8 tahun cerpenmu

Cerpen Firaun Kaum Millenial dan Kaum Purbakala

Spread the love

Cerpen Firaun Kaum Millenial dan Kaum Purbakala





Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Kategori: Cerpen Islami (Religi)

Lolos moderasi pada: 21 June 2022

Allah Swt., berfirman di dalam Qs. Al-Furqan ayat 4, “Al-Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dibantu oleh kaum yang lain…”

“Muhammad bukan hanya seorang pendusta dan plagiator ajaran-ajaran yang dibawa oleh Musa dan Tuhan Yesus. Dengan kitab hasil modifikasinya, yang kemudian ia namakan Al-Quran itu, Muhammad juga seorang nabi yang memiliki kelainan seksual. Masa anak-anak yang berusia 9 tahun dijadikan istrinya? Aisyah, putri dari kroninya yang paling dekat yang oleh Tuhannya diberi gelar Ash-Shiddiq itu, ketika menikah dengan Nabi Palsu itu usianya tak lebih dari 9 tahun. Apa ndak ada perempuan lain yang usianya sudah pantas menikah kok malah menikah dengan anak-anak bau kencur? Cuih! Selain di samping sebagai plagiator dan pendusta, Muhammad juga seorang tukang ngarang-ngarang cerita yang kemudian disusupkannya ke dalam kitab karangannya sendiri. Contohnya kisah tentang Ashabul Kahfi. Ashabul Kahfi itu sama sekali tidak ada. Surat itu adalah sebuah dongeng. Kalau memang Ashabul Kahfi itu Kalamullah, berarti Allahnya Muhammad jauh lebih bohong lagi. Nabinya pembohong kecil, Tuhannya pembohong besar!” demikian kata Firaun yang saat itu tengah berdiri di atas mimbar di hadapan umatnya yang merasa senang dengan pidato patriot yang dilontarkan oleh pemimpinnya.

“Tidak berhenti di situ, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, selain menikah dengan anak-anak bau kencur, Muhammad juga menikahi perempuan yang jumlahnya lebih dari empat. Banyak selirnya dia! Berarti Muhammad melanggar sendiri Al-Quran hasil tulisan tangannya dong? Dan semuanya ditiduri. Aisyah, yang masih ingusan ditiduri. Zainab dikeloni. Sudah jelas kalau Muhammad mengidap hipersex akut. Nabi macam apa dia?! Kadrun!”

Para jamaah Firaun yang menyimak pidato kepatriotan pemimpinnya itu terkekeh sampai-sampai ada yang tertawa sampai terkencing-kencing. Bahkan ada yang sampai berdiri sambil tertawa seperti menonton seekor lutung sedang naik sepeda motor. Nada hujatan berubah menjadi nada humor. Ruangan ibadah itu dalam seketika menjadi panggung sirkus yang mempertontonkan kelucuan-kelucuan yang sebenarnya aksi saling menghujat, caci-mencaci, maki-memaki.

“Puji Tuhan, Tuhan telah mengangkat saya sebagai salah seorang utusanNya di dalam memberitakan kebenaran yang tidak bisa dibantahkan oleh kitab-kitab karangan para Kadrun itu. Meski saya terlambat dalam menerima kebenaran akan firman Tuhan, namun saya sangat bersyukur telah bertaubat sebelum Tuhan membawa saya ke dalam kerajaan sorgawiNya. Sebab sebelumnya, saya memang terlahir dari rahim seorang Ibu yang begitu taat menjalankan perintah Tuhan bernama Allah Swt., dan ajaran sunnah Nabi Kadrun, Muhammad si Idiot itu. Namun Puji Tuhan, Tuhan memberikan cahaya hidayahNya sehingga saya dapat berdiri di hadapan para Bapak dan Ibu dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan.”

Lalu, Firaun yang kini telah terlahir kembali dalam bentuk manusia alim—atau lebih tepatnya pria paro baya itu merupakan hasil reinkarnasi Iblis, mengisahkan tentang perjalanan spritualnya dalam menemukan kebenaran firman Tuhan yang membuatnya terpesona lalu memeluk agama barunya.

Ia memulai kisahnya dengan menceritakan diangkatnya seorang keturunan Bani Hasyim bernama Muhammad menjadi seorang Nabi dan Rasul. Katanya, dengan mata berapi-api dan hati penuh dengan kobaran nafsu, Bani Hasyim adalah salah satu keturunan Nabi Ibrahim yang begitu taat menjalankan ajaran agama Pagannya, yang dulu dibawa oleh Abraham. Namun setelah berabad-abad ditinggalkan oleh Ismael, agama Pagan itu dicampur dengan ajaran agama lainnya. Saat itu pemeluk agama Pagan tidak menyembah Tuhan, Allah melainkan menyembah berhala. Allah adalah nama lain dari nama Tuhan kaum Quraisy yang ada di Mekkah sana.

“Allah yang dimaksud oleh orang-orang Qurays tidak sama dengan Allah yang disebut di dalam Al-Kitab. Allah berakar dari kata Al-Illah, yang berarti ‘Yang Disembah.” Maksud dari kata Yang Disembah adalah sebutan bagi Tuhan-Tuhan mereka. Misalnya, Tuhan Latta, Tuhan Uzza, Tuhan Hubbal, dan Tuhan Mannat. Kadang orang-orang Mekkah sering menyebut ‘demi Allah’ namun yang dimaksud sama sekali bukan Allah yang kita sembah. Bukan. Akan tetapi nama berhala. Mereka berhaji dan umrah di sebuah bangunan kotak terbuat dari batu yang mereka sebut Ka’bah, bukan berhaji kepada Allah melainkan kepada berhala-berhala itu. Ada 360 berhala di dalam Ka’bah. Lucu. Katanya Ka’bah tembus ke Langit. Pret! Bohong! Ka’bah itu hanya terbuat dari batu kok malah tembus! Allah, Tuhannya Muhammad dan Tuhannya orang-orang Islam telah berdusta,” lanjut Firaun yang dengan penuh semangat merobek-robek asma Allah dan Rasulullah Saw.

Pendukungnya yang sama sekali tidak tahu akan asal-usul penciptaan dirinya bertepuk tangan hingga hampir saja merobohkan panggung sirkus itu. Puji-pujian kepada Tuhan menggema. Menggaung di keempat dinding hingga keluar melalui jendela. Wajah mereka begitu senang mendengar ceramah yang sangat ilmiah dan berbobot itu.

“Seperti yang kita ketahui bersama, setelah berabad-abad ditinggalkan oleh Ismael, bangsa Arab yang tidak lain adalah kaumnya Nabi Kadrun. Kenapa saya menyebutnya dengan sebutan Nabi Kadrun, karena perilaku s*ksnya seperti kadal gurun. Saya pernah diberi sebuah serbuk oleh salah seorang teman dulu yang berasal dari Kairo sana. Katanya buat malam pertama. Saya lantas bertanya, apa ini? Teman saya lantas menjawab, serbuk kadal. Fungsinya agar lebih garang ketika bercinta di atas ranjang. Oh ini ternyata yang sering dipakai oleh Nabi Kadrun, komentar saya. Nah, setelah ditinggalkan oleh nenek moyangnya, Nabi Ismael, moral bangsa Arab sangat biadab. Tidak ubahnya Nabi Kadrun. Akhlaknya Nabi Kadrun sangat amoral. Masa ada Nabi yang kata Al-Quranya, “Wainnaka la’ala khuluqin adhim,” biadabnya minta ampun. Kata Al-Qurannya, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin,” tapi malah membawa kesengsaraan terhadap manusia. Bohong ayat-ayat itu!”

Kemudian Firaun menjelaskan kepada umatnya bahwa Nabi Kadrun yang mengaku dirinya dan mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang nabi dan rasul, mengirim surat yang berisi ajakan kepada para penguasa di luar Makkah agar menerima ajaran barunya yang bernama Islam.

“Selain itu, Nabi Kadrun juga mengirim surat, Para Saudara. Yang isinya adalah ajakan agar para raja itu menerima dakwah ajaran barunya yang bernama Islam. Antara lain surat tersebut dikirim kepada raja-raja yang berkuasa di luar Makkah. Antara lain adalah Raja An-Najasy yang nama aslinya adalah Ashhamah bin Abjar. Menurut sejarah yang ditulis oleh para ulama Kadrun surat tersebut dikirimkan melalui Amr bin Umayyah Ad-Dhamri. Surat-surat berisi ajakan dakwah juga diberikan kepada Raja Al-Muaquqism yang berkuasa di Mesir, Raja Kisra Anusyirwan yang berkuasa di Persia, sekarang bernama Iran, kepada Raja Heraclius, raja Romawi yang merupakan penganut ajaran Tuhan Yesus, Al-Munzir, penguasa Bahrain, Hauzah bin Ali, penguasa Yamamah, dan raja-raja yang lain. Tidakkah Anda tahu apa maksud dan tujuan terselubung di balik Nabi Kadrun ini mengirim surat kepada para raja itu? Tidak lain dan tidak bukan ada keinginan agar Nabi Kadrun ini menjadi penguasa dunia. Dan ajaran agamanya dijadikan kedok untuk mendapatkan kekuasaan. Sungguh licik, bukan?”

Pidato selanjutnya, Firaun menjelaskan tentang kekejaman Tuhan yang bernama Allah dan utusannya yang bernama Muhammad Kadrun. Melalui ayat-ayat palsunya yang kemudian dibukukan itu, Allah menurunkan ayat-ayat berisi tentang perang. Katanya, entah sudah berapa nyawa manusia yang mati di ujung pedang nabi itu.

“Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang berisi tentang perang. Di dalam Qs. Al-Anfal ayat 9 disebutkan, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” Lalu di dalam Qs. Al-Anfal ayat 12 juga disebutkan, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” Atas seruan dari ayat-ayat tak berperikemanusiaan ini, para sahabat Nabi Kadrun banyak yang lebih memilih ikut andil dalam berjihad ketimbang hidup enak di dunia. Dengan iming-iming masuk sorga dan menjadi syahid, mereka rela meninggalkan keluarga, istri, anak-anak dan harta mereka. Memangnya sorganya siapa yang mau diberikan? Bodoh amat jadi manusia.”

Applouse panjang memenuhi ruangan ibadah yang menjelma menjadi ruang pembakaran salah satu ruang dari neraka. Namun mereka merasakannya layaknya berada di dalam surga.

“Dari perang-perang seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Tabuk dan perang-perang yang lain, sejak dari awal kenabian Nabi Kadrun, zamannya para Khalifah setan, zamannya kekhalifahan Bani Ummaiyah 1, Bani Fatimiyah, Bani Ayyubiyah, Bani Abbasyiah sampai Bani Ummaiyah, sudah berapa nyawa manusia yang melayang? Di mana letak kasih sayangnya? Kok main babat saja? Memang tidak ada jalan lain untuk berdakwah selain dengan pedang? Katanya, Nabi Kadrun adalah nabi yang penyayang seperti Tuhannya? Mana buktinya? Berbeda jauh dengan Tuhan kita yang berdakwah dengan cara yang lembut.”

Mungkin Firaun hendak menyembunyikan fakta sejarah bagaimana kaum Salibis yang pernah kalah telak dari pasukan Thariq bin Ziyad saat menaklukkan Andalusia masih menyimpan dendam terhadap kaum muslimin. Mungkin Firaun hendak menyembunyikan fakta sejarah akan dendam kaum Salibis yang pernah kalah dari pasukan Turki Utsmani. Apakah sejarah dapat disembunyikan seperti halnya rahasia ketuhanan? Tidakkah kita membayangkan bagaimana kaum Muslimin Andalusia yang ditinggalkan oleh Khalifah Abdurrahman Al-Fatih, penguasa Bani Ummaiyah 2, disiksa, dibakar hidup-hidup, diperkosa, dan dipenggal apabila tidak meninggalkan agama haqqnya? Apakah tindakan keji itu adalah perbuatan kasih sayang?

Aku mengenal betul siapa Firaun yang kini tengah berdiri dengan kemegahan dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Firaun itu. Dengan gelar barunya sebagai Firaun, ia mengatakan bahwa dirinya jauh lebih pintar dan lebih pandai daripada Allah dan rasulullah. Di hadapan kaumnya ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad Al-Kadrun adalah nabi yang pandai menipu di masanya. Allah, Tuhannya Nabi Kadrun mengatakan di dalam Al-Quran bahwa Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang tidak pandai membaca dan menulis adalah sebuah kebohongan yang besar. Ia mengatakan bahwa Allah Maha Pendusta. Tuhan bernama Allah adalah Tuhan pembohong. Buktinya Nabi Muhammadlah penulis dan pengarang ayat-ayat Al-Quran. Bahasa Arabnya banyak mengadopsi bahasa Aram dan Ibrani yang dulu pernah dipakai oleh Nabi Musa dan Nabi Isa di dalam Al-Kitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dulu, Firaun adalah seorang guru agama yang sangat ambius. Ia melahap semua buku agama dan filsafat. Bahkan di perpustakaan pribadinya ia memiliki ratusan buku yang kelak digunakan untuk menghantam agama Islam, agama yang dulu pernah dipeluknya. Firaun terlahir dari rahim seorang Ibu yang menjadi guru agama di pulaunya. Ayahnya juga seorang guru mengaji yang mengajarkan Al-Quran dan Hadits Nabi di kampung halamannya. Bahkan keluarganya adalah keluarga yang sangat agamais. Mereka sangat rajin menjalankan perintah syariat. Bahkan istrinya adalah seorang seorang wanita yang aktif di organisasi Islam. Dan mertuanya adalah seorang ustadz yang sering nongol di televisi untuk memberikan kajian keislaman. Anak-anaknya pun sekarang menjadi ustadz dan ustadzah.

“Saya Firaun, adalah pendeta yang paling ditakuti oleh para kiai, ustadz dan habaib di Indonesia. Saya Firaun yang keintelektualitas saya jauh melebihi Allah dan Nabi Muhammad alias Bang Mamad alias Nabi Kadrun! Siapa yang berani melawan saya! Debat dengan saya! Dulu, ketika saya masih aktif sebagai seorang ustadz di pesantren, banyak orang Nasrani yang masuk Islam gara-gara saya. Tapi waktu itu Tuhan Yesus belum memberikan saya hidayah. Dan kini, setelah saya mendapatkan hidayah, puji Tuhan, saya sangat menyesali keislaman saya. Jadi, kalau ada orang Islam yang mau menantang saya silakan! Saya tidak takut! Bahkan kalau pun Allah dan Nabi Muhammad mendebat saya, akan saya kalahkan!” kata Firaun dengan congkaknya. Matanya berapi-api seperti Firaun ketika menantang Nabi Musa dan Nabi Harun yang diutus Allah untuk berdakwah kepadanya.

Memang sudah banyak ustadz di negeri ini yang gigit jari setelah keilmuannya dibabat habis sampai ke akar-akarnya oleh Firaun, dan banyak yang mengakui bahwa Firaun sangat cerdas seperti Karun. Firaun mewarisi sifat Namrudz, Firaun, Karun dan Hamman. Dia adalah Firaun di era millenial. Dia diutus oleh Allah sebagai perdana menterinya Dajjal. Atau dia diciptakan oleh Allah sebagai perumpamaan Firaun di masa kini untuk dijadikan pelajaran bagi umat manusia. “Nabi Musa melawan Firaun dengan tongkatnya.”

Cahaya pun melemparkan aku ke kampus di mana aku satu kelas dan satu jurusan dengan anaknya Firaun. Namanya adalah Husna. Aku mengenal Husna sebagai gadis yang shalihah. Sifatnya berbeda jauh dari ayahnya, Firaun. Ia selalu menutup auratnya dengan mengenakan jilbab dan gamis. Ketika kumandang azan merajai angkasa guna menyeru kaum muslimin untuk menyembah Tuhannya, Husna bergegas ke ke masjid kampus untuk shalat berjamaah. Aku sama sekali tidak heran kalau ada seorang mahasiswi dan anak seorang pendeta yang rajin melaksanakan perintah shalat. Bahkan Husna hafal Al-Quran 30 juz. Ia juga pandai bertilawah. Aku juga pernah mendengar dari Husna sendiri bahwa ia pernah menjuarai MTQ se-Kota dan se-Provinsi. Mungkin dulu Firaun mengajarinya bertilawah saat dirinya masih aktif sebagai ustadz di pesantren. Aku juga pernah memerhatikan bagaimana bacaan Firaun saat melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Ia sangat menguasai ilmu Tajwid. Fasih. Ia juga pakarnya bahasa Arab.

Dari perkenalan itu, aku sering sharing dengan Husna hingga berlanjut pada tingkatan hubungan anak muda, laki-laki dan perempuan. Aku jatuh cinta padanya. Hingga cinta itu membawaku ke rumahnya. Husna ingin mengenalkan aku pada ibunya, tentu juga Firaun. Aku pun memenuhi permintaannya. Saat itu, Firaun baru saja pulang dari mengisi acara seminar Ketuhanan. Entah di mana. Ia menjabat tanganku dengan erat.

“Kamu kan Islam, apakah kamu dapat menjelaskan pada saya siapa Allah?” tanya Firaun.
“Allah ada di dalam Surat Al-Ikhlas, Pak.”
“Mana ada Allah di dalam Surat Al-Ikhlas.”
“Silakan Bapak cari sendiri. Bukankah Bapak pakarnya bahasa Arab?”
Firaun mengernyitkan dahinya. Berlipat-lipat macam kain jemuran.
“Lalu, siapakah Nabi Muhammad itu?”
“Muhammad Nabi dan Muhammad Rasul ada di dalam diri kita, Pak.”
“Jangan ngaco kamu! Mana ada Muhammad Nabi dan Muhammad Rasul di dalam diri manusia?”
“Bukankah Bapak pakarnya bahasa Arab, masa tidak tahu?”
“Al-Quran yang kamu baca itu ada di mana?”
“Al-Quran yang Bapak sebut sebagai karangan Nabi Muhammad meliputi diri kita, Pak.”
“Ngawur kamu!”
“Berarti selama ini Bapak hanya sekadar membaca buku saja. Meski ribuan judul buku yang Bapak baca, Bapak tidak akan pernah menemukan Allah, Nabi Muhammad dan Al-Quran,” tukasku.
“Abi, sudahlah. Mas Azzam ke sini bukan untuk berdebat dengan Abi.”
Namun, Firaun sama sekali tidak mengindahkan putrinya.
“Siapa yang mengajarimu cahaya ini?”
“Allah melalui perantaraan malaikatNya, Jibril As. Allah Swt., berfirman di dalam Qs. Al-Haqqah ayat 40-41, “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar wahyu ( Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekalian yang beriman kepadanya.””

Saat itu melelehlah keilmuan yang selama ini dibanggakan oleh Firaun. Sia-sia semua ilmunya yang telah membabat habis Allah dan rasulNya. Ia menangis. Namun di saat yang sama, tiba-tiba ia memegang dada bagian kanannya dengan tangannya. Kedua matanya melotot. Ia menjerit kesakitan. Dan setelah itu napasnya megap-megap. Aku melihat malaikat maut tengah melayang-layang di langit-langit ruang tamu dengan membawa azab dari Tuhannya. Lalu kedua tangannya menarik paksa nyawa Firaun. Firaun memohon ampun. Di ujung kematiannya Firaun lalu membaca ayat yang pernah dibaca oleh Firaun ketika muncungnya megap-megap di Laut Merah. Namun taubatnya tidak diterima. Yang ada pada saat itu hanyalah penyesalan.[]

Ruang Hampa, Juni 2022

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Blog / Facebook: @khairulazzamelmaliky
Khairul A.El Maliky. Author 50 novel online.
Lahir 35 silam di Probolinggo. Mengkaji dan
menulis Kalamullah Qudsi. Sehari-hari
menulis dan membaca diktat ilmiah.
Anda bisa berkomunikasi dengan beliau di
bahterapustakautama[-at-]gmail.com.
untuk konsultasi ketauhidan dan keislaman atau
Psikologi.


Cerpen Firaun Kaum Millenial dan Kaum Purbakala merupakan cerita pendek karangan Khairul A.El Maliky, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Hayah

Lidah itu terus mengecap. Merasakan semua hidangan yang ada di depannya. Tak terasa, sudah satu piring mereka habiskan. 4 gadis ini melakukan kesenangan yang sebelumnya seperti mustahil dilakukan. Hanya




Oleh: Anila Imroatul Ma’rifati Sulcha

Alna, Anha dan Ridah adalah siswa SMA NEGERI 1 KARANGAN. Kelas mereka memang berbeda-beda, namun mereka bisa saling mengenal dan berteman karena masuk dalam sebuah organisasi. Di dalam organisasi




Oleh: El Mufid

Hai, namaku Fida. Elfida Alimah. Aku murid SMAN I Surakarta yang sekarang baru saja menginjak garis awal. Alias kelas X. Rincinya lagi, kelas X MIPA II. Kelas terbersih paling




Oleh: Ell_Tsam

Terkadang, kita merasa semua yang kita miliki adalah hal yang membuat kita wajib disegani. Membuat kita melayang menebarkan bibit-bibit kesombongan dalam hati. Kita tak sadar bahwa di atas langit




Oleh: Muhammad Arsyad

Sudah dua tahun, Tun ditinggal suaminya. Bukan uang dan juga rumah mewah yang diwariskan oleh suaminya, melainkan hanyalah sebuah gubuk yang dijadikan Surau oleh mendiang suaminya dan juga warga



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: