8 tahun cerpenmu

Cerpen Hidup dan Secangkir Kopi

Spread the love

Cerpen Hidup dan Secangkir Kopi





Cerpen Karangan: Kian
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 31 May 2022

Aku sedang duduk di meja yang dekat dengan jendela, hari cerah di luar, rasanya hanya putih jika dibandingkan dengan bayangan yang meneduhi aku. Seorang pelayan dengan pakaian, yang kebetulan putih, dan dasi kupu-kupu menghampiriku, di tangannya ia membawa sebuah teko. Dengan sangat sopan pelayan berbicara.
“Apa anda mau menukarkan kehidupan dengan kopi seteko ini?”
Hm, aku sebenarnya sedang ingin minum kopi, tapi apakah setimpal seteko kopi dengan seluruh kehidupan.

Kutanya ulang “Berapa harganya tadi?”
“seluruh hidupmu, tuan” ia menjawab.
“Waduh, mahal sekali,” protesku. “Baiklah, tuangkan dahulu kopi itu ke dalam cangkir.” Aku menggeser sebuah cangkir berwarna putih. Dan ia mengangkat teko itu sebisa tangannya menjangkau, kopi hitam lalu mengalir jatuh ke cangkir. Seperti sebuah air terjun mini, tetapi ini hitam karena kopi. Uap-uap membumbung ke sekitar cangkir. Sudah seperti Kawah Ijen saja, pikirku. Dan aku terus memerhatikan kopi yang terus mengalir jatuh ke cangkir, terus mengalir, dan terus mengalir.

Sejam kemudian kopi itu tetap mengalir. Kopi hitam terus jatuh dari mulut teko, lurus tak terusik, alirnya tetap kekal begitu-begitu saja. kuperhatikan sudah seperti membeku dalam waktu aliran kopi yang jatuh itu, sebab rupa alirnya yang tetap sama. Namun, kopi itu tentu bukanlah beku, melainkan tetap panas, terbukti dari mega-mega uap yang sudah membumbung tinggi setengah aliran kopi itu, bergulung-gulung seperti cumulonimbus.

Sudah dua jam, aku tetap diam memerhatikan aliran kopi itu yang tetap mengalir, semut-semut mulai berbaris mengeriap membelah bagian kecil dari kotak-kotak gula di mejaku, lalu membawanya di punggung mereka. Namun, aku tak memedulikan semut itu, terlalu sibuk melihat cairan kopi itu jatuh secara kontinu ke cangkir.

Sudah dua jam dan kopi ini belum habis, aku mulai berpikir kopi ini sepadan dengan seluruh kehidupanku. Mungkin saja kopi yang ada di teko itu masih banyak, ah tentu masih banyak, sudah dua jam dan kopi ini masih mengalir dari teko itu. Mungkin saja kopi itu akan terus mengalir sepuluh jam kemudian, hingga meruah keluar cangkir, membasahi taplak meja itu dan jatuh ke lantai, kemudian memenuhi permukaan lantai dan meninggi 5 cm dari lantai, tetapi itu baru permulaan, mungkin saja selanjutnya ia terus menuang kopi itu agar menyentuh awang-awang kafe, lalu kopi itu meluber ke luar, ke jalanan, lalu membanjiri daratan dan menyentuh lautan, mungkin akhirnya ia dapat menggeser keberadaan lautan dan samudra, lalu akhirnya menggenangi bumi dan menyentuh awang-awang semesta. Dan uapnya, uapnya mungkin juga menjadi awan sungguhan, atau malahan setelah sekian juta tahun kopi itu tetap mengalir, uapnya berubah menjadi awan nebula di semesta itu. Khayalanku terus mengalir seiras dengan aliran hitam kopi itu.

Tiga jam kemudian, kopi hitam itu mengalir dari corong teko. Tetap mataku meneliti dekat-dekat aliran hitam itu. Uap kopi itu sudah membumbung meruah ke sekitar, tipis-tipis menyungkup pandanganku. Aku semakin terpukau. Sepertinya kopi ini memang mengalir abadi, pikirku tepat sebelum aliran itu berubah, tak kekal seperti sebelumnya. Aliran itu menipis, sekejap hilang menjadi tiga titik cairan yang jatuh ke cangkir, mengakhiri aliran kopi itu. Ah, sial padahal baru saja aku kira aliran kopi itu akan berlangsung selamanya. Aku rasa keabadian memanglah hanya antara awal dan akhir, hanya ketidakmampuan manusia untuk menyingkap akhir dari suatu peristiwa.

Uap-uap yang mengerumuni cangkir mulai membubarkan diri, menyingkap cangkir yang baru tiga perempat terisi. Bodohnya aku berpikiran demikian tadi. Manusia memang mudah terlena.

“Saya tak jadi memesan, maaf. Bawa saja kopi ini dengan cangkirnya ke belakang.”
Pelayan itu dengan takzim undur diri, dengan tekonya dan cangkir kopi yang tiga perempat terisi.

Aku lalu menengok jam di tanganku. Sial, aku terlalu banyak membuang waktu, tak terasa sudah waktunya aku mati. Di luar, dengan peti matinya malaikat ajal sudah mengetuk kaca jendela di hadapan mejaku, memanggilku untuk keluar. Aku merapikan tasku, lalu bergegas ke luar menghampirinya.

“Apa di dalam bisa setel musik jazz?”

Cerpen Karangan: Kian

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Hidup dan Secangkir Kopi merupakan cerita pendek karangan Kian, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Derisma Paulina

Aku berlari darinya yang mengejarku sekarang ini. Pedangnya yang mengkilat ditimpa cahaya bulan purnama menimbulkan suara bergesekan dengan lantai karena diseret oleh pemiliknya, membuat jantungku berdetak dengan sangat kencang.




Oleh: Sabila Salwa Putri Wahyuhadi

Hai, namaku Fransisco Amelia Putri. Aku hanyalah seorang anak SD yang masih berumur 9 tahun. Ya kalian tahulah aku ini kelas berapa. Aku kelas 4 SD. Apa yang kalian




Oleh: Azza Nandini Aulia

Tiba di ruang BK. “Ibu?” Bukan. Ibu yang kusebut bukan Ibu Siti, tapi ibuku. Entah apa yang beliau lakukan di sini. Ibu hanya menoleh lalu tersenyum tipis. “Jill, ibumu




Oleh: Daffa Amadeus Fitzena

Di hari yang cerah di suatu desa terdapat orang yang bernama Yunero, dia adalah anggota terakhir dari klannya, dulu semua klannya dibunuh dan desanya dibakar, kecuali ia dan ibunya




Oleh: Ade Supriyadi

Sore itu dengan berteman hujan dan petir. Adi pulang dengan hati hancur. Ia berteriak sejadi-jadinya, baginya dunia sudah kiamat. Mengingat bagaimana kejamnya, wanita yang sangat ia sayangi telah menduakan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: