8 tahun cerpenmu

Cerpen Ketika Sejarah Bersatu Dengan Agama

Spread the love

Cerpen Ketika Sejarah Bersatu Dengan Agama





Cerpen Karangan: Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas
Kategori: Cerpen Cinta Islami

Lolos moderasi pada: 12 June 2022

“Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku”. (Umar bin Khattab).

Putih abu-abu merupakan masa yang paling indah. Di sinilah canda tawa menjadi sumber munculnya benih-benih rasa. Tak akan ada yang mampu menyaingi kekuatan doa, apalagi doa di waktu yang mustajab. Yang awalnya dari ajang perjodohan, kini berakhir di pelaminan. Inilah kisah salah satu guruku saat aku menduduki bangku SMK.

Kisah ini memang terlihat konyol, tapi benar adanya. Saat aku menduduki bangku kelas X, aku berjumpa dengan seorang guru Pendidikan Agama Islam yang saat itu masih menyandang gelar “JOMBLO”. Sapa saja beliau dengan Pak Tio. Beliau merupakan seorang pendidik yang memiliki metode pengajaran khas. Wajar saja saat mata pelajarannya berlangsung, waktu seakan cepat berlalu.

Tak cukup sampai di situ, Pak Tio merupakan guru yang mampu mengelola kelas dengan baik. Beliau mampu menempatkan posisi layaknya seorang teman. Meski demikian, materi yang disampaikan dapat dengan mudah kami pahami. Tak heran jika banyak siswa yang antusias ketika diajar olehnya.

Kelasku bisa dibilang menjadi kelas yang favorit. Bukan karena terdiri dari anak-anak yang tersorot akan kecerdasannya, tapi karena hanya kamilah yang memiliki kesempatan untuk mendengar langsung lika-liku kisah cinta beliau. Jika dilihat dari masa lalunya, beliau memiliki kisah cinta yang tak semulus jalan tol. Banyak kerikil yang harus dihadapi tuk menemukan cinta sejatinya.

Akhir pelajaran merupakan waktu yang selalu kami tunggu-tunggu. Di sinilah kisahnya diceritakan kepada kami. Dengan tersipu, beliau menceritakan satu per satu alur hidupnya. Mulai dari cinta yang bersemi di atap SMA namun terputus karena ruang yang tak lagi sama, hingga ta’aruf yang berujung maaf. Miris memang, tapi yang namanya bukan jodoh mau dipaksakan bagaimanapun tetap tidak akan bersatu bukan?

Kelasku merupakan kelas yang terkenal dengan ajang perjodohannya. Setiap kali ada guru yang masih jomblo, pasti akan selalu kami comblangkan. Saat itu, ada guru Sejarah Kebudayaan Islam bernama Bu Agustin yang kebetulan juga masih menyandang gelar jomblo. Alhasil mereka berduapun kami comblangkan. Setiap jam pelajarannya dimulai, kami selalu meledeknya. Apalagi ketika keduanya bertemu dalam satu kelas yang kebetulan saat itu jam mengajarnya saling berdekatan. Suasana kelaspun menjadi rame seketika dengan gelak tawanya.

Mereka hanya merespon dengan senyuman yang saling tersipu malu. Enggan menyadari bahwa tanpa disengaja rasa itupun telah mekar dalam hatinya. Kamipun tak berhenti cukup sampai di situ. Setiap kali ada kesempatan untuk mendekatkannya, pasti kami lakukan. Beruntung beliau bukan tipe guru yang kaku, jadi kami tidak kena marah setiap kali kami mencoba mencomblangkannya.

Suatu ketika, hujan turun dengan derasnya. Tepatnya ketika mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sedang berlangsung. Pak Tio menjelaskan kepada kami bahwasanya terdapat beberapa waktu yang mustajab untuk berdo’a. Diantaranya yakni do’a di sepertiga malam terakhir, ketika hujan, dan ketika teraniaya.

Beliau meledek kami untuk mendoakan dirinya agar segera dipertemukan dengan tulang rusuknya. Seketika kamipun mengaamiinkan do’a tersebut. Lebih tepatnya si kami mendoakan beliau agar berjodoh dengan Bu Agustin hehe. Akhirnya moment hujan selalu menjadi tradisi kelas kami untuk mendoakan Pak Tio dengan Bu Agustin.

Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa kenaikan kelas sudah di ujung mata. Ini berarti kami tidak akan mendengar kisah cintanya lagi. Sedih si tapi kami akan tetap mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua. Namun Pak Tio berjanji ketika esok akan menikah, beliau akan mengundang kelas kami.

Di awal kelas XII, kami mendapatkan berita bahagia. Kami mendapati undangan pernikahan Pak Tio dengan Bu Agustin sesuai dengan janjinya saat itu. MasyaAllah rasanya seneng banget mendengar berita ini. Ternyata benar ya, berdo’a di waktu mustajab itu tidak akan tertolak dan secepat ini Allah mengabulkan do’a kami.

Hari pernikahanpun tiba. Aku dan beberapa teman kelaspun segera berangkat untuk menghadiri pernikahan beliau. Suasana di sana cukup riuh, sebab banyak rombongan dari anak didiknya yang datang meski hanya sekedar untuk memberikan ucapan selamat. Apalagi mereka tak hanya mengampu satu kelas saja, jadi tak heran jika hal demikian terjadi.

Puluhan jenis makanan tersaji di depan mata. Pecel, batagor, bakso, soto, mendoan, es dawet, es tung-tung rasanya seperti melambai-lambai tuk segera diambil. Namun semuanya terkalahkan oleh rasa gengsi. Alhasil hanya beberapa makanan saja yang kami ambil. Itu sudah cukup untuk mengobati perut yang mulai keroncongan.

Kini beliau telah sah menjadi sepasang kekasih yang menjalani hidup tanpa kembali mengenal rasa sepi. Mengajar di satu almamater akan membuat cintanya semakin membara. Kini mereka telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang mirip sekali dengan bapaknya. InsyaAllah akhlak dan kecerdasannya pun akan menurun dari keduanya.

Ketika guru Pendidikan Agama Islam bersatu dengan guru Sejarah Kebudayaan Islam, kira-kira esok anaknya jadi guru apa ya? Hehe. Rasanya masih seperti mimpi, yang awalnya hanya sekedar candaan pencomblangan eh akhirnya disatukan dalam sebuah ikatan suci. Rencana Allah memang tak disangka-sangka ya.

Kini jodoh bukan lagi tentang siapa yang cepat, tapi tentang siapa yang mampu menunggu sambil memperbaiki akhlaknya. Ada pepatah yang mengatakan bawa jodoh adalah cerminan diri. Jika kini kamu belum dipertemukan dengan jodohmu, maka berhusnudzonlah kepada-Nya. Mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu yang tak terduga untukmu.

“Allah pasti memiliki rencana yang terbaik untukmu, maka bersabarlah.”

Cerpen Karangan: Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas
Blog / Facebook: Zahroh Chindy Putri W
Zaharoh Chindy Putri Wahyuningtyas lahir di Magelang, 01 Februari 2002. Dia pernah menempuh pendidikan di SD Negeri Piasa Wetan, SMP Negeri 1 Susukan dan SMK Negeri 1 Banyumas. Kini dia sedang melanjutkan S1nya di UIN Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 12 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Ketika Sejarah Bersatu Dengan Agama merupakan cerita pendek karangan Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Teti Maulida

“Subhanallah.. indah sekali suara itu..” aku mengkhayal sambil meresapi panggilan Allah yang dilantunkan dengan fasih dan merdu itu. Namaku Nabila Rania Zahra, atau bisa dipanggil Zahra, aku terlahir dari




Oleh: Deyra Isra Mi’raz

Namaku mariamila, sebut saja aku mariam. Aaat itu aku seorang gadis yang genap menginjak umur 17, aku masih tercatat sebagai siswa aktif di salah satu smk di kota. Sedari




Oleh: Ike Nurhidayah

“Hush!” Aku mencoba menghapus bayang cintaku yang semu. Merah masih melekat di mata senja waktu itu. Aku masih menunggu. Ingin rasanya, ku putar waktu berlipat-lipat jam yang lalu. Ketika




Oleh: Salsabila Nur Asyifa

Pesantren GUPPI (Gabungan Usaha Pembangunan Pendidikan Islam), adalah pesantren yang sangat terkenal di kabupaten gowa. Pesantren ini mempunyai banyak santri yang saleh, cerdas, mahir dalam bidang agama, bahkan dalam




Oleh: Rizka Dwigrah P

ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR..!! pukul 04:40 pagi, aku membuka mata, mendengarkan lantunan adzan subuh yang begitu indah. Hati ini terasa tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan waktu sholat



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: