8 tahun cerpenmu

Cerpen Bule Kere

Spread the love

Cerpen Bule Kere





Cerpen Karangan: Hamka Pencinta Ultraman
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi

Lolos moderasi pada: 15 July 2022

Menurut kalian apa yang terlintas jika mendengar kata “Bule” ? Ganteng, kaya, tinggi, dan pintar diatas rata-rata. Jika berbicara soal ganteng, itu sungguh relatif, ada tinggi, ada pendek, ada imut, ada gagah, ada mancung, ada pesek, tapi semua sepakat bahwa perut yang obesitas adalah salah satu ciri orang jelek. Tetapi, kulit putih tidak menjamin ganteng. Hanya saja orang Indonesia bosan dengan orang lokal yang sawo matang jadi menganggap orang yang berkulit putih “Termasuk kami kaum bule” dianggap ganteng.

Jika kalian menganggap kami “Bule” kaya raya, salah besar kawan. Kami ras kaukasoid tersebar paling banyak di benua Eropa, Australia, dan sebagian besar Amerika (Amerika Utara). Sedangkan, negara-negara di Eropa, Australia, dan Amerika Utara itu sebagian besar adalah negara maju. Kalian tentu sudah tau betapa susahnya cari kerja di kampung halaman sehingga merantau ke Jakarta, bahkan di Jakarta pun masih jadi pengangguran karena susahnya cari kerja. Apalagi di negara-negara Eropa, Australia, dan sebagian Amerika yang 90% negaranya adalah negara maju.

Khususnya di seluruh daratan Eropa, semua negara termasuk Bosnia (Negara termiskin di Eropa) tak ada negara berkembang. Tidak seperti Asia yang negaranya maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan baru-baru ini China dan Taiwan mengikuti jejak mereka. Begitu juga Afrika tidak ada negara maju, hanya Afrika Utara saja yang pendapatan perkapitanya seperti negara maju. Itupun kebanyakan industri masih dipegang asing. Diriku ini di Skotlandia adalah pengangguran sehingga diriku ke Indonesia, jika saja diriku punya pekerjaan di negaraku sendiri, lantas mengapa saya harus jauh dari keluargaku ber mil-mil jauhnya?.

Kalau memang bule tinggi, memang benar adanya. Rata-rata tinggi kami 180cm, tidak seperti orang Asia yang hanya 165cm. Itu juga salah satu keuntungan kami ketika mendaftar di kepolisian, model, pilot, dan tentara yang membutuhkan tinggi rata-rata 170cm keatas. Saya sendiri tingginya 195cm yang sebenarnya cukup tinggi untuk kaum bule. Namun untuk apa tinggi lebih dari 170cm jika skill kami pas-pasan (Atau bahkan pengangguran) ?.

Masalah pintar sebenarnya tidak semua bule itu pintar, sekiranya bule rata-rata pintar karena mereka mendapatkan pendidikan yang cukup serta mendapat didikan dari orangtua supaya mendapat bekal di masa depan. Kalau tingkat melek huruf di negara-negara yang banyak bulenya mencapai 80% keatas memang benar, tapi jika anda melihat orang-orang di Greenland (Denmark) atau kampung kecil di Bosnia. Banyak diantara mereka yang tidak bisa baca tulis karena di daerah seperti itu masih tertinggal. Anda jangan lihat BMW, Phillips, Harley Davidson, Microsoft, Google, dan Apple saja. Karena bagaimana pun juga meski perusahaan tersebut berdiri di negara yang banyak bulenya tapi mereka isinya orang-orang berskill dan terpendidik. Tidak seperti diriku ini, skillku tak seperti Cristiano Ronaldo, dan pendidikanku tak secemerlang Albert Einstein.

Perkenalkan, nama saya Steve Mcmanaman yang dipanggil Steve. Aku berasal dari Glasgow, Skotlandia. Saya pindah ke Jakarta sejak umur 20 tahun karena disana saya pengangguran. Akhirnya saya tetap lontang lantung di Bumi Pertiwi tercinta ini. Hingga akhirnya saya ditawarkan oleh salah satu teman agar saya menjadi kurir nark*tika, dan saya menerimanya di usia yang ke 21 tahun. Disaat itu, saya puji tuhan mendapat rupiah yang layak sebelum akhirnya saya ditangkap di usia yang ke 23 tahun dan di hukum 15 tahun penjara di lapas Nusakambangan.

Sungguh sia-sia hidupku di Indonesia yang menghabiskan sebagian besar di jeruji besinya, namun dari situ aku belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Keluar penjara saya akhirnya memeluk agama Islam dan memutuskan untuk menetap di Bali selepas keluar dari lembaga permasyarakatan di tahun 2015 atas saran Pak Samsul.

Sementara, saya tinggal di salah satu masjid kecil di daerah Gianyar, Bali. Alhamdulillah Pak Samsul (Motivator yang selalu mengisi pidato di lapas) yang kebetulan adalah ketua takmir di Masjid Al-Hidayah menjadikan saya marbot masjid, ya memang tidak besar. Bahkan gajinya sangat pas-pasan untuk UMR Bali, tapi saya janji untuk mencari pekerjaan yang lebih layak lagi. Maklum, mantan narapidana akan sangat susah mendapat pekerjaan. Oh ya, ngomong-ngomong yang mengajak saya ke Bali ini juga Pak Samsul.

Sambil mencari pekerjaan yang lebih baik, saya tetap menjaga tugas saya sebagai marbot Masjid. Sungguh susah mencari pekerjaan yang layak untuk orang yang tidak punya skill di dunia manapun, terlebih Indonesia yang mensyarakatkan harus sarjana supaya bisa bekerja kantoran. Disamping itu, statusku yang mantan napi juga menjadi alasan mengapa diriku ditolak dari semua perusahaan yang ada.

Pagi dan malamnya aku harus bersih-bersih masjid, siang hari lontang-lantung di jalan dan berpindah dari angkot ke angkot hanya ingin mendapat pekerjaan yang layak. Maklum, modal untuk pernikahan itu lebih dari 15 juta rupiah. Terlebih jika calon mertua terlalu menuntut, apalah arti status bule jika aku mencemarkan KTP Skotlandiaku karena kasusku disini, apalagi jika aku balik ke Skotlandia. Wah, makin dibuang seperti sampah saja. Jangankan pengedar nark*ba, membuang bekas permen karet saja didenda sekian Euro.

Dari “Maaf pak, kami tidak menerima mantan narapidana” hingga “Eh bule kere, anda ngaca dong. Sudah gak punya ijazah, gak punya skill, mantan napi lagi. Kalau gak punya ijazah tapi skill dan kelakuan baik sih saya masih pertimbangkan, ini boro-boro kelakuan baik, wong di penjara aja pernah. Kamu gak ngaca apa narapidana adalah tempatnya sampah masyarakat” Ucap para penginterview dari yang paling halus hingga yang terkasar. Aku sadar, budi pekerti adalah unsur terpenting daripada apapun. Karena orang akan lebih percaya terhadap orang yang tidak bisa apa-apa tapi berbudi luhur ketimbang yang multi skill tapi mentalnya lebih busuk dari seorang napi.

Disamping itu, sebagai marbot (Pegawai rendahan/cleaning servicenya Masjid) pasti tetap dianggap rendah oleh sebagian orang apapun orangnya. Kadang ada yang sengaja menginjak-nginjak lantai ketika aku sedang mengepel lantai, ada juga yang sengaja buang kulit pisang ketika aku sedang menyapu, terlebih ada yang tau bahwa diriku adalah mantan narapidana. Mereka meledek aku seakan-akan aku ini binatang.

Positifnya karena diriku bule, jika sedang diluar dan tidak tau bahwa aku mantan narapidana atau marbot pasti aku sangat dihargai. Seakan-akan diriku bagaikan raja (Maklum, Indonesia pun pernah dijajah bangsa bule). Aku selalu didahulukan dalam antrian dalam belanja dan aku selalu dimintai foto oleh warga setempat meski diriku bukan artis. Apakah diriku tersanjung? Tidak. Mengapa? Karena aku merasa telah mengecewakan mereka. Bayangkan saja jika mereka percaya padamu bahwa bule itu begini dan begitu tapi nyatanya tidak jauh lebih mulia daripada budak dari bangsa Jin. Aku merasa membohongi orang-orang meski sebenarnya aku tidak pernah membohongi mereka. Tapi, karena status bule lah yang aku sedikit bisa bernafas (Harga diriku sedikit terangkat).

Namun positifnya hanya satu, negatif lainnya adalah untuk para bule tiket masuk ke tempat wisata atau hanya sekedar beli barang pasti harganya lebih mahal. Karena pikiran pedagang yang menyatakan bahwa bule itu sangat kaya. Tapi aku bisa apa? Beruntung kalian penduduk lokal yang mendapat barang dengan harga yang lebih murah. Walaupun, di mini market dan di toko harganya sama saja baik pembeli bule maupun lokal.

Terakhir, aku selalu dikucilkan takmir masjid karena diriku mantan narapidana. Ketika rapat masjid dan aku mau menyatakan pendapat selalu aku dicela seperti ini “Dah, mantan napi aja sok alim” atau ga “Diem ya mantan napi, kamu aja pernah dipenjara bagaimana kamu mau beriman kepada Allah?”. Meskipun Pak Samsul yang selalu mendukungku dari suka dan duka.

Puncaknya, Pak Samsul yang menolong aku harus menimggal akibat sakit jantung. Aku menangis sejadi-jadinya, siapa sih yang tidak sedih kehilangan orang seperti Pak Samsul? Orangnya baik, taat ibadah, selalu sedekah, dan selalu memotivasi para narapidana di seluruh nusantara. Pak Samsul memang sangat dekat dikalangan narapidana karena dia adalah motor penggerak supaya para narapidana bertaubat. Bayangkan, jika sekarang dia tiada maka populasi narapidana bertaubat akan berapa banyak?.

Pak Imam namanya, beliau adalah orang asli Bali yang sehari-hari menjadi imam di masjid Al-Hidayah. Disamping itu, Imam kini adalah ketua takmir menggantikan Pak Samsul yang sudah tenang di alam sana. Beliau juga adalah orang yang berjasa selain Pak Samsul dihidupku. Dua lelaki itu adalah yang berjasa di hidupku.

Sampai dititik ini, akhirnya aku pasrah dan ingin fokus menjadi marbot masjid saja. Kini, aku semakin banyak meluangkan waktu seutuhnya untuk masjid. Untungnya, aku tak melewatkan shalat fajar, dhuha, rawatib, dzuhur berjama’ah, dan ashar berjama’ah. Tak hanya shalat, semua masalah pahit hidupku aku adukan kepada tuhan yang maha esa. Meski hidupku tetap susah dan banyak takmir di masjid Al-Hidayah tetap membully aku, hidupku tetap tenang.

Pak Imam adalah duda tanpa anak kandung (Tetapi memiliki anak angkat), tetapi hartanya sangat bertumpuk-tumpuk. Pak Imam sudah menganggap diriku sebagai anaknya sendiri, aku sendiri sudah sering berkunjung ke rumah Pak Imam untuk rapat masjid, atau pun untuk bersendau gurau. Pak Imam memiliki beberapa sawah, vila, perkebunan, hingga hotel yang tersebar di seluruh Bali. Tapi yang aku kagum dari seorang Pak Imam adalah tetap sederhana meski hartanya berlimpah ruah. Bahkan dia tak ada balas dendam sedikit pun ke mantan istrinya yang dahulu menceraikannya karena miskin. Kata beliau “Hidup itu kadang diatas dan kadang dibawah”.

“Meninggal? Mengapa Pak Imam meninggal secepat ini?” Tanya diriku terhadap dokter. “Ya pak, sebenarnya Pak Imam telah mengidap gagal ginjal pak. Tapi karena tidak mendapat ginjal yang cocok, Pak Imam penyakitnya semakin parah. Selain itu, Pak Imam beramanat untuk tidak memberi tau siapapun yang dikenalnya” Jawab dokter. Aku menangis sejadi-jadinya. Selain itu, Yulia anak angkat Pak Imam juga menangis sejadi-jadinya.

Dia selain meninggalkan harta segitu banyak, juga meninggalkan 1 anak angkat yang sangat cantik jelita. Umurnya masih 20 tahun, selain cantik Yulia juga soleha. Ketika aku berkunjung ke rumah Pak Imam, ada seorang notaris yang sedang menyampaikan wasiatnya berupa surat untuk Yulia. Yulia juga yang membaca isi surat itu, isi surat itu adalah: Sepertiga harta saya disumbangkan untuk panti asuhan dan panti jompo, sepertiga lagi untuk Yulia, dan sepertiganya lagi untuk Steve (Yang berarti aku). Selain itu, dalam surat itu berisi kalau bisa Yulia anak angkat Pak Imam menikah dengan Steve. Meskipun Steve seorang mantan narapidana, tapi Steve adalah bujangan yang soleh.

Hah, Pak Imam ingin menikahkan anak angkatnya dengan aku? Apakah Yulia setuju?. Yulia menangis setelah membaca surat wasiat itu, Yulia menyeka air matanya dan berbicara kepadaku “Tanpa ayahku mewasiatkan aku menikah denganmu, aku sudah sangat suka kepadamu Steve. Aku kagum dengan usaha kerasmu lontang-lantung di jalanan mencari pekerjaan, aku juga kagum dengan dirimu yang dikucilkan takmir masjid tapi kamu tetap sabar. Masalahnya satu Steve, aku hanya takut Abi gak setuju mengingat kamu hanyalah mantan narapidana. Padahal, pikirku mantan narapidana juga bisa berubah. Ternyata, malahan wasiatnya menginginkan aku menikah denganmu, dibalik kesedihan Abi ku meninggal, terdapat kebahagiaan karena cintaku denganmu direstui meskipun aku belum menyatakan cinta kepadamu, dan pernikahanku tak disaksikan Abi Steve” Ucap Yulia.

Siapa sih yang tak suka wanita sempurna seperti Yulia, aku pun menyukai Yulia sejak aku menginjakkan kaki di Bali. Tapi aku hanya bisa mencintai Yulia dalam do’a, tapi kini aku tak hanya memiliki Yulia, tapi aku mendapat kehidupan yang layak serta orang-orang kini tidak memandang aku rendah sebagai mantan narapidana lagi. Selain itu, aku berhasil mengharumkan bangsa “Bule” yang dikenal kaya, pintar, ganteng, dan badannya menjulang tinggi.

Tapi satu hal yang perlu kamu tau, istriku cantik, hartaku banyak, harga diriku yang kini tinggi itu bukanlah dari status orang “Bule” atau sebagai bangsa “Eropa”. Bahkan banyak orang non “Bule” yang lebih sukses dari diriku, seperti: BJ Habiebie, Didier Drogba, serta Kei Nishikori yang memang asli orang Asia dan Afrika. Justru yang membuat aku sesukses sekarang karena aku belajar dari kehidupan narapidana dan tak mau mengulang yang kedua kalinya. Intinya, mau dia bule, ningrat, bahkan keturunan budak itu sama saja. Kesuksesan itu berasal dari budi pekerti yang baik, bukan dari keturunan, ketampanan, dan orang dalam.

Cerpen Karangan: Hamka Pencinta Ultraman
Blog / Facebook: Hamka Pencinta Ultraman
Cerpen Karangan: Hamka Firmansyah
Blog / Facebook: Aziz Hamka Firmansyah
Nama: Hamka Firmansyah
Panggilan: Rose Wesugi Uciha
Tinggal: Banten, tangsel, Ciputat, Jombang
Hobby: Anime, komik, game, ngarang, nentang korupsi, mendengarkan musik rock
Musik: Gun and roses, Nirvana, My chemical romance, Slipknot, Linkin Park, Limb Bizkit, ACDC, Skidrow, Led Zepplin, Glay,L’arc En Ciel, dan Versailles


Cerpen Bule Kere merupakan cerita pendek karangan Hamka Pencinta Ultraman, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Dwi Surya Ariyadi

Awan hitam kembali menggantung di kolong langit. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan deras. Hembusan angin mulai bertiup dan semakin kencang. Udara dingin mulai turun dan menusuk kulit. Alam




Oleh: Maura Afdalia Anwar

“Eh eh, lu kenapa Ta? Ada yang sakit? Lu diapain tadi sama si brengsek itu? Ada yang luka?” tanya Javier khawatir Meta menyeka air matanya sambil tersenyum manis. Ia




Oleh: Mochamad Syah Rizal

“Koran. koran..” Suara Jale yang tiap hari lantang terdengar di sepanjang jalan perempatan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Tentu saja bukan karena keinginannya Jale seperti itu, namun apa




Oleh: Chairul Sinaga

Usiaku masih sekitar 14 tahun, ketika aku pertama kali melihat ayahku marah besar. Bukan, ia bukan marah kepada kami, keluarganya. Tapi, ia mendamprat habis seorang tamu yang sedang berkunjung.




Oleh: Suwarsono

Tepat pukul delapan malam empat bus mulai meluncur dari sebuah SMP yang menggunakan jasa travel wisata tempatku bekerja. Aku kebetulan yang ditunjuk menjadi Tour Leader bersama tiga orang tour



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: