8 tahun cerpenmu

Cerpen Dilamar Alumni

Spread the love

Cerpen Dilamar Alumni





Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Kategori: Cerpen Romantis

Lolos moderasi pada: 10 June 2022

Di trotoar jalan dekat kampus, sedang ramai-ramainya mahasiswa berjalan hilir mudik. Dua mahasiswi tengah asyik mengobrol sambil cekikikan. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang pasti… hanya mereka yang tahu.

Tanpa sengaja, tanpa melihat kanan dan kiri, depan dan belakang, salah satu dari mahasiswi itu berjalan menabrak laki-laki tinggi menjulang tengah memainkan ponselnya bersama satu temannya yang berambut keriting.
“Astagfirullah!” pekik perempuan itu sambil mentup mulutnya dengan satu tangan.
Alhasil, ponsel milik sang laki-laki itu tergeletak dengan layar terang namun dalam hitungan detik ponsel itu langsung mati.

Dengan sigap perempuan itu langsung mengambil ponsel milik laki-laki di depannya.
“Maaf, Mas. Aduh.. aku nggak sengaja.” Perempuan itu menampakkan wajah memelas karena merasa bersalah. Raut wajahnya syarat akan penyesalan karena ceroboh telah mengobrol tanpa melihat kanan dan kiri.
Sedangkan teman satunya sama saja. Dia yang ikut andil karena mengobrol sambil tertawa tanpa melihat sekitar ikut merasa bersalah.

Secepat kilat perempuan itu memutar otak apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
“Gini aja, Mas.” Putus mahasiswi berkerudung pashmina navy itu. “Hp nya kita ganti, ya, Mas. Kita bisa patungan, kok.”
“Ck!” laki-laki berambut keriting itu ikut berdecih menanggapi anak muda jaman sekarang yang seolah menyepelekan masalah. Dengan uang masalah bisa langsung selesai.
Sedangkan laki-laki yang tampan dengan pakaian casual itu mengulai senyum manis.
“Nggak apa-apa, Mbak. Nanti sa—”
“Dasar anak jaman sekarang, ya, bisanya cuman gampangin masalah. Asal ada uang langsung beres.” Ucap laki-laki keriting sambil mendelik.
“Tanggung jawab!” perintahnya tegas. Hingga membuat dua mahasiswi di depannya tersentak, begitu pula mahasiswa di sekitar yang langsung bisik-bisik menanggapi kejadian itu.

“Serem banget kalo Kang Yuga udah marah, gitu!”
“Berasa ospek, Bro!” timpal yang lain.
“Mereka nggak tau ya itu alumni paling nyeremin?”

Bisik-bisik dari kalangan mahasiswa itu tak membuat dua mahasiswi itu sadar karena mereka sama sekali tak mendengar apa yang mereka ucapkan. Juga, tentang ketidaktahuan mereka akan siapa dua laki-laki dewasa di depannya ini.

“Iya, Mas. Aku mau tanggung jawab. Boleh aku pinjam hp nya, Mas?” pinta perempuan berhijab panjang menoleh pada laki-laki tampan berbaju casual.
“Nggak usah, Mbak, gak apa-apa. Lagian hpnya cuma—”
“Apaan, sih, Bro. Mereka harus tanggung jawab!” protes laki-laki berambut keriting tak terima.
“Udah ah, yuk pulang!” laki-laki tampan itu menyeret teman keritingnya menuju mobil mereka.
Ada lega dalam diri dua mahasiswi itu. Lega karena mereka berhasil terbebas dari bentakan laki-laki keriting yang julid dan galak itu.
Namun, perempuan berjilbab itu malah tak tenang.

“Heh, Mbak. Kalau mau tanggung jawab, jadi istrinya Gilang aja. Dia lagi cari istri!” teriak laki-laki berambut keriting.
Deg!
Hah?
“Hushh!! Ngaco kamu, Gi!” protes Gilang sambil terus menyeret Yuga ke parkiran.
Sontak mahasiswi disana menjerit manja karena sang alumni pujaan mahasiswi itu tengah mencari istri. Siapa tahu bisa daftar kan?

“Alana! Rani!” panggil Nada yang berada di lokasi sama.
“Sini!” ajaknya sambil melambaikan tangan.
“Ada apa?” tanya Alana—perempuan berjilbab panjang—dengan raut penasaran.
“Kalian nggak tahu mereka?”
Alana dan Rani menggeleng kompak membuat Nada tepuk jidat.
“Astaga! Kalian bener-bener nggak inget? Itu Kang Yuga sama Kang Gilang. Yang ospek kita waktu masuk kampus. Masa lupa sih?”
Alana dan Rani saling beradu pandang.
“Iya gitu?”
Nada memutar matanya malas.
“Kalian pada kemana sih pas ospek?”
“Ada!” jawab mereka kompak.
“Mereka datang pas hari pertama kita ospek. Mahasiswi sini udah pada tahu kali.” Nada lagi-lagi memutar matanya jengah.
Siapa sih yang tidak tahu Kang Yuga dan Kang Gilang?
Mereka terkenal alumni terbaik, sekaligus mahasiswa tergalak dulunya. Meskipun yang galak cuma Kang Gilang aja, sih.

“Oh pantes.” Setelah sekian lama berpikir akhirnya Alana mendapatkan jawaban.
“Kenapa?” tanya Nada penasaran.
“Hari pertama ospek aku sakit.” Ungkap Alana sambil meringis.
“Gue juga hari pertama ospek izin karena kakak gue nikah!”
Nada menepuk jidatnya frustasi.
“Tapi terlambat. Kalian udah bikin masalah sama mereka berdua. Siap-siap kalian diospek lagi!!”.

Perasaan Alana berubah tak karuan. Tentunya tentang kejadian kemarin. Tentang Nada yang memperingati bagaimana kejamnya mereka berdua ketika ospek dulu. Tapi Alana sama sekali belum melihat mereka, dulu. Tapi, sedikit tercerahkan bagaimana Kang Yuga kemarin mencecarnya.
Namun, ada kalimat Kang Yuga yang menjadi kepikiran juga. Katanya soal Kang Gilang yang sedang mencari istri. Bagaimana ceritanya? Mencari istri seperti meminta dibelikan mie ayam. Apalagi caranya yang sangat tak sopan berteriak di depan banyak mahasiswa.

Pagi ini, Alana gusar. Orang yang dia tunggu setengah jam yang lalu belum muncul sama sekali. Si tukang tepat waktu nyatanya bisa terlambat juga. Di taman dekat fakultas, Nanda terus cek hpnya karena berkali-kali mengirim pesan kepada Rani tetap saja tak ada balasan.
Hingga, seseorang duduk di ujung kursi membuatnya urung untuk melanjutkan niatnya meninggalkan taman.

“K-Kang Gilang?” tanya Alana takut-takut.
“Udah inget saya siapa?” tanya Gilang penuh selidik.
Alana mengangguk, meskipun benar-benar tak tahu karena dulu memang tak pernah bertemu. Alana tak tahu bahwa si teman sedang ditahan di balik tembok bangunan oleh Kang Yuga.

“Minta alamat rumah kamu!” pintanya sambil mengulurkan tangan ke samping.
“Buat apa, Kang?”
“Kamu mau tanggung jawab kan soal hp saya yang rusak?”
Ah.. Alana baru ingat bahwa dia sudah bermain api dengan alumni ini tempo hari.
“Iya, Kang.” Jawabnya sambil menunduk.
“Ya udah, sini alamat kamu. Saya mau kirim tagihan servis hp saya!”
“Oh. Baik Kang.” Tanpa babibu, Alana langsung mencatat alamat rumahnya lalu dia berikan ke tangan Kang Gilang. Hingga setelah mendapatkan apa yang ia mau, Gilang berlalu begitu saja setelah berpamitan.

“Al?”
“Kamu kemana aja, Raniiii?” tanya Alana dengan gemas. Nyaris saja Alana sesak nafas karena ditodong oleh Kang Gilang. SENDIRIAN.
“Sorry Al. Gue ada urusan tadi.” Sesalnya yang hanya kebohongan saja. Jelas-jelas Rani ditahan Kang Yuga untuk tidak menemui Alana di taman karena Kang Gilang tengah melancarkan aksinya. Begitu juga, Rani diancam untuk tidak menceritakan apa yang terjadi.

“Tadi Kang Gilang bilang apa?”
Alana mengernyit. “Ko tahu aku lagi sama Kang Gilang tadi?”
Rani gelagapan, namun secepat mungkin ia mencari alasan. “Lah barusan beberapa detik sebelum gue kesini gue liat Kang Gilang dari sini. Makanya gue nanya.
Alana tak jadi curiga. Ia menghela nafas kasar.
“Kang Gilang minta alamat gue buat kirim tagihan servis hp.” Terangnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Kening Rani berlipat dalam kala mendengar penuturan Alana tentang Kang Gilang yang terasa aneh. Kalau mau kirim tagihan kan bisa pakai M-Banking. Kenapa harus ke rumah segala? Tanyanya dalam hati. Namun tak lagi ia pikirkan karena beberapa detik kemudian Alana meminta ditemani ke kantin untuk membasahi tenggorokannya yang kekeringan akibat gugup diinterogasi Kang Gilang.

“Teh, ada tamu di luar.” Ucap Ibu menyembul dari balik pintu kamar Alana yang sedikit terbuka.
“Ke aku?” tanya Alana menunjuk diri sendiri.
“Iya atuh, ke siapa lagi?” jawab Ibu.
“Siapa—?” belum lagi bertanya Ibu sudah meninggalkannya yang terbengong sendirian.
Tamu? Pikirannya menerawang, siapa gerangan tamu yang datang di malam hari jam 21.00 WIB ini? Tidak biasanya. Namun otaknya berpikir kepada kejadian tadi pagi di taman dekat fakultas jurusannya ketika Kang Gilang meminta alamat rumah untuk tagihan servis ponselnya.

Buru-buru Alana bergegas, kemudian mengambil beberapa uang cash untuk dibayarkan. Berkerudung panjang juga memakai baju tidur motif bunga sebagai outfit malam ini. Ya, kan namanya juga mau tidur, makanya Alana cuek-cuek saja dengan pakaiannya.

“Loh, Teh, kok bajunya pake yang begitu, sih?” tanya Ibu menghentikan langkahnya yang sedikit lagi menuju luar rumah.
“Ketimbang mau bayar tagihan masa harus pake gaun sih, Bu?” tanya Alana terkekeh.
“Tapi—” belum sempat mencegah, Alana sudah berlalu begitu saja ke luar.

Alana membeku di tempat, tangannya mengepal dengan uang cash yang teremas sampai kusut, lidahnya kelu, jantungnya berdetak sudah tak karuan, matanya melotot, tiba-tiba saja langkahnya seolah dipaku hingga ia tak bisa lari untuk menyembunyikan mukanya yang sudah memerah menahan malu.
Pantas saja Ibu menegurnya ketika Alana hanya memakai baju tidur saja. Ternyata tamunya bukan sembarang tamu.

Kang Gilang? Mau apa dia kesini?
Segala pertanyaan di otak sudah seperti kaset kusut yang sulit diurai. Antar gugup dan tak menyangka. Tamu yang awalnya Alana sangka adalah kurir atau penagih servis hp nyatanya tak seperti yang ia bayangkan. Yang ini tampan tanpa cela.

“K-Kang Gilang? Mau nagih uang servis hp ya? Ini Kang!” Alana memberikan uang cash yang sudah tak jelas bentuknya.
Sontak Ayah dan Kang Gilang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos putri bungsunya.
“Kamu ada-ada aja, Teh. Kang Gilang bukan mau nagih uang!” timpal Ayah menyela di sisa tawa renyahnya.
“Hah? Terus mau ngapain?” kini Alana beralih meminta jawaban kepada Gilang yang tersenyum begitu manis membuat Alana jantungan.

“Saya mau lamar kamu, Alana Liora Gantari.”
“APAAAAA?”

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
ig: @ipeeh.h

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Dilamar Alumni merupakan cerita pendek karangan Latifah Nurul Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Murni Oktarina

Taman Odori, Sapporo, Hokkaido Fuyu Aku memandang iri pada orang-orang di sekitar yang terlihat berbahagia dengan pasangannya. Ah, seandainya Yuki masih menjadi kekasihku. Tentu saja saat ini aku tak




Oleh: Lamringkot Simatupang

Hujan sore ini cukup membuatku menggigil, kucoba menatap langit di luar belum ada tanda bahwa hujan akan berhenti. Aku kembali masuk ke dalam kamarku, membuka sedikit jendela untuk cukup




Oleh: Alfred Pandie

Suara lagu di komputerku menggema di kamarku, lagu dari judika aku yang tersakiti Di luar Suara burung bersiul di samping jendela kamarku, embun pagi jelas menyisakan butir air di




Oleh: Ajang Rahmat

“Klik, Cekeeetttt, Jeblog…” pintu kamarku terbuka. Spontan aku terbangun dari ranjang, padahal mataku baru saja mau memasuki alam mimpi. Dan lagi-lagi itu Yuuna, dia kembali mengganggu malam indahku. “Bisakah




Oleh: Andrina Cahyadi

Hai,ini cerpen perdana! Memang ada sentuhan korea nya sedikit ^^ mungkin ada typo(kesalahan pengetikan) dan adegan-adegan yang kurang greget, mianhae(maaf).. Masih percobaan. Yang udah mampir, baca ya? Nah kalo



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: