8 tahun cerpenmu

Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 2)

Spread the love

Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 2)





Cerpen Karangan: Felita Sukanti
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang

Lolos moderasi pada: 19 June 2022

“Anu…” kami sama-sama berbicara.
“Maaf, kamu dulu.” Ryo gelagapan.
“Apa kamu murid pindahan?”
“Em, iya aku pindah saat kelas tiga.”
“Oh, gitu. Kenapa kamu baru pindah ke sini?”
“Em, ya begitu,” jawabnya dengan muka yang tidak meyasingkan.
“Begitu bagaimana?”
“Eee… agar lebih dekat dengan rumah,” jawabnya masih dengan ekspresi yang sama.
Baiklah aku tak akan memaksa mungkin itu masalah keluarganya.

“Aku juga ingin mengatakan semenjak kita bertemu aku selalu memikirkanmu dan bertanya-tanya dalam hati kapan kita akan bertemu lagi. Aku selalu mencarimu dan menunggumu. Hingga akhirnya kita bertemu lagi,” kataku tersenyum senang, “Aku sangat berterimakasih. Semenjak lulus SMP orangtuaku bekerja di Sapporo, aku hanya tinggal bersama kucingku. Jika waktu itu gak ada kamu, mungkin aku hidup sebatang kara. Aku gak tega kucingku mati dalam keadaan sakit”

Akhirnya aku bisa mengatakannya.
Lega.

“Sekarang giliranmu.”
“Apa kamu punya pacar?”
“Gak punya.” Aku mencoba bersikap tenang dan santai.
“A-Aku…”
“Aku kenapa?” Aku penasaran.
“Gak jadi.”

“Terima kasih hidangannya, enak sekali. Aku akan mencuci gelasnya, ya.”
“Biar aku saja,” kata Ryo.
“Aku saja.” Paksa ku.
“Terserah.” Akhirnyd Ryo pasrah dengan sikap keras kepalanya.

Rumahnya rapi. Banyak buku yang tertata rapi dan foto Ryo saat masih kecil di meja. Banyak sekali fotonya. Aku ingin membaca buku dan melihat fotonya, tapi aku harus bekerja sekarang.
Aku ingin kembali lagi ke rumah ini.

Mengejutkan kemarin dia menanyakan itu padaku tapi aku mencoba menjawab dengan santai. Memangnya kenapa dia menanyakan itu, ya?

“Kalau ada cowok yang menanyakan tentang pacar kalian gimana?” tanyaku.
“Mungkin dia ingin jadi pacarmu,” jawab Ume.
“Ya, menurutku gitu juga,” tambah Sakura.
“Wah, siapa yang tanya?” tanya Ume penasaran.
“Gak ada, kemarin teman kerjaku curhat, tapi aku gak tahu harus menjawab apa.”
“Oh, gitu.”
Kebohonganku tidak ketahuan, syukurlah.

“Kenapa mukamu merah gitu?” kata Sakura.
“Bohong.” sontak aku terperanjat.
“Aku gak bohong.”
“Ternyata ada yang lagi kasmaran,” goda Ume.
“Selama orang itu membuatmu nyaman dan aman. Selama orang itu membuat kamu bahagia dan selalu membuatmu memikirkannya. Di situ hatimu bisa memilih,” kata Sakura.
Ume tersenyum, “Gak usah terlalu rumit memikirkannya. Kamu harus yakin”

Kring… Kring… Kring…
“Ayo, masuk kelas,” ajakku.
“Aku ingin makan lagi,” lirih Ume.
“Bu guru akan memberi informasi tentang festival budaya sekarang. Ayo cepat!” kata Sakura.
“Wah, aku gak sabar dengan festival budaya.” Ume bersemangat.
Benarkah Ryo ingin menjadi pacarku?

Padahal aku baru mengenalnya. Aku jadi malu sendiri memikirkan itu. Tidak, aku harus bersikap tenang dan santai jangan sampai mukaku memerah lagi. Belum tentu yang dikatakan Ume dan Sakura benar.

“Wah, bukunya keren-keren,” kataku sembari melihat-lihat buku yang tersusun berdiri dengan rapi. Sesekali sambil membaca sekilas lalu menutupnya dan mencari buku-buku lain. Buku tentang kedokteran yang lebih banyak di sini, ada juga buku resep masakan, novel, dan komik.

“Baca sesuka kamu,” ucap Ryo sambil menghidangkan kue mochi.
“Aku ingin membaca buku kedokteran, lalu aku akan membaca buku resep masakanan. Aku juga ingin baca komik dan novel,” ucapku dengan penuh semangat melihat buku-buku di hadapanku. Sungguh pemandangan yang indah. Semua yang kuinginkan ada di sini.
Ryo terkekeh-kekeh melihat tingkahku yang tergila-gila dengan buku.
“Kamu boleh pinjam apa saja, dibawa pulang juga boleh.”
“Terima kasih, Ryo.”

“Yuki.” Ryo memanggil.
“Ya?” Aku menoleh. Entah kenapa aku teringat pertanyaan yang kemarin.
“Aku… Mmm….” Ryo terlihat gugup.
“Aku? Kenapa?”
Melihat rona wajahnya yang serius dan kerlingan yang tajam membuat jantungku berdegap kencang.

“Aku… mencintaimu. Apa kau mau jadi pacarku?” Ryo memandang serius.
“Eh?” Aku bingung harus menjawab apa. Aku harus membalas apa? Aku tidak pernah berpikir ini akan terjadi sekarang. Bagaimana ini? Aku malu. Aku tak bisa bersikap tenang dan santai. Wajahku pasti biram.
“A-Aku… e… aku.”
“Kamu gak perlu menjawab sekarang. Maaf mengganggu, aku mau ganti baju dulu lalu kita berangkat ke toko buku. Makan dulu kuenya.” Dengan santainya Ryo berbicara lalu pergi ke kamarnya setelah dia menyatakan perasaannya. Semudah itukah baginya?!

Apa-apaan itu tadi? Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan sekarang. Orang yang selalu kupikirkan, kucari, kutunggu, kuharapkan telah mencintaiku. Jantungku masih berdenyut kencang. Pikiranku kalut. Aku teringat dengan apa yang dikatakan Ume dan Sakura. Aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Inikah yang disebut cinta? Apa benar kata Ryo tadi? Bagaimana jika dia hanya main-main? Apakah harus secepat ini? Kita baru kenal, kan. Namun, aku harus segera menjawabnya, tidak mungkin dia harus menunggu lama karena aku tahu bagaimana rasanya menunggu seperti saat aku menunggu orang yang telah menyelamatkanku waktu itu yaitu Ryo.

Tak sengaja aku menjatuhkan sebuah buku di balik kertas lebar.

“Bukankah itu buku yang terjatuh saat Ryo menabrakku. Ada foto yang keluar di selipan kertas. Kurasa ini foto Ryo saat masih kecil,” pikirku.

Wah, benar. Banyak foto Ryo kecil yang imut dan terlihat tak mau diam. Dia terlihat menggangu temannya dengan keusilannya itu, dia menakut-nakuti temannya dengan ular mainan. Lucunya Ryo, dia terlihat dekat sekali dengan temannya. Teman seperti saudara.

“Yuki, maaf membuatmu menunggu. Tadi aku masih membersihkan kamarku.”
Akhirnya dia datang.

“K-kamu… Siapa kamu?” Aku mentatap tajam wajahnya, aku sedikit takut.
Ryo terkejut melihat bukunya.
“Kenapa kamu baca buku ini?!” Ryo merampas buku itu dari cengkeramanku, dia terlihat membekam amarahnya.
“Kenapa? bukannya kamu tadi bilang aku boleh membaca buku apa saja di sini?”
“Kecuali buku ini.” Dia mengatakan dengan wajah datar, seakan-akan dia tidak bersalah.
Mataku berkaca-kaca.

“Kamu berhasil membohongiku.”
“Kamu bicara apa, Yuki?!”
“Jangan bersikap seolah-olah kamu gak tahu. Kamu mengkhianati aku. Ini gak masuk akal.” Aku kecewa, aku tidak percaya dengan ini. Ada apa sebenarnya?
“Aku menulis sesuatu di buku ini tentang dia.” Ryo menunduk malu mengakui kesalahannya.

Suasana menjadi hening.

“Maafkan aku. Kami saudara kembar.” Ryo masih merunduk.
“Lalu kenapa kamu gak cerita sama aku? Untuk apa kamu menyamar seperti ini? Kamu tahu ini gak lucu, kan.” Tak terasa air mataku mengalir, air mata kekecewaan. Aku tak akan marah-marah seperti orang gila. Itu hanya memperburuk suasana, santai saja meskipun ini menyakitkan.
Ryo hanya membisu.

“Aku sudah curiga sejak awal, kamu selalu terlihat gelisah saat aku cerita kejadian dulu itu. Aku juga merasa ada yang beda dengan penampilanmu. Dulu alisnya tebal dibanding kamu.”

Ryo menengadah ke arahku, dia sedikit terkejut.

“Aku tahu kamu akan mencintai Shima. Tapi… tapi dia….”
“Tapi kenapa? Jangan sembunyikan dari aku! Aku selalu menunggu dan mencarinya.”

Ryo tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menunjukkaan sebuah ruangan.
Aku memasuki ruangan itu. Seketika tubuhku merinding. Tiba-tiba tubuhku lunglai. Aku tak siap melihat ini.

“Yuki,” lirih Ryo.
“Biarkan aku sendiri dulu.”
Ryo mengangguk dan berlalu.

“Shima, Shima, Shima.” Aku terus memanggil namanya dalam hati.
Kenapa ini terjadi padamu? Kenapa? Kenapa?
Apa yang harus kulakukan jika seperti ini?
Aku menangis, aku tak kuasa menahan ini semua. Padahal aku selalu memikirkanmu selama satu tahun, waktu itu aku yakin akan bertemu denganmu lagi. Jadi, aku tak pernah bosan menunggu. Rindu, cemas, khawatir bercampur dan kutahan hingga suatu hari aku bertemu denganmu lagi dan hari ini aku bisa bertemu. Betapa senangnya saat aku bisa bertemu denganmu lagi seakan-akan ini keajaiban, tapi aku tidak ingin pertemuan seperti ini. Aku tak menyangka akan seperti ini. Sakit sangat menyakitkan.

“Akhirnya kita bertemu lagi, Shima Wakayama,” kataku, “Terimakasih sudah hadir dalam hidupku walau hanya sebentar.”

Aku hanya tak ingin ini semakin buruk. Aku mencoba menerima kenyataan di depan foto Shima, wajahnya yang putih, rambut hitamnya yang tebal, alis matanya yang tebal, dan hidungnya yang mancung. Senyumnya yang menghangatkan tapi memedihkan.

Aku mencoba menenangkan diriku.
Lalu aku berdo’a untuknya. Semoga dia tenang di sana. Aku menghapus air mataku, aku tak ingin terlihat lemah di depan Shima seperti dulu saat aku terluka. Sekarang aku tidak seperti dulu lagi.

Tidak apa-apa, aku harus menerima semua ini. Pelan-pelan aku akan mengikhlaskan.

“Maaf menunggu lama,” kataku.
“Tak apa,” sahutnya. “Makanlah mochinya.”
“Terima kasih.”
“Duduklah, aku sudah buatkan teh.”
“Ya.” Aku duduk di hadapan Ryo.

“Maaf aku berbohong, aku gak tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahu ini.”
“Gak papa.”
Bukannya aku cuek, hanya saja aku malu untuk berbicara.

“Satu tahun yang lalu, Shima pernah bercerita padaku kalau dia bertemu dengan seseorang yang menakjubkan. Shima bilang kamu adalah gadis yang kuat, berani, dan manis.”
“Benarkah?” Aku tak percaya.
Ryo melenggut.
“Padahal waktu itu kita bertengkar, kami gak berbicara beberapa hari. Berkat kamu, kami saling berbicara, mungkin setelah Shima bertemu denganmu dia belajar dari kamu”

Aku mengingat-ingat waktu itu aku pernah mengatakan pada Shima. “Aku sangat menyayangi kucingku, dia adalah temanku saat di rumah atau lebih tepatnya saudara. Aku pernah marah dengan Pusy karena dia menjatuhkan pialaku. Syukurlah, hanya ada retakan kecil. Semenjak itu aku kesal dan gak pernah bermain dengannya lagi. Lama-kelamaan aku merasa kesepian. Pialaku hanya sedikit retak tapi hati Pusy pasti pecah. Lalu aku mencarinya, dia sedang bermain sendiri dan aku memeluknya. Aku juga sadar, seharusnya aku meletakkan piala di tempat yang lebih aman.” Itu yang kukatakan padanya.

“Shima berbeda denganku, dia pendiam, penurut, dan pintar. Dulu aku sangat nakal seperti preman. Ayahku resah denganku, dia memindahkanku di sekolah lain dan menyuruhku tinggal sendiri di kota Edogawa, kebetulan waktu itu rumah kami di sana belum terjual. Ayahku tak ingin keluarga Wakayama ternodai, dia hampir saja mengeluarkanku dari keluarga Wakayama. Kamu bisa membayangkan kan seperti apa aku dulu.”

Aku trenyuh mendengarnya.

“Ayah mengantarkanku ke kota Edogawa dengan mobil, Shima mengejar kami dengan sepeda pancal. Aku tak peduli apapun, aku hanya diam dan bersikap seakan semua baik-baik saja. Tiba-tiba Shima tergelincir dan jatuh ke sungai, kepalanya terbentur keras dengan bebatuan. Syukurlah Shima masih sempat dibawa ke rumah sakit. Saat dia sudah siuman di situlah dia memberiku buku itu. Hatiku benar-benar tersentuh melihatnya berjuang demi aku.”

Mengenaskan.
Aku tak tahan mendengarnya. Pada akhirnya aku menangis lagi.

“Dia juga mengatakan agar aku mencarimu dan berteman denganmu, buat dia bahagia dan tersenyum seakan-akan kamu tak mengenal apa itu kesedihan. Shima mempercayakanmu padaku. Tak lama kemudian, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Waktu itu aku juga sama sepertimu, menangis. Aku menyesal. Aku meminta maaf pada keluargaku, mereka memaafkanku dan tetap selalu menyayangiku.”

Aku hanya bisa menangis mendegarkan itu. “Maaf, ini salahku.” Ryo merunduk malu.
“Jangan salahkan diri sendiri.”
“Tapi… aku benar-benar mencintaimu, bukan karena Shima. Tapi karena diriku, aku tak menyangka kamu hebat dari yang aku pikirkan sebelumnya.”

Aku mengusap wajahku yang bersimbah air mata dengan sapu tanganku.
“Terima kasih hidangannya dan terima kasih untuk hari ini. Maaf… aku tak bisa menjawabnya sekarang aku ingin menenangkan diriku dulu.”

Cerpen Karangan: Felita Sukanti
Blog / Facebook: TulisanTangan / Felita Sukanti
Felita Sukanti sedang melanjutkan studinya di Universitas Jember jurusan Kimia, FMIPA. IG Felita Sukanti @felita__ski


Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Felita Sukanti, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Gladyta A. G.

“Tidak semua orang itu baik. Bahkan, sahabat-sahabat paling setia yang pernah kau miliki. Karena pada dasarnya, pada ujungnya, hidupmu akan sendiri. Tidak akan dicintai, dihargai, dihormati, dan diberi belas




Oleh: Salsabilla Nanda Asri Agustin

Tadashi Liem merupakan salah satu siswa laki-laki di SMP Noumorine Jepang. Awalnya Liem adalah anak yang bahagia selayaknya anak-anak lainnya, namun sekarang Liem berubah menjadi pendiam dan sangat tertutup.




Oleh: Putri Al Fatih

Ingatan tentang hujan di Kedai Arch membuahkan rasa yang aku sebut cinta. “Ini kopimu!” Tangan besar menyuguhkan aku secangkir kopi pesanan. Aku mengira kamu adalah pelayan langganan. Ternyata sosok




Oleh: Hada Apriani Rahman

Kamu orang yang belakangan ini selalu hadir dan menyelinap di antara kesibukanku sehari hari, kamu orang asing yang sekarang tak kurasa keasingannya lagi. Kamu yang terlihat begitu tegar dan




Oleh: Ratna Maria

“Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik – detik terakhir orang itu. orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah Pangeran 15 Menit…” Namaku



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: