8 tahun cerpenmu

Cerpen Kembali ke Rumah (Part 2)

Spread the love

Cerpen Kembali ke Rumah (Part 2)





Cerpen Karangan: Muh Khairan Katsira
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Rindu

Lolos moderasi pada: 24 July 2022

“Lama tidak berjumpa,” sapanya. “Hans.”
Aku ingat. Aku mulai ingat. Aku menatap orang terdebut kagum. “William? Kau? William?”
“Heh, kalau kau lupa namaku, aku yakin telah membuatkanmu batu nisan besok sore.” Cemooh William. “Banyak hal yang terjadi selama kau pergi. Sekali lagi kukatakan, lama tidak berjumpa.”

Aku dan William mengambil duduk di salah satu meja. Dia benar, aku nampaknya telah melewatkan banyak hal. William, teman SMA-ku. Tidak kusangka bisa bertemu dengannya di sini. Parasnya telah banyak berubah.
“Banyak hal.” Ucap William. “Perpustakaan ini berdiri di atas tanah yang disumbangkan pak Hanbei. Kau sendiri, kemana saja selama ini?”
“Panjang cerita. Belajar, sekolah, kerja, mencari uang, mengunjungi tempat baru, hingga jatuh bangun berulang kali.” Jelasku. “kau tadi bilang tanah perpustakaan ini dari pak Hanbei. Tidak kusangka beliau akan sejauh itu. Jadi bagaimana kabarnya?”
“Beliau guru terbaikmu, bukan? Sayang sekali, ia sudah lama wafat. Mungkin tujuh atau delapan tahun yang lalu.”
Jantungku serasa ingin berhenti berdetak mendengar hal tersebut. Namun sedetik kemudian, keteguhanku pulih. Setidaknya apa yang telah beliau perjuangkan tidak sia-sia. Aku bisa mencapai titik ini juga karena kerja kerasnya. Tapi, tetap saja, rasanya cukup menyedihkan mendengarnya.

William menghela nafas panjang. “Aku tidak bermaksud menghancurkan perasaanmu. Tapi aku harus memberitahumu. Aku yakin, salah satu tujuanmu kemari adalah itu. Kau-tahu-siapa sudah-”
“Aku sudah tahu,” sergahku. Tatapanku jatuh, tanganku mengepal. Aku tidak ingin mengingatnya. Tapi di sisi lain aku ingin mengetahuinya. Sungguh sebuah dilema.
Aku bingung, apa yang sebaiknya aku lakukan?

William menyandarkan punggungnya dengan malas. “Kalau kau sudah tahu, aku tidak akan membahasnya lebih lanjut. Tapi aku harap kau rela akan hal itu.
“Kalau begitu, mari lupakan hal itu. Aku ingin mengetahui apa yang terjadi padamu dalam lima belas tahun terakhir.
Pembahasan berubah menjadi sebuah interogasi yang singkat. “Aku terkejut kau bisa sampai ke tahap seperti itu.” William bangkit dari kursinya. “Aku ingin mendengar lebih banyak ceritamu dengan lengkap tapi aku masih harus bekerja. Silahkan nikmati waktumu di sini sepuasnya. Kalau kau masih ingin bicara, kau tahu di mana aku.”
“Tidak masalah, suatu keputusan yang tepat untuk tetap bekerja di jam kerja.” Kami berpisah, William kembali ke mejanya sementara aku mencari buku yang kuinginkan.

Tidak ada. Aku tidak menemukan buku yang menarik. Ditambah isi pikiranku agak terganggu membuatku kesulitan fokus. Aku butuh hal yang bagus. Aku berpindah ke rak buku filsafat dan ilmu sosial. Mencoba teknik unik. Beberapa orang berkata dengan mengambil buku secara acak dan membuka halaman secara acak, kau bisa menemukan jawaban atas pertanyaanmu.

Tanganku meraih satu buku, kubuka halaman secara acak. Membaca kalimat yang pertama kulihat.
‘Well, you only need the light when it’s burning low.’
Tanpa melihat kelanjutan kalimat tersebut, aku langsung menyimpan kembali buku itu di raknya. Nampaknya ada yang salah meletakkan buku tersebut. sayangnya tidak ada kode buku di sampingnya.

“Tidak ada yang membantu,” gumamku.
Sebuah suara aneh memasuki gendang telingaku. Suara seperti kaki kecil yang mendarat berulang-ulang. Datangnya dari balik rak di belakangku. Aku melongok. Seorang anak kecil usianya sekitar enam sampai tujuh tahun jika melihat dari tinggi badannya. Ia mencoba meraih rak paling atas. Dia menyadari kehadiranku, tatapan kami saling bertemu. Itu aneh, padahal aku yakin rak buku ini berisi bacaan untuk usia empat belas tahun ke atas.

“Permisi, paman. Bisa bantu aku mengembalikan buku ini di rak atas.” Pintanya
Aku bergumam. Ternyata itu masalahnya. Padahal ia bisa langsung menyimpannya sembarang tempat. Sungguh anak yang cerdas. Lagipun harus ada sejenis tangga kecil disini untuk meraih rak yang tinggi. Aku mengambil bukunya. Tapi saat kuperhatikan, kode yang tertera di buku itu berbeda dengan kode raknya. Lagipun itu buku tentang hewan purba. Mana mungkin aku menyimpannya di antara kumpulan novel remaja.

“Hey, bocah. Kenapa kau ingin menaruh buku ini di atas?” tanyaku.
“Aku mengambilnya di sana jadi sudah seharusnya aku kembali menyimpannya di sana. Dulu ada tangga di sekitar sini tapi aku tidak bisa menemukannya kali ini,” jelasnya.
Ia lebih pintar dari yang kuduga. “Kau tidak perlu menyimpannya di atas sini.” Aku mengembalikan buku itu. Ia tampak kebingungan. “Ini bukan rak untuk buku tersebut. kalau melihat kode yang tertulis di situ…”
Aku berjalan menyusuri lorong. Anak itu ikut dibelakangku. “Harusnya di sini.” Aku menunjuk bagian tengah rak yang terletak empat meter dari rak tadi.
Anak tersebut kagum melihat sekumpulan buku yang sejenis dengan yang dibawanya. “Benar! Harusnya buku ini di sini. Terima kasih, Paman.”
“Tidak perlu dipikirkan.” Balasku. “Kau nampaknya suka dengan dinosaurus, bukan?”
Ia mengangguk dengan semangat. Anak ini jelas lebih pintar dari kelihatannya. Siapapun keluarganya, mereka telah mengajarinya banyak hal. Dan jika kuperhatikan wajahnya nampak familiar. Seolah-olah aku pernah melihatnya di suatu tempat. Mungkin dia salah satu anak dari kampung sini.

“Ngomong-ngomong, bocah. Siapa namamu?” tanyaku
“Eddie.”
“Nah, Eddie. Sebagai ganti karena aku telah membantumu, aku punya pertanyaan untukmu. Kenapa hewan-hewan zaman dahulu berbeda dengan yang ada sekarang?”
“Karena tempat tinggal mereka berbeda jadi mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkunganya.” Jawabnya dengan penuh semangat.

Aku mengharapkan dia menyebutkan salah satu teori evolusi tapi sepertinya itu terlalu berlebihan. Kemudian aku memberinya beberapa pertanyaan lain. Semuanya dijawab dengan sangat baik. Anak ini bisa menjadi orang besar suatu saat nanti. Aku ingin saja memberinya buku sebagai hadiah. Tapi aku tidak yakin ada toko buku di sekitar sini.
Aku tertawa. “Luar biasa. Tidak kusangka kau benar-benar bisa menjawabnya. Perbanyaklah belajar dan aku yakin, kau bisa menjadi orang yang hebat suatu saat nanti.”

Aku pamit pergi meninggalkan Eddie setelah ia mengucapkan terima kasih. Namun saat akan keluar perpustakaan, William menghalangiku. “Kau ingin memberikan belanjaanmu padaku atau apa?” Ia tersenyum aneh lalu menepuk lengan atasku. “Aku yakin akan ada hal baik yang terjadi padamu.”
Aku sama sekali tidak mengerti. “Aku tidak paham apa ucapanmu. Tapi aku harus mengatakan bahwa hal baik tidak datang. Ia disadari.”

Tepat saat di luar perpustakaan, aku teringat sempat melihat sejenis taman bermain dari balik dinding kaca perpustkaan. Dan benar, di belakang area perpustakaan ada sebuah tanah lapang dengan taman bermain kecil di sampingnya.

Masih ada waktu. Mungkin aku akan mencoba beberapa permainan. Taman itu cukup luas dengan segala macam permainan seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan tempat memanjat yang entah apa sebutannya. Kepala desa saat ini nampaknya kehabisan ide untuk menghabiskan dana desa.

Begitu kecil. Bukannya duduk, posisiku malah berjongkok di ayunan. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan tempat ini. Taman ini tidak dibuat untuk diisi oleh orang tua sepertiku. Aku jadi terlihat seperti orang bodoh karena bermain di taman kanak-kanak.

Tanganku menggenggam tali ayunan. Tatapanku melesat sejauh mungkin.
Tenang. Begitu tenang.
Kosong.
Apa-apaan perasaan ini?

Ayunan ini terlalu sempit. Akhirnya aku memilih jungkat-jungkit sebagai dudukan.
Aku sedang menunggu seseorang. Namun di lain pihak, aku tidak ingin bertemu dengannya. Selama ini aku mencari seseorang, seseorang yang telah lama kutinggalkan. Kenapa aku masih duduk di sini? Apakah aku menunggu kehadirannya? Siapa yang bersalah atas semua ini?

Jika misal, saat itu aku tidak pergi. Jika misal, lima belas tahun lalu aku memilih tetap di sini, akankah semuanya berubah? Akankah semuanya sesuai yang kuharapkan? Akankah aku masih bisa berada di titik ini? Di titik di mana semuanya berbeda.

Semua pengetahuanku tentang penguasaan diri rasanya runtuh karena perasaan aneh ini. Aku menunggu seseorang, aku ingin menemuinya, aku ingin bercerita lebih banyak kepadanya, aku ingin melihat wajahnya, aku ingin melihat ia tersenyum padaku, aku ingin ia mengetahui segalanya, aku ingin melepas semua belungguku di tempat ini. Tapi aku tahu, semua itu salah. Aku tidak punya hak memasuki kehidupannya yang sekarang.
Sarah benar, aku ini orang yang payah. Padahal orang-orang memandangku tinggi tapi aku malah tampil menyedihkan saat ini.

Sisi lain jungkat-jungkit menjadi lebih berat namun belum cukup berat untuk mengangkatku. Jelas sekali ada yang mendudukinya.
“Yo, lama tidak bertemu.”
Akhirnya datang juga, ironi di atas ironi. Aku tidak perlu melihat siapa di sisi lain jungkat-jungkit ini karena aku sudah tahu. Suara halus itu, begitu lembut. Membangkitkan nostalgia, mewarnai kembali ingatan yang telah lama kusimpan. Selama ini aku menunggu hal ini. Tapi aku juga tidak menginkan pertemuan ini. Aku tetap terdiam, tidak menjawab sapaan wanita di sebelahku.

Cerpen Karangan: Muh Khairan Katsira
Blog / Facebook: Muh Khairan Katsira
Sepenggal kalimat dalam buku di perpustakaan itu sebenarnya lirik lagu Let Her Go karya Passenger


Cerpen Kembali ke Rumah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Muh Khairan Katsira, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: GummyGum

Awan kelabu menyelimuti kota yang jalanannya seolah tidak pernah sepi, bahkan dibawah naungan langit kelabu suara riuh dari deru kendaran justru kian penuh. Diantara banyaknya orang yang berjalan tergesa,




Oleh: Lala

Cerita ini dimulai saat aku mulai berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Firman. Aku berkenalan dengannya melalui seorang temanku, Geo. Siang itu Geo memberikan nomor teleponku kepada Firman. Ternyata malam




Oleh: Aminatul Mushthofiyah

Aku tak bisa memberitahumu kenapa dia merasakan hal itu. Merasakannya setiap hari. Dan aku tak bisa membantunya. Aku hanya melihat dia melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan yang seharusnya tak




Oleh: Mohamad Nurhidayat

Pada pagi hari yang cerah, tepatnya di kota metropolitan hiduplah keluarga kecil yang sangat sederhana. Keluarga tersebut merupakan keluarag Pak. Suyono. Pak. Suyono adalah seorarng pedagang bakso keliling disekitaran




Oleh: Putri Permata Sari

WAJAH ITU IBU, ya ibu. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran aku melihatnya, berada di sampingku menggoyang–goyangkan badanku dan memanggil namaku. Kulihat sekilas wajahnya tampak pucat, suaranya lirih seperti menahan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: