8 tahun cerpenmu

Cerpen Kisah KOPI dan Ucup

Spread the love

Cerpen Kisah KOPI dan Ucup





Cerpen Karangan: Ariani Noer
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Thriller (Aksi)

Lolos moderasi pada: 19 June 2022

Apa yang akan kalian lakukan jika bumi diprediksi akan dijajah oleh alien atau sebangsa monster mengerikan?

“Bang! Sini cepetan, kukasih permen kaki biru nih!” panggil seorang anak laki-laki yang memiliki rambut hitam arang berbentuk mangkok.
Yuda namanya. Ia sedang memanggil salah satu temannya yang berbadan besar bernama Bambang. Yuda hendak memberi tahu Bambang bahwa ada sebuah berita menghebohkan di surat kabar perpustakaan. Sebuah gagasan tentang kedatangan alien di muka bumi ini. Digambarkan bahwa alien sebenarnya memiliki bentuk fisik yang hampir sama dengan manusia normal. Tapi, keunikan mereka yaitu kulit mereka yang biru serta kepala yang bisa meledak hingga mengeluarkan asap biru yang bisa membakar kulit. Alien itu mereka sebut sebagai Ucup, bagi mereka nama itu sangat unik dan lucu.

“Apaan sih?!”
“Ternyata Ucup takut sama air, kagak pernah mandikah Ucup ini?” tebak Yuda yang sedang membuka permen kaki biru dan langsung memakannya.
“Lah elah, mana permen kaki birunya, Yud?” protes Bambang sembari menatap wajah Yuda yang sedang mengeletus permen itu. “Dah kagak heran lagi, emang dah kebiasaan.”

Yuda terkekeh melihat wajah merajuk Bambang. Ia segera mengeluarkan permen yang ia makan tadi dengan berhiaskan air liur nan bau tidak sedap dari mulutnya. “Nih, mau kagak? Kali ini Pangeran Yuda baik lho.”
“Idih kagak. Eh, bau apaan nih?” Hidung Bambang yang kembang kempis sibuk mencari asal bau tak sedap yang ternyata asalnya dari Yuda. “Makan jengki ya?! Ya ampun, Yuda! Buset baunya bangke banget!”

Bukannya menutup mulut, Yuda justru tertawa terbahak-bahak hingga membuat bau jengkol dari mulutnya semakin merebak ke seluruh penjuru perpustakaan. Bambang yang berbadan gempal tidak bisa kemana-mana karena perpustakaan yang ramai siang itu, ditambah lagi mual karena bau jengkol yang sangat ia benci. Wajahnya yang pucat membuat Yuda semakin terbahak-bahak hingga..

Huek!
Cairan encer bewarna merah dengan potongan wortel, daun bawang, dan kol yang sudah bercampur dengan makanan lain tumpah tepat ke wajah Yuda yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar. Bau yang sebelumnya jengkol berubah menjadi perpaduan tak harmonis antara bakwan Bi Warti, minuman bersoda merah, dan ayam geprek Kak Kusno. Semuanya tumpah ke wajah Yuda.

“Bambang!”

KOPI, ‘Kumpulan Orang Paling Istimiwir’, panggilan khusus untuk perkumpulan anak-anak SMP yang selalu berpikiran bahwa alien itu ada. Sore ini, mereka berkumpul di rumah Malik, anak yang rumahnya selalu menyediakkan makanan ringan. Ya, mereka ingin berkumpul di sana karena makanannya yang bisa memanjakan perut.

“Tadi kan ya.. di internet ada yang bilang kalau beberapa manusia itu menjelma menjadi Ucup..,” lirih Radit, laki-laki ceking berkulit sawo mata dengan kedua mata sipit.

Suara kunyahan kerupuk menemani mereka yang sedang membicarakan informasi terbaru tentang alien. Di teras rumah Malik yang sedikit gelap menambah suasana misterius di sana. Lampu lentera yang mengeluarkan cahaya oranye membuat Yuda bertingkah aneh, dengan mengangkat lampu lentera itu ke bawah wajahnya. Alhasil, membuat cahaya oranye hangat itu menjadi menyeramkan berkat wajah Yuda yang mendukung.

“Ekhm.. aku mau tanya ke kalian, emang kalian beneran percaya sama Ucup?” Yuda mengalihkan topik sembari menatap teman-temannya.
“Percaya nggak percaya, sih. Lagian itu juga belum dibuktikan dengan akurat,” celetuk Malik yang membuat Bambang tertawa pelan.
“Hahaha, Mal gayamu ngomong wes koyo ilmuwan wae! Lucu tenan koncoku iki!”

Sudah biasa mereka seperti itu. Selalu bercanda setiap waktu. Tidak ada keseriusan topik diantara mereka, hanya pembicaraan alien yang berakhir canda. Namun, persahabatan mereka renggang karena berpisah sekolah setelah lulus SMP.

Mereka berpisah dan kehilangan kontak. Hingga suatu saat, Yuda menemukan sebuah majalah yang membuatnya bernostalgia dengan zaman SMP. Majalah yang berisi kumpulan cerita pendek yang mengusung tema alien.

Ting.. Ting.. Teng..
“Selamat siang anak-anak yang kami sayangi. Pengumuman mendadak kami sampaikan, berhubung ada suatu kendala di sekolah dan akan ada rapat dadakan, jam pulang sekolah dimajukan. Silakan kalian bersiap-siap untuk pulang, ingat ya nak.. segera pulang ke rumah. Terima kasih.”

Yuda mengernyitkan dahinya heran. Apa yang terjadi hingga sekolah memajukan jam pulang siswanya?

Yuda segera mengemasi barang-barangnya ke dalam tas dengan perlahan-lahan. Ketika ia hendak keluar dari kelas, sebuah guncangan besar mendadak membuat seluruh penjuru sekolah bergetar. Pada saat itu juga sebuah panggilan telepon misterius masuk ke ponselnya.

“Siapa?”
“Yuda! Ini gua Guntur. Cep-”
“Guntur? Siapa ya?” Yuda tak mengerti apa yang dimaksud orang di sana, Guntur temannya kah?
“Iya say! Buruan gih ke tempat gue di rumah lama gue di Jogja, udah ditunggu Malik dan kawan-kawan! Sekian terima kasih bro!”

Benar itu teman-temannya. Ia segera melangkahkan kaki menuju parkiran sekolah untuk mengambil sepeda motor antiknya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menancapkan gas dengan cepat.
Sesuatu tak terduga terjadi ketika Yuda sedang menunggu lampu merah di perempatan Tugu. Sekelompok makhluk berkulit biru berbaris rapi mendekat ke arah Yuda dengan kepala yang sedikit membengkak. Itu semua mengingatkan Yuda dengan ciri-ciri alien di surat kabar SMP-nya dulu.

“Beneran, nih? Ucup?!”
Lampu merah berganti hijau.
“KOPI! AYEM KHAMING!!”

Dong!
Suara bel tengah malam berbunyi. KOPI berkumpul kembali. Yuda bersama teman-teman sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semua prediksi dan omong kosong yang mereka ucap sewaktu SMP telah menjadi nyata. Semua yang diremehkan oleh orang-orang ketika KOPI memberi tahu tentang alien, semua terjadi.

Malam ini, tepat tengah malam. KOPI akan melakukan penyerangan ke Malioboro yang menurut berita di sanalah markas Ucup berada. Mereka sudah menyiapkan beberapa persenjataan paling istimewa yang pernah ada di dunia. Panci gosong berukuran besar milik Yuda, sapu lidi penyihir yang telah dimodifikasi dengan garpu taman punya Lik Mal, tongkat baseball kesayangan Guntur, selang panjang warna merah muda milik Bambang, dan speaker kuning berbentuk kelinci milik Radit.

Sekarang mereka sudah sampai di jalan Malioboro yang sangat sepi. Tujuan yang pertama kali mereka lakukan adalah masuk ke salah satu toko terbesar di Malioboro, Toko Shinta. Malik berpendapat bahwa Ucup sering ada di toko-toko seperti itu.

“Masak sih Ucup ada di sana? Ya kali belanja. Gabut banget,” celetuk Radit yang memegang speakernya dengan anggun.
“Mari kita coba. Eh salah.. mari kita lihat.”

Suasana Toko Shinta sangat sepi dan mencekam. Rak-rak makanan berjatuhan tak kenal arah, baju-baju yang berserakan di lantai dengan bekas pijakan sepatu dan sandal jepit yang kotor, juga remang-remang lampu dari beberapa toko yang masih menyala. Mereka sudah sampai di tengah Toko Shinta yang sangat luas. Yang biasanya padat sekarang sangat sepi.

“Tuh kan, kagak ada.”
Bukan tidak ada. Tapi belum muncul.

Klontang!
Guntur tak sengaja menjatuhkan tongkat besi baseballnya yang menghasilkan suara riuh dan gema di Toko Shinta. Sebuah suara geraman membuat KOPI bergidik takut. Seorang wanita paruh baya keluar dari salah satu toko busana. Wajahnya yang biru membuat Radit mengumpat sejadi-jadinya.

“Sial, beneran ada dong, kawanku semua!” Teriakan Radit yang menggelegar membuat sekelompok orang-orang aneh yang mirip Ucup, bedanya mereka berbadan sangat besar.

“Bagong!”
Makhluk berbadan sangat besar dengan panci jumbo keluar dari belakang kelompoknya. Tatapan yang tajam berhasil menurunkan nyali KOPI. Bambang yang sudah mengompol di tempat, Malik yang mengucapkan doa berkali-kali, Yuda yang hanya diam dengan keringat dingin, Guntur yang cengengesan diam-diam merekam semua kejadian itu, dan Radit yang masih mengumpat.

Rawrr!!
Suara geraman dari makhluk paling besar itu membuat KOPI berteriak ketakutan. Makhluk mirip Ucup itu mengejar KOPI yang lari ingin keluar dari Toko Shinta. Namun tak berhasil. Mereka dikepung dari segala arah dan berakhir digiring kembali ke tengah toko.

“Lancarkan rencana B,” lirih Yuda yang memegang panci ibunya untuk dijadikan tameng. “Sekarang!”

Mereka segera melancarkan rencana B. Yuda dan Guntur mengurus para Ucup berbadan besar yang mereka namakan Bagong ini dengan lihai. Radit akan naik ke lantai paling atas untuk memasang speaker pengeras yang mungkin bisa melemahkan pendengaran Bagong. Dan Bambang yang menggiring Bagong ke gudang guna menyekap mereka sementara Malik membakar beberapa kain yang membuat alarm kebakaran berbunyi hingga akhirnya sprinkler mengeluarkan air.

“Guntur! Ayo kita selesaikan semua, sekarang!” Yuda segera menyelesaikan para Bagong dengan memecahkan badan mereka yang ternyata seperti gelas kaca, sangat ringkih jika terkena pukulan.
“Selamat malam Bagong-bagongku!” Suara Radit yang sangat besar dan memekakkan telinga berhasil melumpuhkan para Bagong di lantai paling atas.

“Makan nih air maknyus! Pada belum mandi kan?!” Malik berhasil membuat seluruh sudut toko basah dengan air dan berhasil melumpuhkan semua para Bagong.

Mereka akan berkumpul di parkiran mobil untuk mengambil mobil Yuda. Mereka akan melakukan perjalanan ke rumah sakit terdekat untuk bertemu dengan orang-orang yang selamat. Setelah menyelamatkan orang-orang, mereka berencana untuk berkumpul di perempatan Tugu untuk bertemu dengan seseorang yang mereka kenal.

Namun, Bambang dan Radit tidak menyetujuinya karena Dewa—mantan kakak kelas pembuli mereka yang menjadi ketua daerah tersebut. Yuda yang sudah melupakan sifat bejat Dewa, meyakinkan teman-temannya untuk tetap berkumpul di sana dalam keadaan darurat ini. Alhasil, mereka segera ke perempatan Tugu dengan perasaan berkecamuk.

“Satu!” Suara mobil saling bersautan membuat Ucup berkumpul di perempatan Tugu.
“Dua!” Sekelompok orang yang masih selamat menaikkan bendera merah dengan semangat membara.
“Tiga!” Semua mobil, semua orang berlari menyerang para Ucup yang mengeluarkan geraman.
“Serang!”

Semua mobil yang dikendarai dengan kecepatan tinggi membuat Ucup terpelanting jauh. Namun, kepala pasukan Ucup yang meledak membuat asap di kepalanya menguap dan membakar kulit orang-orang yang berada di dekatnya. Yuda yang mengerti cara melemahkan Ucup dengan benar segera memberi tahu Dewa.

“Halu, ya?! Mereka nggak akan mati dengan air, bodoh!” bentak Dewa kepada Yuda yang membuat KOPI marah.
“Yaudah. Kalau mau banyak korban kayak gini aja terus, dasar banci!” teriak Radit yang tersulut amarah.

Merasa mereka dipermalukan di sana, KOPI memilih berpisah dengan Dewa daripada mengikuti perintah anehnya. KOPI bersama orang yang percaya dengan mereka akan pergi menuju kantor pemadam kebakaran, mengambil mobil pemadam kebakaran guna menyiram semua Ucup. Yang pertama mereka lakukan adalah mengumpulkan semua Ucup ke Alun-Alun Kidul.

Di sinilah mereka. Yuda dan Bambang bersama yang lain mengendarai mobil pemadam kebakaran dengan lihai. Radit bersama orang-orang yang lain memasang pengeras suara jumbo dan mereka akan bernyanyi sekeras-kerasnya. Malik, Guntur, dan orang-orang yang lain membakar beberapa kayu atau sampah untuk menarik perhatian Ucup terhadap cahaya.

“Selamat malam saudara-saudaraku! Yuk kumpul di sini semuanya para jomblowan dan jomblowati!” Suara Radit disertai dengan lagu-lagu anak muda zaman sekarang membuat Ucup datang berlari secara berkelompok ke sana.

Inilah pertunjukan yang sangat mereka nantikan. Pemberian air yang manjur mengalahkan Ucup. Yuda dan yang lainnya segera mengarahkan selang mereka ke arah Ucup.

“Sekarang!”
Dalam sekali kejap, teriak kesakitan dari para Ucup memenuhi Alun-Alun Kidul malam itu. Sautan kemenangan orang-orang di sana menjadi kenangan tersendiri di benak Yuda.

Sudah 4 tahun berlalu dan keadaan Indonesia masih dalam penjajahan Ucup. Semua orang banyak yang meninggal karena perbuatan keji Ucup. KOPI memilih untuk tetap menjaga Yogyakarta dari serangan Ucup.

Terakhir kali mereka melawan Ucup di Gunung Merapi dan bertemu dengan Dewa. Mereka menyempatkan waktu sebentar untuk berbincang, sayangnya serangan Ucup terjadi saat itu juga. Dewa tewas di sana demi menyelamatkan salah satu keluarganya. Hanya satu pesan yang Dewa berikan ke Yuda dan masih ia ingat sampai sekarang.

“Seberat apapun masalah dan beban yang kau hadapi hari ini. Sebanyak apapun orang-orang yang meremehkanmu, tetap hadapi. Aku percaya kalau kau itu pantang menyerah.”

Dinginnya malam di Sleman membuat Yuda melangkahkan kaki ke dalam markasnya. Ketika ia ingin masuk ke kamar, Bambang memanggilnya untuk berkumpul di ruang tengah. Ternyata mereka menemukan Ucup yang berkeliaran di taman belakang markas. Itulah saatnya KOPI bertarung.

“Hahay, saatnya pertunjukan,” ucap Guntur sembari mengambil sapu ijuk di kamarnya.
“Tangan gatal ini.. ingin sekali.. menyiram mereka,” sahut Bambang yang memutar kedua lengannya yang sudah lama kaku dan berdaki.

Mereka segera bergegas keluar dari markas untuk memberi hukuman kepada Ucup karena sudah mengganggu waktu tidur.

“Akan kuberi Ucup pelajaran,” celetuk Malik yang sibuk menggotong lilitan selang air.
“Pelajaran apa, Lik?” Mendengar ucapan Radit membuat keempat temannya melirik tajam ke arah Radit yang hanya cengengesan saja.

Malik memukul-mukul panci menggunakan spatula dengan semangat berkobar yang berhasil mengeluarkan suara bising. Sekelompok Ucup datang mendekati KOPI dengan kecepatan lari mereka yang semakin lincah. Sedangkan KOPI hanya berjalan santai menunggu aba-aba Yuda.

“Oke. Pertunjukan KOPI saatnya dimulai!”

Cerpen Karangan: Ariani Noer


Cerpen Kisah KOPI dan Ucup merupakan cerita pendek karangan Ariani Noer, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Aldy Verdiana

Ilda gregor, itu namanya, dia menutupi kepalanya dengan tas sekolah, karena hari ini lupa bawa sweater. Hujan turun dari tadi, senja merah telah tampak di ufuk barat. Baju seragam




Oleh: Desy Alfianita

Di tepi jembatan itulah ia tinggal bersama orangtuanya. Namanya Rembulan sering dipanggil Bulan, anak gadis sederhana yang selalu sibuk dengan khayalan-khayalannya itu. Baginya bermimpi itu tidak ada salahnya. Sebuah




Oleh: Derasa

Dan sekarang aku tahu mengapa aku sangat senang dengan angin dan merasakan angin di tebing itu. Aku tak menyangka bahwa Foster si pria yang aku curigai ini sebenarnya adalah




Oleh: Sofa Malikatu Dzakiya

Tatapannya begitu tajam seolah tak pernah melihat manusia, aku berusaha berteriak, namun, tangan lembutnya menutup mulutku. Aku ingin menangis tapi tak bisa, wajahku meneteskan keringat, aku mulai takut, dimana




Oleh: Ipank Aprilian

Sebulan full ini idup gue udah gak karuan, waktu udah gak teratur, makan aja udah lupa. Tidur slalu malem ampe jam empat subuh, eh gue tidur, solatpun ketinggalan bro,



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: