8 tahun cerpenmu

Cerpen BunDir

Spread the love

Cerpen BunDir





Cerpen Karangan: Delldera
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 28 July 2022

Nugi meninggalkan joran pancingnya sesaat setelah ia melempar umpan.
Nugi berjalan menuju dua temannya dan pada saat itu juga Rega melompat ke sungai.
“Jancoook..” kata Rega kesenangan.
Evan menghisap sekali lagi rok*knya dan setelah itu ia ikut melompat untuk berenang.

“Seger bat airnya. Mandi di sungai aja udah seneng banget ya apalagi di kolam renang.”
Evan lalu menenggelamkan tubuhnya sepersekian detik. Lalu ia menepi.

“Lu ga renang?” Tanya rega.
“Takut buaya gua mah.” Sahut Nugi.
“Gua maksud lu?” Rega berkelakar.
Nugi dan Evan hanya menonton Rega yang asik berenang.
“Tidur bentar ah. Eh, jagain pancing gua yak.”
Evan mengangkat alisnya menandakan iya.
Rega menyelam tapi bokongnya mengapung.
Evan tersenyum kecut melihatnya.

Evan memandang ke sekeliling. Rumput bergoyang dan cahaya matahari menyerukan suasana. Matanya lalu melihat kearah jembatan. Nampak seseorang sedang berdiri disana. Evan memperhatikannya. Cukup lama orang itu berdiri sampai ia mengangkat kakinya memanjat penghalang jembatan.

“Woi…” Desis Evan. Keningnya mengkerut.
“Liat apaan bro? Buaya?” Kata Rega.
“Itu orang kayaknya mau lompat deh.”
Rega menoleh kearah tersebut.
“Ntar juga hanyut gua tangkap dari sini” kata Rega.
“Kalau dia ga bisa berenang gimana? Trus tenggelam?” Evan berdiri. Wajahnya nampak khawatir.
“Mba..! Jangan lompat dulu! Saya kesitu…!!” Rega berenang melawan arus sungai.
Orang itu melompat dari jembatan. Evan berlari sangat kencang. Ia langsung menceburkan diri setelah berada cukup dekat.
Nugi duduk dan melihat Rega yang berenang disitu situ saja.
“Edan.” Gumamnya melihat tingkah Rega.

Evan bersusah payah menarik wanita itu dari sungai. Ia sampai terbatuk batuk. Evan menarik nafas beberapa kali hingga merasa jantungnya sudah stabil kembali.
Sementara orang yang ia selamatkan itu berteriak histeris.

“Mbak e kesurupan to?” Tanya rega membentak. Sekaligus membuat gadis itu diam.
“Kalau mau bunuh diri jangan disini. Ini tempat kami berenang. Jadi angker nanti.” Kata Evan. Matanya menatap tajam.
Nugi mendekat, baru mau bicara tapi gadis itu mendahuluinya.
“Gua juga ga sudi ditolong sama kalian. Jangan harap gua berterima kasih! Gua cuma mau mati!” Gadis itu menendang nendang batu disekitarnya.
“Mba jangan seperti itu. Kita ini berniat baik loh mba. Ada masalah apa sampai segitunya? Coba cerita, cari solusi sama sama hibur diri. Jangan lemah jangan bundir.” Nugi memegang pundaknya.
“Kasian. Cantik cantik stress.” Ketus Rega. Gadis itu menoleh seakan mau menyerangnya. Rega memegang mulut.
“Maksudnya, mba mungkin kurang hiburan atau mau gua hibur?” Lanjut Rega.
Tiba tiba Evan menarik tangan gadis itu.
“Lepasin.!!” Pekiknya.
Evan menyeretnya.
“Mau dibawa kemana pan?” Tanya Nugi.
“Kita lapor pak RT.”
Ketiganya pun membawa gadis itu menuju rumah pak RT.

Seorang petani yang berjalan dari arah berlawanan melihat dengan antusias.
“Hei, ngapain kalian?” Petani berhenti didepan mereka.
“Ini pak, ni cewe mau bunuh diri tapi untungnya berhasil kita selamatin. Sekarang kita mau lapor ke pak RT.” Jelas Rega. Petani mangut mangut melihat pakaian mereka yang basah.
“Ooo ya sudah. Pak RT tadi saya lihat ada di rumahnya kok.”
Setelah berpamitan para pemuda itu berlalu sambil si gadis masih berusaha melepaskan diri.
Petani itu memperhatikan dari belakang.
“Ckckk kasihan cantik cantik ingin bunuh diri. Anak saya aja jelek masih betah hidup.” Kata petani. Lalu bapak tua itu melanjutkan perjalanannya.

Nugi mulai resah karna gadis itu terus memberontak.
“Rega, pan, gua males kalau itu cewek teriak-teriak depan rumah.”
Kedua temannya menyadari itu.
Tepat di depan mereka rumah orangtua Nugi berdiri tegak.

“Lepasin gua!! Kalian apa apaan sih!!?”
Gadis itu memberontak tapi tetap saja kekuatan lengan kedua lelaki di sampingnya tak mampu ia kalahkan.
“Kek anak monyet” kata Rega melihatnya.
“Lepasin nggak?!”
“Bisa diam nggak?” Kata Evan yang memegangi tangannya.
Tiba-tiba Gadis itu menangis lagi.
Mereka berempat tak beranjak dari bayangan pohon di tepi jalan.

“Kalian nggak tahu apa-apa bangsat!” Gadis itu menangis pelan.
“… Lu tau gak ada yang lebih najis daripada ludah anjing? yaitu mulut wanita yang bicara kotor Kayak lu!” Rega mulai geram.
Gadis itu mengelap air matanya.
“jangan bawa gua ke Pak RT. Malu-maluin tahu nggak. Apa kata orang nanti. Apa kata keluarga gua kalau mereka tahu gua mau bunuh diri.”
Nugi berjongkok menyamakan posisi Gadis itu yang terduduk.
“Ya udah. Nona maunya apa? mau dianterin pulang aja?” Tanya Nugi baik-baik.
Karena Gadis itu diam saja Nugi menganggap iya.

Nugi berjalan ke rumahnya dan datang lagi membawa motor.
“Anterin aja ke rumahnya Pan. Kalian bawa berdua ya. Nih motor. Gua mau lanjut mancing lagi. Joran masih di sungai.” Nugi memberikan motornya.
Evan menaikinya. Dilanjut oleh gadis itu yang masih membisu. Lalu Rega dibelakangnya.

“rumahnya di mana?” Tanya Evan lagi.
“Arah Pondok Jati.” Jawab gadis itu pelan.
Berarti satu persimpangan lagi dan jalan sudah lurus.
“Nanti bilang stop aja ya” kata Evan merasa dirinya sopir angkot.
Gadis itu mengibas bahunya. Ia risih dengan tangan Rega yang dari tadi menapak di situ.
“Nggak usah dipegang terus juga kali, gua gak bakal lompat juga.”
Rega menyadari bahwa dari tadi Ia seperti polisi yang menangkap penjahat.
“Ya… Bisa jadi Kan lu bunuh diri lompat dari motor.” Tangannya melepaskan percaya.

Sudah 20 menit mereka di atas motor. Bahkan sudah melewati daerah Pondok Jati. Evan berdecak kesal. Ia menghentikan motor.
“Rumahmu di mana sih?” Evan membalikkan badan menghadap gadis itu.
“Mbak, bisa jawab? Atau kesurupan lagi?” Kata Rega greget yang ditanya dari tadi diam.
“Aku nggak mau pulang.” Jawabnya dengan suara lembut.
Rega menghembus nafas dengan kasar mengenai telinga gadis itu. Membuatnya sedikit takut. Ia sadar sudah banyak merepotkan para pemuda itu.

“Kita hubungi keluargamu. Tahu nomornya kan? Rega bawa HP?”
“HP kan ditinggal di rumah Nugi karena tadi mau berenang.” Kata Rega.
Evan sangat kesal begitu tahu ketiganya tidak ada yang membawa telepon genggam.

“Mbak, Selagi saya dan kawan saya masih sabar nih ya. Sebutkan aja rumah Mbak di mana.” Tanya Evan sekali lagi.
“kalian tinggalin aja saya di sini. Saya kan sudah bilang nggak mau pulang.”
Mendengar itu Rega langsung turun dari motor, ia melangkah agak jauh.
“Lu.. kalau bukan cewek dah abis lu gua seret ke setiap rumah di Pondok Jati.”
Rega menunjuk. Evan mengibaskan tangannya.

Nugi menyeruput kopinya.
Ia duduk di ruang tengah menanti kedua temannya itu.
Suara motor yang dikenalinya itu terdengar. Nugi bangun sambil tangannya masih memegang kopi.

“Loh… Kenapa gak dianterin pulang?” Tanyanya ke Evan. Matanya beralih ke gadis itu.
“Dia katanya mau nikah aja sama Epan.” Rega nyeletuk. Nugi melongo.
“Kunci motornya masih di situ?” Tanya Rega.
“Iya. Mungkin.” Kata gadis yang diketahui namanya Rista. Rega berjalan pergi mengambil motor Rista yang ditinggal di jembatan.
“Ada apa, Pan?” Tanya Nugi melihat Evan turun dari motor dengan santai. Tanpa was-was Gadis itu bakal kabur.

Evan pun menceritakan bahwa Rista akhirnya mau dirujuk pulang tapi tidak dengan mereka karena ia takut dimarahi jika pulang bersama pria dengan keadaan mereka yang baru saja kering dan sangat berantakan.

“Aku mau pulang dengan baik-baik. Boleh pinjam sisirmu?” Kata Arista.
Nugi menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Tak lama setelah itu Rega datang dengan motor Scoopy merah milik Rista.

Rista langsung keluar ketika selesai menata rambutnya. Rambutnya dikuncir dengan rapi. Dan tidak terlihat seperti gadis yang stres lagi.
“Kayak gitu kan cantik.” Kata Evan dalam hati.
Rista memakai sendalnya.
“Makasih ya semuanya. Nugi.. maaf sudah ngerepotin. Aku mau pulang dan kalian jangan khawatir aku akan bunuh diri lagi. Jujur melihat cara kalian memperlakukan aku tadi, membuat aku sadar bahwa jika setiap masalah harusnya cari solusi bukan cari mati.”
Rista menyalami ketiganya.
“Ya. Jangan mati Rista. Hidupmu berharga tahu nggak. Mungkin lu emang punya masalah yang berat tapi di lain sisi ada orang yang nggak seberuntung lo. Ada orang lain yang ingin jadi lu, kita nggak pernah tahu kan?” ucap Evan.
“Kalau butuh teman kita bisa jadi teman cerita Lu kok. kita hibur, kita layani. Ibarat tanaman hias kita siram tiap hari.”
Kata Rega saat Rista menyalaminya.
Rista tersenyum.
“Janji ya. Jangan pakai cara gitu lagi. Rista bukan pengecut kan?” Nugi mengakhiri kalimatnya dengan senyum.

Rista merasakan kehangatan dari ketiga pemuda yang menolongnya itu. Tangannya membuka jok motor. Ia mengeluarkan hp.
“Boleh kuminta nomor kalian?”
Evan meraih ponsel itu dan jarinya langsung sibuk bermain di layar ponsel.
“Ini nomor Evan. Kamu bisa hubungi kita lewat situ. Kita selalu bertiga kok.”
Evan mengembalikan ponsel Rista.
“iya. 24 jam ada kok buat Rista. Nugi tersenyum lalu menyeruput kopinya lagi.
“beneran pulang ya, Awas kalau macam-macam lagi.”
Rega menggoyangkan rambut Rista. Rista tersenyum mengokohkan kembali rambutnya. Entah kenapa hatinya merasa tenang. Ketiga pemuda itu meneguhkan kepercayaannya pada Rista.

Hanya itu yang bisa kita lakukan pada hati yang patah. Mengokohkannya kembali. Karena kita tidak bisa mengawasi seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya karena yang sudah berniat ingin mati ia bisa membunuh dirinya kapan saja dengan cara apapun. Itulah yang dilakukan ketiga pemuda yang kini telah menjadi teman Rista.

Rista pun pulang ke rumahnya dengan suasana hati yang lumayan damai. Apapun yang akan terjadi nanti ia akan menghadapinya. Karna ia sadar, ia dan hidupnya sangat berharga.

Cerpen Karangan: Delldera


Cerpen BunDir merupakan cerita pendek karangan Delldera, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Mahfudhdinsyah

Untuk kesekian kalinya, lagu berjudul “Waktu” karya Bondan Prakoso itu terdengar khas tepat di sebelah kamar kos ku. Entah apa yang membuat yudi, begitu panggilan pemilik kamar sebelah sangat




Oleh: Rosario Grace Olivio

“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila. “enak dong, ini kan minuman kesukaanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya. “Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku. “ya




Oleh: Ika Amalia

Drttt. Drrttt. Tiga pesan baru di handphone milik Mika yang masih enggan ia baca. Ia kedapatan piket hari selasa ini. “Udah bersih kan?” tanya Mika pada teman sekelasnya. “Udah.




Oleh: Mia Three

Latihan malam ini sudah selesai. Semua atlet yang dibimbing di Pelatihan Bulutangkis Mutiara Bandung kembali ke asrama. “Woi bangun!!!” teriak salah satu atlet yang tidak sengaja melihat Cici yang




Oleh: Yuli Rahmawati

Mentari pagi tengah menampakkan diri. Cahayanya masuk ke dalam ruangan bernuansa biru pastel melalui sela-sela tirai dibalik jendela. Cahayanya menusuk mata indah itu. Membuatnya terpaksa membuka mata. Ia mengerjapkan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: