8 tahun cerpenmu

Cerpen Buta (Part 3)

Spread the love

Cerpen Buta (Part 3)





Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 10 June 2022

Hai, gue Tyo Dwi Mahendra, anak kedua yang dilahirkan setelah kakak gue dari seorang wanita hebat di dunia ini yang kita panggil dengan sebutan ‘mama’. Gue merasa jadi anak yang beruntung karena memiliki keluarga yang utuh dan kehidupan yang cukup. Saat gue naik kelas 3 SMP, pekerjaan ayah dipindahkan ke luar kota sehingga mengharuskan mama untuk ikut dan menemaninya di sana.
Semenjak itu, gue hanya tinggal berdua dengan Kak Tyco sampai sekarang gue kelas 2 SMA dan ia mau lulus kuliah. Mama mengirimi kami uang setiap bulannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing melalui kartu ATM yang udah disiapkan untuk gue dan Kak Tyco. Perkenalannya cukup sampai di sini, ya. Kayaknya kakak gue manggil, deh?

“Tyo… Bangun, Yo! Udah siang!”
Samar-samar telinga gue mendengar suara Kak Tyco itu. Berat banget mata gue buat dibuka. Badan gue pun kayaknya gak mau diajak bangun dari kasur. Emang ini jam berapa, sih? Kak Tyco udah bangunin gue aja.
“Apa sih, Kak? Gue masih ngantuk,” gue meningikan suara menjawabnya yang masih meluk bantal guling.
“Cepetan bangun! Lo mau ikut gue gak?”
“Ikut ke mana?
“Buruan lo sini keluar dulu!”
“Tinggal ngomong aja apa susahnya, sih?”
“Enggak. Lo keluar dulu sini! Biar lo bangun sekalian,”

Gue menyerah. Gue pun bangun dari kasur yang memberikan kenyamanan selama gue tidur. Mau ke mana si ini orang? Argh. Ganggu orang tidur aja. Gue lalu berjalan menuju pintu dengan mata terpejam. Terbuka atau terpejam sama aja, gue gak bisa melihat apapun. Yang bisa gue lihat hanya satu, yaitu warna hitam.

“Ikut ke mana, sih?” Gue berkata masih dalam kekantukkan setelah membuka pintu kamar.
“Gue mau jogging, lo mau ikut gak?” jawab Kak Tyco. Jogging? Lari pagi maksudnya? Dia bercanda ngajak gue buat jogging?
“Lo becanda? Gue diajak jogging? Hahaha.”
“Gue serius, Yo. Kenapa? Emang gue ngomongnya sambil ketawa ya?”
“Gue, kan, buta. Mana bisa lari, hahaha. Ada-ada aja lo,”
“Kan gue ngajak lo jogging, lari-lari kecil, bukan lari marathon. Ya kali gue ngajak lari, jalan aja lo masih nabrak-nabrak apalagi lari.”
“Tapi gak mau ah, entar lo ninggalin gue lagi.”
“Enggak, Yo. Gue janji gak bakal ninggalin lo lagi,”
“Ta-”
“Enggak ada tapi-tapian, buruan lo mandi!”
“Tapi janji ya, lo gak ninggalin gue lagi?”
“Iya Tyo… Gue janji gak ninggalin lo lagi. Udah sana, buruan mandi!”
“Iya iya, gue mandi, nih. Tungguin gue,”
“Enggak, gue tinggal! Ya iyalah gue tungguin, emang lo bisa jalan sendirian?”
“Enggak! Hahaha,”
Gue ketawa mendengar jawaban dari Kak Tyco itu yang kemudian ke kamar mandi tanpa menunda-nunda. Gak tahu berapa lama gue mandi dan siap-siap, setelah itu gue langsung menemui Kak Tyco yang sedang menunggu gue buat jogging bersama.

“Ayo, Kak, gue udah siap!” Gue berkata sambil tersenyum lebar pada Kak Tyco yang sedang menunggu gue di ruang tamu. Sebenarnya gue gak tahu di mana posisinya berada, tapi Kak Tyco tahu gue tersenyum buatnya. Hehehe.
“Yo, lo bener-bener buta ya.” Kak Tyco menjawab ucapan gue seperti itu. Gue mengernyitkan alis. Maksudnya apa? Gue, kan, emang buta.
“Yang bilang gue bisa melihat siapa? Becanda mulu lo dari tadi,”
“Lo pakai bajunya terbalik, Yo. Kaus kaki juga beda sebelah.”
Hah? Gue pakai baju terbalik? Seketika gue langsung meraba pakaian yang menempel di tubuh gue. Astaga. Iya, terbalik. Perasaan tadi gue yakin banget bajunya udah dipakai dengan benar. Kok masih terbalik, sih? Dasar gue.

“Pakai baju aja gak becus, lo. Gue udah pernah bilang, kan, kalau yang ada jahitannya itu buat yang di dalam?” Kak Tyco terus menggerutu sambil membantu membenarkan baju yang gue kenakan. Sementara gue hanya diam selama ia merapikan penampilan gue. Karena ini salah gue, jadi gue gak bisa berucap apapun untuk membela diri.
“Ini juga, tali sepatunya diikat yang betul. Kalau lepas, terus keinjak lo atau yang lain lo bisa jatuh, Yo.” setelah baju, Kak Tyco berikutnya membenarkan tali sepatu yang gue pakai. Sebetulnya tadi gue gak ikat, gue langsung pakai aja. Jadi gak tahu itu udah terikat dengan benar atau belum.
“Kaus kakinya mau ganti dulu gak? Beda sebelah nih,” tanya Kak Tyco sebelum mengikat dengan kencang tali sepatu gue.
“Gak usah, Kak. Gue ngerepotin lo terus jadinya. Lagi juga nanti kesiangan joggingnya,” jawab gue.
“Bukannya lo emang ngerepotin gue terus ya? Hahahah.”
“Makanya gue gak mau nambah ngerepotin elo,”
“Hahaha… Enggak, Yo. Beneran gak mau diganti?”
“Enggak usah, Kak. Ayo kita berangkat aja,”
“Yaudah, yuk, pegangan tangan gue!” sambil menggandengkan tangan gue di tangannya, Kak Tyco berkata. Ia juga mengambil dan melarang gue membawa tongkat yang selama ini membantu gue dalam berjalan. Alasannya ribet. Padahal adiknya ini butuh tongkat buat memudahkan berjalan dalam gelap. Tapi, benar juga ya? Jogging mana ada bawa-bawa tongkat?

“Kak, jalannya pelan-pelan!” protes gue saat Kak Tyco terlalu cepat melangkahkan kakinya yang menyebabkan gue sesekali tersandung kaki sendiri.
“Ini gue jalannya pelan, Yo. Lonya aja yang kelamaan jalannya,” ia juga ikut protes menjawabnya.
“Gue takut, Kak,”
“Takut apaan sih, Yo? Takut jatuh karena kesandung batu? Karena ada lubang juga? Lo gak jalan sendirian, Yo. Lo jalan berdua kakak lo. Lo tenang aja, gue bakal jagain lo.”
“Tapi jalannya agak dipelanin lagi,”
“Di jalan yang kita lewatin ini, mulus. Jadi buat jalan cepat pun lo gak usah takut jatuh,”
“Kasih tahu gue kalau ada apa-apa di jalan ya,”
“Iya, Tyo… Lo gak percaya banget sama kakak lo sendiri. Gue bakal jagain lo,”
‘Makasih, Kak.’ sebenarnya gue pengin bilang itu, tapi gak usah, lah. Gengsi gue. Bukannya udah tugas seorang kakak buat menjaga adiknya ya? Hahaha. Benar, gue adik terlaknat!

Sekitar sepuluh menit setelah bercakap-cakap di jalan, akhirnya kami sampai di taman yang ada track buat joggingnya. Keramaian yang disebabkan oleh suara manusia dan langkah kakinya sudah terdengar jelas di telinga ini.

“Kak, kita duduk dulu buat istirahat ya? Gue capek banget,” pinta gue pada Kak Tyco sebelum memulai joggingnya.
“Ini karena lo jarang olahraga. Baru jalan sebentar aja udah capek,” jawab Kak Tyco.
“Beneran, Kak, gue capek. Haus pula,”
“Yaudah, kita cari tempat duduk biar lo istirahat dulu, sekalian gue mau beli minum,”
Gue mengangguk. Kak Tyco lalu menuntun gue sambil mencari tempat duduk. Kalian pasti tahu, kan, di setiap taman pasti ada bangku-bangku buat pengunjungnya duduk beristirahat? Iya, di taman yang gue dan Kak Tyco datangi juga sama. Biasanya bangku-bangkunya sudah penuh di tempati, tapi kayaknya Kak Tyco menemukan tempat duduk yang masih tersisa buat adiknya ini.

“Lo tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Gue mau beli minum dulu,” Kak Tyco berkata setelah pantat gue menempel di bangku taman ini.
“Iya, Kak.” jawab gue. Sementara Kak Tyco langsung bergegas membeli minum.
Gue lalu menyandarkan tubuh di bangku taman ini selagi menunggu Kak Tyco kembali.
Gue memejamkan mata, sambil mengatur napas yang sempat terengah-engah karena berjalan terlalu jauh. Ternyata udara di pagi hari sebelum tercampur polusi sejuk ya. Bodoh banget gue jika menolak ajakan Kak Tyco buat jogging dan memilih terus-terusan berada di dalam rumah.

Sebenarnya berada di rumah aja adalah pilihan terbaik buat gue, tapi gue jenuh jika terus menerus kayak gitu. Gue pengin bisa melakukan banyak hal lagi di luar rumah tanpa harus ketakutan seperti sekarang. Setelah tahu betapa kejamnya sikap penghuni bumi terhadap disabilitas, gue jadi mengurungkan itu semua. Memang tidak semua, tapi gue terlanjur kecewa pada mereka.

“Minumnya, Yo. Sorry ya, lo jadi nunggu lama. Tadi rame banget soalnya,” Kak Tyco kembali sekitar 10 menit lamanya.
“Iya, Kak. Gak apa-apa, kok. Makasih ya,” gue menjawab sambil membuka tutup botol minuman yang udah dibeli oleh Kak Tyco. Glek. Segar banget rasanya setelah tenggorokkan gue tersiram air dingin.
“Lo beli minum apa? Air putih juga?”
“Enggak, yang berasa.”
“Kok gue air putih?”
“Suka-suka gue mau beliin lo apa, hahaha…”
“Gue mau dong punya lo,”
“Beli sendiri sana,”
“Pelit banget sama adek sendiri lo,”
“Udah, udah. Buruan minumnya, ayo kita mulai joggingnya.”
“Iya bentar,”
Gue langsung meneguk air mineral yang berukuran 600 ML sampai habis setelah Kak Tyco memerintahkan gue untuk cepat menghabiskan minumnya.

“Ayo Kak,” gue berkata sambil menggandeng tangan Kak Tyco kembali.
“Mau ngapain lo?” tanya Kak Tyco sembari menyingkirkan tangan gue dari tangannya.
“Katanya mulai larinya?”
“Lari gak ada yang sambil gandengan tangan, Yo, emang mau nyebrang. Lari sendiri ah,”
“Gue gak bisa lari, Kak,”
“Gak bisa lari gimana? Lo bisa jalan, kan? Udah pasti bisa lari juga,”
“Tapi gue gak bisa melihat,”
“Terus hubungannya apa? Lari, kan, pake kaki, bukan pake mata,”
“Tapi gue butuh melihat juga, Kak, biar bisa lari dengan benar.”
“Udah, ah. Gue mau mulai larinya. Terserah lo mau lari atau enggak,”
Setelah mengatakan itu, Kak Tyco langsung berlari meninggalkan gue.
“Kak Tyco, tungguin gue! Katanya lo janji gak bakal ninggalin gue,” gue berkata sambil berusaha mengejarnya yang mungkin udah jauh dari gue. Argh. Kalau gini jadinya, gue gak terima ajakkannya buat jogging tadi. Gue benar-benar gak tahu situasi di sekeliling. Dan ternyata susah juga ya jalan tanpa tongkat, gue jadi gak tahu ada apa aja di jalan yang gue akan lalui.

Brak!
“Aaawww!” lagi dan lagi, gue jatuh ke jalan setelah ada seseorang yang menabrak dari belakang. Padahal, gue udah hati-hati dan pelan banget jalannya.
“Woi, kalau jalan pake mata dong!” bukan meminta maaf karena udah menabrak gue, orang itu malah berkata seakan menyalahkan gue. Gue yakin kok, udah di pinggir jalannya.
Tapi, tadi dia bilang apa? Jalan pakai mata? Dari gue lahir ke dunia sampai sebesar sekarang, gue lihat manusia kalau jalan pakai kaki, bukan mata. Mata buat melihat, bukan buat berjalan.

“Mau ke mana lo? Minta maaf dulu sama dia!”
Gak lama kemudian, gue mendengar suara Kak Tyco setelah orang tersebut kembali melanjutkan larinya beberapa langkah. Ternyata Kak Tyco gak ninggalin gue, dia masih ada di dekat gue. Gue bangkit dan mencoba berjalan menghampiri Kak Tyco.
“Lo siapa?” tanya orang tersebut yang mungkin kebingungan tiba-tiba ditodong kalimat seperti itu oleh Kak Tyco.
“Gue kakaknya! Minta maaf dulu sama adek gue karna lo udah nabrak dia sampe jatuh kayak gitu!”
“Adek lo aja yang jalannya gak bener,”
“Enggak, gue lihat sendiri lo yang sengaja nabrak dia, padahal dia udah jalan di pinggir,”

Gue yang takut dua lelaki itu berkelahi pun membuka suara, “udah, Kak. Gue gak apa-apa, kok. Lagi juga gue yang salah. Tadi kayaknya gue jalannya kurang di pinggir, deh?”
“Tuh, dengerin apa yang dibilang sama adek lo yang buta ini,”
“Jaga ucapan lo ya,”
“Loh, adek lo emang buta, kan? Kalau buta tuh bawa tongkat, atau gak usah keluar rumah sekalian.”
“Kalau lo tahu dia buta, seharusnya lo gak nabrak dia!”

Gue kembali membuka mulut untuk melerai mereka. Jika salah satu gak ada yang mengalah dan terus menerus beradu mulut, dua lelaki itu bisa berkelahi. Gue gak mau Kak Tyco buang tenaganya hanya untuk berkelahi dengan manusia kayak gitu. Gue tahu, Kak Tyco begitu untuk membela adiknya, gue, tapi gue gak mau dia jadi penjahat yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Dan… Akhirnya Kak Tyco mengalah, ia memilih mengajak gue pergi dari taman. Iya, dia hilang moodnya untuk melanjutkan jogging karena masalah itu.

“Kak, gue minta maaf ya?” Gue berkata setelah kami berjalan cukup jauh meninggalkan taman.
“Minta maaf buat apaan?” jawabnya yang berbalik bertanya.
“Maaf karena membela gue lo jadi mau berantem sama orang,”
“Gue, kan, udah pernah bilang, gue akan selalu jaga dan belain lo dari orang-orang yang kayak tadi, Yo.”
“Gue kira lo ninggalin gue tadi, ternyata lo masih ada di dekat gue.”
“Yo, gue juga pernah bilang, kan, gue janji gak bakal ninggalin lo lagi? Masa sama kakak sendiri lo gak percaya, sih?”
“Lo lagian… Main pergi gitu aja, kan gue gak tahu. Tapi tadi gue udah di pinggir, kan, jalannya?”
“Iya, Yo. Orang tadi yang salah, gue lihat sendiri. Dia lari sambil mainin HP-nya, jadi dia gak melihat di sekeliling terus nabrak lo, deh.”
“Makasih ya, Kak.”
“Makasih buat apaan?”
“Makasih udah bantuin gue,”
“Alah… Lebay lo! Kayak sama siapa aja?”
“Sama Kak Tyco, kakak aku!”
“Idih… Jijik gue dengarnya!”
“Hahaha…”
“Hahaha…”

Gue dan Kak Tyco pun memutuskan untuk pulang ke rumah, kebetulan juga cacing yang ada di perut kami pada minta makan. Lagi pula kami gak tahu mau ke mana lagi di hari minggu yang sepertinya cerah ini, karena gue merasakan matahari yang begitu terik. Bersama Kak Tyco di rumah aja udah cukup buat gue, apalagi ditambah ngemil dan makan mie instan. Hehehe.

“Yo, nanti kalau gue libur kuliah kita jalan-jalan, yuk? Lo pasti udah bosen banget, kan, di rumah terus?”
“Jalan-jalan ke mana? Gak, ah. Gue takut ketahuan sama temen-temen gue. Gue gak mau dulu mereka tahu keadaan gue,”
“Mau sampe kapan lo sembunyi kayak gini? Lambat laun mereka pasti tahu keadaan lo,”
“Makanya gue gak mau keluar-keluar rumah lagi setelah ini biar gak ada yang tahu keadaan gue,”
“Lo tenang aja, Yo. Gue bakal samarin identitas lo dari yang lain kalau nanti kita keluar rumah lagi,”
“Samarin identitas gimana maksud lo?”
“Udah… Lo gak usah banyak tanya, gak usah khawatir, serahin semuanya sama kakak.”
“Iya kakak, iya…”
“Hahahaha…”
“Hahahaha…”

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Blog / Facebook: Siti Mariyam

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Buta (Part 3) merupakan cerita pendek karangan Siti Mariyam, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Fitri Dwiyanti

Setelah pulang dari pendakian lusanya mereka berkumpul seperti biasa di taman. “trid Azam kemana kok nggak dateng si?” Tanya Maura bingung mengngkat kedua alisnya “nggak tau nih biasanya dia




Oleh: Riefilna Agnes Pristyawati

“kamu mau kemana, flo?” tanya sarah saat didalam kelas. “aku mau ke perpus bentar cari buku.” “iya aku tau kamu pasti cari buku. Mangnya buku apa..” “hehe.. sejarah.” Jawabnya




Oleh: Nur Aisyah

Perempuan tua itu termenung seorang diri. Bukan hanya sekali, bahkan hampir setiap hari. Tak akan ada suara yang ke luar dari mulutnya jika tak disapa. Usianya hampir tujuh puluh




Oleh: Rasyad Fadhilah

Batal Mudik Aku baru selesai mandi dan masih mencoba mengeringkan rambut dengan handuk biru yang baru dibelikan istriku. Aku juga sedang mengenakan baju putih polos yang biasanya kukenakan sebagai




Oleh: Elika Dwi Wijaya

Ujian Nasional merupakan suatu kegiatan yang sangat mendebarkan bagiku. Saat itu aku kelas 3 SMA di salah satu sekolah negeri di kota Banyuwangi. 3 hari aku menempuh ujian tersebut.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: