8 tahun cerpenmu

Cerpen Egois

Spread the love

Cerpen Egois





Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 20 May 2022

Rima memijat pelipisnya berulang kali. Rasa pusing mendera sebelum pertengkaran itu terjadi, kini semakin menjadi karena sebelum berangkat ke kantor telah terjadi pertengkaran antara Rima dan suaminya, Rahman.

“Astagfirullohal’adziim…” Gumam Rima pelan sambil mengelus dada.
Seperti biasa jika terjadi pertengkaran antara ia dan Rahman, Rima akan menjadi si patuh. Istri yang iya-iya saja meskipun suaminya yang melakukan kesalahan.

Rima yang dulu selalu pandai berdebat, tak ubah menjadi kucing imut penurut jika di depan suaminya.
Memang harusnya begitu bukan? Rima selalu mengalah pada suaminya yang selalu meledak-ledak kalau sudah marah.

Rani, sahabatnya dari SMA menebak apa yang tengah terjadi pada rekan kerjanya satu divisi.
“Kenapa? Bertengkar lagi sama Rahman?”
Rani meletakkan tasnya ke meja paling pojok. Kemudian menunduk untuk menyalakan komputernya.
Tanpa ada jawaban dari sahabatnya, Rani mendengus. Sudah jadi hal biasa akhir-akhir ini karena Rima selalu curhat apa pun yang terjadi pada dirinya. Dan masalah pertengkaran dengan suaminya selalu menjadi topik utama.

Rima mulai terisak di mejanya. Teh manis yang ia minta OB untuk buatkan, kini sudah tak panas lagi. Mulai dingin, sedingin hati Rima yang sudah lelah dengan sifat suaminya.

Rima si sabar dan Rahman si pemarah. Ah sangat cocok kalau merujuk pada sesuatu yang berpasang-pasangan. Seperti siang dan malam. Bumi dan langit. Bulan dan bintang. Air dan api. Nah lebih tepat pasangan terakhir lah yang sangat pantas untuk Rima dan Rahman. Rahman si api dan Rima si air. Ibaratnya Rima adalah penenang dikala Rahman sedang meluapkan amarah. Namun bagaimana api begitu lihai menyambar semua yang ada, nyatanya Air yang hanya sedikit sudah tak mampu untuk memadamkan api itu. Begitulah Rima, dirinya tak sekuat itu ternyata. Dia lelah dengan Rahman yang sudah keterlaluan.

Rani mengusap punggung sahabatnya dengan lembut. Dia tak bertanya, Rani membiarkan Rima untuk menghilangkan segala sesak di dada. Air mata menderas kala semakin lama usapan itu membuat Rima semakin tersayat. Seorang Rani, sahabatnya, selalu bisa membuat Rima tenang. Berbeda dengan Rahman. Dia suaminya, orang yang dianggap sebagai pelindung, pembimbing dan pengayom istri, namun nyatanya tidak.

Mengapa orang lain bisa tapi belahan jiwanya sendiri malah menyakitinya.

Rima menata hati agar air matanya tidak terus-terusan keluar dari matanya. Namun sulit untuk melupakan kejadian tadi pagi hingga membuat hatinya terluka.
Selama ini ia sabar, namun ternyata dia tak sekuat itu.

Rima menyiapkan air panas setiap sore untuk suaminya mandi sehabis pulang bekerja. Juga menyiapkan pakaian suaminya, setelah itu baru menyiapkan makan malam atau sekedar menghangatkan makan malam yang dibeli dari luar.

Hanya ada diam diantara mereka. Bukan hanya Rima, Rahman pun enggan untuk memulai obrolan. Hanya sesekali menatap istrinya yang tengah menyuapkan nasi sambil menunduk.
Tak tahu saja kalau saat ini, nasi yang Rima telan tak ubah seperti butiran batu kerikil yang sulit untuk ia telan. Rasa sakit mencokol di hati, membuat tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu, sesak di dada ketika mengingat kembali kata-kata yang keluar dari suaminya begitu mudah terucap.

Sekuat tenaga Rima menahan air matanya agar tak meluncur bebas di kedua pipi, juga agar tak ada isak tangis yang membuat keadaan semakin menyakitkan.

Rumah yang cukup luas, kalau penghuninya sedang tidak baik-baik hatinya akan sangat sunyi dan sepi. Terlebih itu hati sang istri. Seperti rumah ini sekarang. Istri atau seorang ibu adalah ruh di dalam rumah, jika mereka hatinya sedang sakit maka hilanglah kecerian dan kehangatan rumah itu. Hanya ada kehampaan yang melanda para penghuni lain.

Rima sedang duduk di kursi ruangan TV. Ia menatap kosong. Namun pikirannya sudah kemana-mana. Satu tetes air mata mulai jatuh di pipinya.
Rahman yang datang dari arah kamar melihat sang istri diam dan dingin. Ia meraup oksigen banyak-banyak kemudian menghembuskannya perlahan.
Langkahnya ragu menuju sang istri. Ketika sadar sang suami telah duduk di sampingnya, Rima memalingkan muka. Hatinya semakin sakit kala kejadian tadi pagi teringat lagi.

Perlahan Rahman mengikis jarak. Ia mendekap bahu istrinya lembut, tapi Rima langsung menepisnya begitu saja. Lagi-lagi Rahman menghela nasaf berat.
“Maaf ya, Mi, soal tadi pagi,” ucap Rahman lirih sambil meraih bahu istrinya kembali. Namun lagi-lagi Rima menepisnya.
Maaf. Adalah satu kata yang sering Rahman ucapkan namun sama sekali tak membuat dirinya sadar akan setiap kesalahannya. Selalu terulang hingga membuat Rima begitu jengah.

Rima mulai terisak. Bahunya berguncang namun Rahman tidak bisa berbuat apa-apa. Istrinya benar-benar marah. Bahkan sakit hatinya sudah naik ke level paling atas.

“Maaf sekali lagi Mi. Abi emang salah tadi pagi. Abi—“
Seketika Rima menoleh. Melihat wajah memelas suaminya yang tak benar-benar menyesal.
“Bosen aku Bi sama maaf kamu. Dari dulu sampe sekarang kayak nggak nyesel, yah. Kamu nyadar nggak sih? Berulang kali kamu minta maaf, berulang kali juga kamu melakukan kesalahan yang sama.”
Rima memalingkan muka tak kuasa menahan tangis.

“Kurang sabar apa aku, Bi? Kurang sabar apa?” Rima mulai meninggi. “Aku selalu izinin kamu buat ngumpul sama temenmu sampe malam. Aku selalu biarin kamu buat main game seharian. Aku juga nggak pernah nuntut apa-apa, minta ke kamu barang-barang mahal. Nggak pernah, Bi.”
Rima tak kuasa menahan tangis. Dadanya naik turun, nafasnya tersenggal. Tak menyangka jika malam ini ia menumpahkan segala unek-uneknya yang selama ini terpendam.

“Kamu harus tau, disaat kamu ada masalah di kantor yang selalu bikin kamu jengkel, aku loh yang selalu kena getahnya. Kamu marah-marah sama aku padahal aku nggak salah apa-apa.” Beritahu Rima pada suaminya yang menunduk sambil menatap kosong.

“Dan hal yang selalu bikin aku sakit hati sampe sekarang, ketika kamu selalu mengungkit uang gajimu seolah kamu nggak ikhlas nafkahin aku. Aku kewajibanmu, Bi. Selama ini aku selalu tahan emosi ketika kalimat itu lagi yang kamu ucapkan.”

“Sakit mas hati aku, asal kamu tahu.” Rima menekan dadanya sekuat tenaga. Sesak sekali. Akhirnya segala amarah yang sudah lama tertanam di dada kini seperti hilang entah kemana. Rasanya plong ketika ia mengungkapkan segala sakit hatinya selama ini.

“Aku punya solusi.” Putus Rima setelah ia menguras air matanya habis. Ia mulai tenang meskipun sakit itu masih ada.
“Kalau kamu tidak mau menafkahiku tidak apa, Bi. Aku bisa cari uang sendiri.”
Terlanjur sakit hati sekaligus memberi sedikit sentilan terhadap suaminya, akhirnya Rima memutuskan itu sendiri.

Rima bangkit meninggalkan suaminya yang masih diam menatap kosong langit-langit rumahnya. Ia meraup wajahnya frustasi. Suara pintu dibanting keras menunjukkan bahwa Rima sudah benar-benar lelah.

Di kamar yang sudah mati lampunya, hanya ada cahaya rembulan dari luar sana. Mendukung kondisi Rima yang kini tengah meringkuk di atas kasur empuk. Rima menangis meraung-raung. Ucapan Rahman soal gaji menyentil hatinya hingga sakit sekali. Rima menangis terisak di malam yang dingin.

Hingga suara tangis itu mencipta rasa lelah tak berkesudahan mengundang rasa kantuk datang menyergap. Rima terbawa ke alam bawah sadar membawa kesedihan yang selama ini ia rasakan.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
ig: @ipeeh.h

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 20 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Egois merupakan cerita pendek karangan Latifah Nurul Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Maria Puspitasari

Ku ulurkan kakiku untuk menekan tombol “off” pada kipas angin yang berputar sepanjang malam. Tanpa melirik, tanpa menyalakan lampu, hanya meraba-raba dengan ujung jempol kakiku, lalu “Tak!” angin perlahan




Oleh: Ainun Najib Azzuhry

Yang menjerit di bawah kakimu -aku adalah kanak yang pernah singgah di rahimmu. Aku tahu kau adalah wanita yang cantik, bermata bulat, berhidung mancung, bibirmu bak rekah bebungaan di




Oleh: Sabri Hamda

“Maaf, Mas, belum Ada lowongan. Coba lain kali, ya.” Tubuhku kembali lemas, mendengar jawaban dari petugas keamanan yang berjaga di sebuah perusahaan swasta. Entah kenapa, matahari tampak lebih garang




Oleh: Aprian Jayadi

Tengelamnya senja. Cengkram sunyi malam datang menghantam di tengah hutan rimba. Memekik seketika, binatang anjing bersahut-sahutan bergeming berganti kawin. Nada katak, jangkrik dan cicak serentak menyambung irama. Hampir setiap




Oleh: Echae E.S

“Bisakah kau mengerti?”katamu diantara ombak yang berdebur. Aku tak menjawab.Mataku malah sibuk mengamati ombak yang berkejaran.Sesekali airnya menjilati kakiku.Meninggalkan buih-buih di ujung jariku. “Ini akan sulit untukmu juga untukku!Jadi



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: