8 tahun cerpenmu

Cerpen Bukan Gitu, Maksudku! (Part 2)

Spread the love

Cerpen Bukan Gitu, Maksudku! (Part 2)





Cerpen Karangan: Andestin
Kategori: Cerpen Persahabatan

Lolos moderasi pada: 26 July 2022

Dari backstage, gue bisa dengan jelas denger perform bandnya Alif dan suara dia yang manly banget waktu bawain lagu Joseph Vincent – Can’t Take My Eyes of You. Aduuuh, jantung gue ga aman, seriusan.

Oh, pretty baby, don’t bring me down I pray oh pretty baby… —uuuhu I won’t let u down ma hensem bby. Gue mau nangis rasanya dinyanyiin begitu. Padahal Alif nyanyi bukan buat gue huhu PD aja.

Waktu bandnya Alif turun, gue balik ke atas panggung lagi. Waktu papasan, gue disenyumin. Gubrak! Bisa jatoh gue pas naik tangga.

“Manis bangett… Vokalisnya xixixi” celetuk gue. “Setuju ga gaes??”
Bandnya Alif & Niko udah keluar dari back stage dan lagi nyari tempat duduk didepan panggung.
“Setujuuu!!!” Ciwi-ciwi serentak menyuarakan kesepakatannya pada opini gue.
Cowok-cowok bersorak gak puas.
“Ra, gak usah aneh-aneh. Gue bilangin bapak lu!” Celetuk Niko.
Gue cemberut. Ini microfon pengen gue lempar ke komuknya Niko.
“Iri? Cemburu? Bilang bos!”
Ramai-ramai para cewek nyorakin Niko. Puas banget gue. Alif cuma ketawa kecil. Ganteng bangett. Ya Tuhan!! Buat hamba aja boleh gak?

“Oke guys after this kita ke acara selanjutnya, acara yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi kalo bukan MAKAN!!”

Gue cepet-cepet turun panggung dan nyari tempat duduk juga. Gue lihat Niko duduk hadap-hadapan sama Alif dan temen sekelasnya yang lain. Gue ga mau peduli. Gue ga mau hilang kesempatan. Gue langsung narik kursi dan nyuruh Niko geser. Sekarang gue duduk dengan nyaman tepat di depannya Alif. Gue ga peduli temen-temennya mandang gue dengan tatapan jijik. Gila banget kalo dulu gue selalu melewatkan kesempatan untuk ngobrol sama Alif padahal kita sering satu mobil.

“Lapo se, Ra?”
“Udah, you diem o ae Nik.”
Gue menopang kepala gue yang rasanya gak kuat ditegakin ini pake tangan, dan terus ngeliatin wajah Alif dengan kekaguman penuh. Puding stroberi yang mengilap di depan gue kalah glowing sama kegantengan Alif.

“Kamu kenapa sih?”
Anjirr! dia pake aku-kamu dong. Auah gue mau jadi kuah bakso aja.
“Kamu kenapa sii ganteng banget?”
Alif cuma garuk-garuk kepala kebingungan.
“Ganteng, makannya apa?” Gue juga ga paham kenapa gue jadi gini.
“Ya makan nasi, sama aja”
“Kalo manis-manisnya, dapet darimana?”
“Hahaha…” Alif cuma ngejawab pake ketawa yang mana sialnya bikin dia makin manis aja. Diabetes muda nih gue!

Ga kuat gue, ga kuat! Niko, tolong telpon ambulance sekarang juga! Kondisi gue lagi gawat. Meanwhile si Niko lagi sibuk makan es krim dan belepotan. Gue narik selembar tissue dan gue lap asal ke pipinya.
“Kebiasaan. Kek bocil!” Ucap gue sambil marahin Niko.
“Kamu perhatian ya sama Niko”
“Niko itu kayak baby, harus dijagain. Alif juga mau?”
Alif ketawa lagi sambil geleng-geleng. Batin dia pasti, “parah banget!”.
“Mau diperhatiin, maksudnya.”
“Daritadi kamu gak kurang perhatian ke saya.”

Gue salting. Meskipun perhatian yang dia maksud itu lebih ke arah ngelihatin terus-terusan.

“O ya, have u ever try this?” Gue nunjuk coklat buah, sebagai pengalihan.
“I guess u never. This taste so good. Trust me!” Gue nyodorin satu coklat ke dia yang diterima dengan senang hati.

“Gimana?”
“Enak, manis.”
Gue makan satu. “Eh, kok pait?”
“Masak? Coklat yang sama, kan?”
“Iya. Cuma karena ada kamu, coklatnya jadi kerasa pait banget. Kalah telak!”
“Haha, astagaa”

Berhasil godain Alif, senyum gue lebar banget kaya jalan tol. Terus gue lanjut ngelihatin dia. My baby Niko udah lupa dunia kalau udah makan. Jadi gak masalah.

“Jangan ngelihatin saya kaya gitu terus. Nanti kamu suka, lho”
Eh? Sial banget. Alif udah selangkah lebih maju dari yang tadi.
“Ya terus kenapa?”
“Nanti kamu bisa repot”
“Aku ga masalah kalo kamu yang ngrepotin”
“Yakin?”
Gue mengedarkan pandangan ke sekitar sejenak, lalu ngangguk.
“Kita gak semudah itu, kan” kata Alif gak jelas sambil ngambil coklat buah lagi.
Gue yang lihat Alif suka sama makanan rekomendasi gue, tergerak buat menawarkan sepiring penuh ke dia.
“Do u like it? U wanna bring it home?”
“Ah? This is good. That’s enough.”
“I could bought u some.”
“No, but thank u”
“Tapi…”
Gue agak kecewa karena sogokan gue ditolak sebelum akhirnya gue ngerasa kaki gue diinjek keras banget.
“Aduh!” Gue ngejerit.
“Sorry”
Niko cuma bilang gitu. Itu berarti dia sengaja nginjek kaki gue. Mungkin bermaksud nyampein sesuatu.

Rangkaian acara demi acara terlalui, gue naik turun panggung buat yang kesekian kali.

“Okay guys pada akhirnya kita udah sampai di penghujung acara. Syukur sekali acara kita hari ini dapat berjalan lancar tanpa suatu kendala yang berarti. Berharap kalian udah cukup puas dengan apa yang bisa panitia beri. Atas ketidaksempurnaan dan tutur kata yang kurang berkenan di hati teman-teman semuanya, saya Raraswati Kusumawardhani selaku Master of Ceremony mewakili sie acara dan segenap panitia memohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena keterbatasan waktu, kita cukupkan sampai disini, sehat selalu dan sampai jumpa di lain hari. Selamat malam!”

Confetti diledakkan lagi. Riuh tepuk tangan panjang tak kunjung henti. Gue cukup puas dengan pembawaan gue hari ini.

“Let’s go home?” Tanyaku pada Niko.
“Gue nganter Alif. Lu pulang duluan aja.”
“Lah? Supirnya Papa udah pulang lah jam segini!” Gue melolot ke jam tangan yang udah nunjukkin pukul sebelas malam.
“That’s why dari pagi gue ngajak lu barengan aja, Mukidi!”
“Ya maap gue ga kepikiran Ra”
“Waduh, gara-gara gue ya pasti. Maaf.”
“Heh? Anu, ga kok. Gapapa. Alif ganteng pulang aja sama Niko. Aku naik taksi.”
“Jangan Ra. Ga aman!” Cegah Niko.
“Ya terus gimana?!” Gue frustasi.
“Lu ikut kita aja”
Seketika gue nahan senyum. Mau banget!

“Tapi kita gak mau langsung pulang. Mau nongkrong dulu.”
“Lah, kalian kan udah makan banyak?”
“Yah, tadi sih bagian seneng-seneng Ra. Sekarang bagian susah-susah.”
Apa dah? W g ngerti.
“Tapi itu kalo Alif ga keberatan u ikut. Kalo Alif ga bersedia, ya terpaksa u pulang naik taksi aja.”
Gue melirik penuh harap ke Alif. Pliss, mau aja. Pliss, bolehin gue ikut! Izinin gue buat mandangin lu sedikit lebih lama lagi.
“Gapapa. Raras ikut aja, bro.”
“Cius? Makasih!”
Gue langsung lari ke mobilnya Niko. “Buruan!”
“Lu hafal banget dah mobil gue”
“Mau dilihat dari Bogor juga gue tau!”

Cerpen Karangan: Andestin
Andestin means “secret”


Cerpen Bukan Gitu, Maksudku! (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Andestin, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Muhammad Irsyad

Aku perlahan berdiri, menyingkir sejenak dari kursi dan meja yang dingin, kemudian beranjak pergi menuju jendela di sudut kantor, tempat di mana aku berada. Terlihat dalam bayang-bayang kaca, wajahku




Oleh: Lia Warokah

“Assalamualaikum ukhti… namaku Irma, ukhti?” Ujar seorang anak SMA yang tengah berkenalan dengan anak baru disekolahnya. Irma adalah gadis remaja berkerudung yang sekarang sudah masuk kelas 3 SMA. Anak




Oleh: Ach. Arya Muhammad

Janji adalah sebuah ungkapan atau omongan yang perlu di pertanggung jawabkan, karena di saat kita sudah berjanji. berarti kita harus siap dengan apa yang kita janjikan. Seperti kata pepatah




Oleh: Jade Elisa Putri

Suara alunan musik piano itu membuat Mulan serasa seperti berayun di atas not-not balok yang bertebangan ke udara. Yap, siapa lagi kalau bukan Bitha yang memainkan piano dengan suara




Oleh: Hernita Sari Pratiwi

Hari ini tepat satu tahun setelah itu, aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Seorang teman yang baik, ceria, lucu, dan apa adanya. Ya. Dialah Alfiyah, sahabatku. Yang biasa kupanggil



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: