8 tahun cerpenmu

Cerpen Maak, Aku Pengen Pacaran

Spread the love

Cerpen Maak, Aku Pengen Pacaran





Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan

Lolos moderasi pada: 26 April 2022

Darah muda darahnya para remaja,
Yang selalu merasa gagah
Tak pernah mau mengalah
Masa muda, masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri
Walau salah tak peduli..
Biasanya para remaja, berpikirnya sekali saja
Tanpa menghiraukan akibatnya
Wahai kawan para remaja
Waspadalah dalam melangkah
Agar tidak menyesal akhirnya..

Lantunan klasik melayu dari Raja Dangdut Bang Oma membahana dari radio tua, emak. Asik saja! Emak mendengarkan lagu-lagu melayu irama dangdut, untuk menghibur hatinya. Badan memang tidak ikut bergoyang, namun cukup membuat hati emak tentram berdendang. Suami emak telah tiada, anak hanya semata, masih SMA kelas tiga, tak pelak perekonomian dirasakan semakin sulit.

Meminta bantu sanak saudara, kiranya harga diri emak merasa riskan. Bahkan, kartu sosial pemerintah dari desa pun, emak tolak, dengan alasan, tenaga emak masih kuat! Emak memang perempuan perkasa!

Jam dua dini menjemput, emak telah bersiap dengan racikan tempe kedelai tradisional, untuk siap dititipkan ke pedagang pasar. Sepulangnya, emak lekas bergegas pergi menyibukkan diri ke ladang warisan suaminya dan mencari rumput untuk tiga kambingnya. Membunuh kesepian dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan Fitri, yang emak sayangi, melebihi dirinya sendiri.

Senada dengan Fitri, anak tunggal emak, gadis belia, ayu nan lugu. Pagi ia habiskan di sekolah, siang membantu emak, sore mengajari anak-anak kecil di TPQ, malam belajar, kemudian menghabiskan malamnya berdekatan dengan emak. Fitri anak yang alim, berprestasi di sekolah, dan tinggi rasa bakti pada emaknya.

“Mak.. emak… Fitri diterima Mak..” tergopoh Fitri mencari emak di dapur.
“Ada apa Fit? Kok teriak-teriak?”, sahut Emak, yang ternyata di kandang, sedang memberi makan kambing.
“Ini mak.. ada berita bagus”, Fitri mendekati Emak di kandang
“Ini lo Mak.. Fitri lolos ikut tes perguruan tinggi negeri. Ini suratnya..”, Fitri menyodorkan kertas pengumuman dari salah satu PTN ternama. Tentu saja, Emak yang tidak tahu hal berbau sekolahan, hanya mengiyakan.
Dengan senyuman tulus, Emak mengelus rambut Fitri penuh kasih saying, “Alhamdulillah Fit.. Emak bahagia. Ternyata anak emak pinter. Sekarang sudah dewasa. Emak saayaangg.. Fitri”, kecup Emak di dahi Fitri.
“Iya, Mak. Tapi ada sesuatu yang ingin Fitri omongkan ke Emak. Masuk ke rumah, Mak.. Di sini bau..”
“Ya jelas bau.. La dekat kandang kambing hidup, kalau kambingnya di sate ya beda lagi.. emmmm haruummm..”, emak berkelakar seraya mengikuti kaki Fitri memasuki rumah.

“Mak.. Fitri pengen ngomong dan meminta sesuatu”
“Ngomong saja, anakku sayaangg…”
“Takutnya, emak nanti marah…”, Fitri mulai ragu
“Ada apa anak emak sayang.. Jangan sedih. Apa yang kamu rasa, katakanlah!”
Fitri terdiam sambil melirik emak.

“Ada apa Fit? Apa yang kamu resahkan, sampaikanlah! Apa yang kamu gundahkan, luapkanlah! Emak siap mendengarnya”
Fitri mendongak, “Bener, Mak?”
“Bener sayaangg..”, jawab Emak penasaran
“Emak nggak akan marah…?” Fitri mulai merajuk
“Iya, nggak marah ko sayaangg…” Emak semakin penasaran, gerangan apa yang dirisaukan buah hatinya
“Bener lo Mak.. Emak nggak akan marah..”
“Iya.. iya.. ada apa to Fit? Dari tadi ko nggak jadi-jadi ngomongnya..”

Fitri memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya, “Maak.. Fitri ingin punya pacar. Boleh Mak?”, lirih hampir tidak terdengar
“Ulangi sekali lagi, Fitri”, nada Emak dirasa sudah tidak enak, sepertinya Emak sudah mendengarnya
“Fitri ingin punya pacar, Fitri ingin pacaran Mak.. Boleh ya?” Fitri memelas

Darah ke ubun-ubun emak, demi mendengar permintaan anaknya,
“Haa!! Jangan Fit! Sekolah dulu yang bener. Jangan pacaran. Emak tidak mengijinkan. Tidak!”
Fitri yang rupanya sudah bersiap dengan jawaban emak, kembali menanggapi,
“Mak.. Mak e nggak tahu perasaanku. Mak e nggak tahu betapa hancur hatiku. Masa, Mak.. Fitri yang hebat, cantik, pintar tidak pernah dilirik laki-laki”
Tidak kalah tinggi, emah menyahut, “Apa katamu? Lalu apa guna kamu ngaji? Sembahyang? Haa?!”
“Memang, mak e egois. Mak e benar-benar nggak ngerti perasaanku. Aku yang sudah remaja tidak pernah dapat cinta, tidak pernah merasa jantung berdebar, tidak pernah merasa disanjung laki-laki. Tidak pernah punya poto laki-laki untuk kupajang. Tidak pernah punya wajah pujaan untuk Fitri pandang. Tidak pernah Mak.. Tidak pernah!!!”, Fitri kalap, tanpa sadar dengan siapa ia kini bercakap
“Fitri! Diam kamu. Diaaam!!! Jadi wanita jangan gatel. Harus punya harga diri. Emak memang kere, miskin. Tapi emak pantang meminta.”
“Cukup, Mak! Cukuup!! Fitri pengen pacaran. Itu saja! Nggak lebih!!”
“Plakkk!!!”, tanpa sadar emak menampar pipi Fitri karena cukup lama menahan emosi yang sudah terpendam. Fitri kaget, matanya melotot, pipinya merah selaras dengan rasa marahnya. Dengan wajah bersungut Fitri melangkah kasar menuju kamar tidurnya dan “BRAAKK!!!”, Fitri menutup pintu kamarnya

Emak memandang dengan napas tersengal, tak pernah nada bicara emak meninggi seperti tadi. Emak mengurut dadanya yang dirasa semakin sesak. Dan sejak kejadian itu, Fitri dan emak “perang dingin”, membisu satu sama lain. Sebenarnya emak menyesal, merasa tak seharusnya ia menampar Fitri, emak lupa diri hingga tak bisa menahan.

Emak tetaplah emak. Semarah apapun emak, sayangnya tiada akan pernah berselisih kurang. Selepas bakda maghrib, tampaknya ada tamu yang menyerahkan surat dari sekolah kepada emak. Emak pun segera memanggil Fitri, meski emak tahu situasinya belum mereda

“Fit.. sebentar sini, Nak!”, emak memanggil Fitri dari balik luar pintu kamar Fitri, dengan nada yang dihalus-haluskan
Fitri membuka pintu. Ia acuh dengan senyuman emak yang tampak menyodorkan amplop dengan kop sekolahan Fitri. Fitri tetap marah dan membisu

“Terima kasih Fitri, anak kesayangan emakk.. Lagi-lagi Fitri telah bikin emak bahagia”, emak mencoba mengubah suasana
Dengan ketus Fitri menjawab, “Karena surat itu kan, Mak?”
“Lo, ko Fitri sudah tau..”
“Surat itu berisi bahwa aku ditunjuk mewakili sekolah untuk ikut olimpiade kabupaten..”
“Lo, Fitri sudah benar-benar tahu ya… Dan emak bahagia akan hal itu, Nak!”
“Di surat itu, sekolah meminta emak untuk mendukungku, kan?”
“Dan emak mendukungmu, Nak.. Emak jelas mendukung..” wajah emak berbinar
“Tidak! Fitri tidak mau.. Karena emak sendiri tidak mau menuruti keinginan Fitri”, jawaban Fitri tampak membuat emak yang semula berbinar kembali muram
“Fitri.. jangan paksa emak marah”
“Aku nggak maksa Mak marah.. Emak yang maksa Fitri jadi marah”
“Permintaanmu itu Fit.. membuat emak menjadi marah. Kamu tahu itu?!?”
“Aku nggak maksa emak marah. Aku hanya minta emak mengerti perasaan Fitri. Aku sudah lama menahan, mak! Aku ingin baju bagus seperti teman-teman Fitri. Aku ingin tas, sepatu, motor metik, nongkrong di kafe, aku ingin hape android yang bagus-bagus seperti mereka, Mak..!!”

Tampaknya keharmonisan yang dibangun selama ini, emak dengan Fitri terusik. Fitri yang remaja digoyahkan bayang godaan. Berbenturan dengan keinginan Emak, yang menginginkan anaknya tidak terpesona dengan buaian yang menyesatkan

Fitri yang sudah gelap hatinya, segera berlalu ke kamar, mengemasi pakaian seadanya dan dimasukkan ke dalam tas.
“Mak.. sekali lagi, Mak! Mak e nggak tahu perasaanku. Mak tau nggak?”, Fitri kembali meluap

Mak yang sedari tadi murung tengah duduk di ruang tamu, hatinya hancur,
“Mak Tahu! Emak tahu, Fit! Emak juga ingin kamu punya baju, sepeda, hape, seperti mereka. Dan kita akan mencarinya bersama-sama”
“Kalau emak memang tahu, kenapa emak tidak menurutiku. Kenapa Mak!”
“Karena kita akan mencarinya bersama-sama. Kita akan mencari di Rumah Sakit Jiwa, nduk!!”, teriak keras emak membuncah. Hening. Dunia serasa diam. Semut berhenti bergerak. Angin seperti sejenak terparkir. Tiada rela hati emak yang hancur.

Emak kembali mencoba melerai,
“Fitri, anakku.. Fitri anak emak yang penurut, patuh, lugu, rajin ibadah. Fitri anak emak, anak yang tabah..”
Rupanya leraian emak tidak membuat Fitri sadar,
“Gombal!! Itu dulu Mak, itu dulu! Fitri sekarang ingin jadi Fitri yang gaul, trendi, punya pacar. Bukan kampungan seperti ini! Mak bisa nggak nuruti Fitri?”
Emak menggeleng. Fitri memerah wajahnya.
“Kalau emak nggak bisa nuruti, Fitri akan pergi, Fitri akan minggat! Mak e nggak usah mencari lagi Fitri!!”

Mata Emak menatap namun nanar. Nestapa dalam kesedihan hati. Nestapa, resah yang tak berarah. Nestapa, merasa hidup kian redup. Nestapa, merasakan malam kian kelam. Bintang tidak lagi berpijar, bulan enggan bersinar, Emak merasa hanya gelap yang kian pekat. Jiwanya redup tertutup, merasa diri benar-benar sunyi.

Fitri terus berlari, menapaki pada ruas jalan desa. Suasana malam tidak juga mendinginkan hatinya. Fitri tergolek lemas di tepian pasar, 10 kilo dari rumahnya. Tampak segerombolan pemuda yang berkerumun kaget dan mengawasi kedatangan Fitri. Aroma alkohol tercium, setan pun tertawa menggoda

“Eh.. ada cewek! Lihat! Itu di emperan toko”, salah satu pemuda memberitahu teman-temannya dengan menunjukkan arah Fitri yang duduk lemas, tak bertenaga.
“Godain yuk.. mumpung adem-adem gini, cari yang hangat-hangat empuk.. hahahhaha”, disambut derai tawa teman lainnya, yang tampak sudah mabuk.

“Hei cewek! Sendirian aja nih..”
“Boleh mas temani nggak? Dingin-dingin gini lo.. mas temani biar hangat, hahahah”, teman lainnya terbahak. Sementara Fitri tampak ketakutan. Dirinya sendiri, tak ada orang lain lagi di sekitar pinggiran pasar. Fitri dengan memberanikan diri mencoba mengusir mereka
“Pergi kalian! Pergi.. jangan ganggu aku!”, teriak Fitri
“Halaah.. jangan jual mahal kamu! Copot saja jilbabmu! Sok suci, jangan muna deh..”
“Perempuan baik-baik mana yang keluar malem-malem sendiri. Berapa sih tarifmu..” pemuda yang tampak sudah terpengaruh alcohol mencoba meraih tangan Fitri. Fitri berontak, pemuda itu bersiap untuk mendekap. Sementara, teman-teman lainnya tertawa senang melihat adegan itu.

Fitri semakin ketakutan. Ingin berteriak tapi mulutnya dibungkam tangan gempal pemuda yang mendekapnya. Ia teringat emaknya. Ia menyesal minggat dari rumah.
Maka, dengan bayangan emak yang melekat, Fitri sekuat tenaga berontak dan menyepakkan kakinya ke tubuh pemuda yang memegangnya. Pemuda tadi terjungkal, Fitri tidak menyiakannya, segera ia berlari entah kemana.
Pulang! Iya, Fitri ingin pulang. Ingin memeluk emaknya. Dan, menjelang subuh, Fitri tiba di rumahnya. Segera ia menghambur untuk menemui emak.

“Mak.. emak! Fitri pulang Mak.. Fitri insyaf..”
Emak terkejut melihat kedatangan Fitri, “Kamu pulang, nduk!”
“Maafkan Fitri, Mak.. maafkan anakmu ini…”
“Fitri tidak salah.. anak emak tidak salah. Emakmu ini yang salah.. mestinya kamu punya baju baru, sepeda metik, hape bagus..”
“Tidak, Mak! Tidak.. Aku tidak butuh itu, Mak!”
“Iya, kamu butuh itu, nduk… kamu harus gaul, harus trendi, harus cantik sama seperti teman-temanmu yang lain”
“Tidak, Mak! Fitri ingin ke ladang membantu Mak. Fitri ingin ke pasar, jualan tempe kedelai buatan emak!”
“Ladang kita sudah di tangan orang, nduk! Tempe kedelainya sudah busuk. Tinggal “keledai”nya ini yang sebentar lagi di tangan Tuhan”, tiba-tiba emak berteriak melotot dan menjambak rambutnya sendiri
“Tidak, Mak! Jangan Mak..”
“Kambing kita kemana Mak.. ayam-ayam kampung kita dimana maak…”, tangis Fitri menyadari kesalahannya
“Kambing-kambing kita sudah menjadi sepeda metik baru, nduk.. Ambillah! Siapa tahu bisa ngantar emak berobat, kalau-kalau jantung mak kumat, dan sekarat…”
“Tidak Mak.. Aku tidak butuh ini.. aku butuh Mak eee…!!”

Emak tidak sadarkan diri, bukan raganya, tapi jiwanya yang tidak sadar dengan akal yang mengakar. Emak menjerit, mendelik, berteriak memekik, sesekali menjambak rambutnya sendiri, menangis kemudian tak lama tertawa. Berjalan kesana kemari, sambil menenteng radio tua miliknya, menyusuri jalan-jalan desa.

Emak akan berhenti sebentar untuk berjoget, ketika mendengar lagu dangdut koplo di radio bututnya,

Eling eling omonge wong tuo, Loro ati angel ditambani
Bedo yen karo wong loro untu, Ngombe obat dinggo mapan turu
Ora usah mikir uripku, Ojo susah mikir dalanku
Mergo dalan uripku iki, Dudu urusanmu
Dalan uripe kabeh menungso, Becik ketitik Olo ketoro,
Mulo ojo gawe gelo, Mergo urip butuh konco
Wong edan kui bebas, Wong edan kui bebas..

Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Blog / Facebook: Anang Zunaidi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 26 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Maak, Aku Pengen Pacaran merupakan cerita pendek karangan Anang Zunaidi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Yulia

Pekikan keras mengganggu telinga gadis itu, ia seakan ingin berontak apa yang telah terjadi di luar sana. ibu tak kuasa menahan tangisnya, berhari-hari ibu menangis dalam kekejaman lelaki biadab




Oleh: Nor Aini

“Aku menghabiskan delapan tahun untuk mencintainya, tetapi akupun hampir sepanjang hidup dan sepanjang waktu tak ingin lagi mengenal cinta dan mempercayainya lagi. Waktu yang membuatku berproses mencintainya, namun waktu




Oleh: Ariestya Wahyu K

Mentari dipagi itu mulai bersinar. Cahaya indahnya menerobos setiap celah rerimbunan daun. Sepertinya, alam sangat mengerti dengan kegirangan hati Merry. Semalam, ia baru saja ditembak oleh seorang cowok yang




Oleh: Dara Dharmesti

Aku menunggu di depan teras, menatap jengah jarum jam yang seakan tidak begerak. Ke mana taksi pesananku? Kalau aku terus di sini aku bisa ketinggalan kereta. “Masih belum datang




Oleh: Reallizna

“Rendy kamu dimana? aku sakit Ren, aku sakit” tubuh gadis cantik ini terkapar di lantai “ya ampun nay kamu kenapa? aku telpon Rendy ya” Lisa yang melihatnya segera memapah



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: