8 tahun cerpenmu

Cerpen Kisah Si Gadis Tunarungu

Spread the love

Cerpen Kisah Si Gadis Tunarungu





Cerpen Karangan: Fika Andina Pangestuti
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Nasihat

Lolos moderasi pada: 24 June 2022

Artania Shakira kerap disapa Tania, seorang gadis tunarungu miskin yang berprestasi, ia hidup bersama ibunya karena ayahnya meninggalkannya disaat ia berumur belia. Ibunya bekerja sebagai pembantu di rumah orang, ia keluarga yang berkekurangan, tapi karena kecerdasannya ia mendapatkan beasiswa di sekolah elit di kotanya. Selain itu, Tania juga mendapat alat bantu pendengaran agar Tania dapat mendengarkan materi dari guru di sekolah.

Tania, dia gadis tunarungu yang berkekurangan, sejak sekolah dasar ia sering diejek dan dibully oleh teman-teman sekelasnya. Bahkan, sampai ia duduk di bangku SMA pun ia masih mendapatkan bullying dan ejekan dari teman sekelasnya, salah satunya yaitu Faira Lestari bersama teman satu gengnya yang termasuk kalangan orang kaya di sekolah itu.

“Hey tania, anak tunarungu nan miskin, kok bisa sih lo sekolah di sekolah orang yang rata-rata anak konglomerat?” tanya Faira sarkastik.
“Aku dapat beasiswa jadi bisa sekolah disini,” jawab Tania setelah memakai alat bantu pendengaran.
“Lo sadar gak sih, kalau orang kaya lo itu gak cocok sekolah disini, udah miskin, dekil, lihat deh penampilan lo itu cupu banget beda sama kita-kita yang fashionable,” ejek Faira.
“Aku apa adanya Faira, aku memang bukan anak orang kaya, tapi aku berusaha membantu ibuku dengan masuk sekolah dengan beasiswa,” jelas Tania sambil menahan tangisnya.
“Dih, anak pembantu aja bangga,” sinis Faira.
“Apapun pekerjaan ibuku, itu demi menafkahi aku dan adikku dan aku gak minder dengan pekerjaan ibuku,” jawab Tania.
“Lagian ibuku bekerja secara halal bukan mencuri ataupun bekerja kotor jadi aku gak pernah merasa rendah kalau ada yang mengejek ibuku pembantu,” ucap Tania yang berusaha untuk tersenyum. Sebagai seorang anak, siapa yang tidak menangis jika diejek seperti itu?
“Dih, sok iye lo, sana jauh-jauh lo dari gue,” ucap Faira seraya mendorong Tania hingga jatuh di lantai.
Tania tak membalas perbuatan temannya itu, sadar karena diperhatikan oleh teman yang lainnya, ia berlari ke kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya.

“Tuhan, aku gak sekuat yang engkau bayangkan tapi aku tau engkau yang menguatkan hatiku saat ini,” tangis Tania. Hatinya begitu sakit karena setiap harinya ia selalu mendapat omongan yang menyakitkan dari teman-temannya yang tak pernah ia balas, ia tahu bahwa Tuhan maha melihat dan maha mendengar. Ia dengan cepat menghapus air matanya dan kembali ke kelasnya. Di kelas tak seorangpun yang duduk disampingnya, semua temannya merasa tidak selevel dengannya yang notabenenya anak pembantu.

Saat pulang sekolah Tania selalu berjalan kaki, karena ia menabung uang yang diberi ibunya untuk naik angkutan umum, hal itu selalu dilakukan Tania, uang itu ia tabung untuk masa depannya kelak. Selain itu, Tania tidak pernah jajan di kantin sekolah karena Tania membawa bekal dari rumah. Dia lebih memilih menabung uangnya daripada untuk jajan.

Suasana sore hari yang mendung membuat Tania mempercepat langkahnya. Ia pulang terlambat karena ada ekstrakurikular yang diwajibkan untuk hadir. Ditengah perjalanan, tepatnya di sebuah jalan setapak yang sepi, Tania mendengar sayup-sayup suara yang meminta tolong dan ia merasa familiar dengan suara itu.
“TOLONG, TOLONGIN GUE.”

Tania dengan segera mencari sumber suara itu ternyata di seberang sana ada seorang perempuan yang sedang dihadang oleh 2 orang preman jahat. Dan perempuan itu Faira teman sekelasnya yang sering membullynya.
“TANIA, TOLONGIN GUE PLEASE HIKS SAKIT BANGET TANGAN GUE,” teriak Faira pada Tania, ia menangis karena cengkraman preman itu sangat kuat.

Tania mencari cara untuk menyelamatkan Faira, matanya memandang sekeliling dan menemukan sebuah balok kayu, tanpa basa-basi Tania mengambil balok kayu untuk melawan preman itu.
“BUGH.”
“BUGH.”
Tania memukul preman yang mencengkram tangan Faira dari belakang dan membuat preman itu terjatuh dan pingsan. Dan memukul preman satunya sampai terjatuh. Tania dengan cepat menarik tangan Faira untuk kabur dari situ. Namun naas, preman yang terjatuh tadi bangkit lalu mengejar Tania dan Faira. Keduanya pun ketakutan ketika melihat preman itu masih mengejar mereka. Kemudian mereka bersembunyi di pos satpam dekat rumah Faira.

“Kamu gapapa kan Faira?” tanya Tania.
“Gue gapapa kok,” isak Faira masih trauma dengan kejadian tadi.
“Untunglah, aku takut kamu kenapa-napa, yaudah aku pergi dulu ya,” pamit Tania.
“Tunggu,” cegah Faira.
Tania membalikkan badannya saat Faira menghentikannya.

“Makasih Tania, maafin gue selama ini udah bully lo, udah jahat sama lo, gue sangat menyesal, gue janji gak seperti itu lagi,” ucap Faira menyesal akan perbuatannya.
“Gapapa kok, aku gak bawa ke hati perkataan kamu ke aku, aku juga udah maafin kamu kok,” ucap Tania tersenyum tulus.
“Makasih Tania,” ucap Faira memeluk Tania, Tania pun membalas pelukan Faira.
“Gue janji gak akan bully orang lagi, gue mau lo jadi sahabat gue, lo mau gak Tania?” tanya Faira
Tania yang mendengar ucapan Faira dengan antusias mengangguk, karena sejak ia masuk sekolahnya itu tidak seorangpun yang mau berteman dengannya.

Sejak kejadian itu, mereka menjadi teman dekat sampai masuk perguruan tinggi yang mereka impikan.

Perjuangan Tania untuk beasiswa pun tidak main-main, Tania selalu belajar setiap malam agar nilainya tidak turun, usaha Tania yang begitu besar membuahkan hasil yang maksimal sampai perguruan tinggi.

Dari sini, kita tahu bahwa menyakiti orang lain merupakan perbuatan yang tidak baik, selain itu dalam berteman pun tidak boleh membeda-bedakan karena kita semua sama, meskipun ia orang yang berkekurangan tapi ia mempunyai hati, hatinya akan sakit jika dihina. Menjaga lisan dalam berkata, karena ketika orang lain sakit hati akan membekas dihati. Orang yang terlihat jahat pun bisa menjadi baik bahkan lebih baik.

Cerpen Karangan: Fika Andina Pangestuti
Blog / Facebook: Fikandina
Fika Andina Pangestuti, lahir di Purbalingga pada 18 Juni 2003. Menyelesaikan pendidikan dasar di SD N 1 Bungkanel tahun 2013, dan melanjutkan pendidikan di SMP N 1 Bobotsari pada tahun 2016, dan melanjutkan pendidikan di SMA N 1 Bobotsari pada tahun 2018. Sekarang, tengah menempuh pendidikan strata satu semester dua di Universitas Islam Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dan mengambil program studi Pendidikan Agama Islam.


Cerpen Kisah Si Gadis Tunarungu merupakan cerita pendek karangan Fika Andina Pangestuti, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Nurhikmah Hakiki

Doraemon adalah karakter kartun kesukaan Ciko. Saking sukanya, anak lelaki 8 tahun itu membuat kamarnya dipenuhi gambar robot kucing itu. Suatu hari setelah Ciko selesai menonton film doraemon di




Oleh: Arifa Ainaya Azlyani

Tanggal 19 Desember 2013. Hari ini pun sama dengan hari kemarin. Aku yang seorang anak tunggal Ayah dan Mama. Ayahku bekerja sebagai pekerja kantoran, sedang Mamaku adalah seorang editor




Oleh: Adiba Ghafira Aininda

Namaku Raisa Viladyka. umurku 8 tahun. aku anak bungsu dari 3 bersaudara yang berarti aku mempunyai 2 kakak bunda dan ayahku sangat sibuk bekerja tapi 2 kakakku inilah yang




Oleh: Dorothy Evangeline Irene

Bel pulang sekolah berbunyi, aku segera buru-buru pulang. Kata ibu, hari ini nenek datang ke rumahku. Aku ingin meminta nenek bercerita tentang ayahku yang entah pergi kemana. Oh ya,




Oleh: Alyaniza Nur Adelawina

“Berenang di kolam berenang mana, Bi?” cerocos Rina saat Abi selesai bicara, dari sambungan via telepon. Rina senang saat mendengar kata “Kolam Renang” dan “Ajak Berenang”. Abi hanya terkekeh



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: