thumb

Cerpen Bungkusan Misterius

Spread the love

Cerpen Bungkusan Misterius





Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 23 April 2022

Panglima Krokot, kepala keamanan kerajaan kelihatan resah. Gurat kebingungan tampak meraut jelas di wajahnya. Bungkusan kain di tangannya ditimang, dilihatnya beberapa kali, kemudian diletakkan kembali. Muasalnya, bungkusan itu dikirim oleh orang yang tidak dikenal. Diletakkan di pos jaga kerajaan dengan secarik tulisan:

“Mas tukang jaga.. saya nitip ini ya, tolong berikan kepada Pak Raja. Suwun so much ya..” kisanak pengirim bungkusan tadi sengaja tidak memberi tanda tangan dan nama yang tertera jelas di bawahnya.

Maka dari itu, Panglima Krokot gundah. Ragu, antara membuka bungkusan itu atau tidak? Jika dibuka, takut dikira lancang, tapi kalau tidak dibuka dan diberikan langsung kepada Baginda Raja Mahesa Kowor, khawatir isinya membahayakan. Bisa saja ular berbisa, gas beracun nan mematikan, atau bom. Hii.. ngeri!

Panglima Krokot di tengah kebingungannya, memanggil dua prajuritnya, Kolomonggo dan Kolobendu. Panglima Krokot segera menceritakan perihal bungkusan yang diterimanya.

“Buka saja, Panglima! Ini demi keselamatan Maharaja Mahesa Kowor”, saran Kolomonggo.
Kolobendu tidak sependapat, “Jangan, Panglima! Membuka barang yang bukan miliknya adalah melanggar peraturan. Panglima nanti dianggap lancang!”
Kedua prajurit Kolomonggo dan Kolobendu adu mulut karena beda pendapat. Panglima Krokot semakin bingung dibuatnya.

“Buka saja, Panglima!”, teriak Kolomonggo sambil merebut bungkusan dari tangan Panglima Krokot.
“Jangan! Jangan dibuka..” Kolobendu berteriak lebih keras dan merampas bungkusan tadi dari Kolomonggo.
Terjadilah tarik-menarik antara keduanya
“Buka saja!”
“Jangan! Jangan dibuka!”

Panglima Krokot yang melihatnya menjadi jengkel. Urusannya tambah runyam. Ruwet.
“Diiiiaaammm!!! Nggaplek i..Ya sudah, bungkusan ini untuk kalian berdua saja. Mau dibuka silakan, tidak ya tidak apa-apa! Terserahhh..!” bentak Panglima Krokot yang gregetan melihat dua prajuritnya.
Kolomonggo dan Kolobendu tersentak kaget.
“Eh..jangan begitu Panglima. Bungkusan ini yang nerima kan njenengan. Berarti itu tanggung jawab jenengan bukan saya..”, Kolomonggo menyadari risiko berikutnya.
Kali ini Kolobendu sepaham, “Benar itu panglima! Bungkusan ini silakan diurus sendiri saja. Toh, kami berdua tadi kan cuma dimintai saran”.
Panglima Krokot paham karakter kemanusiaan dari dua prajuritnya.
“Nggaplek i..Bisanya cuma nyuruh, ngritik, intimidasi, provokasi. Tapi, giliran diserahi tanggung jawab, maunya cari aman, emoh risiko”, balas Panglima Krokot kecewa.
Kolomonggo dan Kolobendu diam saja sambil cengar-cengir merasa tersindir.

Panglima Krokot meneruskan kemarahannya, “Dasar manusia nggak ada akhlak! Sok jantan, sok menasihati, sok berani. Giliran klarifikasi untuk bertanggungjawab automewek, ujung-ujungnya minta maaf. Nggaplek i…”
Panglima Krokot beringsut meninggalkan dua prajuritnya. Ia memantapkan diri, langsung menemui Baginda Raja Mahesa Kowor, untuk menyerahkan bungkusan tadi secara langsung.

Sesampai di ruangan kerja Raja Mahesa Kowor, Panglima Krokot mengetuk pintu.
“Assalamualaikum, Pak Raja. Kula Panglima Krokot, ada perlu penting. Perkenankan hamba masuk..”
Terdengar jawaban dari dalam ruangan, “Waalaikumsalam, Panglima. Masuk saja! Pintunya tidak dikunci”
Panglima Krokot segera masuk sambil membawa bungkusan tadi. Namun, sesampainya di dalam ruangan tampak Raja Mahesa Kowor sedang sibuk dengan Perdana Menteri Argopuro.

Dengan tetap tidak menggubris kedatangan Panglima Krokot dengan bungkusannya, Raja Mahesa Kowor menyapa, “Ada apa Panglima? Maaf, jika kedatanganmu tidak direken. Ini saya lagi diskusi serius dengan Menteri Argopuro”
Panglima Krokot semakin bingung, bagaimana cara untuk mengungkapkan maksud perihal bungkusan misterius yang dibawanya.
“Anu.. maaf Gusti. Ini ada masalah gawat” Panglima Krokot menjawab sambil menunjukkan bungkusan misterius tadi.
Sang Raja kurang antusias untuk memerhatikan.
“Kalau gawat, ya rapat Panglima”, jawab Raja Mahesa Kowor sekenanya.
“Anu.. Gusti. Ini ada masalah..”
“Ada masalah ya musyawarah..”, Raja menjawab dengan santai.
“Ini penting Raja!”
“Kalau penting, ya meeting. Gitu aja kok repot”, kembali Raja meneruskan diskusinya dengan Menteri Argopuro.

Panglima Krokot kehabisan akal, setengah berteriak takut semuanya akan terlambat, Panglima berteriak keras.
“Nggaplek ii… Saya bawa bungkusan misterius untuk Raja. Saya tidak berani buka. Takut dikira lancang. Lalu saya bawa ke sini. Jangan-jangan isinya ular berbisa, gas beracun, atau BOMM..”
Mendengar kata “bom”, seketika Raja Mahesa Kowor bersama Menteri Argopuro wajahnya pucat. Segera menghampiri Panglima Krokot yang dengan gemetaran memegang bungkusan misterius tersebut.

Kini, bungkusan tersebut sudah di tengah meja. Bertiga, Raja Mahesa Kowor, Menteri Argopuro, dan Panglima Krokot mengelilingi dengan pikiran masing-masing.
Menteri dengan bermanis muka, izin berbicara.
“Rajaku Mahesa Kowor.. demi keselamatan paduka, bungkusan ini mungkin datang dari lawan partai politik. Jadi, isinya bisa membahayakan”.
Raja mengangguk. Dipandanginya bungkusan misterius tadi dengan saksama. Tidak ada yang aneh. Bungkusannya kecil. Dibalut dengan kain taplak meja yang lusuh berwana coklat kusam. Raja lalu memutuskan.
“Aku akan membukanya!”
Menteri Argopuro mencegah, “Jangan gusti! Jangan! Isinya nanti berbahaya”
Raja telah mantap, “Sudah! Tidak usah takut! Kalau kalian takut, menyingkir saja. Keluar dari ruangan ini. Biar aku sendiri yang membuka dengan apapun risikonya”.
Menteri bersama Panglima kalut.
“Jangan paduka! Buang saja! Mungkin isinya tidak penting.” Panglima Krokot ikut mencegah niat baginda.
“Jangan berkilah! Kalaupun isinya bom dan aku mati. Toh, kalau kalian berdua tetap jadi pegawai istana, tidak masalah, bukan? Sudah.. jangan cari muka. Keluar sana! Nanti kalau aku panggil, barulah masuk!”
Perdana Menteri dan Panglima segera keluar dari ruang kerja.

Raja lalu memandangi bungkusan tersebut. Ditimangnya, enteng. Diciumnya, ah.. bau apek!. Ikatannya dilepas perlahan-lahan. Sejurus kemudian tiba-tiba …
“Hahahahaha… Menteri.. Panglima, masuk ke ruanganku!”
Menteri dan Panglima yang berada di luar ruangan tergopoh masuk ke ruangan.
Tampak Raja Mahesa Kowor berkacak pinggang. Dahinya mengkerut. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Wajahnya merona merah sebentar, kemudian memutih kembali.
Sebentar kemudian Raja tertawa, “Hahahaha.. Bungkusan ini isinya padi dan kapas, disertai surat.”
Sang Menteri penasaran, “Isi suratnya apa Gusti?”
“Hmmm.. ternyata di kerajaanku, masih ada orang yang berani.”
Panglima Krokot segera beraksi, “Nggaplek i.. Berani sama Raja? Biar hamba selesaikan segera..”
Raja menenangkan, “Jangan gegabah! Simbol padi dan kapas ini merupakan symbol sekaligus sindiran, Bahwa aku Raja tetap manusia biasa. Kritik pedas dari Pak Togog mengajariku untuk berpikir jernih”
Kelegaan di wajah Menteri, “Lalu bagaimana selanjutnya, Raja?”
“Aku akan apresiasi keberanian Pak Togog. Akan aku beri dia penghargaan. Hadiah khusus sekaligus mengundangnya ke Balairung kerajaan”, instruksi Raja Mahesa Kowor.

Sehari kemudian, Raja Mahesa Kowor dengan tangannya sendiri telah menyiapkan bingkisan khusus dan surat undangan untuk Pak Togog. Kemudian diserahkan kepada Perdana Menteri.
“Perdana Menteri Argopuro, aku perintahkan kamu sendiri yang mendatangi dan memberikan bingkisan dan surat ini kepada Pak Togog”
“Baiklah, Raja. Titah Anda adalah sabda. Laksanakan!” segera Perdana Menteri membawa bungkusan untuk Pak Togog. Melewati pos jaga kerajaan, Menteri Argopuro memanggil Panglima Krokot.

“Panglima! Ini perintah dari raja kepadamu. Serahkan dengan tanganmu sendiri bingkisan ini hingga Pak Togog bisa menerimanya langsung, tanpa calo atau perantara”, perintah Menteri kepada Panglima Krokot.
“Siap! Laksanakan..” sanggup Panglima Krokot sembari menerima bingkisan dari tangan Manteri.

Tidak lama setelah Menteri Argopuro meninggalkan pos jaga kerajaan, Panglima berpikir lain.
“Nggaplek i.. aku ini panglima kerajaan bukan kurir barang. Masak aku disuruh antar. Biar anak buahku saja yang mengantarnya.” Panglima Krokot berinisiatif memanggil Kolomonggo dan Kolobendu, anak buahnya.

“Prajurit setiaku yang gagah berani! Hari ini aku ada tugas untuk kalian”
Kolomonggo penasaran, “Gerangan tugas apakah itu, tuanku panglima?”
“Nggaplek i.. Jangan potong bicaraku yang belum selesai. Aku minta kalian berdua serahkan bingkisan dan undangan ini kepada sudra yang bernama Togog. Disitu sudah ada alamatnya. Jangan ada orang lain yang menerimanya. Pastikan Pak Togog sendiri yang menerimanya. Laksanakan!”
Segera kedua prajurit bawahan Panglima Krokot menerima dan menyampaikan kepada Pak Togog.

Selang beberapa hari, tibalah waktu Pak Togog memenuhi undangan kerajaan. Pendopo dan balairung dibersihkan, umbul-umbul dipasang, disiapkan band karawitan lengkap dengan sindennya, demi menyambut kedatangan Pak Togog, tamu agung Raja Mahesa Kowor.

Sesampainya di kerajaan, Raja Mahesa Kowor kaget dan murka, setelah melihat penampilan Pak Togog di balairung kerajaan. Pak Togog hanya memakai singlet kaos dalam putih tipis, celana kolor pendek, dan tanpa alas kaki.

Dengan marah Raja Mahesa Kowor menegur tamu agungnya, “Benar kamu Pak Togog? Yang telah mengirimkan surat kepadaku?”
Pak Togog yang lugu menjawab cemas, “Benar, Raja! Hamba yang mengirimkan.. Maaf sekiranya kurang berkenan..”
Raja Mahesa Kowor darahnya semakin tinggi, “Sebenarnya aku berkenan. Maka, aku hargai dengan mengundangmu ke kerajaan ini sebagai wujud kagumku. Tapi, kamu malah melecehkanku!”
“Jikalau begitu, salah hamba apa Raja, hingga dianggap melecehkan? Bukankah saya sudah memenuhi undangan ini?”
“Salah kamu apa?! Berani kamu! Kenapa kamu datang dengan pakaian konyol ini!!” suara raja menggelegar, seisi istana terpaku dibuatnya.
Pak Togog yang juga ketakutan menjawab penuh kecemasan, “Maaf.. Paduka. Maaf.. Saya sudah mematuhi titah raja di surat yang dikirimkan. Bahwa, saya disuruh menghadap raja dengan pakaian lengkap yang ada dibungkusan. Lengkap, tanpa ditambahi tanpa dikurangi. La ya ini yang ada dibungkusan”, Pak Togog menjawabnya dengan jujur.

“Loh.. loh.. ko bisa begitu. Dimana semua hadiah-hadiahku di dalam bungkusan itu.”
“Mana kopyah dan jas??” tanya Raja Mahesa Kowor. Sang Menteri yang mendengarnya, takut gemetaran. Tidak berani mendongakkan wajahnya.
Raja bertanya lagi, “Mana baju beserta dasinya?”
Berganti. Panglima Krokot nampak ketakutan, hingga keringat dingin mengucur di pelipisnya.
“Mana sepatu dan sandal? Yang akan dikenakan Pak Togog. Mana??” Raja Mahesa Kowor bertanya dengan suara dan emosi tinggi. Giliran Kolomonggo dan Kolobendu menunduk penuh ketakutan.
“Siapa yang mengambil? Siapa??? Itu barang jatah bukan untuk dijarah! Yang mengambil jangan takut kepadaku. Takutlah pada penciptaku!”.
Raja memandangi satu persatu para abdi kerajaan dengan tatapan layu dan tubuh lesu. Dihempaskan tubuhnya di singgasana. Lunglai. Tak dinyana, kezaliman telah terjadi di kerajaannya.

Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Blog / Facebook: Anang Zunaidi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Bungkusan Misterius merupakan cerita pendek karangan Anang Zunaidi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Sudae

“apa-apaan ini?” kecewa Bob. “Sial mereka..” kesal Neo. “Beruang Hitam ya.. rrr!” muak Zadam. “Mereka selalu mencari gara-gara! Aku sudah sangat muak!” “Begitu juga denganku Neo” sahut Bob. “Hm




Oleh: Fauza Sahma Atqiya

Ada anak yang bernama Latifah, dia mengikuti kelas memasak, dia juga mempunyai musuh yang bernama Intan. padahal mereka salah satu kelompok kelas masak yang paling kacau. “Padahal aku ingin




Oleh: Listya Adinugroho

Diceritakan ada sepasang sahabat, tukang tahu dan tukang roti. Tukang tahu suka membuat tahu, tukang roti suka membuat roti, tukang masalah suka membuat masalah, pegadaian mengatasi masalah tanpa masalah.




Oleh: Yacinta Artha Prasanti

Saat itu di sekolah Tito sedang ada acara menanam seribu pohon di ladang yang kering. Tito telah membawa dan menyiapkan 23 bibit tanaman. Saat acara dimulai, Tito menggali tanah.




Oleh: Aisyah Minarti

Hari ini aku akan menyatakan cinta pertamaku pada seorang wanita pujaanku namanya icha.Aku dan icha hanya beda meja saja, hehe kami berada di lokal yang sama yaitu kelas X



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: