8 tahun cerpenmu

Cerpen Cincin Tiga Jari (Part 2)

Spread the love

Cerpen Cincin Tiga Jari (Part 2)





Cerpen Karangan: Sy_OrangeSky
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga

Lolos moderasi pada: 24 July 2022

Mas Rayyan menghampiriku dengan mendorong Shanum di atas kursi rodanya. Tersenyum dengan terpaksa ke arahnya yang menatap diriku dari kejauhan.

“Sudah?” Tanyaku pada Mas Rayyan.
“Iya, sekarang waktunya Shanum minum obat” dia melewatiku begitu saja, membiarkan aku mengekor di belakangnya menuju ruangan Shanum.

“Ray… aku enggak mau berbaring, nanti aja kalau sudah minum obat”
“Ya sudah, sekarang makan dulu ya. Biar Akira suapin kamu”
Shanum malah menggeleng, lalu siapa lagi yang akan menyuapi dia. Mas Rayyan begitu?, sedangkan orangtuanya sedang sholat di musholla.

“Aku mau kamu yang suapin”
Tuh ‘kan benar, dengan kesal aku berikan mangkuk di tanganku pada Mas Rayyan.

“buka mulutnya. Aaaak”
Shanum menerima suapan dari Mas Rayyan dengan senang hati. Daripada melihat mereka aku memutuskan pergi dengan amarah.

“Akiraa!”
Teriakan Mas Rayyan terdengar seperti mengikuti kepergianku, tapi aku acuhkan dan tetap berjalan ke arah lobi.

“Akira, sayang. Hei!, kenapa?” Dia berhasil menggapai tanganku, aku berbalik padanya.
“Kamu tanya aku kenapa, aku cemburu Mas!, tiap hari aku harus liat kamu deket sama Shanum. Kamu pikir itu gampang”
“Mas tau sayang, tapi ini demi kesembuhan Shanum”
“Sampai kapan, kapan Shanum sembuh. Gimana kalo pas dia sembuh dia malah enggak bisa ninggalin kamu, gimana kalau nanti kamu sama dia–”
“Akira sayang, istriku. Mas enggak mungkin seperti itu, enggak mungkin Mas ninggalin kamu”
“Kamu masih cinta sama dia?” Tanyaku mulai melemah, aku takut apa yang dia katakan itu bohong. Aku takut Mas Rayyan kembali mencintai Shanum.
“Kalo Mas masih mencintai dia, ngapain Mas nikahin kamu. Mendingan Mas kejar Shanum sampai dapat atau rela menunggu dia bertahun-tahun, tapi enggak ‘kan”

Aku bernapas lega, tapi hati bisa saja berubah nantinya. Aku hanya takut kebohongan ini akan menjadi malapetaka untukku sendiri.

“Rayyannn….”
Suara itu, aku melihat Shanum di belakang Mas Rayyan. Sedang menangis terseduh di kursi rodanya. Jadi dia kemari, dan mendengar semuanya. Apa aku harus senang atau malah panik.

“Kamu bohong!, kamu pembohong Ray… kamu janji nikahin aku. Tapi kamu malah nikah sama wanita lain, hiks”
“Shanum”
Mas Rayyan mendekatinya, dan mencoba menenangkan Shanum. Tapi Shanum semakin tidak terkendali, aku melihat dia meremas dadanya lalu pingsan tidak sadarkan diri.

Aku dan Mas Rayyan panik, dan segera membawa Shanum kembali ke ruangannya. Di sana sudah ada kedua orangtua Shanum yang tidak kalah paniknya, dokter dan suster mulai berdatangan dan kami digiring ke luar.

“Ada apa Rayyan, kenapa dengan Shanum!” Ayah Shanum terlihat marah bercampur panik bertanya pada Mas Rayyan.
“Shanum tau semuanya, Pak. Dia tidak sengaja mendengar obrolan saya dan Akira”

Ibu Shanum langsung histeris dan menutup mulutnya, kini aku malah merasa bersalah. Atau mungkin sekarang sudah waktunya Shanum tau, tidak ada kebohongan yang akan berjalan dengan mulus. Apapun rencana yang kita persiapkan tetap tuhan yang mengatur semuanya.

Aku dan Mas Rayyan kembali ke rumah. Semua biasa saja hingga besok paginya, tapi tidak lama Mas Rayyan kembali panik dan mengajakku ke rumah sakit.

“Akira, kita harus ke rumah sakit. Jantung Shanum kumat Ra”

Lalu apa masalahnya, jika dia kembali kumat. Itu bahkan bukan urusan kami lagi, aku tau Mas Rayyan terlalu baik dan juga sangat menghormati orangtua Shanum. Tapi bukan berarti harus memperlakukan dia seperti keluarga bukan.

“Ayo Kira”
“Kenapa, kita harus ke sana”
“Kita harus tanggung jawab Kira, Shanum kritis karena tidak siap menerima semuanya”

Aku kembali menurut hingga kami tiba di rumah sakit, aku lihat Shanum kembali tidak berdaya keadaannya lebih buruk dari sebelumnya.

“Ray… kamu mau ‘kan menikah sama aku?”

Deg
Badanku kaku seketika, mendengar ucapanya, menikah?. Jadi dia tetap kekeuh ingin menikah dengan Mas Rayyan meski tau aku adalah istrinya.

“Shanum, aku enggak bisa”
“Aku mohon, Ray”
“Akira”
Aku menggeleng dengan menangis menatap Bu Asma memanggilku. Apa ini, katanya semua hanya sementara tapi mengapa menjadi nyata.

Aku berlari ke luar, tidak ingin mendengar siapapun di ruangan itu.

“Akira dengerin ibu, Nak. Ibu mohon, tolong Shanum.”
Aku hanya menangis begitu beliau menahan tanganku.
“Ibu tau ini berat buat Akira, tapi ibu juga berat jika harus kehilangan Shanum Akira. Dia satu-satunya putri ibu”
“Ibu tega sama saya”

Bu Asma bersimpuh hendak menyentuh kakiku, aku kaget dan langsung ikut menjatuhkan diriku tidak mungkin aku membiarkannya melakukan itu.
“Tolong ibu, Nak. Ibu mohon Akira”

Aku tau aku belum bisa memberikan Mas Rayyan anak selama kami menikah hingga satu tahun lebih. Tapi apakah harus dengan aku dimadu, tidak aku enggak mau menerima itu.

“Akira…”
Kupalingkan muka tidak sanggup melihat permohonan seorang ibu di depanku. Namun, mataku menajam melihat seseorang yang sedang merekam kami. Dan aku yakin dia pasti akan memposting video ini dengan asumsinya sendiri.
Apa yang harus aku lakukan, tidak mungkin aku membiarkan orang itu terus mengambil video kami yang sedang menagis di koridor. Bahkan banyak sepasang mata yang memperhatikan.

Aku memeluk Bu Asma yang sama rapuhnya denganku, menumpahkan segalanya di pelukan seorang ibu yang sudah lama tidak aku rasakan lagi.

“Kamu mau ‘kan, Akira?”
Entah dari mana keberanian dari diriku mengambil keputusan, karena aku malah menganguk memberi jawaban.
Tangis Bu Asma kembali pecah, begitu pula denganku.
“Terima kasih Akira, terima kasih”

Kami kembali melangkah ke dalam ruang rawat Shanum, aku lihat Mas Rayyan yang sama kacaunya denganku.
“Mas!”
“Akira”
“Apa keputusan Mas Rayyan” Jujur hati kecilku berharap dia menolak.
“Mas serahkan semua padamu Kira”

Aku pejamkan mata mendengar jawabannya, air mataku kembali meluncur bebas di pipi. Aku membuka mata dan mengangguk mantap sambil melihatnya. Aku lihat dia menatap iba pada diriku, kupaksakan tersenyum padanya. Lalu dia pamit ke luar membawa aku ikut serta.

“Kita mau kemana Mas?” Tapi Mas Rayyan hanya terdiam, dan fokus mengendalikan setirnya.

Ternyata dia membawa aku ke toko perhiasan, memintaku membelikan cincin untuk Shanum, hatiku kembali terenyuh.

Aku bingung yang mana yang harus aku pilih, dan pilihanku jatuh pada cincin emas putih dengan taburan berlian di ringnya. Sama seperti cincin pernikahan kami, aku takut salah memilih. Bagaimana jika pilihanku buruk atau lebih bagus dari aku punya. Jadi aku samakan saja, biar adil bukan.

Kami kembali ke rumah sakit, di sana Shanum sudah menunggu dengan keadaan tidak berdaya.

“Kamu siap Rayyan” tanya ayah Shanum yang akan menjadi penghulu untuk anaknya. Di sini juga ada kedua mertuaku yang akan menjadi wali Mas Rayyan sekaligus saksi.
“Kamu ikhlas dan ridho Akira”
Aku dan Mas Rayyan saling menatap dan mengangguk bersamaan.

Ijab kabul mengalun dengan lantang dan lancar, hingga bunyi sah terdengar. Cincin itu pun sudah terpasang di jari manis Shanum.
Mas Rayyan dengan khikmat mencium kening Shanum, aku tidak sanggup melihatnya.

“Makasih Ray, kamu sudah menepati janji” ucapnya begitu lemah.

“Akira…, terima kasih. Sudah memberikan aku kesempatan menjadi istri dari Rayyan” Shanum meraih tanganku meletakkannya di atas genggaman tangannya dan Mas Rayyan.
Kutatap cincin itu, cincin yang sama tersemat di jariku. Dulu aku berpikir sepasang cincin kami adalah bukti terikatnya hubungan sehidup semati. Tidak terbayangkan kini malah menjadi tiga, tersemat di tiga jari.

Tiiiittttttttt
Bunyi itu terdengar nyaring di seisi ruangan bercampur dengan suara tangis histeris, begitu juga dengan diriku, saat kulihat Shanum terpejam dengan tenangnya.

Aku berjalan mundur, hingga genggamanku terlepas memberi tempat orangtua Shanum.

Aku menangis tersedu karena kepergiannya. Aku tidak punya rasa senang karena hal itu, dan berbahagia di atas berkabungnya seseorang, apalagi dia juga istri dari suamiku.

Aku menyesal, andai saja kebohongan itu tidak terungkap, apakah Shanum akan selamat. Apa dia tidak akan menjadi maduku, jika sembuh. Kenyataannya sekarang meski Shanum telah tiada, aku tetap sudah dimadu Mas Rayyan.

Bagaimana jika aku dan Mas Rayyan tidak bisa sehidup sesurga kelak, bukankah Shanum memilih peluang untuk bersama suamiku nantinya dalam keabadian.

Selesai

Cerpen Karangan: Sy_OrangeSky
Blog / Facebook: Siti maisaroh


Cerpen Cincin Tiga Jari (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Sy_OrangeSky, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Fanny Saufina

Aku hanya terdiam di bawah senja. Warnanya yang mulai meredup membuat siluet tubuhku di rerumputan ini. Sudah hampir 3 jam aku hanya terduduk disini, menikmati kesendirianku, menikmati segala hembusan




Oleh: Permatahati Desi

Aku tak akan pernah menyangka akan merasakan hal ini lagi, aku tak pernah mengharapkan untuk mencicipi kekecewaan lagi, Sedetik pun tak pernah aku pikirkan untuk berpisah darimu, berjauhan denganmu




Oleh: Muhammad Raihan Renara

Jadi dulu saat aku smp aku mempunyai teman wanita yang bernama sore. Sore itu senja, senja memberikan banyak makna bagiku. Singkat cerita aku jatuh cinta kepada sore dan berniat




Oleh: Wilda Pebrina

Suasana UKS begitu sepi, tentu saja hanya ada seorang gadis yang sedang mengobati beberapa luka di tangannya, beberapa kali ia meringis kesakitan. Gadis itu bernama Bina. Bina merupakan gadis




Oleh: Meilano MZP

Entah apa yang harus aku lakukan sekarang dan untuk selanjutnya, apakah perasaan ini akan kembali terkubur atau akan tumbuh dan bersemi? Jawabannya hanya bisa diketahui melalui keputusan Syara, begitu



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: