah dirinya menjadi berani walau kaki dengkelen. Pelahan mendekat sambil benar-benar memastikan.
“Tolooong, saya diperk*sa orang…”

Pandum kian yakin kalau perempuan itu bukan kuntilanak. Rambutnya awut-awutan, pakaiannya sobek-sobek hampir telanjang. Tubuhnya sintal dengan wajah ayu yang tersamar. Melihat kondisinya yang centang perenang ia lepas jaket dan membalutkan ke tubuh perempuan tersebut. Selanjutnya ia bopong dan dudukkan pada tengah bronjong.
“Mbaknya diam saja. Kita ke dokter dulu”, saran pandum meyakinkan. Dengan bergegas, motor empat tak itu melaju meninggalkan lokasi bersama kecamuk buah pikir dua manusia.

“Jadi…?”
“Saya wanita panggilan, mas,” ungkap Sumiati terus terang. Pandum menatap Sumi dengan tidak percaya.
“Maaf sudah merepotkan” kata Sumi. “Kesalahan saya adalah mau menerima job di luar Gunung Kemukus. Uang dan handphone saya diambil semua”
Pandum diam. Pikirannya berkecamuk. “Kenapa saya bisa menolong wanita murahan ini?”, Batin Pandum.

“Pernah ke Gunung Kemukus, mas? Maksud saya pernah dengar tempat itu?”, tanya Sumi sambil mengoreksi.
“Pernah dengar. Siapa yang tak kenal?”, Kata Pandum.
“Kalau berkenan mampirlah ke tempat saya”, pinta Sumi, “Nama saya cukup populer disana”
Pandum mengangguk mengiyakan.

Cerpen Karangan: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Facebook: facebook.com/Romdhoni.Kuncoro
Buruh freelance tanpa paspor. Penyuka bubur kacang ijo dengan santan kental serta roti bakar isi coklat kacang.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 7 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Bolen Pisang merupakan cerita pendek karangan Sri Romdhoni Warta Kuncoro, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Faddilatusolikah

PLAK!! Tamparan laki-laki itu tepat mendarat di pipi kirinya. Isak tangis di pendamnya. Digosok-gosoknya pipinya yang terasa panas. Ditatapnya wajah laki-laki itu dengan segumpal rasa jengkel. Wajahnya merah padam.




Oleh: Widia Lestari

Mentari perlahan naik ke timur. Menggantikan bulan yang kini terlihat samar. Langit yang merah diam-diam terganti dengan bitu yang cemerlang. Tak jarang burung-burung bertengger di pepohonan untuk menghirup udara




Oleh: Audhina Novia Silfi

Bulan sabit muncul dan langit tidak terlalu bercahaya. Berjalan tergopoh, berpakaian lusuh dan ada goresan benda tajam melukai badannya, sehingga terlihat jelas darah mengalir dan membasahi lengan baju kirinya.




Oleh: Nasrul M Rizal

Kau menghela napas panjang. Bola matamu bergerak ke kanan dan kiri, menyapu setiap jengkal taman ini. Kau menggerakkan tangan kanan, mengetuk-ngetuk kursi besi berwarna merah, yang diduduki sedari tadi.




Oleh: Muh Faddlan

Sudah dua tahun lalu sejak kematian perempuan suci yang menempati rumah di ujung gang buntu itu. Itu bukan rumah mewah dengan fasilitas lengkap, hanya sepetak tanah yang di atasnya



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: