8 tahun cerpenmu

Cerpen Lelaki Pembawa Mushaf

Spread the love

Cerpen Lelaki Pembawa Mushaf





Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Kategori: Cerpen Islami (Religi)

Lolos moderasi pada: 21 June 2022

Beberapa lelaki tampak berkumpul sedang mengelilingi api unggun yang menyala di tengah halaman sebuah rumah yang mereka anggap sebagai tetua. Tetua yang paling mereka hormati dan paling mereka taati. Sebab tetua yang mereka muliakan adalah seorang lelaki yang selalu mendapat wangsit dari Hyang melalui perantaraan mimpi. Para lelaki itu berwajah suram bercampur emosi dan kemarahan yang bergumpal-gumpal di lubuk hatinya yang paling dalam.

“Lelaki bernama Mukammad itu telah berani mengaku-ngaku sebagai seorang nabi utusan Hyang. Padahal Hyang sama sekali tak membutuhkan seorang pembantu untuk menyampaikan wahyunya kepada hambanya. Dengan pongahnya dia menyiarkan agama barunya yang bernama Islam. Cuih. Tidak sudi aku, Kang, kalau si Mukammad itu memintaku untuk meninggalkan agama nenek moyang,” kata seorang lelaki yang duduk di dekat api unggun dengan bara nyala api di hatinya melebihi bara yang membakar tumpukan kayu di depannya.

“Aku berasumsi, Kang, kalau kelak agama si Mukammad merajai bumi pertiwi, dia dan gerombolannya yang terdiri dari sanak famili kita yang terkontaminasi oleh agama barunya itu, dia akan merusak dan merobohkan patung-patung nenek moyang sesembahan kita. Termasuk candi-candi yang telah dibangun oleh para leluhur,” ujar salah seorang lelaki lain yang duduk di sebelah lelaki yang pertama.
“Jangan sampai itu terjadi, Mas. Jangan sampai itu terjadi. Hyang tidak akan membiarkan si Mukammad merusak bangunan-bangunan suci tempat para malaikat bersemayam. Aku tidak akan membiarkan si Mukammad dan antek-anteknya yang telah mengejek agama nenek moyang kita sebagai agama kafir dan syirik, menghina para malaikat, dan menghina Hyang, mencerai-beraikan kita. Aku akan melawannya. Kalau perlu, Tuhannya si Mukammad yang bernama Allah akan aku bunuh. Kalau dia memang berada di langit aku akan terbang. Lalu aku tikam dia dengan kerisnya Mpu Gandring,” sahut seorang lelaki lagi dengan emosi yang ditahan-tahan.

Malam itu, para lelaki itu tengah berkumpul dan membicarakan tentang seorang nabi yang berasal dari golongan mereka. Padahal menurut mereka, pemuda yang bernama Mukammad itu tidak pantas diangkat menjadi seorang utusan Hyang. Dengan ajaran barunya yang dia dapatkan dari Gunung Tidar, Mukammad mengaku telah mendapat wahyu untuk menyampaikan suatu ajaran yang bermaksud untuk mengubah sesembahan yang selama ini disembah oleh para leluhur mereka. Katanya lagi, masih kata Mukammad, dia juga telah mendapat wahyu berupa ayat-ayat yang memerintahkannya agar berdakwah mengislamkan penduduknya.

“Aku yakin kalau si Mukammad sudah mengidap penyakit gila, Kang. Bukankah putranya kemarin yang bernama Kasim itu meninggal dunia. Atau bisa jadi, si Mukammad kerasukan jin hutan angker atau penghuni Gunung Tidar sehingga dia mengaku-ngaku sebagai utusan Hyang.”
“Aku penasaran dengan Tuhan yang disebut Mukammad itu Allah. Siapa Allah? Apa hebatnya Allah? Mana hebat Allah dengan Hyang? Apakah Allahnya Mukammad bisa menciptakan alam semesta? Apakah Allahnya Mukammad dapat menciptakan candi-candi suci?” kata seorang pria paro baya dengan pongah.

Lalu di hadapan mereka lewat lima orang laki-laki dari golongan mereka yang telah meninggalkan agama nenek moyang mereka demi memeluk agama baru yang dibawa oleh Mukammad, seorang lelaki yang mengaku-ngaku sebagai seorang utusan Tuhan.

“Hei, Jongosnya Mukammad! Mau ke mana?”
Kelima orang mukminin itu tidak menyahut. Jumlah mereka sangat sedikit apabila mereka menjawab kepongahan orang-orang itu.
“Tentu saja mau ke rumah nabinya, Kang.”
“Mending di sini, Kang-Kang. Kita minum-minum sambil kelonan dengan widadari-widadari surga.”
“Maaf, Kang-Kang. Kami harus pergi. Nuwun sewu. Kami hanya numpang lewat saja di sini,” sahut salah seorang dari kelima pria itu.
“Aku sama sekali tidak tahu makna dari kata yang dikatakan oleh Mukammad itu. Bismillakirrahmanirrakim. Apa memang maknanya bismillakirrahmanirrakim? Aku yakin, maknanya jauh lebih hebat dari lontar-lontar syair para Mpu. Sebab syair yang ditulis oleh para Mpu merupakan sabda-sabda dari langit. Langsung dari Tuhan. Sementara wahyu yang diterima oleh Mukammad hasil halusinasinya sendiri. Lalu disampaikan kepada kaum dungunya, dan mereka mantuk-mantuk saja. Dasar manusia gendeng! Mereka sama sekali tidak tahu, kalau apa yang disampaikan oleh si Mukammad hanyalah sebuah dongeng. Dasar nabi halu!” kata salah seorang lelaki dengan nada mengejek.

Lalu, para lelaki yang sudah dimabuk oleh kedunguan dan kebejatan itu menenggak sekali arak yang mereka buat dari kedua tangannya sendiri. Arak-arak yang jauh lebih menjijikkan daripara kencing onta itu masuk ke dalam koro’an mereka yang suci. Mengalir melalui urat-urat mereka dan memenuhi perut mereka sampai kenyang. Arak-arak itu kemudian menyatu dengan kencing dan darah mereka.

Aku yang menjadi saksi atas semua ini hanya diam. Aku hanya bisa memerhatikan. Sementara hati dan pikiranku bertanya-tanya, manakah ajaran yang dapat membuatku bertemu dengan Tuhan. Apakah ajaran nenek moyangku yang telah dinodai oleh para penganutnya yang biadab? Apakah mabuk-mabukan bukan perbuatan biadab? Bukankah berzina bukan perbuatan biadab? Bukankah menari-nari sambil memegang tubuh perempuan yang bukan istrinya bukan perbuatan biadab? Merekakah yang paling benar ataukah Nabi Mukammad yang mereka hina? Ajaran merekakah yang paling benar dan membawa kepada kebahagiaan yang lebih hakiki? Lalu ajaran manakah yang halu dan berisi dongeng-dongeng? Dulunya, agama nenek moyangku mentauhidkan Hyang. Namun dengan seiringnya waktu dan nabi yang diutus oleh Hyang telah habis masa tugasnya, mereka lalu merubahnya. Meskipun tidak total, maksudnya mereka sama sekali tidak merusak tempat-tempat sembahyang namun syariatnya mereka rubah sehingga agama itu berubah menjadi agama Pagan.

“Ketahuilah, Sekallian Manusia! Bahwa alam yang kita lihat sangatlah luas ini baik di langit maupun di bumi, mencakup keseluruhannya yaitu sekalian alam, terhimpun atau terangkum akan rahasia Ilmunya di dalam 30 Juz Al-Qur’an,” kataku dengan suara lantang di hadapan para lelaki yang setengah sadar setengah teler itu. Seperti melihat hantu yang tiba-tiba muncul, mereka bangun dan matanya memelototiku. Hatinya terbakar. Mereka pun cekikikan seolah melihat monyet di hadapannya.
“Bocah wingi sore wani maringi wejangan nang awak dewe! Huahahaha! Cah, Cah. Koe iki durung ngombe pipise unto thah?”
“Artinya adalah siapa-siapa yang membaca dan memahami Al-Qur’an, maka sama halnya ia melihat kepada sekalian alam. Karena hakikat penciptaan alam ini termuat pada 30 juz Al-Qur’an, 114 Surah, 6666 Ayat. Sangat agung sekali kitab Al-Qur’an itu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Yang kemudian menjadi kitabnya orang-orang Islam. Bahkan dikatakan bahwa Al-Qur’an itu sebagai penyempurna dari pada kitab-kitab sebelumnya. Akan tetapi keagungan dari pada Al-Qur’an itu bukanlah dilihat dari pada tulisan dan bacaannya, melainkan dari pada makna yang tersirat atau terkandung didalamnya,” lanjutku tanpa merasa gentar sedikit pun sehingga tiba-tiba mereka menggorok leherku.

“Adapun tulisan atau bacaan yang termuat di dalam kitab itu tidak ada bedanya dengan daun-daun lontar bacaan biasa, sehingga letak keimanan seseorang apabila hanya terfokus kepada kitabnya atau bukunya itu sama halnya ia beriman kepada sesuatu yang bakal hancur. Dikatakan bakal hancur karena apabila kitabnya atau bukunya itu dimasukkan ke dalam api ia akan terbakar, dimasukkan kedalam lautan ia akan basah. Jangankan di bakar dan dimasukkan ke dalam air, di taruh saja di atas lemari, tidak di rawat dan di urus pun lambat laun ia akan rusak dan lapuk dimakan oleh rayap.

Sudah kewajiban bagi seorang mukmin untuk beriman atau mempercayai kepada kitab Al-Qur’an yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Tetapi yang perlu direnungkan adalah keimanan atau kepercayaan seseorang akan sesuatu itu, akan dibawa sampai mati bahkan sampai ke Rabbul Jalil. Jika yang di Imani adalah sesuatu yang rusak dan hancur, maka keimanannya akan dipertanggung jawabkan di hari kemudian kenapa beriman kepada sesuatu yang bisa hancur.

Tetapi apabila ia mengerti bahwa yang diimani itu bukanlah “Kitabnya atau bukunya”, melainkan yang terkandung di dalamnya yaitu “Firman Allah” maka keimanan seperti itulah yang akan menjadi penolongnya di hari kemudian, karena makna yang terkandung di dalam kitab itu yaitu “Firman Allah” itu tidak akan hancur dan tidak akan musnah sampai kapan pun juga.

Allah Swt berfirman: “Dan sekiranya Qur’an diletakkan di atas gunung, maka gunung dapat digoncangkan atau diletakkan pada bumi, maka bumi jadi terbelah atau diletakkan pada orang mati maka orang-orang yang sudah mati dapat berbicara.” (Qs. Ar Ra’d: 31)”.

“Bisakah Allahmu membuktikan kalau Al-Qur’annya itu dapat menggoncangkan dan membelah gunung sebagaimana firmannya? Itu cuman sabda halusinasi, Cah. Tidak ada. Bohong!” ujar salah seorang dari mereka dengan nada mengejek.
“Al-Qur’an yang manakah yang di maksud diayat itu? Apakah Al-Qur’an yang berbentuk buku, yang banyak tersimpan di dalam lemari-lemari kaum Muslimin? Jika Qur’an kitab yang berbentuk buku itu yang dimaksud dan diletakkan di atas gunung maka pastilah gunung itu tidak akan bergoncang apalagi hancur. Akan tetapi malah bukunya yang akan rusak terkena panas dan hujan,” aku sama sekali tidak mengindahkan ejekan mereka malah aku melanjutkan. Aku tahu kalau aku sedang berbicara dengan Ka’bah-Ka’bah hitam yang tebal itu. Atau aku sedang berbicara dengan batu-batu candi yang keras itu. Aku tidak bisa menembusnya. Tapi aku haqqul yakin kalau Allah pasti akan membuktikannya kepada mereka.

“Tetapi jika Allah yang berfirman kepada Gunung (sebagaimana yang dimaknai oleh ayat itu): “Hai Gunung bergoncanglah engkau!” Maka pastilah Gunung itu akan Bergoncang. “Hai Bumi terbelahlah!”, maka pastilah Bumi akan terbelah. “Hai orang mati bicaralah!”, maka pastilah orang mati bisa berbicara. Sehingga sangat keliru jika kita mengartikan Al-Qur’an itu hanya sebatas arti harfiah saja yaitu diartikan sebagai “Bacaan”. Padahal kita mengetahui bahkan seluruh orang Muslim tahu bahwa Al-Qur’an itu adalah Firman Allah, Kalam Allah, perkataan Allah dan suara Allah. Jadi tidak bisa dipersamakan “Firman Allah” dengan “Bacaan”!. Karena dimana letak keagungannya Al-Qur”an jika hanya sebatas “Bacaan” saja, Tetapi jika Al-Qur’an itu dimaknai dengan “Firman Allah”, maka itulah keagungan yang sangat Mulia sekali.”

“Kemudian dari Firman Allah yang terdiri dari 30 Juz 114 Surah dan 6666 Ayat itu terangkum lagi tersimpulkan lagi di dalam satu surah yaitu surah “Al-Fatihah”. Di dalam Surah Al-Fatihah itu dikatakan sebagai 7 ayat yang berulang-ulang. Firman Allah dalam Hadits Qudsi: “Aku turunkan kepada mu 7 ayat yang berulang-ulang yaitu : Tiga Bagi-Ku, Satu antara engkau dan Aku dan tiganya lagi Bagimu. Tiga bagi-Ku adalah ; Alhamdulillahirabbil’aalamiin. Arrahmaanirrahiim. Maa liki yau middiin. Satu antara engkau dan Aku adalah ; Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nas ta’iin. Dan Tiga bagimu adalah ; Ihdinashiaatal Mustaqiim. Shiraatalladziina an’amta alaihim. Ghairil Maghdu bi’alaihim waladhaa-lliin.”Surah Al-Fatihah itu terdiri dari pada 7 Ayat yang terbagi menjadi: 3 (Tiga) Bagi Allah, 1 (Satu) Antara Insan dengan Allah, dan 3 (Tiga) Bagi Insan.”

Lalu keseluruhan dari 7 Ayat tersebut sama dengan 313, sebagaimana juga di riwayatkan bahwa jumlah seluruh Rasul itu ada 313 Rasul. 313 orang sahabat yang mendampingi Rasulullah berperang dalam perang Badar. Kemudian Kandungan Surah Al-Fatihah itu terangkum lagi, tersimpulkan lagi pada Kalimah “Bismillahirrahmaanirrahiim”, yang artinya adalah: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Penyayang”. Akan tetapi makna dari pada kalimah tersebut adalah: “Allah hadir pada tiap-tiap sesuatu juga pada dirimu dalam sifat kasih dan sayang-Nya. Bagi mereka-mereka yang telah mengerti akan makna daripada kalimah “Bismillahirrahmaanirrahiim”, maka sama halnya ia telah memaknai Surah Al-Fatihah, dan mereka yang dapat memaknai Al-Fatihah maka sama halnya ia telah memaknai 30 Juz Al-Qur’an 114 Surah 6666 Ayat, dan bagi mereka yang telah dapat memaknai 30 Juz Al-Qur’an maka sama halnya ia telah memaknai rahasia kehidupan seluruh sekalian alam semesta,” lanjutku dan mereka malah semakin terkekeh-kekeh.

“Katanya Bismillakirrahmanirrakim itu dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang saiki wis obah artine. Piye si Mukammad itu? Pendiriannya berubah-ubah! Hahaha!”
“Karena itu setiap orang Muslim ketika ingin memulai sesuatu pekerjaan diwajibkan selalu di dahului dengan ucapan ‘Bismillahirrahmaanirahiim”. Di mana makna nya adalah, Allah hadir pada tiap-tiap sesuatu juga pada dirimu dalam sifat kasih dan sayang-Nya. Itulah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw, dan terus turun temurun sampai kepada orang-orang tua kita. Lalu menjadilah suatu kebiasaan bagi orang muslim untuk memulai sesuatu pekerjaan itu dengan ucapan “Bismillahirrahmaanirrahiim”,” tukasku lalu pergi meninggalkan mereka.

Setelah itu, awan hitam datang bergulung-gulung di langit. Tuhan nenek moyang kami tidak bisa berbuat-buat apalagi sekadar mengusir awan-awan yang semakin pekat itu. Kemudian, dari balik awan pekat itu muncul cahaya yang sangat terang, yang bahkan dapat membutatakan pandangan manusia. Warnanya merah keputihan. Diiringi dengan suara petir yang menggelegar. Bahkan suaranya dapat membuat gendang telinga berdengung. Lalu pria-pria itu kocar-kacir. Mereka lari tunggang langgang untuk mencari perlindungan. Dan sesaat kemudian, hujan deras mengguyur perkampungan kami. Tidak kurang dari 6 jam, hujan terus turun hingga rumah-rumah kami ditelan oleh banjir. Namun meskipun begitu, orang-orang itu masih mengingkari ayat-ayatNya.[]

Ruang Hampa, Juni 2022

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Blog / Facebook: @khairulazzamelmaliky
Khairul A. El Maliky. Author 50 novel online.
Menyibukkan diri menyingkap ayat-ayat
Langit yang tak tertulis, lalu menggabungkannya
dengan ayat-ayat yang tertulis.
Sila untuk komunikasi tentang
Tauhid dan Filsafat hubungi beliau
di bahterapustakautama[-at-]gmail.com.


Cerpen Lelaki Pembawa Mushaf merupakan cerita pendek karangan Khairul A.El Maliky, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Nuriah Muyassaroh

Tangan mungil itu menggenggam sang bunda dengan erat. Seakan berada dalam detik-detik perpisahan yang membuatnya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Seakan ia akan kehilangan sentuhan lembut yang




Oleh: Rail Rahardian

“Hati-hati,” suara lembut itu membuatku mendongak. Pemuda itu tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya. Senyum manis dari bibirnya terukir sempurna. Aku hela nafasku dan membalas senyumnya walau terkesan janggal. “Terima




Oleh: Neni Indriani

Seperti mentari yang tak kunjung tiba, terhalang gumpalan awan hitam yang membumbung tanpa memberikan celah. Seperti siap tertendang dari Bumi tampa tahu akan singgah di belahan dunia yang mana.




Oleh: Anila Imroatul Ma’rifati Sulcha

Alna, Anha dan Ridah adalah siswa SMA NEGERI 1 KARANGAN. Kelas mereka memang berbeda-beda, namun mereka bisa saling mengenal dan berteman karena masuk dalam sebuah organisasi. Di dalam organisasi




Oleh: Jihan Alifia

Namaku Hanum, aku mempunyai seorang teman bernama Aisyah. Seorang teman yang benar-benar saya kagumi, sungguh nikmat syukur yang Allah kirimkan kepada hambanya. Aisyah, wanita bercadar, bergamis anggun dan penghafal



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: