8 tahun cerpenmu

Cerpen Founa

Spread the love

Cerpen Founa





Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 7 June 2022

Teruntuk yang sedang mencari sesuatu yang hilang aku harap kau menemukannya

Founa memandang gelang yang menghiasi lengannya, gelang itu terbuat dari berbagai gabungan pernak pernik, ada yang berbentuk bola, segitiga, dan bintang. Gelang tersebut sudah lama berada di lengannya sebelum seorang teman dengan gelangnya menghilang entah kemana yang membuat founa hingga saat ini masih penasaran dan juga masih mencari keberadaan temannya lebih tepatnya temannya dengan gelang yang berpasangan dengannya. Founa dengan gelang bintangnya temannya dengan gelang bulan menggambarkan indahnya malam terutama langitnya yang terdapat bintang dan bulan yang menghiasi kegelapan dengan terangnya. Kedua gelang memiliki cerita yang sama mengenai seorang yang menemukan temannya disebuah panti asuhan dua gelang dibuat oleh dua orang yang berbeda.

Tiba di rumahnya founa langsung tertidur dikursinya hingga founa terbangun karena mendengar suara membuka matanya semuanya masih samar-samar yang perlahan menjelas founa mendapati hari masih malam founa menatap pemandangan jendela yang menunjukan daerah perumahan yang masih sepi tidak ada satupun orang atau kendaraan yang berlalu di jalan hingga founa terkejut karena suara keras terdengar lagi founa mengelilingi rumahnya untuk mencari asal suara tersebut di dapur tidak ada, di kamar mandi tidak ada, disekitar luar tidak ada tersisa satu kamar lagi yaitu kamar tidurnya founa membawa payungnya berjaga-jaga jika sesuatu akan menyerangnya, orang-orang bilang bahwa indera saat malam hari lebih tajam founa berjalan pelan menuju ke kamar di depan pintu founa meraih pintu membukanya secara perlahan membuat kamarnya kini terlihat jelas bahwa tidak ada siapa pun hanya terlihat gorden kamarnya tertiup oleh angin karena jendela kamarnya terbuka sangat lebar.

Founa menyalakan lampu kamarnya lalu segera menuju ke jendela kamarnya untuk menutup setelah selesai founa menenangkan diri dan meyakinkan diri bahwa siapa pun atau apa pun tadi itu hanya bunyi jendelanya yang tertiup oleh angin. Setelah kejadian tadi founa merasa tidak aman di kamar tidurnya membuatnya keluar dari sana lalu mengunci kamarnya dari luar founa kembali memeriksa bagian rumahnya memeriksa jika sesuatu masih ada yang terbuka dan belum terkunci hingga disaat semuanya sudah aman founa melanjutkan tidurnya lagi di ruang tamu dengan tv yang menyala.

“Mungkin kau salah dengar”
“Aku juga tidak tahu”
“Aku yakin kau salah dengar, karena kau tinggal sendiri jadi mungkin badannmu merasa sedikit paranoid” lalu orang tersebut menunjukan buku yang sedang ia baca “Maksudku lihat ini bahwa sangat jelas”

Orang tersebut terus menjelaskan namun founa tidak mendengarnya lagian untuk apa juga terlalu memercayai hal seperti psikologi itu dunia itu sangat besar dan luas tidak ada hal yang tidak mungkin layaknya seperti hal yang fantasi dan fiksi founa meyakini bahwa hal seperti itu ada hanya saja tuhan sangat baik menunjukan hal yang tidak biasa nan ajaib seperti itu hanya untuk orang yang terpilih. Founa berterimakasih kepada temannya yang sudah menjelaskan dan membantunya lalu founa berjalan pergi keluar dari kantornya menyadari bahwa hari sedang hujan terlihat orang-orang sedang berlarian mencari tempat untuk berteduh dan terdengar suara hujan yang turun membasahi daerah yang dihujaninya.

Angin yang sejuk membuat founa merasa kedinginan membuatnya kembali masuk kedalam kantornya, berjalan untuk mengambil barang-barangnya sebelum pulang aliran listrik padam membuat lampu di kantor mati lalu kemudian diikuti oleh suara gemuruh petir membuatnya terlihat seperti film horor beruntung saat ini dirinya sudah keluar dari lift kantor. Seorang atasan mengatakan bahwa karena listrik sedang padam di seluruh kota sif jadwal dicepatkan sehingga membuat semua orang pulang dengan keadaan hari masih hujan disore hari.

Founa meraih sepedanya mengayuh sepedanya sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya disore hari, sepanjang perjalan meski hari hujan founa dapat melihat dengan jelas bahwa semua Gedung menjadi gelap akibat tidak adanya cahaya dari lampu sangat jelas bahwa saat ini kota sedang diselimuti oleh kegelapan, founa berhenti didepan sebuah supermarket yang terlihat kini kacau karena orang-orang yang panik padahal kan ini tidak terlalu buruk karena hanya listrik padam bukan bencana dengan segera founa mencari lilin dan beberapa kebutuhan lainnya founa membayar semua barang dikasih lalu pergi keluar kembali mengayuh sepedanya dalam keadaan basah kuyup selama perjalanan terlihat kilatan-kilatan petir yang mengelegar diikuti oleh suara bergemuruhnya.

Founa tiba di depan rumahnya hingga dalam sekejap mata founa dengan jelas dapat melihat cahaya terang yang menyambar pohon didepan rumahnya membuat percikan api dengan segera founa segera meraih selang air lalu menyiramnya sebelum api tersebut membakar pohon membuat api menjadi padam seperti yang seharusnya.

“Ya ampun apa yang terjadi dengan pohonmu?”
“Tersambar, ada apa kesini?”
“Ibuku mengundangmu makan malam di rumahnya malam ini. Kau tahu bukan ibuku itu orangnya seperti apa” ucapnya sembari terkekeh.
“Ya aku sangat tahu dari anaknya, bilang padanya aku akan datang”
“Baik nanti aku jemput”

Founa dapat jelas melihat pria itu kembali ke rumahnya yang terletak di seberang rumahnya founa. Founa masuk ke rumahnya, beberapa saat hujan sudah berhenti namun tidak dengan suara petirnya. Kini founa sedang duduk bersama dengan seorang pasangan dengan anaknya alias tetangganya. Tetangganya adalah seorang pasangan lansia dengan anak mereka seorang pria yang seumuran dengan founa tentu saja itu salah satu alasan mengapa founa dan pria itu saling kenal. Pria itu bernama deri nama yang cukup unik pikir founa saat pertama kali mengenalnya, founa dan deri saling bertemu pertama kali saat founa baru pindah rumah di lingkungan ini beberapa tahun yang lalu selama bertahun-tahun itu founa sangat mengenal deri sebagai orang yang baik karena deri selalu saja membantunya juga sudah mengenal keluarga deri dengan baik mengingat founa yang tumbuh di panti asuhan tanpa kedua orangtuanya membuat founa merasa sayang dengan kedua orangtuanya deri dan menganggap keduanya seperti kedua orangtuanya sendiri.

Selama makan malam founa menikmatinya meski sedikit gelap mengingat listrik masih padam makan malam mereka dihiasi oleh lilin-lilin dan juga sedikit beberapa humor dan berbagai cerita. Sesaat selesai makan malam founa kembali pulang menuju ke rumahnya sendiri sebenarnya deri ingin menamaninya namun founa menolaknya karena tidak mau deri bersusah payah untuk dirinya. beberapa langkah founa mencapai kamar tidurnya suara yang pernah didengarnya terdengar lagi membuat founa dengan segera membuka pintu kamar tidurnya menemukan seorang wanita yang sedang berdiri disana founa tidak merasa takut karena founa mengenali wajah wanita itu.

“Laisa?”
Wanita itu tersenyum menatap founa “Kau masih kenal aku?”
“Tentu saja”
“Syukurlah kau masih menyimpan benda itu” tunjuknya pada gelang bercahaya yang founa kenakan.
“Bercahaya”
“Sudah kubilang bukan batu itu akan bersinar saat menemukan pasangannya”
“Dengar laisa sebelum kau pergi”
“Siapa yang mau pergi aku kesini juga karena ingin bertemu denganmu”
“Ada perlu apa?”
Laisa menghilang dengan sekejap mata membuat founa berlari karena kini mendengar suara founa dari bawah.

Sesampainya founa mendapati laisa terduduk di kursi ruang tamu. Secara logika ini adalah hal yang aneh namun founa sendiri percaya dengan sebuah keajaiban yang membuatnya tidak takut namun hanya terkejut mendapati kini orang yang dikenalinya dapat melakukan hal seperti ini. Founa duduk disebelahnya.

“Kau tahu bukan sekarang ini listrik sedang padam. Menurutmu ini adalah hal yang biasa?”
Founa mengangguk
“Tidak founa ini adalah ulah kegelapan, karena itu kau sebagai pemilik gelang maksudku batu ini aku ingin meminta tolong”
“Apakah susah?”
Laisa tertawa “Kau jangan pesimis, bukankah kau dulu adalah founa si pemberani di panti asuhan”
“Ya ampun kau masih mengingatnya”
“Sangat sudahlah mari”

Laisa berdiri lalu berjalan keluar dari rumah diikuti founa dari arah belakangnya. Saat laisa berhenti founa dapat melihat laisa meraih tangan founa dengan sekali kedipan mata kini founa berada di sebuah tempat. Laisa menjelaskan bahwa tadinya mereka berteleportasi untuk kesini tidak jauh didepan mereka sosok besar berwarna hitam sedang menghancurkan sesuatu membuat percikan-percikan. Founa cukup kaget apakah saat ini adalah sesuatu hal yang nyata atau mungkin ini adalah imajinasinya bertemu dengan teman yang disayangi menghilang bertahun-tahun dari hidupnya.

“Ini nyata bukan?”
“Ini nyata”

Sosok besar itu kini berbalik mendapati gelang founa dan laisa yang bersinar terang. Laisa meraih lengan founa untuk segera berlari menjauh. Sesaat setelah menjauh laisa mengerakan tangannya membuat sebuah cahaya dari gelangnya menghantam sosok itu. Laisa kembali berlari lagi founa juga mengikutinya, sesaat founa terjatuh sebelum sosok itu berhasil mendekatinya gelang yang berada dilengan founa bercahaya memberikan sebuah perlindungan yang mirip sebuah perisai.

“Seorang pelindung” Ujar Laisa

Mereka berdua kembali berlari menjauh, setelah menjauh laisa berhenti lalu meraih gelang yang founa pakai, laisa tersenyum menatap gelang itu lalu berkata bahwa ke founa gelang ini bertujuan untuk pelindung yang kini membuat laisa membuat sebuah rencana untuk mengalahkan sosok itu dan membuat kota kembali terang founa menyempurnakan rencana itu membuat keduanya kini bersiap untuk melawan sosok.

Founa berjalan mendekati sosok itu sosok tersebut mulai bergerak dengan cepat mendekati founa saat hampir berhasil mendekati founa gelangnya kembali mengeluarkan sebuah cahaya yang membuat sosok itu berpantul jauh kebelakang. Kini dihadapannya founa dapat melihat laisi mendekati sosok itu mengeluarkan cahaya dari gelangnya dan dari segela hantamannya sosok itu menghilang. Founa berlari kearah laisa lalu memeluknya.

“Hei tenang saja aku baik-baik saja”
“Syukurlah, omong-omong apa ini kerjaanmu setelah kau pergi menghilang”
“Sudah lama sebelum aku mengenalmu founa”
“Sosok itu sudah hilang lalu bagaimana dengan listrik kota?”
“Tentu saja kita yang memperbaikinya”
“Kau bercanda!!!”
“Tenang saja tidak susah kok”

Laisa meniupkan cahaya yang keluar dari gelangnya membuat cahaya itu berputar disekitar mereka memperbaiki semua benda yang disentuhnya. Kini terlihat lampu jalanan menyala terang diikuti oleh semua lampu lain menyala terang dimalam hari. Laisa kembali meraih lengan founa dengan sekejab mata mereka kembali ke halaman rumah founa terlihat disana ada deri yang berdiri melihat keduanya. Dengan segera laisa mengeluarkan cahaya yang menembus deri membuatnya tertidur.

“Ya ampun apakah dia akan baik-baik saja”
“Tenang saja dia akan baik-baik”
“Apakah kau akan kembali?”
“Aku tidak tahu untuk kesini juga sangat sulit”
“Ajak aku bersamamu, kau tahu bukan aku bisa membantu”
“Tidak founa kau tidak bisa duniaku itu sangat”
“Berbahaya?”
Laisa mengangguk “Selain itu kau masih ada dia” Tunjuk laisa pada deri yang sedang tertidur didepan pintu rumah founa “Buktinya saat ini dia sedang mengkhawatirkan dirimu”.
“Jadi ini sebuah perpisahan lagi?”
Laisa mengangguk
“Boleh aku percaya suatu hari nanti kita akan bertemu lagi?”
“Sangat, setidaknya kau tahu aku ada karena gelang itu”
Founa mengangguk, lalu dalam kedipan mata laisa sudah menghilang.
Sedih rasanya saat menemukan sesuatu namun kembali hilang tapi setidaknya dalam hilang ini terdapat sebuah perpisahan yang baik.

Founa berjalan menuju deri yang masih tertidur duduk sembari menemaninya. Founa menatap langit malam membuat mata founa lelah hingga terpejam.

“Kita dari mana?”
“Sebuah perjalanan”
“Apakah aku mengacaukan perjalanan itu rasanya aku tidak bisa mengingat perjalanan itu?”
“Tidak kau tidak mengacaukannya” ujar founa sembari tertawa sedikit.

Founa dan deri saat ini masih terduduk di halaman founa dimalam hari namun kini listrik sudah tidak padam lagi membuat malam kembali terang. Founa saat ini sedang menatap langit malam melihat bintang dan bulan yang saling berdekatan mengingatkan dirinya dengan Laisa semua sudah berlalu founa sudah memilih kehidupannya begitu juga dengan laisa seperti kata orang-orang hidup itu adalah sebuah tentang pilihan, pilihan yang akan membawamu ke sebuah akhir berdasarkan pilihan yang kau pilih jika kau pilih sesuatu yang baik itu akan berakhir dengan baik jika kau memilih pilihan yang buruk itu akan berakhir dengan buruk tidak ada yang tidak salah dengan itu jika hasilnya adalah sebaliknya mungkin itu bukan hasil melainkan masih sebuah proses.

“Kau masih belum tidur?”
“Belum mau”
“Ini sudah malam”
“Aku suka malam”
Deri duduk disebelah founa yang sedang menimang bayinya. “Aku ingin tidur bersama kalian”

Founa yang mendengar itu hanya menjawab dengan sebuah senyuman membuat ketiganya tertidur kursi empuk ruang tamu bersama. Kini founa sudah menemukan sesuatu yang pernah hilang. Beberapa hal yang dicari terkadang sudah terlihat jelas berada didepan namun tidak nampak, terkadang beberapa hal yang sudah ditemukan tetap harus dirahasiakan itulah yang founa yakini hingga sekarang. Selain menemukan seorang teman kini founa juga sudah menemukan keluarganya sendiri.

Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa Deas
Blog / Facebook: lovinpluie

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 7 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Founa merupakan cerita pendek karangan Shofa Nur Annisa Deas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Hastarika Purwitasari

Awalnya gelap, tapi tiba-tiba… cahaya mentari menyilaukan. Sangat menyilaukan, tapi kenapa aku tidak bisa menutup mataku? Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Tubuhku, oh tubuhku tidak bisa bergerak. Kenapa




Oleh: Diana Fitri

Hantaman bom dan suara tembakan pistol dari kompeni seakan terbiasa terdengar di telinga gadis muda yang buta bernama sekar, perawat para tentara pribumi itu, dia dengan cekatanya menemukan luka




Oleh: Tiara Ayu Mazaya

Ayana puspita lestari yang biasa dipanggil ayana adalah anak sebatang kara dari bapak surtono wedyo purtomo dan ibu nurhayati suryati. Ayana adalah anak yang berani dan pintar. Suatu hari,




Oleh: Araant Tiara

Desing kipas angin menderu kencang. Menggema hingga ke setiap sudut ruangan. Seorang gadis sedang menikmati semilir angin dari kipas angin yang menggantung di plafon kamarnya sambil merebahkan diri di




Oleh: Nurul Ripna

“Meratapi takdir sendiri tentu saja bukan hal yang dibenarkan. Namun, hanya itu yang bisa kulakukan selama ini.” Ujar Takdir. “Apa motivasimu berbuat seperti itu? Bukankah kau tak harus mati



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: