8 tahun cerpenmu

Cerpen Kisah Rohimah Di Suatu Desa

Spread the love

Cerpen Kisah Rohimah Di Suatu Desa





Cerpen Karangan: Novaliana Syawalika
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih

Lolos moderasi pada: 27 May 2022

Ia bangun menepikan gorden di hadapannya dan membiarkan matahari pagi masuk dan cahaya memenuhi setiap sudut kamarnya. Seperti biasa wajahnya sumringah jiwanya sudah menggebu gebu ingin bertemu 12 anak anak didik hebatnya di sekolah.

Tapi mimiknya berubah setelah melihat tanggal di kalender yang sebentar lagi habis dipenuhi oleh coretan merah. 7 hari lagi menuju tanggal 30. Waktunya ia meninggalkan desa ini. Pengabdiannya terhadap anak anak hebat sebentar lagi akan selesai.

Namanya rohimah. Mahasiswa hebat yang menghabiskan waktunya 2 tahun untuk mengabdi mengajari anak anak yang tidak mampu bersekolah di pelosok pelosok desa.

“assalamualaikum anak anak hebat” salam rohimah setiap memasuki kelas.
“walaikumsalam bu” jawab antusias dari anak anak
Suasana kelas sangat hangat seperti biasa. Dipenuhi canda tawa dan celotehan celotehan bocah. Rohimah memulai kelas dengan mengabsen satu persatu murid.

Setelah mengabsen ia baru menyadari, jumlah murid di kelas hanya 11 orang. Ia bertanya “apakah ada yang tidak hadir untuk kelas hari ini”
“badrul bu” jawab salah seorang murid di kelas

Namanya badrul, murid yang mempunyai keistimewaan dalam dirinya. Sulit berkomunikasi kepada siapapun kecuali kepada rohimah. Bahkan keluarganya sempat tidak mau mengakuinya.
Semenjak rohimah mengajar, badrul jadi lebih terbuka. Ia sering menceritakan hal hal tidak mengenakan dari kedua orangtuanya kepada rohimah.
Rohimah agak khawatir, badrul tidak hadir hari ini.
Pelajaran di kelaspun berjalan seperti biasa. Rohimah menerangkan materi dan diakhiri dengan kuis.

Setelah pelajaran rohimah tidak pulang. Ia berniat mengunjungi rumah badrul. Ingin memastikan apakah ia baik baik saja.

Tidak ada yang menarik sepanjang jalan pulang, desa ini dipenuhi pepohonan rimbun, sungai dan jembatan yang sudah reot.
Di ujung jalan sebelum jalan raya, kerumunan orang berkumpul. Menghalangi jalan.
“ada bocah tertabrak truk” jawab salah seorang warga

Perasaan rohimah tidak enak, karna setau ia bocah di desa ini hanya murid muridnya di sekolah. Ia menghampiri kerumunan. Belum kelihatan korbannya. Ia semakin menerobos masuk kerumunan, terlihat korban terbaring tak bernyawa di tkp, kolam darah menggenang di sekitarnya, wajahnya hancur tidak dapat dikenali. Tapi rohimah tau. Itu adalah badrul!. Rohimah menangis dan berteriak sejadi jadinya. Semua warga menenangkan rohimah yang sedang histeris.

Selang beberapa menit kedua orangtuanya datang ke tkp, menangis sejadi jadinya lagi. Semua orang tidak bisa berkata apa apa. Semua diam menunggu ambulan. Diam mematung, hanya suara isak tangis dari keluarga korban dan rohimah.

Setelah menunggu ambulan datang, cukup lama karena letak rumah sakit berada di luar desa, cukup jauh. Ambulan tiba dengan menyalakan bunyi sirinenya. Ia mengeluarkan tandu dan mengangkat tubuh badrul yang sudah tidak bernyawa.

Rohimah hampir saja kehilangan kesadaran melihat semua kejadian itu. Tapi syukurlah ia bisa mengendalikan dirinya dengan terus menerus melantunkan dzikir. Karna ia yakin, allah menyayangi badrul dan semua yang terjadi padanya sudah dikehendaki allah.

Keadaan di rumah badrul sangat ramai. Semua datanga untuk berbela sungkawa. Isak tangis semakin menjadi jadi. Orangtua yang dulu tidak menginginkan kehadirannya kini menangis sejadi-jadinya saat badrul pergi, aneh memang.

Bendera kuning disiapkan, kain putih dan keranda mayat sudah siap.
Rohimah mendengar cerita dari tetangga badrul, bahwa sebelum kejadian, pertengkaran hebat terjadi di rumah badrul, badrul menangis dan berlari kencang tidak tau arah, sampai keadaan terakhirnya ia tertabrak mobil truk di ujung jalan raya.
Rohimah benar benar tidak menyangka mendengarnya, ia berharap kedua orangtua bedrul sadar, dan mengikhlaskan kepergian badrul agar ia bisa pergi dengan tenang.

Proses penguburan badrul berjalan lancar, rohimah senang bisa mendampinginya sampai ke peristirahatan terakhir badrul. Dengan angin sepoi sepoi rohimah duduk berlutut di samping nisan berdul. Ia tidak bisa membendung air matanya, ia berkata bahwa rohimah sangat menyayangi badrul dan akan selalu menyayangi badrul sampai kapanpun.

Sesampainya di rumah, setelah melewati hari yang cukup panjang dan buruk. Ia kembali ke kamarnya. Mencontreng kalender dengan spidol merah “6 hari lagi, dan di 6 hari terakhir aku kehilangan murid istimewaku” batin rohimah.

Ia membuka ponselnya, melihat galeri dan memori memori itu tiba tiba datang saat ia membuka foto 2 tahun lalu, saat semua baru saja dimulai. Semua tampak masih malu malu di foto pertama saat pelajaran dimulai. Memasuki bulan kedua, semua tampak sudah semakin dekat dan hangat, foto rohimah bersama murid muridnya ketika menantikan matahari terbenam dari atas tebing tinggi, bulan bulan selanjutnya tidak kalah seru, handphone rohimah sudah merekam semuanya, main di sawah, memandikan kerbau, makan bersama dan hal hal lain yang semuanya tersimpan rapih di gallery.

Foto terakhir bersama badrul, dua minggu lalu saat mereka bertigabelas mengunjungi sebuah bukit, menysuri jalanan jalanan kecil dan mengikuti aluran sungai, sampailah mereka di sebuah bukit yang sangat indah. Pemandangannya menyejukan mata dan mendamaikan hati, mereka menceritakan banyakhal sambil duduk berjejer di pinggir pinggir bukit. Mengungkapkan cerita perihal hari hari mereka masing masing.

Tanpa sadar airmatanya menetes tidak terkendali, malam ini suasanaya tidak kondusif bagi rohimah, rasa gelisah menghantui dirinya malam ini. Semua terasa berat, meninggalkan desa dengan sejuta kenangannya, tapi rohimah harus melanjutkan kariernya di kota.

Seminggu telah berlalu, tepat dimana hari kepulangannya tiba, murid murid nangis dan memeluk rohimah dengan sangat erat, rohimah tetap tegar walau hatinya hancur sehancur hancurnya, semua berpelukan, semua menangis di depan kendaraan yang akan mengantar rohimah pulang.

Kalimat terakhirnya adalah selamat tinggal dan sebuah janji bahwa suatu saat kita semua harus bertemu, perpishan bukanlah akhir dari segalanya. Suatu saat kita akan bertemu dan melepas kerinduan bersama-sama di tempat awal cerita manis ini dimulai

Cerpen Karangan: Novaliana Syawalika
Blog: Partofperihal.blogger.com
haii, semoga kalian suka baca ceritaku yaa, happy reading all terimakasih

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 27 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Kisah Rohimah Di Suatu Desa merupakan cerita pendek karangan Novaliana Syawalika, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Maladewi

“Ambu dan Uwa, sayang pada kau, Leh.” ucap Ambu memulai percakapan. Aku bergeming, mendengar penuh bakti dan merasakan begitu tulusnya mereka menyayangiku. Tak dapat dipungkiri, Uwa memang sangat perhatian




Oleh: Diannie

Cinta.. tak mengenal kata siapa, kapan, dan di mana. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan yang hadir dalam hati. Jika benar cinta tak selalu harus memiliki, maka bukankah akan ada




Oleh: Devi Puspita Ayu

Aline Clarisa. Aku adalah gadis cantik dengan hidung mancung dan bermata coklat sebagai penyempurna kecantikanku. Aku dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang harmonis dan berkecukupan. Aku satu satunya anak dari mereka.




Oleh: Arachelly Dwi Ayuni

Senyum tulusnya menandakan kebaikan hatinya, dia berkulit putih dan berambut cokelat, sebut saja namanya Dokter Reihan, dia adalah dokter anak di Rumah Sakit Smile Kids “Naura, yuk kita ke




Oleh: Chrystalistic

Matahari pun sudah waktunya bergilir ganti dengan sang Purnama. Cahaya putih yang gemilap, serta bintik-bintik kecil indah yang tersinar bak glitter langit di malam hari. Bahkan panorama ini nampak



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: