8 tahun cerpenmu

Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 1)

Spread the love

Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 1)





Cerpen Karangan: Felita Sukanti
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang

Lolos moderasi pada: 19 June 2022

Dinginnya kota Sumida seakan akan menembus tubuhku. Aku berlari menjauhi kegelapan. Terasa sakit kakiku berlari tak henti-henti. Aku harus cepat sampai di sana. Nafasku terengah-engah, keringat membajiri sekujur tubuhku. Sepinya sepanjang jalan memberiku khayalan menakutkan, terngiang-ngiang kejadian horor di kepalaku yang memaksa kakiku untuk berlari lebih cepat. Jalan yang berlubang dan berbatu ini sungguh mengganggu. Tanganku tetap memegang erat tas keranjang karena aku harus menjaganya.

Seakan-akan hembusan angin malam ini merobohkanku. Aku tak sadar kakiku terantuk lubang. Kerikilan merobek kulit lututku. Cucuran darah meluncur deras.

“Aduh, sakit!” ratapku.
Tas keranjangnya?!
“Meong… meong… meong.”
Syukurlah kau baik-baik saja Pusy. Bertahanlah sebentar Pusy.

Aku mencoba berdiri dan lari, aku tahu pasti rasanya sakit. Tapi lebih sakit lagi jika hewan kesayanganku tidak ada. Aku berlari tertatih-tatih, menahan rasa perih yang menusuk-nusuk, dan tetap menggenggam erat tas keranjang ini.

“Berhenti!!!” teriak seseorang dari arah samping.
Aku tetap berjalan sekuat tenagaku. Aku takut dia berbuat jahat padaku dan Pusy.
“Kamu terluka, kan? Aku bawa kotak P3K.” Tiba-tiba dia ada di hadapanku. Aku rasa dia seorang pria, tapi aku tak dapat melihat jelas seperti apa dia.
“Tolong saya,” sahutku dengan penuh harap.

Dia menuntunku entah kemana, tak lama kemudian sampailah di tempat yang lebih terang. Aku duduk di sebuah kursi yang ada di samping lampu taman. Lalu dia mengobati kakiku. Aku bisa melihatnya sekarang, menurutku dia masih SMA. Dia terlihat sudah ahli dalam mengobati hal semacam ini. Apakah dia ingin menjadi dokter nantinya?

“Aw…,” aku merintih.
“Tahan dulu, sebentar lagi selesai,” katanya dengan suara yang lembut sambil menutupi lukaku dengan kasa, “Nah, sudah selesai.”
“Te-Terima kasih.” Aku gugup sekali.
“Sama-sama,” dia tersenyum, “Ngomong-ngomong aku belajar ini dari ayahku, meskipun aku masih SMA kelas 2 tapi aku ingin tahu tentang hal seperti ini.”
Dugaanku benar, dia masih SMA dan seumuran denganku. Seketika rasa takutku hilang. Seketika kami akrab.
“Jadi ayahmu dokter, ya.”
“Ya, dia dokter hewan. Selain bisa mengobati hewan dia juga bisa mengobati orang yang terluka,” jawabnya sambil memasukkan alat-alatnya ke kotak P3K.
Keren.

“Oh ya, ngomong-ngomong kucingku sakit,” ceritaku berharap agar aku tak perlu jauh-jauh ke dokter hewan langgananku.
“Kalau gitu aku panggilkan ayahku, dia baru saja datang dari tempat praktiknya. Silahkan masuk dulu.”
Kami masuk ke rumah yang ada di sebrangku.
“Baiklah, maaf jika mengganggu.”

“Terima kasih sudah memeriksa kucing saya, Pak Wakayama.”
“Sama-sama, nak Yuki,” jawabnya. “Untung anakku membawamu ke sini kalau tidak kamu pasti sampai di sana dengan sia-sia.”
Aku tak menyangka ternyata ayahnya adalah dokter hewan langgananku. Syukurlah akhirnya Pusy sudah diperiksa.

“Kalau begitu, saya pulang dulu, terima kasih.”
“Aku antar,” sahut anak SMA tadi.
“Terima kasih, maaf merepotkan.”
“Tak apa.”
Jujur aku memang sedikit takut pulang sendirian, tapi sekarang tidak.

Lega akhirnya bisa sampai rumah. Pusy langsung tidur setelah sampai rumah. Aku tak menyangka bertemu orang sebaik itu di tengah kegelapan. Katanya aku terlalu nekat melewati jalan itu padahal ada jalan yang lebih aman dan terang.
Waktu itu dia ada di sana karena dia sedang merenung melihat bintang-bintang. Saat kutanya merenung apa, dia tak mau memberitahuku, dia hanya menjawab “Rahasia” dan mengatakan kalau bintang itu sangat indah sekali. Ada-ada saja dia.

Hmmm, dia. Siapa namanya, ya? aku lupa menanyakannya. Kenapa aku melupakan perkenalan? Padahal saat pertama kali bertemu dengan orang yang belum kenal, memperkenalkan diri adalah yang terpenting. Tapi, aku tahu nama keluarganya yaitu Wakayama, sama dengan ayahnya.

“Uaahh….” Aku menguap.
Sudah malam. Aku harus segera tidur agar besok semangat menjalani aktivitas apalagi setiap hari aku bekerja paruh waktu.
Akankah aku bertemu dengannya lagi, ya? Apakah dia satu sekolah denganku?

1 tahun kemudian.
Kurang satu semester lagi aku akan lulus dari SMA Honjo, setelah ini aku memutuskan melanjutkan kuliah. Aku ingin menjadi dokter. Aku teringat dengan orang itu yang dulu sudah menolongku. Aku ingin mengobati orang lain seperti saat ia mengobatiku.

“Kamu lanjut ke mana setelah lulus?” tanya Ume sambil duduk melendeh di kursi taman sekolah.
“Aku lanjut kuliah. Kalau kamu?”
“Sama, aku juga kuliah,” jawab Ume, “Dengar-dengar ada yang akan mendaftar beasiswa kuliah ke luar negeri. Gak ada yang tahu siapa itu.”
“Hebatnya,” sahutku terkagum-kagum, “Kalau aku kuliah di sini saja. Lagian universitas di kota ini masuk 10 terbesar terbaik se-Asia.”
Ume menyengguk.
“Siapa yang mendaftar beasiswa itu, ya?” batinku.

Hingga sekarang aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku rasa dia tidak satu sekolah denganku. Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi memeriksa Pusy karena dia terlihat sehat-sehat saja. Aku juga tidak pernah ke rumahnya lagi semenjak itu karena aku tak punya waktu. Aku pikir dia satu sekolah denganku jadi aku bisa bertemu dengannya di sekolah, tapi ternyata tidak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku terus memikirkannya, selalu memikirkannya.

“Yuki, kamu pulang saja dulu. Aku masih ada kegiatan klub lari,” kata Ume.
“Aku juga masih ada rapat OSIS,” ujar Sakura.
“Oke, aku pulang dulu.”
Aku hanya ikut klub sastra tidak sering ada kegiatan. Mungkin satu kali pertemuan dalam satu minggu untuk membahas kegiatan.

Hari ini lumayan panas. Aku jadi ingin membeli es krim.

“Aw…!” Aku termangu.
Ada laki-laki yang menubrukku dari belakang.
“Maaf aku gak sengaja,” katanya lalu dia lari tergopoh-gopoh keluar gerbang sekolah.
Tu-Tunggu dia…

Aku segera mengikutinya, larinya cepat sekali. Dia tidak sadar saat menabrakku. Dia melewati jalan ini, jalan menuju rumah dokter Wakayama. Aku berhenti di rumah dokter Wakayama. Apa aku tidak salah, ya? Tapi tadi dia berhenti di sini, dimana dia sekarang? Aku menoleh ke kanan, kiri, atas, bawah tetapi tidak ada dia.

“Cari siapa?” terdengar suara dari belakangku.
Aku memutarbalik badan.
Aku terkesiap. Sekarang dia berdiri di hadapanku.
“Kau menjatuhkan buku ini,” jawabku sambil menyerahkan buku tipis berwarna biru.
Dia cepat-cepat mengabil bukunya.
“Aku pulang dulu.”
Aku tidak sadar, saat melihatnya dalam-dalam, aku menganga. Aku tak menyangka ternyata aku mengejar orang yang selama ini aku cari.

“Wakayama, apa kau ingat aku?” spontan aku langsung bertanya.
“Entahlah,” jawabnya singkat.
“Waktu itu kamu sudah menyelamatkan aku saat aku terluka.”
“Em, ya,” jawabnya singkat lagi.
Hampir saja lupa.

“Oh, ya, perkenalkan namaku Yuki.”
“Aku Ryo,” jawabnya,”Em, maaf tadi aku menabrakmu. Aku tadi terburu-buru.”
“Gak papa.”

Sekarang aku harus bagaimana? Aku bingung harus bicara apa?

“Ee,… sekarang aku sibuk,” katanya.
“Oh, i-iya, maaf aku mengganggu. Kalau gitu aku pulang dulu.” Lalu aku pergi.
Jadi, namanya adalah Ryo.

Ya ampun, tak sengaja aku menemukannya. Aku sedikit gugup karena awalnya aku hanya ingin mengembalikan buku dan kukira dia bukan orang yang kucari selama ini. Tetapi, tidak sengaja aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku tak menyangka dia satu sekolah denganku, kupikir dia tidak satu sekolah denganku karena dulu aku pernah mencarinya di semua kelas 2 tapi tidak ada. Mungkin dia baru pindah ke sini. Tapi, dia sedikit berbeda sekarang.
Hmmm, besok aku ingin bertemu dengannya lagi.

Kring… Kring… Kring…
“Yuki, akhirnya kita bisa pulang bareng,” sorak Ume.
“Ya aku juga,” sambut Sakura.
“Senangnya, tapi sekarang aku masih ada kegiatan klub”
“Yah, gak jadi pulang bareng.” Sakura memanyunkan bibirnya.
“Ya sudah, kami pulang dulu.” Ume melambaikan tangan.
Aku menyenggut.

“Sudah lama kita gak pulang bersama,” batinku.
Dan dari tadi aku tidak melihat Ryo.

“Maaf aku terlambat,” lirihku.
“Gak papa,” sahut Rika, ketua klub, “Lihat Yuki, ada anggota baru!”
Mataku tak bisa berkedip, aku tak percaya ini.

“Yuki!” Dia menyapaku.
“Selamat bergabung.” Aku berusaha bersikap tenang.
“Ternyata kalian sudah saling kenal.” ucap Izumi, anggota klub yang sekelas dengan Rika.
“Kalau begitu mari kita mulai rapatnya,” titah Rika.
Anggota klub sastra bertambah, sekarang menjadi empat anggota. Klub sastra di sini memang tidak terlalu diminati banyak murid.

Kegiatan yang biasa kami lakukan hanyalah menulis puisi, pantun, artikel, cerpen, dan lain-lain. Kali ini klub sastra akan mengadakan acara yang menarik juga untuk memeriahkan festival budaya atau bunkasai. Bunkasai ini adalah festival tahunan yang dibuka secara umum untuk menunjukkan hasil pembelajaran siswa. Setiap kelas disulap menjadi cafe, rumah hantu, tempat karaoke atau yang lainnya. Di festival ini klub sastra akan membuat semacam pentas kecil membaca puisi dan menjual kumpulan cerpen yang akan dibukukan.

“Maaf kemarin aku bersikap dingin.” katanya.
Hari ini kami pulang bersama, kebetulan rumah kami searah. Tapi aku tidak pernah pulang lewat depan rumah Ryo karena memakan waktu lebih banyak. Tak apalah hanya selisih sedikit jaraknya.
“Gak papa, kemarin kamu memang sibuk, kan.”
“Ya, kemarin Ibuku sakit. Jadi, aku yang mengurus rumah dan merawat Ibu. Sekarang dia sudah mulai bekerja.”
“Syukurlah,” kataku. “Oh, ya, sekarang kucingku sehat semenjak aku memeriksakan ke rumahmu. Jika waktu itu aku tidak bertemu denganmu mungkin sekarang aku tinggal sendiri.”
“Syukurlah kalau begitu. Ayahku masih tetap di tempat praktiknya yang dulu. Dulu sempat pindah ke kota Edogawa lalu dia buka di sini lagi,” ceritanya.

“Apa kau ingin menjadi dokter juga?” tanyaku penasaran.
Dia hanya menganggut.
“Em, aku juga ingin menjadi dokter karena melihatmu cara mengobatiku saat terluka aku jadi tertarik,” ceritaku,”Kamu masih ingatkan?”
“Em, ya aku ingat.”
Ekspresinya aneh, dia terlihat gelisah.

“Oh ya, kamu gak tinggal dengan orangtuamu?” tanya Ryo.
“Orangtuaku kerja di Sapporo, mungkin setelah kelulusanku mereka tinggal di sini lagi.”
“Oh, gitu”

Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Ryo.
“Mampir dulu,” ajaknya.
“Oke.”
Lagipula sudah lama tidak ke sini.

“Sekalian kita membahas tentang acara klub,” kata Ryo sambil menghidangkan dango dan teh hijau.
“Apa kamu masih kurang jelas sama penjelasan Rika?”
“Em… bu-bukan begitu, aku penasaran dari mana kita dapatkan cerpennya”
“Senior kita pernah membuat cerpen, kita kumpulkan saja cerpennya jika kurang kita bisa membuatnya lagi. Rika sudah nemu kumpulan cerpennya, besok tinggal kita hitung.”

Aku merasai dangonya.
“Enak!” Satu tusuk dango habis seketika.
“Ibuku yang membuatnya tadi pagi.”
“Hebat, ya”

Seketika suasana hening.
Aku bingung harus berbicara apa.

Cerpen Karangan: Felita Sukanti
Blog / Facebook: TulisanTangan / Felita Sukanti
Felita Sukanti sedang melanjutkan studinya di Universitas Jember jurusan Kimia, FMIPA. IG Felita Sukanti @felita__ski


Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Felita Sukanti, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Anggakara

Tawa seseorang menggelegar ke seluruh ruangan diikuti tawa beberapa anak buahnya. “Hey, kenapa kalian ikut tertawa? Hanya aku yang boleh tertawa.” Bentak orang itu. “Bodoh, bodoh untuk Haryono karena




Oleh: Retno Setianingrum

Ku pencet LED watch warna biru tua yang melingkar di tangan kiriku, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 06.45, artinya hanya ada waktu 15 menit untuk pergi ke sekolah. Bagaimana




Oleh: Firsta Putri Paradina

Chelsea, itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga kecil bahagia. Ayah, ibu dan adik. Ketiga orang itu, orang terhebat dalam hidupku. Pagi ini, aku kesal. Atau bahkan setiap pagi. Aku




Oleh: Fitriyahnur

Seandainya Tuhan memberiku pilihan untuk membiarkan cintaku dan cintamu bersemi, terjaga dan baik-baik saja untuk selamanya. Namun, kenyataannya kepahitanlah yang hadir diantara kita dan takdirlah yang telah memisahkan kita.




Oleh: Isti

“Kenapa loe pengen jadi astronot?” tanya kira. “Karena, aku suka bulan. Itulah kenapa aku ingin menjadi astronot. Aku ingin berkunjung ke bulan. Hahaha…” jawab Kenta. “Trus, kenapa loe suka



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: