8 tahun cerpenmu

Cerpen Cahaya dan Bayangan

Spread the love

Cerpen Cahaya dan Bayangan





Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Jepang

Lolos moderasi pada: 4 August 2022

Selepas Kagami meninggalkan Jepang usai mendapat tawaran dari Alexandra untuk pergi ke Amerika, Kuroko kembali melanjutkan perjalanan basketnya sendiri. Waktu pertandingan tim Vorpal Swords melawan tim Jabberwock adalah tepat satu bulan sebelum InterHigh. Sedangkan waktu kepergian Kagami adalah tepat satu Minggu setelah pertandingan mereka.

Apa kalian tahu artinya? Kemungkinan besar, Seirin akan kewalahan bahkan ketika sebelum menghadapi babak penyisihan InterHigh. InterHigh adalah acara tahunan yang diselenggarakan di Jepang, kompetisi nasional lebih tepatnya, antar seluruh Sekolah Menengah Atas di Jepang. Namun, kompetisi ini hanya berlaku untuk kompetisi olahraga saja.

Bukan hanya Kagami sang Ace Seirin sekaligus ‘cahayanya’ Kuroko, namun Seirin juga sudah kehilangan ‘mantan ace’ yang selalu diandalkan bertarung di bawah ring. Kiyoshi Teppei, siswa kelas tiga yang kini sedang menjalani operasi di Amerika karena cedera kakinya yang dideritanya ketika musim panas kelas satunya.

Walaupun mereka masih bisa mengandalkan murid kelas satu yang baru bergabung, itu akan cukup sulit karena klub basket di Seirin baru terbentuk dua tahun lalu karena sang ‘Hati Besi’ yang selalu bersenang-senang dalam menggarap kegemarannya. Klub basket Seirin pun cepat berkembang sebab Kagami yang kekuatannya hampir sama kuatnya dengan Kiseki no Sedai serta partner basketnya, Kuroko yang merupakan pemain ke-enam bayangan dari Kiseki no Sedai, dan tentunya berkat sang pencipta klub basket Seirin yang merupakan pembangkit semangat anggota tim basket Seirin.

Benar saja, di babak ‘Preliminary Interhigh’ Seirin pun sudah kewalahan dalam menghadapi sekolah pertama yang dilawannya. Namun untungnya, mereka berhasil melewatinya dengan skor beda tipis. Karena suatu kebetulan, Kuroko, Midorima, dan Kise bertemu di restoran.

“Sudah kukatakan-nanodayo. Bodoh sekali kau Kuroko karena memilih sekolah yang tidak tepat,” tutur Midorima membenarkan kacamatanya.
“Kurokocchi… Aku sudah pernah mengajakmu dulu, tapi apakah kamu mau menerima ajakanku untuk bergabung denganku sekarang?”

Bukannya di olahraga yang paling penting adalah kemenangan? Aku tidak mengerti. Tapi akan kuberi tahu satu hal. Jika alasan Kurokocchi bermain basket berubah karena Kagami, suatu saat Kurokocchi dan Kagami akan berpisah. Perbedaan antara aku dan keempat anggota Kiseki no Sedai lainnya bukanlah karena perbedaan kemampuan fisik. Mereka memiliki bakat istimewa yang tidak bisa ditiru oleh siapapun, termasuk oleh diriku sendiri. Dan juga seperti Kiseki no Sedai, dia juga memiliki bakat istimewa. Kalau untuk sekarang, kemampuannya bukanlah apa-apa. Namun aku merasa pada suatu saat nanti kemampuannya akan setingkat dengan Kiseki no Sedai, dan mulai berpisah dengan timnya. Pada saat itu, Kagami pastinya juga akan berubah dari yang sekarang, kan?

Ucapan Kise yang dulu terngiang-ngiang di kepala Kuroko.

Demo, Kagami-kun meninggalkanku bukan karena ia mau berpisah denganku kan? Ia meninggalkanku karena ingin melatih kemampuan basketnya di Amerika kan? Batin Kuroko dalam hatinya.

“Kurokocchi kenapa melamun?” tanya Kise melambaikan tangannya di depan Kuroko. Walaupun Kise sendiri yang menuturkan itu, ia malah sudah lupa dengan perkataannya sendiri. Kagami sudah berteman baik dengan Kuroko dan para anggota Kiseki no Sedai lainnya, nyatanya mereka sudah menikmati sensasi pertandingan satu sama lain, dan rasanya dikalahkan oleh kombinasi antara Kagami dan Kuroko dulu. Setelah cahayanya pergi, Kuroko merasa bukan apa-apa.

“Masih ada para Senpai, teman-teman, dan kouhai yang bekerja sama denganku untuk bertanding,” jawab Kuroko meneguk segelas milkshake kesukaannya yang sudah tidak dingin lagi.
“Mou, Kurokocchi. Padahal kau sudah melihat hasilnya-ssu. Kagamicchi juga tak ada lagi di sini kan?,”
“Terserah Kuroko saja-nanodayo. Kami sudah memperingatkan,”

Malam itu, Kuroko mempertimbangkan segalanya. Perkataan milik Kise, Midorima, serta Kagami padanya dulu. Ia yakin suatu saat nanti Kagami akan kembali untuknya. Mereka akan bermain bersama lagi jika mereka masih menggeluti dalam bidang basket. Namun sungguh, Kuroko tidak akan ada apa-apanya tanpa Kagami.

Kagami-kun…?
Kagami-kun…?
Kagami-kun…?
Umm, tunggu… Apa kuterima ajakannya Kise-kun saja ya?

“Osu, Kuroko. Kenapa kau malah tampak tak bersemangat seperti itu hari ini?” tanya Hyuuga, sang Clutch Shooter sekaligus kapten tim Seirin.
“Hey, kau! Jangan meremehkan kami ya?! Kau pikir selama ini kerja keras kita tidak ada hasilnya?!” ujarnya meneriaki telinga Kuroko.
“Sumimasen,” tutur Kuroko galau.
“Clutch Time di saat seperti ini huh?” pikir Izuki, sang mata elang.

Hasilnya, perjalanan mereka menuju InterHigh terhenti hari ini. Dengan wajah yang suram, total ke-12 anggota tim Seirin serta Aida Riko, sang pelatih pulang ke rumah masing-masing. Tersisih semudah itu? Tidak dapat dipercaya, pemenang Winter Cup tahun lalu malah terhenti di babak awal InterHigh. Ternyata mereka menang menang karena keberuntungan, ya? Begitu kata orang-orang.

Bagai tikus yang terperangkap, Kuroko sangat gelisah. Memang sih, tadi saat pertandingan ia tak melakukan kesalahan, namun Kuroko memiliki stamina yang lemah, ia tak dapat bermain selama 40 menit penuh. Sebenarnya, apa yang sedang dikhawatirkannya?

Kuroko berdiam diri di salah satu restoran yang sering didatanginya, entah sudah berapa lama ia di sana, ia hanya menatapi kaki yang lalu-lalang dengan tatapan kosong.

“Tetsu-kun!” pekik gadis bersurai merah muda yang panjang memeluk tubuh kecilnya Kuroko.
“Itai, Momoi-san,” dengan reaksi yang biasa, Kuroko melepaskan tangan Momoi yang sudah melingkar di perutnya. Seperti biasa, Momoi Satsuki, Manajer Touou datang bersama Aomine Daiki, Ace Touou yang tidak terkalahkan. Tanpa berbasa-basi, Aomine langsung mengambil langkah untuk duduk di hadapan Kuroko. 12 buah burger yang dipesannya barusan dibiarkannya begitu saja. Ia malah sibuk mencari ’emas’ dalam telinganya.

“Dai-chan! Itu tidak sopan tahu! Tetsu-kun sedang bersedih. Gomenne, Tetsu-kun mengganggumu saat kau sedang sedih,” ucap Momoi dengan tatapan sedih.
“Daijoubu desu, Momoi-san, Aomine-kun,”
“Apa? Kau masih menggalaukan si Bakagami itu?” cakap Aomine blak-blakan.
“Dai-chan!”
“Yah. Aku mungkin tidak bisa menggantikan Kagami sih, tapi kalau kau mau kau pindah ke sekolahku saja. Aku jamin kau akan langsung jadi pemain inti, karena namamu yang sudah terkenal di kalangan kami,” Momoi terkejut, Kuroko termenung. Suasana di meja mereka bertiga sangat hening sekarang.

Sejak kapan Dai-chan…?

“Yah aku hanya menawari saja sih, kalau tidak mau ya sudah. Karena aku juga akan bisa menang tanpa bantuanmu. Aku hanya mengasihanimu saja,” seperti biasanya, sikap Aomine yang slengekan memang sudah melekat dalam dirinya. Namun dibalik itu, Aomine sedang mengenang masa lalunya. Masa lalunya bersama Kuroko. Ya, sebelum Kagami menjadi cahayanya Kuroko, Aomine adalah cahaya pertamanya Kuroko. Dan Aomine-lah yang mengajarkan Kuroko untuk menjadi bayangannya. Tidak seperti halnya Kagami dan Kuroko, dalam hal ini Kuroko lah yang mengajarkan Kagami untuk menjadi cahayanya. Namun karena suatu peristiwa, suasananya pun menjadi sangat canggung.

“Aku akan memikirkannya, terimakasih sarannya, Aomine-kun,”

Are? Tetsu-kun menerima sarannya Dai-chan? Bukannya biasanya dia akan menolaknya. Apa karena mereka sudah pernah bermain bersama lagi ya? Apa karena Dai-chan sekarang tidak seegois sebelum dikalahkan oleh timnya Tetsu-kun ya? Ya, tidak usah dipikirkan sekarang sih. Aku sih akan senang jika Tetsu-kun bergabung bersama kami, tapi sebenarnya ada apa ya? Kelihatannya Tetsu-kun murung sekali. Hush. Siapa yang tidak murung sih jika baru kalah di permulaan. Dan Kagamin tidak ada di sini lagi… Berat sekali ya menjadi Tetsu-kun?

“Ya! Jangan dipikirkan Tetsu-kun. Kami tahu kamu sedih, maka dari itu kami akan menghiburmu! Bagaimana kalau aku belikan milkshake lagi? Atau aku masak… Eh tidak. Atau kita bertiga besok menonton film di bioskop? Apapun yang kamu suka, Tetsu-kun!”
“Aku tahu kamu mau mencoba menghiburku, Momoi-san. Tapi bisakah kamu meninggalkanku sendiri? Sumimasen,” Yabai! Kuroko malah terlihat bertambah murung.

“Go… Gomen, Tetsu-kun. Kami benar-benar mengganggu ya?” mata Momoi berkaca-kaca. Ia menarik tangan Aomine untuk keluar dari restoran yang bernama Maji Burger tersebut. Tidak ingin mengganggu urusan Kuroko, ia memutuskan untuk pergi dan menunggu sampai suasana hati Kuroko lebih baik.

Aku membuat perempuan menangis lagi. Ini kedua kalinya aku membuat Momoi-san menangis. Maaf Momoi-san, aku tidak dapat mengendalikan emosiku sendiri.

“Hft. Aku sudah tidak tahan lagi. Tetsu! Kau boleh galau! Tapi cepatlah bangkit dan memutuskan pilihanmu. Ja!” walaupun begitu, Aomine meninggalkan pesan dan tatapan yang berbeda dari biasanya pada Kuroko. Tatapan itu… Seakan-akan mengajak Kuroko untuk menjadi bayangannya Aomine lagi.

Kuroko POV.

Kise-kun dan Aomine-kun menawariku untuk bergabung bersama mereka. Aku tidak mungkin mengkhianati teman-teman dan senpai-senpai-ku yang dari dulu selalu percaya denganku. Tapi rasanya, aku malah kembali menjadi diriku yang dulu, ragu akan keputusan yang aku buat, tidak tahu jawaban akan tujuan yang ditetapkan selama ini.

Bukannya aku yang dulu menentang prinsip Teikou? Bukannya aku yang mementingkan kerja sama dibandingkan kemenangan? Tapi mengapa malah aku yang rasanya seperti mengkhianati mereka? Namun jika seandainya aku menjadi bayangannya Kise-kun atau Aomine-kun, bukankah itu masih dapat disebut kerjasama? Semuanya sudah bekerja keras, aku tidak mungkin meninggalkan Seirin… Kan?

“Siapa, ya?”
“…”
“Aomine-kun?”
“Soalnya belakangan ini ada kabar soal penampakan hantu di gedung olahraga. Jadinya kukira hantu betulan yang muncul,”
“Aku hanya sedang latihan tambahan,”
“Hebat juga kau. Bahkan anggota divisi pertama jarang ada yang mau latihan tambahan. Baiklah, sudah kuputuskan. Mulai hari ini, aku akan berlatih denganmu di sini setiap hari. Jadi suatu saat nanti, ayo berlatih di lapangan yang sama!”
“Apakah tidak merepotkan?”
“Bodoh! Ini bukan masalah merepotkan atau tidak. Kalau kau suka basket, mana mungkin aku merasa direpotkan,”

Percakapan pertamaku bersama Aomine-kun. Itu sangat berarti bagiku. Tos tinju pertamaku bersama Aomine-kun. Latihan bersama Aomine-kun yang menyebalkan, ia juga yang menyebabkan aku bertahan di divisi pertama. Walaupun sifatnya yang egois itu timbul, sebenarnya apakah dia masih memedulikan ku?

Selama ini, Aomine-kun juga terlibat dalam perkembanganku dan Kagami-kun. Ia yang mengajariku dalam menembak sehingga aku mampu mencetak skor pertama dengan tembakan ku sendiri di situasi genting. Aku sangat senang. Ia juga yang memberikan sepatunya untuk Kagami-kun di pertandingan terakhir kami pada Winter Cup. Sebenarnya, Aomine-kun itu berhati baik ya?

“Nggak ada pemain yang nggak berguna dalam tim. Sekalipun kau nggak bisa turun di dalam pertandingan, mana ada orang yang tinggal untuk latihan, jadi sama sekali nggak berguna dalam tim. Aku nggak bilang kau pasti akan berhasil kalau nggak menyerah. Hanya saja, kalau menyerah semuanya akan berakhir,”

“Kalau setelah ini permainannya masih jelek, maka aku juga akan menurunkan divisiku. Jadi kumohon, tolong biarkan dia bermain sekali lagi! Suatu saat, dia akan menjadi penyelamat kita. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi itulah yang kurasakan!”

Aomine-kun, dia yang menyebabkan aku masuk divisi pertama. Dia yang mengajarkan aku menjadi bayangannya. Dia pula yang menyebabkan aku bertahan sampai di akhir liga final kejuaraan saat kelas tiga. Andaikan ia tak berubah, aku masih mempercayainya sampai sekarang. Tapi bisakah aku mempercayainya lagi?

Bersambung.

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Blog / Facebook: Tita Tjoa
Halo. Ini cerita Fiksi Penggemar pertamaku^.^


Cerpen Cahaya dan Bayangan merupakan cerita pendek karangan Tita Larasati Tjoa, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Olivia Lovelyna

“Aku akan tetap mencintaimu walau suatu hari nanti kau jatuh cinta pada orang lain” – Shimura Sai “Aku sangat mencintaimu karena kau sabar menghadapiku dan kau tetap mencintaiku walau




Oleh: Renita Melviany

“hai semua. Perkenalkan nama saya hiroharu higashiyama” Aku memperkenalkan diri di depan kelas baruku. Aku agak malu memperkenalkan diriku sendiri, mereka hanya menampakkan wajah datar mereka yang tanpa ekspresi,




Oleh: Rahmi Yana

“Kau terlambat lagi!” ucap Chanyeol lalu berbalik dan pergi dengan amarah yang sejak tadi ia coba untuk menahannya. “Oppa, aku benar-benar minta maaf. Aku lupa. Aku benar-benar lupa.” Chanyeol




Oleh: Aderisma Pertiwi

Suatu hari di musim panas, di sebuah sekolah menengah pertama di Tokyo, Jepang. Murid-murid sedang beristirahat mereka melakukan banyak hal ada yang makan, duduk di bawah pohon sakura, bercerita,




Oleh: Hardian Ridho Alfalah

Aku duduk termenung di bawah pohon rindang di dekat sekolah. Punggungku bersandarkan batang kayu besar nan kokoh. Hari mulai senja, matahari perlahan kembali ke peraduannya. Langit cerah warna jingga



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: