8 tahun cerpenmu

Cerpen Kembali ke Rumah (Part 1)

Spread the love

Cerpen Kembali ke Rumah (Part 1)





Cerpen Karangan: Muh. Khairan Katsira
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Rindu

Lolos moderasi pada: 24 July 2022

Langit biru berawan, udara yang segar, pemandangan hijau nan asri, bangunan tua yang berderet sedemikian banyak benar-benar menimbulkan nostalgia. Sangat indah, begitu membahagiakan. Seolah-olah seluruh unsur di tempat ini dipersiapkan untuk menyambutku. Namun di sisi lain terasa sangat menyedihkan. Entah sebenaranya peasaan apa yang kurasakan sejak memikirkan tempat ini. Aku mencoba fokus pada mobil yang kukendarai, meninggalkan semua pikiran anehku jauh di belakang.

“Jadi, Tuan Bos, Senior yang pandai, bisa jelaskan kembali kenapa Sarah, asisten pribadimu berada di samping kursi pengemudi ini?” Ia memulai percakapan setelah senyap selama perjalanan.
“Sudah kujelaskan berkali-kali, bukan?” jawabku. “Aku ingin mengambil sedikit cuti.”
“Informasi diterima. Rasanya aku tidak bisa percaya bahwa robot sepertimu menginginkan cuti.” Ejek Sarah. “Ngomong-ngomong aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus ikut.”
“Kau juga butuh liburan seperti ini, kutu kota.” Balasku.
“Aku tidak ingin disebut begitu oleh seorang kutu buku budak korporat. Lagipun aku rasa aku sudah sering pergi ke gunung.” Sarah meraih kamera di kursi belakang. “Ngomong-ngomong, bukankah benda ini sudah terlalu kuno? Dengan setumpuk kas di kantor, kau harusnya bisa memilki kamera generasi terbaru lengkap dengan aksesorisnya”
“Jangan ejek teman kecilku.” Jawabku. “Dia sudah melihat lebih banyak hal dari yang kau duga. Dia cukup tangguh sebagai kamera yang berusia lebih dari 16 tahun. Tentu saja aku telah berulang kali mengganti kartu penyimpannya. Dan pegunungan dan desa adalah dua hal yang berbeda. Kau akan mengetahuinya nanti.”

Aku membanting kemudi, memarkirkan mobil di halaman sebuah rumah. “Yup, kita telah sampai.”

Aku turun dari mobil dan tepat di hadapanku sebuah rumah batu yang cukup tua berdiri kokoh. Dengan cat yang masih terawat menimbulkan kesan bersih kepada pemiliknya. Di teras rumah, duduklah seorang orang tua di kursi dengan tongkat kayu bersandar di sampingnya. Wajahnya masih terpampang jelas dalam benakku. Celana hitam panjang dan kemeja putih yang cukup stylish sangat tidak sesuai dengan usianya. Yang berbeda hanyalah postur tubuhnya yang mulai dimakan usia dan tongkat kayunya. Aku tidak percaya orang tersebut akan memakai sebuah tongkat bantu untuk berjalan.

Aku berjalan ke arah orang tua itu. Ia juga ikut berdiri kemudian berjalan mendekatiku, menyapaku dengan hangat. Aku membalas sapanya. Suara yang masih terdengar muda. Sangat berbeda dengan fisiknya. Ia menatap lekat-lekat diriku dari atas sampai bawah dengan wajah penasaran. Nampaknya aku sendiri mulai pudar di ingatannya.

“Haruskah saya berkata “selamat siang, kakek,’?” ucapku.
Ia memasang kacamata yang ia simpan di sakunya. Mulutnya menganga, matanya terbelalak takjub. Ia mencengkram kedua lenganku dengan tongkat masih tergenggam erat di tangannya. “M-m-mustahil! Kau kah itu, Paul?!”
Di detik sama, aku menyadari keberadaanku telah membangkitkan ingatan milik kakekku yang harusnya tidak teringat kembali. Aku merasa bersalah akan hal itu.

Aku tidak ingin mengecewakannya tapi aku tidak punya pilihan lain. “Maaf, Kek. Aku bukan ayahku.”
Tepat setelah lidahku mengeluarkan ucapan itu, sebuah tongkat keras terayun menghantam betisku. Sontak membuatku berlutut mengosok bekas pukulan tadi. Kemudian tongkat tadi kembali diayunkan hingga menggetok kepalaku. Padahal aku baru sampai beberapa menit lalu namun telah merasakan kekerasan dari keluarga sendiri

Kakek menatapku dengan garang “Dasar bodoh, pergi selama dua belas tahun dan masih berani kembali, syukurlah kau masih hidup.”
“Ah, hahaha. Sebenarnya lima belas… Tuntutan pekerjaan tapi setidaknya saya sering menelpon ke sini.” Aku sedikit tertawa. Aku bingung bagaimana menanggapi hal tersebut. Ternyata kekuatan kakekku tetap sama seperti dulu. Dan tongkat bantu itu nampaknya cuma hiasan.
“Jangan konyol, itu bahkan lebih buruk.” Kakekku menarikku hingga berdiri kemudian memelukku dengan erat. “Syukurlah kau masih mengingat orang tua ini. Kau beruntung masih bisa pulang sebelum aku tiada. Karena jika tidak, maka aku akan membuatkanmu makam tepat disampingku.” Ia melepaskan pelukannya dan berjalan masuk ke rumah “Baiklah reuni selesai. Oi Mia, kita kedatangan tamu!” teriak kakekku
Lelucon aneh kakekku tidak pernah berubah.

Tiba-tiba bibi Mia keluar dengan ekspresi yang sama dengan kakekku. Ia juga memberi pukulan di betisku dengan tongkat. Aku jadi penasaran, dari mana mereka belajar metode sambutan seperti tadi.
“Kalau mau pulang setidaknya beri kabar terlebih dahulu!” bibi melongok kea rah belakangku. “kau tidak datang sendirian nampaknya.”
Aku hampir lupa bahwa aku membawa Sarah ke sini. “Hey, Sarah, kau tidak berniat tinggal di sana selamanya, bukan?” ajakku.

Sarah turun dan memperkenalkan diri. “Selamat siang, Bibi. Sarah, asisten senior Hans. Ngomong-ngomong, bibi kakek tadi berkata kalau senior belum pulang selama dua belas tahun.” tanya Sarah.
Bibi menggelengkan kepalanya. “lima belas tahun. Tidak kusangka saat ia berkata ingin mandiri ternyata maksudnya tiidak pernah pulang. Kalau tahu akan seperti jadinya, mungkin saat itu kami melarangnya pergi.”
Kalau aku tahu akan seperti itu jadinya, mungkin aku juga tidak akan pergi.

Sarah menatapku, salah satu alisnya terangat sangat tinggi. Aku jelas mengetahui apa isi pikirannya. Ia sedang menghinaku dengan semua ejekan yang tidak bisa kubantah. “Bukan seperti itu, bibi. Bukankah sudah kubilang setiap kali menelpon bahwa sulit bagiku untuk pulang ke sini karena kesibukan.”
“Silahkan persiapkan alasan paling masuk akalmu karena kau akan mendapatkan interogasi yang panjang. Untuk saat ini, kalian berdua masuklah dulu. Aku ingin lebih banyak mendengar cerita apa yang telah kau lakukan selama lima belas tahun secara langsung.”

Struktur rumah itu tidak berubah sedikitpun. Semua properti di dalammnya masih sama seperti saat aku meninggalkan tempat ini. Empat kamar tidur, semuanya dalam keadaan normal. Terlebih lagi, semuanya sangat terawat. Hampir tidak ada debu sedikitpun.

“Tidak perlu melihat ke setiap sudut,” ucap bibi. “Semua hal di sini hampir tidak ada yang berubah. Hanya kami berdua yang semakin dimakan usia.”
Kakek keluar dari dapur, “Jangan bergurau, usiaku mungkin tua, tapi aku masih bisa melayangkan tongkatku ke tiga orang dewasa. Ngomong-ngomong, harusnya kau memberi kabar sebelum ke sini. Makanan kali ini hanya makanan sehari-hari kami berdua.”
“Tidak perlu bersusah payah, kakek. Jika aku mengabari duluan, efek kejutannya akan hilang. Namun jika bersikeras, aku bisa pergi membeli bahan masakan di toko. Sarah kau tunggu dan beristirahat saja di sini. Aku yakin itu bisa mempermudah interogasiku nanti.”
Aku keluar dari rumah, memakai sepatuku dan beranjak menuju salah satu minimarket. Jika aku tidak salah, dulu ada sebuah toko di salah satu sisi jalan
“Padahal baru saja sampai tapi sudah pergi lagi. Dasar para pekerja kantoran zaman sekarang,” cemooh kakek.

Dan tepat seperti yang kuduga. Jarak toko tersebut hanya beberapa puluh meter. Dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Desainnya mengadaptasi gaya minimarket pada umumnya. Melihat dari kondisi sekitar, letaknya di pinggir jalan utama, di sebuah perkampungan yang masih kurang dijamah oleh pedagang besar, toko ini harusnya menjual barang pokok dan barang campuran. Setelah memperhatikan interior toko tersebut, aku yakin, toko ini adalah toko kecil tempatku biasa berbelanja saat masih tinggal disini. Cukup luar biasa toko ini mampu bertahan bahkan berkembang selama puluhan tahun. Mungkin faktornya terletak pada jumlah toko di kampung ini yang sedikit.

Setelah membeli beberapa bahan makanan, aku melihat jam tanganku. Waktu makan masih panjang. Mengabaikan tugasku, aku menyempatkan diri sedikit berkeliaran, membiarkan urusan interogasiku pada Sarah.

Desa ini benar-benar telah berubah dalam lima belas tahun terakhir. Infrastuktur yang mendukung aktivitas sosial mulai semakin bertambah. Kendaraan yang lalu lalang juga lebih banyak. Banyak pohon telah dipangkas, rumput liar semakin sedikit. Tidak heran jika suhu udara di sini semakin panas. Bahkan di salah satu sisi jalan terdapat perpustakaan umum.

“Tidak kusangka bisa menemukan perpustakaan umum di sini. Tidak ada salahnya berkunjung sedikit,” gumamku saat memasuki halaman perpustakaan.

Aku memasuki ruangan dan menitipkan belanjaanku. Ruangan tersebut berpendingin udara juga dilengkapi dengan komputer dengan koneksi internet. Tidak lupa, kumpulan berbagai jenis buku-buku keluaran baru untuk segala umur. Jelas sekali bahwa ini perpustakaan yang dibangun pemerintah. Bahkan buku paling tua yang bisa kutemukan hanya keluaran dua puluh tahun lalu. Ahh, nampaknya kehidupan di sini semakin bagus. Aku harap semuanya begitu.

Aku tidak bisa menemukan rak buku yang kucari. “Permisi, di mana letak buku tentang bisnis?” Tanyaku pada salah satu petugas.
“Rak kedua dari belakang. Namun kau hanya akan menemukan buku keluaran lima tahun lalu,” jawabnya. “Sama seperti waktu kau pergi.”
‘Waktu kau pergi’? Aku tidak mengerti. Apa aku mengenal orang ini? Tapi setelah dilihat dengan baik, ia memiliki tinggi dan perawakan yang tidak jauh berbeda denganku.

Cerpen Karangan: Muh Khairan Katsira
Blog / Facebook: Muh Khairan Katsira
Sepenggal kalimat dalam buku di perpustakaan itu sebenarnya lirik lagu Let Her Go karya Passenger


Cerpen Kembali ke Rumah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Muh. Khairan Katsira, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ar Rahadian

Penderitaan adalah lambang kekuatan jiwa, tak akan aku tukarkan penderitaan ini dengan sukacita manusia. Jiwaku menemukan ketenangan manakala hatiku bersukacita menerima himpitan kesusahan dan kesesakan kehidupan. Hatiku terpenuhi kegembiraan,




Oleh: Ary Qmtonk

“Lagi-lagi band dia Ryu…” bisik Anggi jelas ditelingaku. Komentar Anggi langsung mempertajam pandanganku kepada band di atas podium kehormatan juara pertama festival band yang aku ikuti. Entah pandanganku terlihat




Oleh: Mayang Putri

Sesuatu yang indah pasti akan terjadi. Begitulah pikiran dari seorang wanita dewasa berumur hampir 23 tahun yang berjalan diantara panasnya surya dan ombang-ambing manusia di kota itu. Raut wajahnya




Oleh: Aen

Katanya jika kau terus berharap dan bersabar, apa yang kau inginkan akan kau dapat. Katanya jika terus berusaha pasti akan mendapat hasil yang memuaskan. Katanya jika memberikan maaf pada




Oleh: GummyGum

Panggilannya Nesha, gadis manis dengan tubuh tinggi dan gempal. Dia tidak mau disebut gendut dan lebih suka dibilang seksi. Tidak suka ditertawakan dan lebih suka tertawa bersama. Benci dengan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: