8 tahun cerpenmu

Cerpen Hati yang Berplester

Spread the love

Cerpen Hati yang Berplester





Cerpen Karangan: Chesya Atta Nafisa
Kategori: Cerpen Islami (Religi)

Lolos moderasi pada: 28 July 2022

Suatu sore pada hari terakhir kegiatan Forum Taaruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) di SMP Mugama, aku berpapasan dengan Widya siswa baru-adik kelas VII B. Anak yang punya pipi chubby dan bersuara lantang tapi wajahnya tersenyum. Agenda terakhir program Fortasi kali ini adalah kegiatan kado silang. Aku menjadi salah satu kakak kelas yang menjadi pendamping adik kelas ketika kegiatan Fortasi dilaksanakan.

Sore itu juga, selepas penutupan kegiatan Fortasi, aku mendapati Widya sedang menggerutu. Dia komplain kenapa dia cuma mendapat sekotak plester penutup luka Hansaplast. Padahal dia membawa tempat pensil sebagai kado silang.
“Hehehe, gak apa-apa, benda ini-kan berguna kalau kamu pas jatuh terus luka, ” aku mencoba menghiburnya.
“Gak mau. Ini Namanya curang. Masa aku cuma dapet plester luka. Kan gak adil”, Widya berargumen.
“Hihihi, ya sudah. Sabarin aja. Anggap saja, kali ini Allah memberi rezeki kamu berupa plester. Apapun bentuknya harus tetap bersyukur. Semua yang sudah terjadi pasti sudah izin Allah,” aku berupaya menguatkan Widya. “Anggap saja tempat pensil yang tadi kamu siapkan sebagai kado silang adalah sedekah terbaikmu kepada teman barumu,” aku menambahkan.
“Ya udah, plesternya buat mbak Atta aja deh. Itung-itung aku bersedekah buat mba Atta, hehehe, semoga benda ini bermanfaat buat mbak Atta, byeee…”, celotehnya sambal menggenggamkan sekotak plester ke tanganku ketika dia melihat bang gojek menyebut-nyebut namanya. Tanggapan Widya membuatku jadi gemes pada anak ini. Bisa-bisanya si anak ini bercanda.
“Baiklah, Terima kasih atas pemberiannya. Tetap semangat ya, sampai jumpa di pekan depan.” Aku melambaikan tangan pada Widya yang sudah duduk di jok belakang ojek online tadi.

Dengan lekat kupandangi sekotak plester itu. Rasanya mataku sulit untuk memalingkan pandangan ini dari benda itu. Plester. Ya benar, plester. Sesuatu yang beberapa saat lalu memang sangat kubutuhkan. What for? Yes, it was for holding this broken heart. Untuk merekatkan kepingan-kepingan hatiku. It had been bleeding for a while, but I just ignored it. Sudah berdarah sekian waktu, namun aku abaikan. Aku cuma bisa menangis sendiri waktu itu. Hingga rasanya air mata ini sudah kering. Tapi itu kemarin. Tapi itu dulu. Tapi semua itu sudah lewat.

But now, I’ve already been healed. Aku sudah sembuh sekarang. Luka-luka di hatiku sudah kering. Mataku sudah tidak sembab. Apakah aku memiliki hati yang baru? Apakah aku menjalani transplantasi hati? Apakah telah ada seseorang yang mendonorkan hatinya untuk kesehatan hatiku. Tapi percayalah bahwa tidak akan ada dokter yang memberikan testimoni itu.

Sejujurnya aku memang tidak melakukan pengobatan hati dengan metode modern. Hatiku yang dulu rasanya harus diplester sudah berangsur pulih karena aku mencoba menerima cinta-Nya, Cinta sang Maha Cinta. Dzat Maha Pengasih dan Maha Penyayang penggenggam seluruh makhluk dan Maha pembolak-balik hati. Selalu kudzikirkan lafadz dari Surah Al-An’am 162. Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dzikir ini kian hari memulihkan setiap lukaku, mengapus air mataku, dan menguatkan jiwaku. Terima kasih ya Allah. Engkaulah Maha penyembuh. Bukan perawatan dokter. Bukan obat-obatan. Apalagi plester.

Selamat datang hatiku yang baru. Hatiku yang insyaAllah selalu kujaga dengan selalu mengingat Sang Maha Penggenggam hati. Semoga hati ini senantiasa sehat tidak pernah membutuhkan sekedar plester lagi. Dengan selalu mengingat-Nya, aku akan ikhlas dengan setiap takdir-Nya karena tak ada satupun kejadian di muka bumi ini yang diluar rencana-Nya.

Cerpen Karangan: Chesya Atta Nafisa


Cerpen Hati yang Berplester merupakan cerita pendek karangan Chesya Atta Nafisa, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Jauza Athifah Hanun

Ami mempunyai sahabat namanya Angel, Angel adalah anak yang suka memakai baju tipis, ketat, transparan dan tidak berjilbab. Ibunya sudah menasihatinya berkali-kali, tetapi Angel tetap saja begitu. Alasannya adalah




Oleh: Muhammad Haikal

Sabtu pagi yang cerah. Di sekolah aku biasa dipanggil Vania. Semua berawal saat aku duduk di tangga sekolah bersama sahabatku yang bernama Dina. Aku cukup populer di sekolah. Sahabatku




Oleh: Anti Dwi Putri

Seorang gadis kecil tinggal di suatu kota di Negara Indonesia. Dia mempunyai satu orang kakak perempuan dan kedua orang tua. Sekarang, gadis kecil itu menginjak kelas XII di SMA




Oleh: Yuliza Rahmawati

Orang orang sekitar sering aneh melihatku berpakaian dan berjilbab lebar, berkaos kaki, dan kadang bercadar, aku selalu mempercepat langkahku ketika bertemu dengan orang-orang. Di sekolahpun aku dipandang aneh oleh




Oleh: Nurul Fidiah

Dua orang sahabat bernama risa dan rifa mereka murid dari salah satu SMA terfavorit di bandar lampung SMAN 8 Bandar Lampung. Senin pagi risa dan rifa terlambat datang ke



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: