8 tahun cerpenmu

Cerpen Karam (Part 1)

Spread the love

Cerpen Karam (Part 1)





Cerpen Karangan: Nisca Marsandi
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan

Lolos moderasi pada: 21 June 2022

Dalam gelap, dan deras hujan perahu lusuh terombang ambing mendekati dermaga.
Dengan gagah berani perkasa mereka nampak bekerja sama menaklukkan badai yang pekat. Menarik sauh dan jangkar untuk bisa memarkirkan kapal mereka di dermaga ini.
Dari dalam gubuk warung tampak mereka kesusahan.
Aku tak bergerak banyak, waktuku tidak banyak dan aku juga bukan orang yang kuat untuk membantu mereka

“hei, dan” yoan menegurku, tubuhnya masih basah kuyup terkena badai, dan ia nampak tak peduli dengan pemilik warung yang nampak tak suka dengan kehadiran yoan.
“hei yoan” jawabku
“kau punya sesuatu untuk ku?” katanya sambil acuh menaruh perangkatnya di atas meja yang nampak kebasahan oleh tingkahnya
“kau yang punya sesuatu untukku yoan”
“siapa gadis itu?”
“ini merry, kenalkan”
“dia teman wanitamu?”
“maksudmu?”
“dia pacarmu”
Merry, nampak berdebar menunggu jawabanku
Aku tak menjawab.
“paman, pesan segelas kopi dan bawakan aku cemilan”
“sebaiknya kau membersihkan dirimu dulu” kataku
“Tak perlu kawan”

“Hei dan!” Seseorang memanggilku lalu duduk disamping yoan lalu disambut teman temannya,
Mereka adalah kru dari yoan dan yoan sendiri adalah kapten dari perahu yang mereka tumpangi, abk kata jelasnya.
“hei teman teman” aku menaruh jariku memainkan koin diatas meja
Mereka berjumlah 7 orang, ditambah yoan berarti 8 orang,
Nama mereka, yang aku tahu hanya dio bersaudara, cery, mivo dan galeeh. Dua lainnya aku tak begitu paham, yang setahuku mereka semua adalah keluarga pelaut.

Yoan dan dio bersaudara kembar adalah satu ayah beda ibu, ayah adalah yah mereka dulu adalah ayahku, namun meninggal di laut ketika melawan kapal lain, tak jelas kapal apa yang dilawan oleh ayah yoan bersaudara dan ayahku kala itu.
Sebelum meninggal, ayah yoan sempat bilang ke ayahku jika ia hanya ingin membesarkan yoan dan adik adiknya dengan sederhana sebagai pelaut, walaupun ayahnya tak ingin mengikuti jejaknya. Namun apa dikata, maut berkata lain

Lilin dalam gelas penerang nampak terombang ambing oleh badai yang kencang,
Hujan kadang menetes di beberapa atap pohon rumbai yang melindungi kami.
Pemilik toko berlalu lalang mengantarkan pesanan, dan banyak juga pelaut yang sedang menunggu berhentinya badai.
Sedangkan aku dan marry hendak pergi ke suatu tempat dengan kapal yoan, namun melihat mereka sedang merapat di dermaga aku mengurungkan niatku, aku tunda sementara.

Kopi dan pesanan yoan datang, lalu anak buahnya berebutan memesan minum.
“ada apa kau datang kemari? Bersama seorang gadis pula” yoan memulai pembicaraan
“aku mau ke benoa” jawabku
“hendak mencari apa kau kesana” tanya yoan memebri perhatian khusus
Aku mengangkat koin yang aku mainkan dari tadi
“aku tahu maksudmu dan, namun kenapa kau membawa gadis manis itu bersamamu?”
Yoan menatap merry sambil tersenyum, merry hanya tersipu malu
“ada urusan yang perlu diselesaikan yoan”
Ia mengangguk tanda setuju,
“kudengar di benoa kapal kapal dihancurkan oleh sesuatu yang tak terlihat” dio bersaudara menimpali
Merry menciut
“aku dengar seorang pendeta juga pernah celaka saat mendekati benoa, tanda setan tinggal disana” mivo ikut nimbrung.
Cery yang biasanya tak banyak omong dan lebih bijak diantara mereka ikut menimpali
“kudengar juga begitu, dan kata orang pendeta itu nampak berubah keyakinannya saat mendekati pulau tersebut, kau akan berurusan dengan hal yang tak kau mengerti dan”
“sebaiknya kau urungkan niatmu dan” kata yoan
“hey, aku hanya meminta kalian untuk mengantarku”

Aku sendiri paham betul, yoan adalah pemberani, namun ketika mendengar kata benoa ia nampak menunjukkan bahwa itu bukan hal yang bisa ia taklukkan dengan mudah

“kau tak bisa yoan?”
“tentu saja aku bisa” jawabnya tertantang
“tapi kau akan mengemudikan perahumu sendirian yoan” kata dio kecil
“kami ada urusan keluarga” dio besar mimenimpal seolah melarikan diri
“aku ikut” kata cery menimpal
Aku melihat mivo, ia hanya mengangguk tanda setuju
Lalu 2 orang anak abk yang tidak aku kenal, yang nampaknya mereka anak baru seoalah tak mendengarkan kami.
Galeeh yang biasanya banyak omong dan berkelakar sedang lahap tak memperhatikan kami.
Lalu sambil masih banyak makanan di mulutnya ia bilang
“Aku ikut, tak ada yang memasak kan untuk kalian jika aku tak ikut”
“keputusan di tanganmu yoan”
Yoan mengangguk lalu mengambil koin yang aku pegang

“ini perak maria, dimanakah kau temukan benda ini?”
“gadis ini pemiliknya”
Joan mendelik, tak percaya
“perak maria ini adalah barang terkutuk, tak seorang pun yang boleh memilikinya, kecuali oleh perompak besar dan pencuri, atau setan itu sendiri”
Merry nampak memerah mukanya
Ia menjawab,
“Itu milik nenekku, dan ibuku, lalu diberikan kepadaku”
“jadi legenda itu benar, perak maria itu ada” kata mivo
“dan legenda mengatakan, bahwa kehancuran akan melanda seseorang yang memilikinya sekaligus memberikan kekuatan besar” kata dio kecil
Kulihat sekilas nampak yoan tertantang, ia memang petualang sejati, apapun yang berutusan dengan rasa takut akan ia hadapi hidup hidup.
Itu lah kapten mereka. Yoan

“baikah jadi, kita akan berangkat nanti malam” kata yoan sambil menggebrok meja lalu berdiri
Mengganggu galeeh yang sedang makan
“gila kau, aku tak bisa ikut,” dio kecil memandang dion besar
Dio besar mengalihkan perhatian seolah tak menderngar
“jangan lupakan pakaian tidur lengkapmu nona, di kapal kami tidak memiliki sofa yang empuk” kata yoan sambil meninggalkan kami
Disusul dio bersaudara, dan mivo, lalu galeeh pergi tinggal cery sang pendiam yang bijak dan 2 orang abk baru yang nampak celingukan melihat kami.
2 orang abk itu nampak berkulit asia, kuning dan matanya sipit, wajahnya kusam bertopi bulat mengerucut diatasnya.
Kutaksir mereka adalah orang china.

“dan, kau tak perlu kesana” cery memulai pembicaraan
“kenapa?”
“2 orang pendeta hampir bunuh diri setelah kesana, kudengar orang disana sangat berbahaya, entah mereka itu manusia atau iblis mereka akan menyiksamu sampai kau hilang kesadaran. bahkan orang berkeyakinan seperti pendeta sekalipun kabarnya mereka bunuh diri tak kuat dengan apa yang mereka rasakan disana”
Ia mulai mempercayai hal gaib
Aku menghel nafas panjang
“urungkan niatmu dan, disana kau tak menemukan apapun selain bencana”
“aku mencari ibuku” kata merry memberanikan diri berbicara dengan kami
“ibumu disana?” tanya cery
“aku tidak yakin namun aku akan mencarinya disana”
“hubungannya apa ibumu dengan koin maria itu?” si abk baru itu menimbrung pembicaraan
Merry tak menjawab nampaknya ia ragu mengutarakannya
Aku juga hanya diam.

“koin perak maria itu simbol kutukan bagi kaun seperti kita manusia, namun untuk kaum manusia bringas dan keji koin maria itu simbol kekuatan dan keabadian” jelas cery
“bisa dipastikan jika ibu merry disana dibawa karena koin itu, dia mungkin sedang dipaksa kesana untuk menunjukkan di mana koin itu berada”
Abk china itu mengangguk.
“sekali lagi, jangan kesana dan” cery menasehatiku lalu ia pergi meninggal kan warung kopi dengan berlari dibawah air hujan

Tinggal kami berempat, karena hari masih hujan kuputuskan untuk pergi ke rumah dengan mengajak mary
Kutinggalkan beberapa koin, lalu aku pergi meninggalkan dua abk yang baru saja bekerja dengan yoan entah mereka siapa.

Dalam hujan, kubuka pintu rumah ku, teras rumahku nampak berantakan terkena hujan dan basah.
Kursi kayu yang aku taruh di teras bsaah kuyup.
Hamparan padang rumput dengan pantai di sebelahnya nampak kebasahan semua.
Aku dan mary memasuki rumah, lalu aku menyalakan lilin.
“disini aku tak punya pakaian untukmu merry”
Merry yang kebasahan karena perjalanan pulang kami dari toko nampak kikuk berdiri di dekat pintu
“duduklah dan akan kuambilkan kau pakaianku”
Mary mengangguk
Dia duduk diatas sofa,

“ini pakailah”, aku memberikan merry celana panjang dan kemekeja biru untuk merry
Dia memakainya dan nampak seperti kebesaran, karena memang itu adalah bajuku.

“jadi kita akan memulai perjalanan nanti malam” kataku sambil duduk di kursi sedangkan dia di sofa tempat biasa aku membaringkan tubuh.
“kau bisa beristirahat sebentar, jika kau ingin tidur kau bisa tisur disana”, aku menuding kamarku
Ia menggeleng.
“baik jadi kau sudah aku antarkan kepada kawanku, jadi apa rencanamu kesana?” Tanyaku kepada merry
Merry mulai menceritakan sesuatu.

Cerpen Karangan: Nisca Marsandi


Cerpen Karam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Nisca Marsandi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ananda Syahendar

Tahun 2356, perjalanan waktu sudah merupakan hal biasa, begitu pula dengan perusahaan-perusahaan. Mereka mengembangkan banyak mesin waktu yang canggih. Sandi La Ode adalah seorang gangster asal kota Depok Raya.




Oleh: Arifin

Suasana menjadi genting. Semua terpaku melihat bunga labrogo (sejenis bunga anggrek tetapi hidup di darat dan berukuran besar). Satu per satu helaian bunga labrogo itu menjuntai keluar, sedikit demi




Oleh: Manescha Priyangka

Di sekolah Merli ada anak baru, lalu Merli menceritakan hal itu pada kakaknya. Topik yang sama Merli ungkapkan lagi di sekolah bersama dengan teman-temannya, semacam gunjingan ibu-ibu arisan. “hari




Oleh: Stansie

Amelia sedang terduduk di teras rumahnya. Dia menatap langit. Seperti orang bodoh saja. Padahal berapa lama pun dia melihat, langit itu akan tetap sama, berwarna biru dan ditutupi oleh




Oleh: Ariel Kristant

Suara yang tak asing terdengar memanggil. Dan benar, ica sudah berada di depan pagar dan memanggilku. Aku tinggalkan “Kamu sedang bersama siapa?” itulah kalimat pertamanya yang aku dengar. Sepertinya



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: