8 tahun cerpenmu

Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 3)

Spread the love

Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 3)





Cerpen Karangan: Felita Sukanti
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Jepang

Lolos moderasi pada: 19 June 2022

Rencananya aku akan pergi ke Bunkyodo Books Ningyocho, salah satu toko buku di Sumida, bersama Ryo mencari-cari buku terbaru, akhirnya tidak jadi. Sekarang aku hanya ingin pulang dan tidur. Kali ini saja aku tidak masuk kerja. Aku ingin menenangkan diriku. Lelahnya hari ini. Aku tak ingin menyalahkan siapa pun. Aku bersyukur bertemu dengan mereka. Terima kasih, Shima. Terima kasih, Ryo. Terima kasih, Ume, Sakura, dan Pusy.

Jika selalu menyalahkan orang, aku tidak akan pernah berubah. Aku sadar memiliki kesalahan. Semua ini dapat dicari jalan keluarnya dengan baik-baik.

Semenjak itu aku tak pernah pulang bersama Ryo dan mampir ke rumahnya. Kami hanya berbicara tentang kegiatan klub, itu pun jarang. Kami pulang di jalan yang berbeda. Aku juga belum menjawab perasaan Ryo. Apakah dia menunggu? Bukannya aku marah dengan Ryo, aku hanya gugup saat bersama dengannya karena aku tahu dia bukan Shima lagi, aku tahu sekarang dia saudara kembar Shima yang belum aku kenal sebelumnya.

“Dia mempercayakanmu padaku.”
“Tapi… aku benar-benar mencintaimu, bukan karena Shima.”
Kata-kata itu, membuatku malu.

Akhirnya festival budaya selesai, acara klub kami sukses, cerpennya laris manis. Sayangnya Ryo tidak datang ke festival budaya karena dia pergi keluar kota bersama keluarganya, katanya dia ada acara keluarga. Festival budaya yang berjalan dua hari ditutup dengan api unggun di lapangan dan pelepasan kembang api. Semua orang menikmatinya, mereka tertawa bersama. Tapi aku merasa sepi.

“Yuki, kemarilah, kita foto bersama!” teriak Rika.
“Ya!” sahutku

Malam ini terasa sepi dan asing, tanpa dirinya. Rika menghiburku seakan-akan dia tahu suasana hatiku. Ume dan Sakura pun selalu membuatku tersenyum menghapus rasa sepi di hatiku. Sedang apa sekarang, Ryo?

Setelah melewati masa-masa sulit di kelas tiga. Tak terasa, akhirnya masa-masa SMA sudah berakhir. Sebelum pulang ke rumah, semua berfoto ria dengan sahabat, teman, pacar, dan guru-guru. Setiap klub juga akan foto bersama anggotanya untuk diabadikan di buku sekolah tahun ini dan disimpan di perpustakaan. Buku tahunan juga menyimpan foto setiap kelas dan kegiatan besar sekolah di tahun itu.

Kami berkumpul di ruang klub sastra.

“Gak terasa sudah lulus,” kata Rika.
“Ya, terima kasih atas tiga tahun kebersamaannya,” ujarku.
“Jangan bicara seperti itu, Yuki. Aku jadi ingin menangis.” Wajah Rika memelas.
Izumi tertawa kecil, “Aku harap klub ini terus berjalan dengan baik.”
“Ya, kita gak tahu apa yang akan terjadi dengan klub ini setelah kita lulus,” tambah Ryo.
“Tahun ini adikku dan temannya akan sekolah di sini, aku menyuruh mereka masuk klub ini,” kata Rika.
Aku lega akan ada yang meneruskan klub ini.

“Aku pulang dulu, teman-teman.” Aku berpamitan.
Aku hanya ingin cepat-cepat pulang hari ini. Entah mengapa, hanya pulang yang kuinginkan.

Aku sudah lulus, aku akan mengirim pesan untuk ayah dan ibu.

2 pesan belum terbaca.

Siapa?

From: Ibu
To: Me
Bagaimana hari ini? Selamat kamu sudah lulus, Yuki. Maaf di hari kelulusanmu ayah dan ibu gak bisa bersamamu. Kami bangga denganmu, Yuki. Minggu depan kami akan tinggal bersamamu lagi, kami sangat tak sabar melihatmu, nak.

Kami selalu mendo’akanmu, Yuki.

From: Ayah
To: Me
Selamat kamu sudah lulus, Yuki. Maaf hari ini kami tidak ada di sana. Tapi jangan sedih, minggu depan kami akan pulang. Tunggu kedatangan kami, ya.

Aku tersenyum. Mereka ingat dengan hari kelulusanku. Terima kasih, Ayah dan Ibu. Aku sangat senang sekali.

Keesokan harinya.
Tok… Tok… Tok…
Krek…
“Maaf mengganggu, Yuki.”
“Eh, Rika…, gak papa aku hanya nonton TV sama Pusy.”
“Kemarin kamu pulang cepat sekali.”
“Ya, kemarin aku sangat lelah,” kataku berbohong.
“Kamu tahu, Ryo baru saja berangkat ke bandara,” ucapnya tanpa basa-basi lagi.
“Kenapa kamu beritahu aku?” Aku mencoba untuk tidak peduli.
“Saat kemarin kamu pulang, Ryo sedih. Dia cerita sama kami, Ryo sangat mencintai kamu, dia menunggu jawabanmu. Dia berharap bisa bertemu dengan kamu sebelum berangkat ke Amerika karena dia akan kuliah di sana. Sekarang dia masih di stasiun,” tutur Rika.
Aku termangu.
Ryo menunggu? Benarkah?

“Jangan melihat masa lalu terus. Ketika ada orang yang mencintaimu dan membuatmu bahagia, apa kamu akan tetap mencintai orang lain meskipun dia sudah gak ada lagi?”
“Gak.”
“Tunggu apa lagi, kejarlah. Biar aku yang menjaga rumahmu!”

Aku berlari dengan cepat. Aku menangis dan menyesal. Aku tak menyangka dia masih mencintaiku meski aku seperti ini. Perasaannya tak pernah berubah, dia benar-benar mencintaiku. Tunggu aku, Ryo!

Dimana dia?
Stasiun Honjo-Azumabashi sangat ramai, kemana aku harus mencarinya?
Oh, ya, jurusan bandara Narita International!!!

“Ryo, Ryo, Ryo!” Aku meronta dalam hati.

Terlihat sosok pria mengenakan jaket warna hitam dan syal warna merah sambil membawa koper besar. Dia berdiri menyangga pada tembok. Tatapannya tertunduk.

“Ryo!” teriakku.
Dia menoleh.
Aku mendekatinya.

“Yuki, kenapa kamu ada di sini?!” Ryo terperanjat.
“Jangan bicarakan itu dulu. Aku…”

Aku kalang kabut, tapi aku harus mengutarakannya.
“Ryo… aku sangat mencintaimu, selalu mencintaimu.”
Aku berhasil.

Ryo tersenyum simpul.
“Terima kasih, Yuki.”

Ting… Tung…
Kereta jurusan Narita akan segera tiba.
Ryo memandangiku dalam-dalam.
“Yuki, maukah kamu menunggu aku sampai aku kembali ke sini lagi?”
“Tentu saja, aku akan menunggumu selama apapun itu. Aku selalu menunggu kamu. Aku percaya.”
“Sejauh apapun kita berpisah, perasaanku padamu gak akan berubah. Percayalah padaku, Yuki.”
Aku mengangguk. Air mataku berderai.

Keretanya sudah datang.
Aku tak ingin melepaskan dia dari indra penglihatku.

“Yuki, aku berangkat dulu.”
“Jangan lupakan aku, Ryo.”
“Tentu saja, jangan cemas.”

Kereta akan segera berangkat.

“Janji, ya.” Aku mengacungkan jemari kelingking.
“Ya, aku janji.” Ryo membalasnya.

Pintu kereta sudah tertutup.
Ryo tersenyum merekah.

Akhirnya kereta berangkat. Masih terbayang wajah Ryo di pikiranku.

5 tahun kemudian.
Aku menjadi dokter kandungan. Hari ini aku ada praktik di Asoka Hospital. Entah kenapa aku sangat semangat hari ini.

“Pagi, Yuki,” sapa Ume, dia bekerja di Asoka Hospital bagian administrasi.
“Pagi.” sahutku.
“Ada praktik di sini?”
“Ya.”

“Kamu tahu, ada dokter umum baru yang juga praktik di sini”
“Oh, makin banyak dokter di sini, ya”

Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan dokter baru atau perawat baru di sini. Aku berpindah-pindah rumah sakit, meskipun ada dokter baru aku jarang bertemu kadang hanya berbincang-bincang mengenai pasien hari ini.

Sebelum jam praktikku dimulai, aku duduk sebentar di kursi taman, menikmati awang-awang pagi ini dan mendengarkan burung bernyanyi.
Tak terasa sudah 5 tahun, ya.
Aku masih menunggunya. Aku yakin dia akan datang menjemputku. Aku yakin karena kita sudah berjanji.

“Jangan melamun.” Tiba-tiba seseorang mengagetkanku.
“Ma-Maaf.” aku terkejut.
Terlihat seorang dokter tersenyum dan mendekat. Mungkin dia dokter umum baru itu karena aku belum pernah melihat dokter ini sebelumnya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kamu gak lelah menunggu?”
“Baik, Pak… Em, saya sudah biasa menunggu jam kerja saya sambil duduk di taman.”
Dia tertawa geli.
Rasanya tidak asing. Aku melihat label namanya.
“Ryo” sontak aku terbangun dari dudukku.
Ini mimpi kan?!

“Aku kembali, Yuki.”
Aku tak percaya ini, aku tak menyangka dia ada di depan mataku.

“Ryo, Ryo.” ucapku sembari menggoyang-goyangkan badannya untuk memastikan ini mimpi atau bukan.
“Terima kasih sudah berjuang.” Dia tersenyum.
Ternyata ini bukan mimpi.

“Se-Selamat datang, Ryo.” Aku menangis bahagia.
“Maaf membuatmu menunggu.”
Aku memeluknya. “Gak apa-apa, aku tidak lelah menunggu, yang penting sekarang kamu ada di sini lagi.”

Sudah lama aku tidak melihat senyumnya yang indah. Memandang parasnya yang menyejukkan. Rindu ini sudah terbayar. Rasa cemas yang menghantuiku tiba-tiba menghilang. Ini bukan mimpi. Ini takdir. Ini keajaiban. Kau benar-benar datang, Ryo. Akhirnya kita bertemu lagi setelah 5 tahun berpisah tanpa ada kontak di antara kita. Terima kasih, Ryo. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu.

“Yuki, apakah kamu mau memakai nama keluargaku?”
“Dengan senang hati.” Jawabku mantap.

Hembusan angin musim panas sangat menyegarkan. Matahari bersinar terang mengganti keremangan malam. Suara serangga yang ditunggu-tunggu menyambut datangnya matahari tuk saling melengkapi musim panas ini. Inilah musim panas yang kutunggu-tunggu.

Cerpen Karangan: Felita Sukanti
Blog / Facebook: TulisanTangan / Felita Sukanti
Felita Sukanti sedang melanjutkan studinya di Universitas Jember jurusan Kimia, FMIPA. IG Felita Sukanti @felita__ski


Cerpen Bukan Masa Laluku (Part 3) merupakan cerita pendek karangan Felita Sukanti, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Icha Okta Herdiana Putri

Bermula dari pertemuan yang singkat dengannya. Aku merasakan ada perubahan pada diriku. Dulu aku yang selalu murung dan tertutup. Tetapi setelah aku kenal dengan Dika semuanya berubah, aku jadi




Oleh: Nafidzah Salsabila Firdausi

Tak! Seorang gadis berambut sebahu menendang kaleng bekas minuman dengan amarah menggebu-gebu. Entah apa yang membuat hatinya panas. Tetapi yang jelas dia benar-benar kesal dengan ucapan anak laki-laki yang




Oleh: Ihza Dharmawan Mohammad

Suatu hari Ada sebubah kumpulan lelaki yang berada di sebuah taman di taman bambu dan kumpulan lelaki tersebut berdiskusi tentang masalah cinta, ada satu diantara kumpulan lelaki tersebut yang




Oleh: Pratiwi Nur Zamzani

“Felly!,” panggil Billy dengan berlari ke arah Felly. “Ada apaan, Bil? Tumben banget kita nggak ngomoningin di kelas?” “Felly! Nih buku yang lo minta,” ucap Billy dengan senyuman. “Waaahhh!




Oleh: Ayu Soesman

Apa yang ada di benak kalian tentang arti sahabat. Sahabat itu adalah suatu hubungan emosional antara dua orang atau lebih yang didasari oleh persamaan sifat dan karakter yang bisa



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: