8 tahun cerpenmu

Cerpen Kekasihku, Natsani Annatan

Spread the love

Cerpen Kekasihku, Natsani Annatan





Cerpen Karangan: Yolanda Tania
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis

Lolos moderasi pada: 20 May 2022

Drettt…
Ponsel yang sedari tadi aku biarkan, kini menampilkan notifikasi pesan WhatsApp. Moodku hari ini kurang baik, aku menghabiskan waktu hanya berkutik di kamar, entah itu main game atau mengembangkan bakatku, bermain gitar.

Selang beberapa menit kemudian, ponselku berdering kembali. Kini bukan pesan WhatsApp, melainkan panggilan. Layar ponsel menampilkan nama “Haris”

“Bran, nongki tempat biasa.” suara bariton dari seberang sana, tanpa menjawab ajakan Haris, aku langsung mematikan telepon sebelah pihak, lalu bergegas menuju tempat tersebut.

Namaku Gibran, orang-orang sering menyapaku dengan sebutan Ibang, bahkan banyak dari mereka yang memanggilku Dede. Sial, panggilan Dede kini berkeliaran di kepalaku, asal mula panggilan Dede dari kedua kakakku, mereka masih memanggilku dengan sebutan “De” hal itu yang membuat teman-temanku ikutan memanggil Dede. Aku atlet basket, namaku lumayan populer di sekolah, tinggi badanku sekitar 180 an, entahlah aku jarang mengukurnya lagi. Mereka bilang badanku lumayan kekar, banyak menjadi incaran cewe-cewe di sekolah. Tapi mereka tau, aku mempunyai mba-mba manis yang selama ini menjadi kekasihku. Namanya Natsani, tubuhnya lumayan pendek, sekitar 150 an lah, tingginya saja hanya sebatas dadaku. Kulitnya sawo matang, matanya sangat indah, ditambah dengan kacamata andalannya, padahal dia tidak minus, tapi entahlah tujuannya untuk apa, yang jelas dia sangat manis.

Aku mengemudi mobil menuju cafe yang biasa kami datangi. Alunan musik klasik menemani perjalanannyaku, aku tersenyum kecil saat mengingat usahaku dulu untuk mendapatkan gadis mungilku. Namanya Natsani Annatan, nama yang sangat indah, seperti orangnya. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Mba Nanat. Dulu dia kakak kelasku.

“Kamu yang pake jam item, sini maju ke depan! Udah telat, langsung baris aja!” ketusnya, gadis dengan id card bertuliskan “Natsani Annatan” itu memanggilku. Aku termasuk orang-orang yang kurang disiplin, sebut saja “bandel”
Disitulah awal mula kedekatanku dengan Mba Nanat. Memang benar ya kata orang, “Kalau benci jangan berlebihan, nanti jadi suka.” Aku sudah membuktikannya.

Tiba-tiba moodku kembali buruk, teringat kejadian tadi pagi. Gadis mungilku mengabari bahwa dirinya akan kembali ke Jogja untuk berkuliah, banyak chat dan panggilan terlewat darinya. Aku masih tertidur pulas, sehingga melewatkan panggilannya, tiba-tiba dia mengirimkan gambar tiket kereta api. Selang beberapa menit kemudian dia mengirim pap dirinya sedang berada di kereta. Sial, aku tidak sempat mengantarkan gadis kecilku ke stasiun, padahal dia berjanji untuk merayakan ulang tahunku di tempat yang biasa kami datangi.

Sampainya di cafe, teman-teman aku menyambutku dengan berjabat tangan ala kami. Nael, Haris, Nattan, Dery, dan Seno, mereka menggunakan pakaian serba hitam, aku pun demikian. Padahal kita tidak janjian, ketika memakai baju serba hitam, rasanya kami para cowok terkesan tambah ganteng, haha.

“Murung amat mukanya, ngga dikasih jatah sama Mba Nanat?” celetuk Nael. Aku sontak melemparkan korek ke Nael, dan mengenai mukanya. Nael berdesis kesakitan, koreknya tepat mengenai keningnya. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kesengsaraan Nael. Diantara teman-temanku yang lain, Nael sosok yang sangat cerita sebut saja pelawak di cricle kami. Haha cricle ga tuh?

“Btw, tadi gue lihat story-nya Mba Nanat, dia di kereta. Kemana dia De? Tumben ngga bareng sama ayang?” tanya Haris, beruntun. Aku sedikit kesal untuk menjelaskannya, jadi aku serahkan ponselku ke mereka, supaya mereka mengecek sendiri inti permasalahannya.

Selang beberapa menit kemudian, mereka kembali menyalahkanku.
“Lu kurang fast respon Bran!”
“Salah sendiri ngebo teruss!”
“Pantesan dari tadi ngga balas pesan, ternyata pangeran kita sedang galau.” ucap Nael.
Aku kembali melempar kertas kecil yang tadi sempat digulung-gulung. Sasarannya tepat, mengenai pelipis Nael. Mereka tertawa terbahak-bahak untuk yang kedua kalinya.

Setelah mengobrolkan banyak hal, aku mengecek ponsel. Rupanya kekasihku mengirimkan sebuah pap manis dirinya, sepertinya ingin tidur, dia memakai bandana di rambutnya. Sungguh sangat cantik, aku tersenyum kecil.

“Heh, senyum-senyum sendiri.” ucap Seno, sambil menyenggol lengan ku.
“Yoi bro, dapat pap dari ayang.” jawabku ringan.

Aku melirik ke arloji yang aku kenakan, rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 WIB. Kebetulan ini malam minggu, ada live musik di cafe ini. Aku yang hobi bermain gitar, dan bernyanyi, langsung menuju ke panggung untuk menyumbangkan lagu, urusan suaraku merdu atau sebaliknya, tidak aku hiraukan.

Aku duduk di kursi gitaris, lalu mengambil gitar dan mendekatkan mikrofon ke arahku. Dua lagu terselesaikan, banyak dari mereka yang memberikan tepuk tangan meriah.

Aku terus bernyanyi, sampai lagu ketiga. Tiba-tiba terdengar suaranya gemuruh dari depan sana. Aku melihat Nael berlari kencang menuju sumber keributan. Seno, Haris, Nattan, dan Dery ikut keluar.

Fokusku sudah tidak bisa dikondisikan, aku penasaran dengan keriuhan yang terjadi di depan. Telingaku menangkap ada kecelakaan, sosok gadis yang ingin menyeberang di tabrak lari oleh pengendara roda dua. Aku segera menaruh gitar, dan bergegas meninggalkan panggung.

“Bran.” sapa Nattan, yang menepuk pundak belakangku. Saat aku sedang menaruh gitar ke tempatnya. Aku sedikit terkejut, sentuhannya sangat lembut tidak seperti biasanya.
“Mba Nanatmu,” ujarnya lagi, tangannya menunjuk ke arah depan. Tidak, aku tidak boleh berpikiran macam-macam, aku menggelengkan kepala cepat.
“Kenapa sama Mba Nanat, Tan?” tanyaku, kakiku sedikit gemetaran, sepertinya aku tidak lagi mampu untuk menopang berat badanku. Memori buruk setahun silam berputar cepat di pikiranku, kepalaku sangat berat. Kejadian itu semakin jelas, dan terus berputar di pikiranku.

Aku sempat mengalami kecelakaan bersama Ibuku, dan hal itu yang membuat wanita tangguhku menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu menitip pesan untuk menjaga ketiga wanitaku, kedua kakakku, dan Mba Nanat.

Nattan menggelengkan kepalanya pelan, matanya sedikit memerah, tubuhnya yang kekar kini terlihat gemetaran dan letih. Sepertinya, aku punya firasat buruk tentang Mba Nanat. Padahal Mba Nanat tadi sempat mengirimiku foto dirinya sedang mengenakan baju tidur dan bandana kuning kesukaannya. Dan, Mba Nanat juga sedang berada di Jogja, mana mungkin ada di sini.

“Yang sabar ya Bran.” ujar Nattan lagi, dia mendorong pelan bahuku, menyuruhku untuk ke depan.

Aku melihat kerumunan di seberang sana, air mataku mulai menetes. Aku tergolong jarang nangis, bahkan bisa dikatakan tidak pernah menangis. Aku menangis saat ibuku meninggal dunia, dan kini aku menangis mendapat kabar tentang Mba Nanat.

Kerumunan itu terlihat sangat ramai di seberang sana, tanpa memperdulikan kendaraan berlalu lalang, aku berlari secepat mungkin untuk menerobos kerumunan itu.

Sesampainya disitu, aku langsung menerobos untuk melihat korban. Dan, kalian tau? Apa yang kudapati?
Sosok perempuan mengenakan kemeja putih, sedang berjongkok dan memegang kue ulang tahun bertuliskan “Happy Birthday My Little Sun” beberapa detik kemudian, mereka kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun milik Jamrud.

Aku yang tadinya sempat menangis, kini merubah eskpresi menjadi senyum, dan sedikit terharu. Aku langsung memeluk Mba Nanat dengan dekapan yang lumayan erat, dan lama. Sampai Mba Nanat merengek minta dilepaskan.

Aku bersyukur, ditemukan sama orang-orang seperti mereka, khususnya Natsani Annatan, kekasihku. Aku sudah lama menjalin hubungan dengannya, semoga kita akan disatukan dalam ikatan yang sakral, dan dipisahkan oleh maut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku berjalan baik-baik saja semisal Mba Nanat pergi, dan aku tidak akan rela apalagi mengikhlaskannya. Selagi aku bisa, dan mampu untuk menjadi pelindung Mba Nanat, akan kubuat dia bahagia.

Cerpen Karangan: Yolanda Tania
Hai, cari tau aku disini ya @yolanntaniaa__ ayo berteman.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 20 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Kekasihku, Natsani Annatan merupakan cerita pendek karangan Yolanda Tania, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ayu Sukmawathi

Sudah sewindu aku menyimpan rasa kepada teman kecilku dulu yang kini aku tau dia sudah sukses untuk mengabdikan dirinya kepada negara. Iya sudah sewindu aku memikirkannya tak pernah lewat




Oleh: Lany Pono

Cinta itu bagi setiap orang tentunya sama saja, hanya bagaimana merasakan cinta itu yang berbeda. Perasaan jatuh cinta itu tidak selamanya harus dirasakan dengan jantung yang berdebar kencang, gugup




Oleh: Yunita Betania Sianturi

“Laura!” teriakku dengan suara yang membahana. “Astaga Rin, kurang kenceng manggilnya!” katanya dengan nada setengah terkejut. “Hahaha! Jangan ngambek dong!” Laura ini sahabat aku kami udah temenan dari SD




Oleh: Widya Laksari Sastri

Sepucuk surat tiba di meja kerjaku. Kuraih surat itu dan aku mulai membacanya. Indahnya pagi tak seindah dengan wajahmu. Hangatnya sinar mentari pagi tak sehangat senyumanmu. Merdunya kicauan burung




Oleh: Nurul Ikfatin

Ketika cahaya pagi mulai masuk melewati tirai kamarku aku segera terbangun untuk berolahraga, karena hari ini adalah hari pertama libur panjang. “Pagi nesha, mau olahraga ya?” tanya mama padaku.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: