8 tahun cerpenmu

Cerpen Bukan Gitu, Maksudku! (Part 1)

Spread the love

Cerpen Bukan Gitu, Maksudku! (Part 1)





Cerpen Karangan: Andestin
Kategori: Cerpen Persahabatan

Lolos moderasi pada: 26 July 2022

Finally, setelah 4 tahun akhirnya kita bisa kembali untuk mengadakan reuni. Ah, masa-masa SMA yang lugu dan lucu. Pada kesempatan perdana yang spesial ini, gue beruntung kebagian jadi MC. Jadi center of attention adalah obsesi gue sejak dulu. Tapi dalam hal-hal yang keren, tentunya. Gue gak mau jadi pusat perhatian kalau itu karena dilabrak kakak kelas sebab pacarnya naksir gue. Tapi pernah, sih. Makanya, gue gak mau lagi. Malu banget!

“Hello guys! Finally, it’s time!”
Ledakan confetti jujur ngagetin. Karena gue adalah tipikal orang yang gak suka suara ledakan, jantung serasa lompat dari tempatnya. Tapi, euforia reuni ini lebih meledak-ledak dalam dada gue. Jadi, confettinya gak masalah.

“After 4 years, seperti perjanjian kita dulu selepas ujian kelulusan. Kita sepakat ya buat ngadain reuni di tahun ke-4 setelah lulus supaya temen-temen ‘diharapkan’ udah pada selesai nih kuliahnya, buat yang kerja juga supaya udah lebih mapan kondisinya. Dan… Disini kita sekarang! Harapannya sih semua orang ada disini ya. Gimana? Temen-temen kalian pada dateng kan? Diajak dong ya pastinya?”

Sorak-sorai audiens memenuhi lapangan outdoor sebuah resto yang disewa untuk acara reuni akbar satu angkatan ini.

“Yea, as a plan, kita ada beberapa agenda disini untuk seru-seruan dan mengenang masa lalu. Stand foto bersama ada di sebelah kiri panggung and it’s free! Panitia bakal ngatur supaya semuanya kebagian buat foto ya jadi gak usah khawatir. Mulai dari foto per-kelas, per-jurusan, bahkan per-grup main kalian masing-masing, boleh semuanya. Note: biaya cetak ditanggung sendiri” gue bergaya centil.

“Oke buat agenda yang pertama sesuai rundown acara, kayak di acara-acara pada umumnya, adalah pembukaan! Disini bakal ada perwakilan angkatan dan mantan ketua osis angkatan kita buat menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai pemantik semangat dan pembangkit kenangan gitu ya gaes ya. Setelah itu, bakal ada penampilan dari band IPA!”

Yang dipilih sebagai perwakilan angkatan adalah si jenius dari masing-masing jurusan. Pesan yang disampaikan si jenius dari jurusan IPA teramat sangat berat dan berbobot sampai bikin gue ngantuk. Isinya hampir seperti filosofi kehidupan yang diibaratkan dengan kopi dan kue. Lah, peduli amat. Kalau gue, kopi dan kue ya dinikmati aja. Ngapain dipikirin? Sedang anak IPS & bahasa, meskipun dibilang “si jenius” masih bisa lebih santai, sih. Malahan anak IPS kesannya seperti ngelawak. Anak bahasa seperti baca puisi. Begitulah ketika kita terlalu mendalami peran.

Selanjutnya, sambutan mantan ketua OSIS yang kece abiss sekaligus meresmikan pembukaan acara sore hari ini. Wibawanya gak pernah turun walau satu senti. Udah ganteng, berprestasi, anak pengusaha, tapi ya gitu, songong dikit. Gapapa, termaafkan.

“Ra, bandnya belum siap. Vokalisnya belum dateng!” Bisik koordinator seksi acara gue di belakang panggung. Sementara sambutan mantan ketos udah mau selesai.
“Heh?!” Gue panik.
“Lu urus sisanya ya. Gue mau ketemu pihak resto dulu nih.”
“Lah anjirr!”

Akhirnya, gue memutuskan buat mencairkan suasana dengan main game yang melibatkan audiens. Untung gue cukup berpengalaman di kampus. Gue naik lagi ke panggung. Tiba-tiba, dari pintu masuk dateng dua orang cowok yang awalnya gue gak ngeh karena fokus ke audiens. Tapi karena yang satu melambai-lambai terus ke arah panggung, perhatian gue buyar.

“Niko?” Mata gue menyipit.
Spontan gue bales melambai. Gue seneng banget akhirnya sahabat sejak kecil gue itu dateng juga. Sebab dia tadi pagi nolak waktu gue suruh jemput dan malah bilang mau pergi sama orang lain. Gue sempet ngambek, ngerasa diduain. Tapi sekarang dia disini, gue ga bisa berkutik lagi. Gue seneng banget!

Waktu sadar gue masih jadi MC, gue cepet-cepet alihin fokus gue ke audiens lagi. Sambil lirik-lirik ke orang yang lagi jalan sama Niko.

“Okay gaes now we’re gonna play a little game. Gue butuh sukarelawan lima orang… dst”

Setelah kelar main game, salah satu staff sie acara ngode kalau bandnya udah siap tampil. Gas, langsung aja ga pake lama, gue panggil mereka naik ke atas panggung. Gue turun ke back stage. Papasan sama anggota band yang mau naik panggung.

“Thanks ya udah ngulur waktu buat gue” pundak gue ditepuk sama seseorang yang samar-samar gue gak inget.

Gue lanjut jalan ke back stage. Disana ada Niko.
“Bro, u ngapain disini?”
“Tadi nganter Alif”
“Oh? Orang yang sama lu itu tadi Alif?”
“Iya. Masak lupa?”
“Bukan lupa!”
Seketika gue meleyot di tempat. Kayak es krim kepanasan.
“Ra? U kenapa?”
Gue cuma bisa nyengir ga jelas, nahan rasa berbunga-bunga.
“Ra, sakit?”
“Gue belum pernah ngerasa se-sehat ini sejak 22 tahun terakhir!”
“Keknya lu demam. Muka u merah banget.” Niko ngecek suhu tubuh gue.
“Ga, ini darah gue mendidih” gue tepis tangan Niko secepat kilat.
“Gue ga ngerti sama lu, Ra”
“Jadi, orang yang lu maksud tadi pagi Alif?”
“Lah, iya. Gue kira lu tau. Lu pikir siapa? Pacar? Lu ga mau sih jadi pacar gue.”
“Dih, ogah!”
“Laiya, yaudah. Gue sama Alif aja”
“Takut banget gue sama lu!”
“Bercanda, Raraswati Kusumawardhani!”
“Oke! Nicholas Putra Purnomo”
“U kan tau, Alif ga bisa berangkat kalo ga ada yang jemput. Dari jaman sekolah kan udah begitu.”

Gue mengingat-ingat kembali ke zaman sekolah dulu. Alif ini keluarganya *maaf* miskin banget. Tiap hari bahkan Alif berangkat sekolah jalan kaki padahal jarak rumahnya lumayan jauh. Pulangnya, Niko sering banget nawarin tumpangan gak searah buat Alif yang mana sering juga ditolak Alif karena ngerasa sungkan. Tapi mereka sohib banget, aturan gak masalah dong. Gue sama Niko seringnya berangkat bareng karena rumah kita literally sebelahan, gaes, sebelahan. Nangis banget wkwk. Kadang sama supirnya Niko, kadang sama supir Papa. Kalau lagi sama supir Papa, Niko cukup tahu diri buat gak nawarin tumpangan ke Alif. Sampai pada fase ketika kesibukan kita udah beda banget di semester dua, kita berangkat sendiri-sendiri. Niko ikut ekstrakurikuler English speaking club dan Karya Ilmiah Remaja, gue ikut ekstrakurikuler jurnalis dan broadcasting.

“Sorry nih sebelumnya. Alif apa ga kerja?”
“Kerja lah. Dia jadi designer grafis.”
“Tapi kehidupannya gak kelihatan ada perubahan(?)”
“Yang kerja cuma buat bahan gabut, gak di ajak!”
Gue ngangguk. Paham.
“Penghasilan Alif itu buat ngehidupin keluarga, Ra. Ga kayak kita. Ga kerja aja tetep makan enak.”

Cerpen Karangan: Andestin
Andestin means “secret”.


Cerpen Bukan Gitu, Maksudku! (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Andestin, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Fara Nadira

Pagi Ini, aku ingin jalan-jalan bersama sahabatku, Elisa. Kami sangat dekat sudah hampir lima tahun. “Elisa!” seruku. “Eh, Zahra,” kata Elisa. “Mau ke Taman Cendrawasih, nggak?” tanyaku. “Yuk, kapan?”




Oleh: Rani Syah Putri

Seperti biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah matematika. Menurut ku itu pelajaran, yang paling bete dan membosankan. Tapi aku




Oleh: Ahmad Nanda Maulana

Gue sedang berdiri di ambang pintu kelas sembari menunggu teman-teman datang. Memandangi sudut-sudut sekolah, yang masih sepi. Udara pagi yang segar, embun yang melekat pada daun-daun. Gue menghirup udara




Oleh: Naura Kamila

Perkenalkan namaku Aisha Aileen Nathania. Aku duduk di bangku kelas 7 SMP 30 di kota Biru. Aku memiliki sahabat bernama Iva Novianty. Dia temanku sejak aku duduk di bangku




Oleh: Angel Laurent

Lalu terdengar suara teriakan histeris perempuan. Ternyata itu seorang guru sama seperti miss Amelia. Dari tampangnya sepertinya miss Grace. Seluruh guru lalu bertanya apa yang terjadi, dan sebagian murid



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: