8 tahun cerpenmu

Cerpen Dinding Es Mencair

Spread the love

Cerpen Dinding Es Mencair





Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Romantis

Lolos moderasi pada: 31 May 2022

Aku percaya semua dapat berubah termasuk rasa.

Dua orang saling berhadapan seorang pria dan seorang wanita. Pria menatap wanita wanita membalas tatapannya. Mereka berdua dikelilingi oleh banyak orang yang sedang menanti aksi dari keduanya hingga terdengar suara dentingan membuat si pria bergerak dengan cepat membuat si wanita menghindar. Sekeliling mereka terdengar suara penonton yang sedang bersorak. Hingga suara dentingan kembali terdengar mengakhiri aksi mereka berdua.

“Sudah kubilang bukan wanita itu tidak pantas untuk hal seperti ini” ujar pria itu.
Wanita yang mendengar itu hanya mendengus “Jangan terlalu yakin” Wanita mulai berdiri “Tidak ada yang tidak mungkin untuk kami para wanita” lalu wanita berjalan pergi.

Wanita telah tiba di rumahnya disana ibunya sedang menunggu dirinya lalu bertanya apakah jika dirinya ingin makan malam wanita menjawab tidak lalu wanita berjalan kembali ke kamarnya dan tertidur. Disisi lain pria telah tiba di dalam rumahnya disambut dengan suasana sepi karena pria tinggal sendirian di rumahnya lalu pria itu segera bersiap untuk tidur tanpa makan malam pria itu berjalan ke tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya sembari berpikir sesuatu yang telah terjadi membuat matanya semakin lelah hingga terpejam. Kehidupan yang berbeda antara keduanya. Jika ditanya apakah mereka pernah bertemu aku akan menjawabnya dengan pernah. Mereka berdua pernah bertemu dulu sekali pertemuan mereka masih terjadi hingga sekarang ini.

“Kau mengikutiku ya” Ledek wanita
“Dih ge-er aku naik ke bus ini untuk pergi bekerja”
“Aku lupa kita bekerja di tempat yang sama”
“Beruntung jabatanku lebih tinggi darimu” Ledek pria
Wanita mendengus dengar itu “Setidaknya aku bukan pengangguran”

Bus berhenti membuat keduanya tiba di tempat kerja mereka yaitu tempat penerbitan dengan Gedung yang memiliki sepuluh lantai lantai yang terbilang masih sedikit untuk orang-orang disana. Wanita segera berjalan ke lift, saat wanita ingin menekan tombol lift tangan pria juga ikut menekan tombol membuat keduanya terkejut menyadari tangan mereka saling bersentuhan hingga mereka berdua saling tatap menatap.

“Kalian mau naik atau tidak orang-orang disini juga sibuk”
Mendengar sahutan salah satu orang di dalam lift keduanya berhenti, membuat wanita menaiki lift sedangkan pria tidak.
“Kau tidak ikut naik?”
“Tidak”

Pintu lift tertutup. Sebelum tertutup wanita ingin mengucapkan sesuatu namun pria tidak tahu apa yang ingin wanita itu ucapkan. Pria hanya menatap pintu lift yang tertutup lalu menggu lift selanjutnya. Pada kelas karate hari ini wanita memutuskan untuk tidak mengikutinya karena dirinya harus pergi ke suatu tempat. Di kelas karate pria sedang menunggu wanita hingga selesai pria sadar bahwa wanita tidak hadir hari ini. Wanita saat ini sedang berjalan pulang dengan membawa belanjaan untuk kedua orangtuanya di rumah. Memasuki bus wanita melihat sekeliling dalam bus hingga matanya menangkap bahwa pria sedang duduk di tempat paling ujung. Saat wanita ingin pergi keluar dari sana pintu bus otomatis tertutup membuat wanita sadar bahwa dia tidak dapat menghindar dengan sikap yang tenang wanita berjalan lalu duduk di bus. Saat bus melewati suatu lokasi rumah pria wanita bertanya kepada dirinya sendiri kenapa pria tidak turun? Tapi wanita tidak ingin mengurusinya lalu mulai memikirkan hal yang lain. tiba di jalanan lokasi rumah wanita, wanita segera turun dari bus lalu mulai berjalan. Saat sedang berjalan wanita sadar jalanan hari ini sangat sepi, hingga sebuah tepukan di pundak membuat wanita menjerit karena terkejut.

“Maaf… maaf”
“Lagi-lagi kau mengikutiku ya?!!”
“Kau ini berburuk sangka ya”
“Loh lalu kok kau bisa kesini?”
“Hei asal kau tahu aku ingin mengunjungi seseorang disini”
Wanita berjalan pergi dari pria.
“Hei tunggu, kau ini”
“Kenapa?”
“Kau ini wanita tapi tetap berjalan keluar dimalam hari”
“Memangnya kau siapa?”
“Tentu saja jika kau wanitaku aku akan melarangnya”

Keduanya terdiam karena saling mendengar apa yang pria itu ucapkan namun dengan segera wanita itu tidak ingin memikirkannya dan membiarkan pria itu menemaninya setidaknya wanita berharap mulut pria itu tidak akan mengoceh hal yang melantur lagi. Saat tiba di depan rumah wanita. Wanita kembali bertanya siapa orang yang ingin ditemuinya disini namun pria tidak menjawab hingga gerbang terbuka oleh ayahnya sang wanita. Wanita menjadi panik takut ayahnya berpikir bahwa anaknya melakukan suatu hal yang tidak wajar.

“Yah dengar ini adalah…”
Penjelasan terpotong oleh ayahnya yang menatap sang pria dengan tatapan yang tidak biasa membuat pria menjadi ciut sedangkan wanita panik. “Tenanglah nak ayah tahu dia ini temanmu bukan?”
Mendengar itu pria mengangguk. “Benar sekali ayah dia ini temanku, dan katanya dia benar-benar lapar dan di rumahnya tidak ada apa-apa. Makannya aku orang dengan hati yang paling baik mengajaknya kesini untuk makan malam” kata wanita sembari meyakinkan ayahnya. “Selain itu aku yakin dia akan menghabiskan makanan mama yang enak itu bukan”
“Benar nak. Ayah juga yakin bukan kamu anak yang baik yang tidak mungkin akan macam-macam dengan pria seperti ini”
Mendengar itu pria terkekeh “Benar tuan saya kesini ingin bertamu dan juga menerima tawaran anak anda yang bilang masakan ibunya adalah masakan yang paling enak”
“Benar-benar masakan istriku ini paling enak” Lalu ayah menjitak kepalanya sendiri. “Ah maaf mari masuk diluar sini dingin”

Wanita mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya membuat musuhnya seumur hidup menyantap masakan ibunya dan mengundangnya masuk ke rumah keluarganya untuk makan malam padahal kan pria ingin mengunjungi seseorang tapi ayam sudah jadi ayam goreng kini kedua orangtuanya duduk dihadapannya sedangkan di sebelahnya pria sedang terduduk. Ibu menawarkan lauk kepada pria membuat pria yang sebenarnya sudah kelaparan segera menerimanya. Setelah makan malam sang wanita pergi ke lantai atas menuju ke kamarnya. Sedangkan pria dengan sang ayah duduk mengobrol di ruang tamu dan ibu berada di dapur untuk segera membereskan piring-piring kotor sebelum hari semakin malam dan menjadi lelah. Saat sedang duduk pria mendapati sesuatu melihat sekeliling ruang tamu.

“Apakah ini di…”
“Ah ini waktu kami sedang liburan”
“Negara yang bagus”
“Benar-benar bagus. Aku harap anakku nanti akan menyukai lingkungan disana”
“Menyukai?”
“Kau tidak tahu?”
Pria mengelengkan kepalanya mengakui dirinya tidak tahu.
“Sebentar lagi dia akan pergi kesana”
“Berapa lama?”
“Untuk waktu yang lama nak, kenapa? Apakah kamu ingin bersamanya”
“Iya”

Satu kata dengan tiga huruf yang terucap dari lisan pria membuat pria sadar akan sesuatu. Apakah kini dinding es diantara mereka berdua mulai mencair?. Di depan gerbang rumahnya wanita dan pria berdiri untuk saling berpamitan.
“Maaf gara-gara makan malam kau tidak jadi mengunjungi kenalanmu?”
“Tidak usah minta maaf aku sudah bertemu dengannya”
Wanita terdiam lalu berpikir “Ayahku? Ada urusan apa kau dengan ayahku”
Pria tidak menjawab lalu berjalan menjauh. Wanita melihat sosok pria berjalan menjauh tidak lagi ingin berbicara dengannya namun wanita tetap menatap sosok pria berjalan hingga sosok pria benar-benar menghilang dari jangkauan.
“Orang itu benar-benar aneh. Pantas saja dia jadi musuhku”

Beberapa hari setelahnya pria berjalan dikantor hingga matanya mendapati bahwa wanita sedang membawa banyak barang miliknya keluar dari kantor membuat pria berpikir apakah wanita memutuskan untuk mengundurkan diri dari sini?. Pria itu mengikuti wanita sepanjang perjalanan wanita selalu mendapatkan sapaan mungkinkah itu adalah sapaan perpisahan?. Lalu wanita memasuki taksi. Saat taksi berjalan pergi pria berdiri melihat taksi semakin pergi menjauh. Di sisi lain wanita merasakan seseorang sedang mengawasinya membuat wanita di dalam bus menatap sekitar spion yang terlihat pantulan pria sedang menatap taksi yang ditumpanginya. Membuat wanita menjadi kesal dan merasa bahwa lagi-lagi pria sedang mengikutinya. Padahal sejak dulu pria selalu membuat wanita menangis dengan ejekannya membuat wanita membenci si pria hingga saat ini tapi kenapa setiap wanita ingin menghindar mereka tetap saling bertemu namun kali ini dirinya yakin dengan kepergiannya kali ini pria tidak akan bisa menemuinya lagi bukan?.

Semalam sebelum esok hari wanita akan pergi, wanita sedang memikirkan masa lalu dimana pria dan wanita saling melawan. Jika si pria menyerang wanita akan membalasanya begitu juga sebaliknya, menurut wanita hal yang paling mengesankan adalah saat hari hujan dimana wanita berlari mengejar pria untuk membalas kelakuan jahilnya. Jalanan licin membuat wanita terjatuh wanita sangat yakin bahwa musuh tidak akan menolongnya tapi yang terjadi selanjutnya berada diluar dugaan wanita dimana pria menolongnya. Bukankah seorang musuh tidak pernah menolong?. Apakah dia peduli denganku? Tidak mungkin? Pikir wanita itu. Atau apakah dinding es diantara mereka mencair.

Keesokan harinya berada di bandara wanita berpamitan dengan kedua orangtuanya, selama berjalan menuju pesawat wanita memikirkan kedua orangtuanya wanita sangat menyayangi kedua orangtuanya yang sudah menjaganya selama ini hingga tiba wanita menaiki pesawat dan bersiap untuk perjalanan barunya.

Beberapa menit berlalu terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera berangkat. Wanita menatap sekeliling dengan puas karena dirinya duduk di bagian eksekutif dimana tidak akan ada yang menganggu ketenangannya karena sepi sedangkan kursi disebelahnya kosong. Wanita senang karena ini adalah pengalaman pertamanya menaiki pesawat seorang diri. Terasa bahwa pesawat mulai melayang namun saat sedang melayang pesawat bergerak dengan getar membuat wanita menutup matanya karena takut jika pesawat ini akan jatuh, dari suara pengumuman terdengar suara pilot yang menyatakan bahwa pesawat mengalami turbulensi. Saat menutup matanya wanita mengingat semua kenangan hingga merasakan bahwa tangannya sedang digengam oleh seseorang wanita tentu saja ingin membuka matanya dan menghindar namun semua badannya tidak bisa bergerak termasuk matanya dan juga tangannya. Saat turbulensi berhenti wanita mulai membukakan matanya lalu menatap ke orang sebelahnya.

“Kau selalu mengikutiku” ujar wanita ke pria yang ia benci seumur hidup.
“Kau tidak berterima kasih” ledek pria
“Terima kasih” Kata wanita melepaskan tangan dari genggaman. Lalu wanita menatap kearah jendela disebelahnya dengan takjub karena semuanya indah.

“Kau belum pernah naik pesawat?”
“Tentu saja sudah saat masih kecil”
“Pantas saja kau takut, ternyata kau sudah lupa rasanya naik pesawat”
“Memang” Wanita menyandarkan badannya. “Lalu kenapa kau disini?”
“Melindungimu, sudah kubilang bukan aku akan melindungi wanita yang berjalan sendiri” jawab pria.
“Dimalam hari dan jika aku wanitamu dan kau tahu bukan itu bukan kedua-duanya”
“Apakah yang aku lakuin saat ini salah”
“Tidak tahu”
“Kenapa begitu”
“Apa kau ingin menghancurkan hidupku seperti dulu?”
“Tidak lagi”
“Aku selalu menganggapmu sebagai musuh seumur hidupku karena itu”
“Maaf”
“Apakah musuh akan meminta maaf?”
“Iya jika dia sadar akan kesalahannya”
“Menurutmu dinding es diantara kita mencair?”
“Sudah dan es itu akan menjadi air yang menyejukan”

Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Blog / Facebook: lovinpluie

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Dinding Es Mencair merupakan cerita pendek karangan Shofa Nur Annisa Deas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Kinanti Tiara Dewi

Aku duduk terdiam mencari ketenangan, dalam gang kecil yang memanjang ini banyak kehidupan hitam yang ku temui, aku tidak merasa takut, meski disekelilingku bertebaran manusia-manusia yang jauh dari Tuhan.




Oleh: Ningrum Wulansari Heriyono

Orang bilang hidup itu singkat sekali, hari ini sedih esoknya bahagia. Hari ini bangga esoknya kecewa. Sudahlah, ini sudah naskah kehidupan. Jalani saja dengan ikhlas. Aku adalah salah satu




Oleh: Christy A Sitorus

Sudah tiga tahun berlalu… Kejadian yang terjadi ketika David masih duduk di kelas dua SMA, sementara sekarang dia sudah menjadi seorang mahasiswa semester enam perkuliahannya. Hari ini, tepat tanggal




Oleh: Ruri Alifia R

“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”




Oleh: Alvaro

Bagi orang-orang Menunggu memang adalah hal yang membosankan, tapi bagi satria yang asli minang ini menunggu suatu hal yang biasa bagi dirinya sebab yang di tunggu oleh dirinya adalah



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: