8 tahun cerpenmu

Cerpen Cincin Tiga Jari (Part 1)

Spread the love

Cerpen Cincin Tiga Jari (Part 1)





Cerpen Karangan: Sy_OrangeSky
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga

Lolos moderasi pada: 24 July 2022

Semua baik-baik saja sebelum hari itu tiba, disaat Mas Rayyan menerima telepon dari nomor yang tidak bernama. Awalnya aku biasa saja, berpikir jika itu tidak penting untuk aku tahu.

“Siapa Mas?” Tanyaku dari meja makan yang sedang sibuk menata makan malam. Ketika melihat Mas Rayyan berjalan menghampiriku.
Jelas aku melihat wajah pias nan sendu terpatri jelas di sana. Pikiranku mulai bersepekulasi, apa telepon tadi adalah kabar kurang mengenakkan.

“Kenalan lama” jawabnya lalu mendudukkan diri bersiap memulai makan malam, dan diikuti olehku.
Segera aku ambilkan nasi dan lauk pauk yang dia minta, begitu juga dengan diriku.

“Enak enggak masakannya?”
“Enak, masakan kamu selalu enak sayang” dengan tersenyum semanis mungkin dia menjawab dan kembali melahap nasinya.

“Sayang!, besok ikut Mas ke rumah sakit ya. Jengukin teman.”
“Iya, besok aku ikut”

Sesuai permintaannya malam itu, aku benar ikut ke rumah sakit menjenguk teman yang Mas Rayyan bilang.

“Assalamualaikum!” Ucapku bersama Mas Rayyan begitu kami memasuki ruang rawat bercat biru langit.
“Waalaikumsalam!”
Aroma obat-obatan menyeruak ke rongga hidung, di ruang itu terdapat sepasang paru baya yang sedang menduduki sofa.
Seorang wanita paru baya berdiri datang menghampiriku menyalami tangan dengan tersenyum ramah.
Begitu juga dengan laki-laki yang tadi di sampingnya, aku perkirakan dia pasti suaminya.

Mas Rayyan terlihat begitu akrab dengan mereka, dengan saling bertukar kabar. Lalu pandangannya beralih pada orang di atas brangkar dan aku mengikuti pandangannya.

“Rayyan” panggilnya dengan lemah.
Seorang wanita yang begitu terlihat pucat dan ringkih, lengkap dengan seragam pasiennya.
Mas Rayyan mendekat ke arahnya begitu juga aku.

Deg
Darahku berdesir dengan hebat, melihat dia dan Mas Rayyan berpelukan.

‘Besok kamu ikut Mas ya, jengukin teman’
Benarkah dia hanya teman atau masih saudara?

“Kamu datang, akhirnya aku bisa ketemu kamu, aku kangen”
Aku melihat Mas Rayyan mengusap kepalanya dengan tersenyum lembut memberikan jawaban.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku, tapi senyum yang wanita itu berikan, cara bicaranya, pandangannya. Membuat aku tahu jika dia menaruh hati pada suamiku. Mereka lebih dari seorang teman.
Siapa dia sebenarnya, hati dan pikiranku terus bekerja merangkai semua yang aku lihat.

“Aku juga, sudah lama kita tidak bertemu Shanum”
Shanum, jadi namanya Shanum. Aku tidak tahu karena tadi aku tidak bertanya, dan mereka juga tidak mengenalkannya padaku.

“Kamu harus sembuh, dan Pasti sembuh. Obatnya diminum dan harus istirahat yang baik, jangan bandel.”
“Iya aku mau sembuh, demi kamu”
Jawaban macam apa itu yang dia berikan, kenapa harus demi Mas Rayyan.

“Nanti kalau aku sudah sembuh, kita bakal lanjutin pernikahan impian kita ‘kan Ray?”
Jantungku terasa berhenti berpacu, mendengar apa yang Shanum ucapkan, aku lihat Mas Rayyan hanya menampilkan wajah miris dan merasa tidak enak denganku. Itu artinya dia sudah tahu, akan hal ini.
Mataku mulai kaca, sekali kedip airnya pasti tumbah.

“Pernikahan” ucapku terbata dengan nada bergetar.
Shanum melihat ke arahku, baru sadar jika di sini juga ada aku. Mungkin sedari tadi pandangannya hanya tertuju pada Mas Rayyan.

“Apa maksudnya Mas?” Tanyaku sekali lagi.
“Siapa dia Ray, adikmu?” Tanya Shanum dengan kebingunganya, atau dia takut menerima kenyataan jika aku adalah istri dari pria pujaannya.
“Dia—”
“Bisa kita bicara, Nak”
Belum selesai Mas Rayyan menjawab, si ibu datang menghampiriku seperti hendak memberi penjelasan. Aku anggukkan kepala dan kami pergi ke luar.

Kami duduk agak jauh dari ruang rawat Shanum, aku tetap diam menunggu beliau berbicara apa yang akan disampaikan.

“Akira, Shanum menderita kanker otak stadium awal. Dia juga menderita penyakit jantung, meski kemungkinan untuk sembuh masih ada. Tapi Shanum merasa putus asa dengan hidupnya, dia enggak mau minum obat dan menjalani kemo.”

Aku tetap diam merasa sudah tau arah pembicaraan ini akan kemana nantinya. Aku juga tidak sanggup berkata-kata, hanya air mata yang sedari tadi tertahan kini mulai menetes membasahi pipi.

“Dia merasa hidupnya sudah berakhir, dan hanya satu yang ada di keinginannya. Menikah dan menjalani hidup dengan Rayyan.”

Cukup sudah, aku tarik napas dalam-dalam dan menolehkan kepala kepada wanita di sampingku.

“Shanum tau jika Mas Rayyan sudah menikah?”
Aku lihat beliau menggeleng, dan mulai ikut menangis.
“Shanum enggak tau, dia hanya ingin melanjutkan pernikahannya yang batal dengan Rayyan dua tahun yang lalu”
“Bagaimana bisa ibu tetap membiarkan dia tidak tau akan hal ini, dan meminta saya untuk menerima semuanya” aku menggeleng tidak percaya, aku tahu dia adalah orangtua yang tidak ingin anaknya kenapa-kenapa. Tapi bukankah seharusnya dia juga memikirkan perasaanku sebagai sesama wanita.

“Kami tidak minta Rayyan untuk benar-benar menikahi Shanum, Akira. Ini hanya kebohongan sementara, sampai Akira sembuh. Nanti kalau Shanum sudah sembuh dia akan lebih mudah menerima kebenarannya”

Kebohongan, jadi ini hanya kebohongan. Untuk kesembuhan Shanum, seketika hatiku lega dan mulai bernapas dengan tenang.

“Kamu mau ‘kan membatu kami, dan mengizinkan Rayyan merawat Shanum sampai sembuh?”

Hatiku kembali gamang, mampukah aku melakukannya. Mengizinkan suamiku kembali dekat dengan mantannya. Aku melihat beliau dengan tatapan memohon, membuat hatiku luluh seketika. Bagaimana pun aku tau apa yang sedang dia rasakan, sebagai seorang ibu.

Seperti yang aku setujui saat itu, aku harus sering menemani Mas Rayyan ke rumah sakit. Dan berpura-pura menjadi adiknya, untuk menemani langsung suamiku merawat mantannya.
Aku pikir itu baik karena aku tidak perlu resah membiarkan mereka hanya berdua, menghabiskan waktu. Tapi aku salah malah hatiku makin meradang jika bersama mereka.

Apa aku cemburu?, tentu saja iya. Bagaimana tidak setiap hari aku selalu melihat Shanum bersikap manja dan mesra dengan Mas Rayyan. Kehadiranku sudah seperti orang ketiga di antara mereka, padahal Shanum yang sebenarnya menempati posisi itu.
Bahkan kerap sekali aku bertengkar dengan Mas Rayyan saat pulang ke rumah hanya karena terbakar api cemburu.

Aku merajuk sehabis bertengkar di dalam mobil hari itu. Dan mendiamkan Mas Rayyan sampai malam hari.

“Akira!, maafin Mas sayang. Kalau kamu enggak mengizinkan ya sudah, mulai besok kita enggak ke rumah sakit lagi”
“Bener?, terus Shanum gimana” ucapku dengan judes, masa bodoh dengan Shanum. Aku bahkan sudah tidak peduli dengan kemanusiaanku padanya.

Keesokan harinya, kami tidak lagi ke rumah sakit. Namun, Mas Rayyan ngotot membawaku ke sana setelah mendengar Shanum kembali kritis karena Mas Rayyan tidak datang. Dan lagi aku harus berhadapan dengan kedua orangtuanya yang kembali meminta dan memohon padaku. Kesal rasanya dengan mereka yang tidak mau mengerti, dan membuat aku kembali merasa tersayat melihat kedekatan Shanum dan suamiku.

Seperti saat ini misalnya, aku hanya memalingkan muka melihat Shanum begitu bahagia tertawa di kursi taman bersama Mas Rayyan.

Keadaan Shanum sekarang sudah lebih baik, wajahnya kembali terlihat berseri, begitu juga badannya yang mulai bugar mungkin karena masih stadium awal sakitnya masih terlihat biasa saja. Apalagi selalu dihibur dan ditemani orang tercinta.

Cerpen Karangan: Sy_OrangeSky
Blog / Facebook: Siti maisaroh


Cerpen Cincin Tiga Jari (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Sy_OrangeSky, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Lisa Frikugeana

Lona dia adalah gadis tinggi, berkulit kuning langsat, dan juga pakaian yang dikenakan adalah hijab dengan balutan kain-kain modern yang indah, dia adalah idaman bagi para kaum adam, lelaki




Oleh: A Hadi

Ketika polisi tiba di tempat itu, mereka hanya menemukan 2 jasad yang telah mati. Dua-duanya dengan luka tusuk tepat di jantung. Darah menggenang di sekitarnya. Keduanya terbaring berdampingan, dengan




Oleh: Fitria Arining Putri

Mentari pagi menyinari kamar mungilku, aku bangikt dari pembaringan menuju jendela kamarku. Kubuka dan kuhirup udara pagi yang begitu indah, ku nikmati semilir angin dan cahaya mentari yang begitu




Oleh: Khadhiqotul Fikriyah

Cinta tak pernah salah, hanya saja kadang waktunya yang tidak tepat. Cinta tak bisa memilih kepada siapa ia berlabuh. Namun cinta bisa menentukan kemana ia akan membawa si pemiliknya




Oleh: Dicky Argiyatna

Jodoh merupakan pasangan hidup setiap makhluk yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Hidup, mati, rezeki seseorang telah ditentukan oleh-Nya bahkan sejak kita berusia 4 bulan dalam kandungan. Termasuk jodoh. Namun



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: