8 tahun cerpenmu

Cerpen Lemari Lorong Waktu

Spread the love

Cerpen Lemari Lorong Waktu





Cerpen Karangan: Surya Anselmus
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 29 May 2022

“Ayo main petak umpet. Mumpung baru istirahat” Ucap Rey yang tak sabar untuk memulai permainan tersebut. Bagi Rey dan enam kawannya di SD Permadani 5, bermain petak umpet adalah salah satu kegiatan yang tak pernah absen dilakukan saat istirahat.
“Ayo, Gas Rey” Sahut Rani dengan semangat
“Ran, ajakin yang lain, ya. Biar banyak yang main”
“Oke, siap”
Rani lalu mengumpulkan empat orang lainnya yang biasa ikut bermain petak umpet. Anak-anak lainnya di kelas 5 SD Permadani 5 biasa mengisi waktu istirahatnya dengan bermain bola, kartu, dan ada pula yang menggosip.

“Areanya mau sampai mana?” Tanya Rudi yang juga tak sabar ingin bermain
“Satu komplek sd aja gimana. Mau, nggak?” Tawar Andi tanpa pertimbangan
“Luas banget kalau satu komplek sd. Mending Batasnya sampai sd 3 sama 4” Rani mengusulkan.
“Yaudah, boleh tuh. Ayo langsung main aja” Candra mengajak dengan nada yang tak sabaran

Dalam satu komplek sd permadani yang luas, terdapat lima sd di dalamnya. Di sebelah kanan bagian depan komplek merupakan SD Permadani 1. Lalu di seberangnya SD Permadani 2. SD Tersebut dipisahkan oleh lapangan serba guna. Di belakang SD Permadani 1, terdapat SD Permadani 3. Sedangkan SD Permadani 4 berada tepat di belakang SD Permadani 2. SD Permadani 5 berada di posisi paling belakang wilayah komplek sd tersebut.

Tak lama kemudian mereka berenam mulai memilih siapa salah satu di antara mereka yang harus mencari kelimanya. Dengan metode “hompimpa alaium gambreng” yang sangat populer, Rani terpilih menjadi orang yang harus mencari kelima lainnya yang akan bersembunyi.

“Kamu hitung sampai 50 ya, Ran” Rey menyuruh Rani
“Yah, iya, deh, aku lakuin. Aku mulai ya. Satu, dua, tiga, …” Rani mulai berhitung sambil memejamkan matanya

Rey dan yang lainnya langsung bergegas mencari tempat persembunyian yang aman dan tak tersentuh oleh Rani. Andi dan Rudi memutuskan bersembunyi di dalam kantin yang terletak di ujung paling kiri SD Permadani 3.
“Di sini pasti aman, nih”
“Pasti aman, Rud. Kan di sini banyak orang. Jadi Rani bakal kehalangin deh”
“Heh, Kalian ngapain nyumput di belakang?” Tanya bapak kantin yang sedari tadi melihat tingkah mereka yang menerobos masuk ke dalam
“Hehehe, lagi main petak umpet, Pak” Jawab Rudi
“Hati-hati, ada termos di atas meja. Jangan sampai kesenggol”

Candra memutuskan untuk bersembunyi di kelasnya. Dia memilih meja guru, karena kolong mejanya terdapat ruang yang cukup lega untuk bersembunyi sambil tiduran. Sedangkan Rey, dia bersembunyi di salah satu ruang kosong di belakang SD Permadani 3. Terdapat lima ruangan di sana. Semuanya dikosongkan, karena akan dihancurkan untuk memindahkan kantin SD Permadani 3 yang ada di depannya.
“Di sini aman kali, ya” Ucap Rey sambil mengeksplor ruangan kosong tersebut

Rani kemudian selesai berhitung. Kini tugasnya mencari lima kawannya yang sedang bersembunyi. Plihan pertamanya langsung menuju ruangan kelasnya. Rani melakukannya secara refleks. Kurang dari lima menit, Candra berhasil ditemukan. Dia cukup payah dalam bersembunyi. Dia tak menyadari bahwa sedikit bagian seragamnya terlihat dari luar.

“Ah, ga asik. Kok cepet banget dapatnya?” Candra bertanya penasaran karena kesal menjadi orang yang pertama kali gugur
“Makanya, main pintar, Can”

Candra lalu pergi keluar dan duduk di depan ruang guru yang terletak di paling depan SD Permadani 5. Dia mengeluh dengan suara yang agak keras. Rey mendengar ocehan Candra yang tak kunjung selesai. Dia penasaran dan kemudian keluar sejenak dari tempat persembunyiannya untuk memantau keadaan sekitar sekaligus mengecek kehadiran Rani. Saat Rey mengendap-ngendap keluar dari SD Permadani tiga, tak sengaja dia melihat Rani menuju kantin SD Permadani 4 melewati lorong di antara SD Permadani 2 dan 4. Rey langsung bergegas kembali ke tempat persembunyiannya. Beruntung Rani tak melihat Rey, karena posisi Rani membelakanginya.

Ketika kembali ke tempat persembunyiannya. Dia kembali melihat-lihat ruangannya. Matanya tertuju kepada lemari yang terletak di ujung ruangan tersebut. Rey kemudian berjalan menuju lemari tersebut dan membukanya.

“Lemarinya tua sekali. Baunya juga ga bagus. Eh tapi, kok ada pintu lagi, sih?” Tanya Rey keheranan. Dengan penasaran, Rey kemudian membuka lemari tersebut, dan hanya melihat ruang gelap. Tak berselang lama, ruangan tersebut tiba-tiba bercahaya dan menghisap Rey.

“Aku di mana, ini?” Tanya Rey sambil berusaha membuka matanya
“Anak ini sepertinya cocok untuk persembahan kita kepada leluhur”
“Ya, jarang sekali kita mendapatakan persembahan sebagus ini”
“Kapan, kita memulai acaranya, ketua?”
“Sebentar lagi”

Sedari tadi, ia masih belum sadar dengan keadaan yang terjadi. Matanya masih berkunang-kunang. setelah sadar pun, ia masih menatap nanar ke sekitar. Ada yang aneh. Rupanya, manusia yang dia lihat sangat berbeda dengan teman-temannya. Manusia yang dilihatnya seperti manusia zaman dahulu yang diceritakan oleh gurunya. Baju dan celananya terbuat dari kulit harimau. Kemudian di atas kepalanya terdapat kepala beruang yang dibuat sebagai akserosis. Di dahi mereka terdapat simbol mata dengan warna merah darah, dan mereka pun bertelanjang kaki. Rey lalu menggerakkan tangannya. Rupanya, tangannya tak bisa digerakkan. Badannya diikat dengan kuat di sebuah tiang yang terbuat dari bambu. Dan di bawahnya terdapat api yang menyala kecil.

“Mari kita mulai” Ujar ketua suku tersebut
Ketua suku kemudian membaca mantra yang dipanjatkan keleluhur mereka. Mantra yang diucapkan cukup lama. Kemudian, ritual dilanjutkan dengan mengelilingi korban persembahan, Rey. Mereka mengelelilinginya sepuluh kali sambil menggumamkan ritual dengan bahasa yang tak Rey pahami.

“Hey, lepaskan aku! Aku punya salah apa. Tolong lepaskan aku” Ucap Rey sambil menangis
“Bapak kenapa jahat sama aku. Aku kan ga pernah buat kesalahan sama Pa Darwin. Tolong pak, lepasin aku”

Pa Darwin tidak merespon. Ritual tetap berlangsung. Diputaran yang ke sepuluh, mereka berhenti, dan berbaris di belakang ketua suku itu. Kemudian, tombak diantarkan oleh salah satu masyarakat yang menonton Ritual persembahan kepada leluhur ke Pa Darwin, sang kepala suku. Tombak tersebut diasah dan dilumuri darah babi hutan.

“DEMI LANGIT YANG MERAWAT KAMI SEJAK DAHULU, KAMI BERTERIMA KASIH ATAS ANUGERAH YANG KAU SAJIKAN DALAM BENTUK AIR, TANAH, TUMBUHAN, DAN HEWAN. KAMI DAPAT MENGHIDUPI KELUARGA KAMI TANPA KEKURANGAN SUATU APAPUN. SEBAGAI UCAPAN TERIMA KASIH DAN RASA SYUKUR KAMI, TERIMALAH PERSEMBAHAN KAMI YANG HARUM INI” Ucap Pa Darwin, sang ketua suku, dengan lantang. Sementara masyarakat dan lelaki yang mengelilingi Rey khusyuk mendengarkan Ucapan sang ketua suku. Setelahnya, Ketua suku kemudian mengangkat tombak, untuk menusuk jantung Rey sebagai korban persembahan.

“Ah, tidak, tidak, TIDAAAK!!!” Ucap Rey dengan berteriak. Pandangannya kembali gelap

“Bagaimana keadaan anak saya, suster?”
“Anak ibu baik-baik saja. Tidak usah khawatir, ya” Ucap suster menenangkan
“Syukurlah”

Rey kemudian terbangun dan melihat suasana yang berbeda
“Ibu, aku ini di mana?” Tanya Rey
“Kamu di rumah sakit, Nak”
“Pa Darwin di mana?”
“Ada di sekolah, Rey. Ada apa dengan Pa Darwin?”
“Dia yang nombak jantung aku, bu” jawab rey dengan nada ketakukan
“Ah, ngaco kamu. Kepala sekolah ga ada hubungannya sama kejadian kamu. Kamu aja ke sini karena tiba-tiba pingsan kok di rumah”
“Yang bener, bu?”
“Iyalah, masa ibu ngarang, hahaha” jawab ibu Rey sambil tertawa

Rey dilanda kebingungan. Mengapa tiba-tiba dia berada di rumah sakit. Seharusnya dia meninggal karena dadanya terhunjam tombak oleh Pa Darwin. Orang yang mengelilinginya saat ritual dilakukan di hutan pun guru-gurunya yang dia kenal di sekolah. Mengapa Rey menjadi korban persembahan pun dia tak tahu. Yang jelas dia senang karena selamat dari ritual aneh itu.

“Ibu, maaf menganggu waktunya. Saya mau memberitahu kalau Rey mau diperiksa lebih lanjut oleh dokter. Ibu bisa menunggu diluar, ya” ujar suster untuk mempersilakan ibu Rey pergi
“Rey, sayang, semoga cepat pulih, ya, Nak” Ibu Rey lalu pergi

Dokter tiba-tiba datang dan menutup pintu ruangan tempat Rey dirawat. Rey belum melihat wajah suster dan dokter yang akan memeriksanya. Dia terpejam karena masih memikirkan keanehan yang dia alami.

“Rey, sudah siap?” Tanya suster memastikan
“Sudah, bu” Jawab Rey. Lalu dia membuka matanya. Menatap suster sejenak
“Bu Nisa, kenapa ibu jadi suster. Ibu udah pensiun jadi guru matematika?” tanya Rey keheranan. Dia tak menyangka guru matematikanya di kelas ternyata seorang suster
“Halo, anak manis. Kita berjumpa lagi, hahaha” Sapa Dokter tersebut dengan tertawa jahat
“Pa… Pa… Pa Darwin? Kenapa bapak…” Belum selesai kalimat keluar dari mulutnya, Rey langsung teringat orang yang menombaknya di hutan. Seketika Rey memberontak, berusaha keluar dari ruangan tersebut.
“Lepaskan saya, lepaskann!!!” Rey langsung meronta untuk keluar dari ruangan rumah sakit. Namun, Rey tak kunjung keluar. Tangan dan kakinya telah diikat. Dia terus memberontak sekuat tenaga untuk lepas dari ikatan tali tersebut.
“Lepaskan, bajingan, lepaskan!!”

“Hahaha ini kedua kalinya aku akan mengantarkanmu ke leluhurku. Ada kalimat terakhir, anak manis?”
“Lepaskan aku, lepaskan!!!” Ucap Rey sambil menangis. Dia memohon untuk dilepaskan
“Kau akan kulepaskan setelah bantal ini menciummu, hahaha”

Pa Darwin lalu mengambil bantal dari bawah kepala Rey, lalu, sambil tersenyum, Pa Darwin menekan wajahnya dengan bantal sekuat tenaga, sambil tertawa puas. Pandangan Rey semakin gelap, kemudian dia kehilangan kesadaran.

“REYY, BANGUN, UDAH JAM SETENGAH TUJUH” Ibu Rey yang sedang menyiapkan sarapan di dapur berteriak kencang
“REY!!” Ucapan ibu Rey meninggi
“Iya ibu, aku bangun” Rey kemudian bangun dari kasur dan mengambil handuk untuk mandi
“CEPETAN! SETENGAH JAM LAGI KAMU MASUK!”
“Iya, ibu, aku mandi sekarang”

-Tamat-

Cerpen Karangan: Surya Anselmus

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Lemari Lorong Waktu merupakan cerita pendek karangan Surya Anselmus, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Afri

Bertepatan dengan hari Haloween, ia muncul di sana, di pinggir sungai tua, dekat tempat mainan anak-anak. Sebetulnya tak ada manfaatnya ia berdiri di sana. Kehadirannya di tempat ini tak




Oleh: Andrei Citroen

Pada suatu hari, di dalam sebuah rumah yang terdiri dari anak dan ayah. Yang terletak di Distrik 7, Kota Dawn. Anak tersebut bernama Susi, ia selalu berselisih dengan ayahnya




Oleh: Selmi Fiqhi

Aku tak tahu harus merasa bagaimana. Senang dan sedih. Antara itu. Aku merasa senang, tapi juga merasa sedih. Aku tak begitu yakin jika perasaanku ini baik. Aku juga tak




Oleh: Listya Adinugroho

“STRIKE!! STRIKE!!” Joko memanggil Strike dengan penuh semangat. Strike Leonardo Esmeralda adalah seorang remaja yang sangat terobsesi pada dunia kepemancingan. Bersama Joko Rossoneri, ia telah menggeluti bidang kepemancingan selama




Oleh: Verrell Axel

Aku bangun dari tidurku. Keringat membasahi wajah dan rambut pirangku, tanganku gemetaran. Aku bukan lagi di rumahku. Aku berada di tempat aneh yang agak gelap. Pakaian ketat berwarna hitam



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: