8 tahun cerpenmu

Cerpen Kenapa Harus Cowok?

Spread the love

Cerpen Kenapa Harus Cowok?





Cerpen Karangan: Icat Fahru
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 29 May 2022

Beginilah nasib menjadi seorang cowok yang biasa aja, yang tidak terlalu pinter dan ganteng. Menjadi cowok biasa aja itu kadang membuat menjadi minder ketika bertemu dengan cewek cantik, bawaannya gugup dan salting.

“Ha…ha..hai put, apa kabarnya nih..?”. Sapa gue ke Putri yang lagi duduk sendiri.
“Hai.. juga li, baik kabar gue li.”. Putri pun menjawab sapaan gue.
“Bagus kalau baik put, ngomong-ngomong kok loe duduk sendiri di halte, temen-temen loe pada kemana?”. Gue pun memulai percakapan.

Putri adalah temen SMP gue, yang sekarang gue beda sekolah dengan dia, gue gak sengaja bertemu dia di halte, ketika itu gue lagi berhenti sebentar untuk membuka Hp. Putri adalah salah satu temen gue yang cantik dan pinter, yang selalu bikin gue salah tingkah dan minder kalau bertemu, dan juga dia adalah cewek yang sudah lama gue taksir, tapi gak pernah kesampaian.

“Ini li… temen-temen gue udah pulang duluan semua, jadi gue sendiri di sini, soalnya kan gue sama temen-temen gue, yang beda arah pulang cuma gue doang li..”. Jawab putri.
“Ohhh begitu put, gimana kalau bareng gue put pulang ya, kita kan emang searah pulang ya, gimana put.?”. Gue memberanikan diri mengucapkan kata-kata itu, walau sebenarnya gue gak percaya diri, soalnya takut dianya gak mau pulang bareng gue, soalnya gue kan cowok yang biasa aja, gak ganteng amat, dan motor pun motor jadul. Tapi gue pasrah aja, kalau dia nolak tawaran gue.

“Hmmm… boleh juga li, tapi loe lagi gak nunggu orang kan di sini li..?”. Jawab putri.
Gue mendengar kata-kata itu dari seorang cewek yang gue taksir, hati gue langsung gembira sekali.
“Eng…eng…Enggak kok put, yang bener loe mau bareng..?”. Tanya gue lagi.
“Hmmm… Iyaa Jali…”. Jawab putri lagi.
“I…i… Iya put… ya…ya udah silahkan naik put, maaf ya put, kendaraan gue Cuma sejenis bebek bukan kuda…”. Jawab gue lagi.
“Iya gak apa-apa kok li, kalau ada yang nawarin pulang, gue gak pernah mikirin itu sejenis bebek atau kuda li, soalnya kapan lagi dapet gratisan… he he he.”. Jawab putri dengan sedikit tertawa.
Mendengar kata-kata seperti itu, semakin gembira hati seorang cowok biasa ini.

Ketika di perjalanan, gue sedikit mengobrol dengan putri.
“Pu… put.. gak ada yang marah nih gue nganter loe pulang..?”. Tanya gue.
“Hmmm… gak kok li, kan gue baru putus sama cowok gue kemarin li…”. Jawab putri.
“Wahhh… yang bener put…??”. Tanya gue lagi terkejut.
“Iyaaa… Jaliii… udah ahh jangan ngobrol terus, bentar lagi rumah gue sampe tuhh.”. Jawab putri sambil memukul pundak gue.
“I…i…Iya put…”. Jawab gue sambil kaget.

Ketika sampai di depan rumahnya putri, gue berniat minta nomor Hp dia, tapi karena gue grogi, jadi gak gue minta nomornya dia.

“Sudah sampai nih put…”. Ungkap gue.
“Iya li… Makasih banyak yahh li, mau mampir dulu gak.?”. Jawab putri.
“Sama-sama put… eng…eng..enggak put makasih, kebetulan udah sore, takut kemaleman gue pulangnya.”. Jawab gue lagi, walau sebenernya gue pengen banget mampir ke rumahnya.
“Ohhh.. begitu, ok kalau begitu, hati-hati ya loe di jalan.”. Jawab putri lagi.
“I…i…iya put.”. Ungkap gue lagi.

Setelah itu, langsung gue jalan lagi untuk pulang. Tapi dalam perjalanan gue pulang, gue baru inget, seharusnya gue tadi minta nomor Hp dia. Tapi gak apa-apalah, yang penting gue tadi pulang nganterin cewek cantik, kalau jodoh pasti bertemu lagi.

Setelah di rumah dan gue udah santai di rumah, tiba-tiba gue kepikiran putri yang baru putus sama cowoknya. Gue berfikir cowoknya seganteng apa, kok bisa mutusin cewek secantik putri. Kalau gue yang jadi cowoknya putri, gue pasti akan selalu menjaga dia dan mempertahankan dia. Soalnya kalau gue lepasin dia, gak akan ada cewek yang mau sama gue yang biasa aja gak ganteng amat, dan gak terlalu pinter, dan hanya memelihara sejenis bebek.

Setelah kejadian itu, gue udah jarang ketemu lagi sama dia, pernah gue lihat dia di halte, ingin gue jumpai, tapi gue grogi dan gak percaya diri. Sekalinya ketemu dia, gue bingung sendiri dan grogi mau ngomong apa, yang ada hanya percakapan biasa. Tapi suatu ketika, ada nomor yang tidak dikenal sms gue, ketika gue tanya, ternyata itu nomor putri temen SMP gue. Gue bingung dan kaget. Cewek yang akhir-akhir ini gue pikirkan, sms gue. Tanpa basa-basi lagi, gue langsung balas sms dia, soalnya kalau di sms gue gak gugup.

“Ada apa nih put tumben banget sms gue, ada perlu apa.?”. Tanya gue.
“Gak apa-apa, gue Cuma mau kasih tau aja, ini nomor Hp gue.”. Jawab putri.
“Ngomong-ngomong loe tau nomor gue dari siapa.?”. Tanya gue lagi.
“Gue tau nomor loe dari buku angkatan SMP kita…”. Dia menjawab.

Berawal dari sms itu, mulai deket lah gue dengan dia, walau ngobrol hanya lewat sms, tapi untuk cowok seperti gue yang biasa aja, gak ganteng amat, dan gak terlalu pinter, gue tetap senang.

Setiap hari gue sempatkan untuk smssan sama dia, walau yang harus sms duluan yaitu Gue terus, dan dia ngebales sms gue selalu lama. Suatu ketika ada keajaiban yang datang, kenapa dibilang keajaiban, soalnya dia sms duluan ke gue, bagi gue itu suatu keajaiban, soalnya cowok kaya gue, jarang-jarang mendapatkan sms dari cewek duluan. Tenyata setelah gue buka sms dari dia, dia hanya curhat aja ke gue, dia curhat ke gue mengenai keseharian dia. Tapi gue senang, karna yang curhatnya itu dari cewek yang gue taksir.

Dari situ, mulailah gue dan dia semakin dekat, walau dekat hanya di dalam sms, tapi dalam ber-sms mulai udah gak ada canggung lagi, biasanya gue yang duluan sms, sekarang dia juga mulai sms duluan ke gue. Isi sms yang sering dibahas adalah curhatannya dia, dari yang mulai kesehariannya dia, hingga dia suka dengan seseorang. Tapi dia gak pernah memberi tahu cowok yang dia taksir itu siapa.

Disitulah gue mulai GeeR sendiri, apa mungkin dia juga naksir sama gue. Tapi, terkadang gue juga merasa gak PeDe, karna mana mungkin cewek secantik Putri itu naksir sama gue, yang biasa aja, gak ganteng amat, gak terlalu pinter, dan hanya memelihara sejenis bebek. Lagian gue deket dengan dia hanya lewat sms. Karna menurut gue sikap seseorang itu terkadang suka terbalik dengan kenyataan, kadang di sms atau dunia maya kita deket, ketika kita bertemu, malah seperti orang yang baru kenal, begitupun sebaliknya.

Inilah nasib jadi cowok yang biasa aja, gak ganteng amat, gak terlalu pinter, dan hanya memelihara sejenis bebek. Yang hanya bisa naksir diam-diam, gak bisa mengungkapkan perasaannya. Terkadang gue suka bingung, Kenapa yahh yang harus selalu peka terhadap perasaan itu cowok, kenapa gak cewek. Kan tidak semua cowok itu memiliki sifat yang berani terus terang. Seharusnya cewek itu harus mengerti perasaan seorang cowok, bukan hanya cowok terus yang selalu mengerti perasaan cewek.

Cerpen Karangan: Icat Fahru
Blog: icodee.blogspot.com

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Kenapa Harus Cowok? merupakan cerita pendek karangan Icat Fahru, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Rayi Dwi Muhreza Sinaga

Mengungkapkan perasaan ke orang yang disukai itu bukan semudah membalikkan telapak tangan. Mulut terkunci, langkah terhenti, dan tubuh membeku. Itulah yang kualami sekarang ini, untuk mengatakan tiga kata “I




Oleh: Citra Novela Sandi

Jam dinding berwarna cokelat yang masih setia menempel di dinding ruang kelas menunjukan pukul 10.15 WIB. “Masih lama” ucapku yan sedari tadi telah menunggu detik-detik berbunyinya bel kebahagiaan, alias




Oleh: Alfitra Rahmah

Aku salah satu siswa SMA Garuda. Di situlah dimulainya kisah cinta pertamaku. Bagiku tak semua cinta berakhir bahagia dan ini kisah cinta pertamaku. Entahlah perasaan ini layak disebut cinta




Oleh: Frida Alawiyah

Sampai di rumah sakit, lusil masuk ke ruang rawat neneknya, ternyata keadaan neneknya baik-baik saja hanya terluka di bagian kanan dahinya. “Nenek baik-baik saja kan?” neneknya hanya tersenyum pada




Oleh: Ge Marantika

Pagi yang cerah, cukup cerah untukku yang terburu-buru di kejar waktu. Huh seperti biasa, aku bangun kesiangan lagi. Padahal di depan gerbang dua temanku, Beby dan Widy sedang menungguku



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: